
"Maksud kamu apa Sya?" Tanya Reza tak menyangka
"Kamu hanya peduli sama anakmu saja kan? Buat apa aku bertahan denganmu!" ucap Tasya berani sambil terisak
"Sya, dengar. Kamu salah mengartikan maksud Aa" ucap Reza
"Apa lagi yang aku salah artikan? Kamu bilang khawatir sama anakmu kan!" amarah Tasya kini memuncak
"Aku tadi sangat antusias saat anakmu memberi sinyal. Tapi kamu.. Apa pedulimu?"
"Kamu marah-marah kan? Terus aku harus bangunkan kamu lagi? Tadi saja kamu marah! Bagaimana aku berani membangunkanmu!"
"Kalau kamu hanya peduli anakmu, tolong lepaskan aku!" dadanya bergemuruh. Nafasnya menderu kencang. Tak ada tangis lagi di matanya. Dia menumpahkan seluruh amarahnya. Amarah yang baru pertama kali dia ledakkan seperti ini.
"Buka pintunya! Aku gak mau melihatmu lagi!" ucap Tasya.
Reza masih terdiam. Dia sangat tak mengira istrinya bisa meledak seperti itu. Reza mendengar kata 'kamu' di setiap lontaran kata yang Tasya ucapkan. Semarah apapun Tasya, baru sekarang dia mendengar kata itu. Harga dirinya sedikit terluka.
"Sya.. " ucapnya lemah. Sekuat tenaga dia menahan gejolak di hatinya
Tasya terdiam. Dia tak sudi melihat suaminya.
"Tasya, maafkan aku"
'Bahkan sekarang pun kamu memanggil aku untuk panggilanmu sendiri' batin Tasya
"Aku benar-benar minta maaf. Aku gak mengira kamu akan semarah ini" ucap Reza
"Rasanya kamu bukan Tasyaku. Rasanya kamu orang asing Sya" ucap Reza
"Dari awal kita memang orang asing! Sekarang pun kita akan menjadi asing lagi" ucapnya datar
"Apa kamu serius dengan ucapanmu Sya?" Reza seakan tak rela
"Untuk apa aku bertahan denganmu? Tak ada alasan lagi aku bertahan di sisimu! Kamu hanya ingin anakmu saja kan? Tenang saja, nanti akan ku berikan! Aku sadar sekarang, aku hanya mesin mencetak anakmu saja!" ucap Tasya masih dengan amarahnya
"Kenapa kamu bicara begitu?"
"Kamu sendiri yang bilang. Kamu mengkhawatirkan anakmu! Bukan aku!" sanggahnya
"Maksud Aa.. Aa khawatir pada kalian. Sumpah" ucapnya
"Gak usah bersumpah. Aku sudah tak peduli lagi!" Tasya bersikukuh
"Sya. Aa minta maaf." ucapnya
Mereka saling terdiam lama.
"Baik kalau maumu begitu Sya. Aa akan bilang pada orangtua kita" ucapnya
Tasya sedikit tersentak. Ada sedikit rasa takut saat mendengar kata orang tua di telinganya.
__ADS_1
Reza melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tasya sedikit takut dengan yang Reza lakukan.
"Makin cepat makin baik. Biar aku mati bersama anakku!" ucap Tasya datar
Reza menurunkan kecepatan mobilnya. Dia lupa, ada nyawa anak istrinya yang dia bawa.
"Ayo lebih kencang lagi! Aku sudah siap semuanya!" tantang Tasya
Sungguh Reza dibuat gila dengan tingkah laku Tasya kali ini.
'Ini bukan kamu Sya. Kamu tak pernah begini sama sekali' batin Reza
Setibanya dirumah, Tasya segera masuk ke dalam kamar. Dia segera mengambil koper dan memasukan baju-bajunya.
Reza mendekat, dia meraih tangan sang istri.
"Kenapa kamu seperti ini Sya? Kenapa kamu jadi begini?" ucapnya masih menahan tangan sang istri
"Lepas!" ucapnya kesal
"Aa gak akan melepaskanmu. Tolong jangan seperti ini Sya. Tolong kendalikan amarahmu. Aa mohon Sya" ucapnya seraya memeluk tubuh sang istri
Tasya mulai terisak kembali. Ada rasa sakit yang dia rasakan.
"Aa cinta kamu Sya. Aa sayang kamu. Aa tak hanya mengkhawatirkan anak kita. Aa sangat mengkhawatirkanmu." ucapnya
Tasya masih terisak. Kini dia merasa sangat tak bertenaga.
"Tolong bicaralah dengan ayahku." ucapnya disela tangisnya
"Aa mohon Sya" ucapnya dengan wajah sendu
Reza bangkit, dia mengambil air minum untuk Tasya
"Minum ya Sya, agar amarahmu hilang. Agar kamu gak dehidrasi juga." pinta Reza
Tasya terdiam. Dia bahkan tak melirik air tersebut.
"Sayang..Aa mohon minum sedikit saja" ucapnya
Reza mendekatkan gelas ke arah bibir Tasya.
Tasya meminumnya sedikit tanpa bicara apapun.
"Lagi sayang" pinta Reza
Tasya meminumnya kembali. Dia merasa sangat haus. Kalau tak gengsi, ingin sekali dia menghabiskan air dalam gelas tersebut.
Reza menaruh gelasnya kembali. Kini dia menuntun Tasya ke tempat tidur. Direbahkan istrinya tersebut, dipeluk erat tubuh Tasya dalam dekapannya.
"Sana!" Tasya menepis tangan Reza
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Reza heran
"Bau!" ucap Tasya
Reza menahan senyumnya. Dia baru teringat bahwa dirinya belum mandi dari pagi.
"Aa mandi dulu kalau begitu" ucapnya kemudian
Tasya tak peduli. Dia merasa tubuhnya lemas, kepalanya sedikit sakit. Dia memejamkan matanya.
Setelah beberapa lama, Reza keluar dari kamar mandi. Dia merapihkan kembali baju Tasya ke dalam lemari. Setelah itu, dia mendekati Tasya yang tengah tertidur.
"Baru sekarang marahmu membuat Aa sakit hati begini Sya" ucapnya seraya membelai lembut kepala istrinya
"Maaf membuatmu dan anak kita tak nyaman karena ucapan Aa tadi" sesalnya
Reza kini beralih memegang perut Tasya. Dia menempelkan tangannya di perut sang istri. Tiba-tiba dia merasa ada tendangan halus di tangannya.
Reza membelalakan matanya. Dia merasa tak percaya. Ada rasa haru yang dia rasakan.
'Mungkin ini yang tadi Tasya rasakan. Kenapa aku begitu egois tak menghiraukannya' sesal Reza
"Maafkan papi nak. Papi tak peka sama mami dan kamu" ucapnya
Reza masih menempelkan tangannya, tapi dia merasa tak ada pergerakan. Dia memindah-mindahkan posisi tangannya agar bisa merasakan tendangan halus seperti tadi.
Tasya merasakan ada sesuatu di perutnya, dia segera menepis kasar tangan Reza setelah sadar tangan suaminya menempel di perutnya. Dia memijat kepalanya yang dirasa sangat sakit.
Reza segera memijat kening Tasya dengan hati-hati. Mereka tak banyak bicara. Tak lama Tasya tertidur kembali. Reza ikut membaringkan tubuhnya di samping sang istri. Akhirnya dia ikut tidur.
Setelah beberapa lama, Reza terbangun lebih dahulu. Dia melihat kening Tasya penuh dengan keringat. Dia segera mengambil tisu kemudian dengan hati-hati mengelap keringat Tasya.
"Kenapa sekarang hatimu rumit sekali Aa cerna Sya? Apa ini karena kehamilan?" gumam Reza
Tasya mulai bangun dengan mata yang sedikit bengkak. Dia hendak duduk tapi dengan sigap Reza membantunya.
"Hati-hati Sya" ucap Reza lembut
"Mau apa sayang? Makan? Minum? Atau ke kamar mandi" tanyanya
Tasya hanya diam tak menjawabnya. Dia bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi.
Setelah keluar, Reza mendekat ke arahnya.
"Aa minta maaf sayang. Maaf kalau ucapan Aa membuatmu sangat marah." ucapnya tulus
Tsya masih tak menghiraukannya. Dia segera duduk di tepi kasur.
"Sya.." Reza berlutut. Menopang seluruh tubuhnya dengan lututnya.
"A Reza! Bangun!" ucapnya yang tak menyangka Reza akan melakukan hal yang demikian
__ADS_1
'Akhirnya dia memanggil Aa lagi' batin Reza senang
"Sya, mau kan maafkan Aa?" ulangnya seraya mencium tangan Tasya