
"Loh? Kok pada kaget ini?" tanya Uwa. Keduanya tersenyum. Sementara Rasya nampak sedikit bingung.
"Mau di lanjut?" Uwa berbicara kembali
"Iya Wa" jawab Rasya masih dengan gugup
"Uwa kira gak jadi." ucapnya seraya tersenyum.
"Benar Zahra yang ini yang dimaksud?" tanya Uwa
"Betul Wa" Ucap Rasya melirik Zahra sepintas
"Ada apa dengan Zahra? Dia melakukan kesalahan atau bagaimana?" tanya Uwa
"Enggak Wa. Sa..Saya ingin mengkhitbah Zahra, Wa?" ucap Rasya
"Mengkhitbah?" tanya Uwa
"Betul Wa"
"Uwa tidak akan memutuskan boleh atau tidak, karena Uwa gak mau tinggal sama Den Rasya" semua tertawa
"Coba Uwa tanya Zahra, dia mau atau tidak"
"Bagaimana Zahra? Ada yang ingin mengkhitbahmu. Apa diterima?" tanya Uwa.
Zahra nampak malu-malu. Sementara Tasya meremas lengannya sendiri.
"Dia yang mau nikah, kenapa Mami yang nervous" bisik Reza pada Tasya
"Mami berasa flash back Pap" ucapnya. Sesaat suasana nampak hening.
"Bagaimana Zahra?" tanya Uwa
"Bismillah.. Iya Wa. InsyaAllah diterima" ucapnya.
"Alhamdulillah." semua kompak
Uwa melanjutkan pembicaranya hingga keputusan pernikahan pun di setujui kedua belak pihak. Pernikahan akan dilaksanakan Minggu Depan.
"Mami kenal calon Rasya?" tanya Reza saat jamuan makan-makan.
"Iya Pap." Tasya menyendokan makanannya ke dalam mulutnya
"Tasyaaaa" Zahra mendekat. Tasya memberikan piring pada Reza kemudian mereka bersalaman.
"Ya Allah, dunia sempit ya Ra, aku gak nyangka ternyata kamu yang jadi kakak ipar aku" mereka tertawa.
"Aku kaget saat lihat kamu. A Rasya cerita cuma punya adik perempuan. Tapi dia gak sebut nama"
"Aku juga. Aku malah lupa mau tanya nama calon Aa. Pas ketemu kamu seneng banget. Sudah lama kita gak ketemu Ra" ucap Tasya antusias
"Iya Sya, kamu sekarang gak disini?"
"Iya. Ikut suami." Taysa melirik Reza
"Eh, maaf Pap" Tasya mengambil piring miliknya.
"Suami aku, A Reza. Itu anak-anakku Ra" Reza tersenyum sementara Zahra mengangguk hormat.
"Sya, kamu sudah punya du?" Zahra tersenyum
"Hehe iya. Lulus kuliah langsung nikah"
"Belum lulus kali Mam" timpal Reza
"Eh iya. Ya amoun gitu saja protes" Mereka tertawa.
"Mamiiii. Ayo pulang Mi" ajak Vano mendekat ke arah Tasya.
"Mami masih makan, Bang". Zahra tersenyum melihat Vano.
"Sudah kenalan belum sama calonMama baru?" tanya Tasya
"Salim dulu sama calon Mama" titah Tasya
"Hehe.. Malu ih Sya"
"Oya, Maaf ya Ra, jadi Aa tuh minta dipanggil Papa sama anak-anak. Ya akhirnya sampai sekarang manggilnya Papa. Makanya manggil kamu jadinya Mama. Gak apa-apa kan Ra?"
"Gak apa-apa Sya." ucap Zahra seraya tersenyum melihat Vano
"Hai, boleh kenalan gak?" Zahra mengajak bicara Vano
"Kenapa kenalan lagi? Aku kan sudah lihat Mama"
"Abang" Tasya mengingatkan
"Baiklah kalau Mama maksa aku." Vano mencium punggung tangan Zahra
"Namanya siapa?"
"Astaghfirullah.. Mama harusnya tahu nama aku. Memang Papa gak kasih tahu nama aku ya?"
"Heh tua! Jawab aja gak usah banyak bicara" Reza mencelanya
"Ck.. Namaku Elvano Satria Martadinata panggil aku Vano saja atau Abang" ucapnya membuat Zahra tertawa.
"Maaf ya Ra, dia bicaranya sedikit tua. Hasil didikan A Reza sama A Rasya." ucap Tasya seraya tertawa
Rasya mendekat ke arah mereka dengan memangku Daffa.
"Hmm.. Ra, nanti bisa ikut buat beli mas kawin sama Tasya?"
"Apa sih A. Sok imut begitu bicaranya. Biasa aja kali" Tasya meledeknya sementara Reza tertawa.
"Jangan bongkar dong Neng" ucapnya
"haha.. Ra, A Rasya aslinya bawel. Kamu tahan aja ya nanti sama bawelnya A Rasya. Terus over protektif juga tapi baik kok. Baik banget malah. Saking baiknya kadang bikin kesal" ucap Tasya
"Sya.. Awas ya" Rasya menatapnya
"Pasti baik Sya, makanya aku mau juga" ucap Zahra. Seketika suasana sedikit gaduh
"A Rasya merah tuh mukanya. Di gombalin calon istrinya. Haha"
"Bukan di gombalin tahu. Tapi dia bicara fakta. Iya gak Ra?"
"Hehe iya"
"Papi..rasanya disini udaranya beda Pap. Yuk pindah." ajak Tasya pada Reza yang membuat mereka tertawa.
"Papa, ayo katanya mau belikan mainan Pa" rengek Vano tiba-tiba
"Nanti dong Bang, Papa masih kangen sama calon Mamanya" ucap Reza yang membuat mereka salah tingkah.
"Nanti kan ketemu lagi Pa. Papa lama banget sih." kesalnya.
"Sabar Abang, kalau gak sabar Papa gak mau beliin ya" ucap Rasya.
Vano menjauhkan dirinya, dia menghampiri King Taufik yang sedang berbincang.
"Jadi gimana? Selasa kamu bisa kan Ra?" tanya Tasya
"InsyaAllah. Paling setelah aku ngajar ya Sya"
"Siap. Nanti Aa yang jemput kesini"
"Tapi Sya?" Rasya hendak protes
"Sama Vano A. Tenang"
__ADS_1
"Oh." Rasya dan Zahra nampak lega.
"Vano minta apa sih? Sampe ngerengek begitu?" tanya Ibu mendekati mereka.
"Aa sih janji belikan mainan. Dia kalau dikasih janji, terus dikejar kalau belum dapat" cetus Tasya
"Mau pulang sekarang?" tanya Ibu
"Ibu sudah selesai belum?"
"Ibu sih sudah bicara sama Ibunya Zahra. Neng Zahra nanti ke rumah ya, harus fitting baju sekalian beli seserahan juga. Takutnya kalau Ibu yang beli gak sesuai seleranya" ucap Ibu pada Zahra
"InsyaAllah Bu, sudah janji juga sama Tasya nanti hari Selasa" ucap Zahra
"Ibu kok gak tahu Neng Zahra temannya Tasya"
"Saya juga Bu, kaget begitu lihat Tasya. Tapi alhamdulillah ternyata adiknya A Rasya orang yang saya kenal baik malah" ucapnya
"Padahal dulu pernah ke rumah loh Za. Ingat gak?" tanya Tasya
"Iya ingat. Tapi kan dulu gak ketemu A Rasya, jadi aku gak tahu"
"Masa sih? Kok ibu lupa?"
"Iyalah. Sudah lama Bu, gak akan sampe ingetannya." ujar Rasya
"Hus. Kamu ini" ucap Ibu
"Tahu nih A Rasya depan calonnya juga" ucap Tasya
***
"Mam, Papi besok pagi aja ya pulangnya? Biar bisa ke kantor dulu sebentar" ucap Reza
"Oh ya udah."
"Tuh kan marah. Kan nanti kita seminggu full Mam"
"Iya"
"Gak ikhlas gitu bilang iya-nya" ucap Reza
"Kata siapa? Sok tahu"
Reza memeluk Tasya dari belakang.
"Papi bakalan kangen sama Mami nih. Gak tidur bareng empat malam" keluh Reza
"Bohong! Paling Papi suka. Iya kan?"
"Masa gak percaya sih sayang" Reza mencium bahu Tasya.
"Mam, honeymoon saja yuk nanti? Anak-anak tinggalin aja disini" ajak Reza
Braaakk
Pintu kamar dibuka Vano.
"Abang! Masa pintunya di tendang! Kalau rusak gimana?"
"Papi kok peluk-peluk Mami terus sih!" Vano tak mengindahkan omongan Tasya.
"Biarin, kan Mami kesayangan Papi" ucap Reza
"Tutup pintunya Bang" pinta Tasya
"Enggak Mi. Aku cuma mau bilang, aku sama Papa mau beli ikan ******. Boleh ya Mi?"
"Rasya cekokin ikan sekarang Mi. Siap-siap dirumah minta aquarium" ujarnya kemudian
"Jangan Bang. Nanti susah dibawanya.
"Ck.. Pakai botol Mami. Bisa kok kata Papa juga"
"Ya udah. Terima kasih Mam" ucapnya seraya meninggalkan orangtuanya dengan pintu masih terbuka
"Bertingkah terus anak Papi" ucap Tasya
"Makanya bikin satu lagi yang kalem kayak Mami ya" ucap Reza
"Pantes Vano kayak begitu. Lihat saja Papi juga sama kaya Vano"
"apa?"
"Kalau gak dituruti terus aja bicara"
"haha.. Bagus berarti. Kukuh pada pendirian." ucapnya
***
Tasya dan Rasya sudah bersiap untuk menjemput Zahra hendak membeli perlengkapan seserahan dan mas kawin.
Dia sengaja tak membawa buah hatinya agar bisa fokus membantu calon pengantin mempersiapkan kebutuhan mereka. Tasya dan Zahra nampak sangat akrab membuat Rasya sangat bahagia melihat keduanya.
Mereka berjalan memasuki sebuah toko perhiasan yang sama dengan Tasya dulu.
'Ingat awal kesini sama Papi. Ya ampun, berasa baru kemarin. Jadi kangen Papi' gumam Tasya
"Pilih saja Ra" ucap Tasya
Zahra nampak canggung saat memilih perhiasan.
"Gak apa-apa, pilih yang kamu suka" ucap Tasya lagi.
"Ini malah kamu yang bilangnya Sya" ucap Zahra melirik Rasya
"Tasya mewakili Aa, Ra" ucap Rasya singkat.
Dering ponsel Tasya mengalihkan perhatiannya.
"Aku angkat telepon dulu ya?" ucap Tasya
"Assalamu'alaikum Pap" sapa Tasya sambil melirik Rasya dan Zahra yang sedang memilih mas kawin.
"Wa'alaikumussalaam. Lagi apa Mam?"
"Lagi nganter calon manten Pap"
"Kok gak bilang sih sudah berangkat?" tanya Reza
"Maaf Pap. Tadi kan sengaja ngumpet dulu dari anak-anak biar mereka gak ikut. Eh malah lupa masu kasih kabar ke Papi. Maaf ya" ucap Tasya
"Mami jadi obat nyamuk dong sekarang?"
"Enggak lah, orang Zahra dari tadi sama Mami. Dia kan masih canggung sama A Rasya. Tapi melihat mereka , aku jadi kangen sama Papi" ucap Tasya
"Masa?"
"Iya Papi.. Cepet kesini lagi dong sayang" rengek Tasya
"Tumben nih. Kalau jauh aja, manggil sayang-sayang. Kalau deket mah boro-boro" gerutu Reza
"Hehe.. Kan biar gemes dong, biar Papi inget Mami"
"Ah, Papi jadi kangen juga nih gara-gara Mami."
"Makanya cepet kesini sayangku" bujuk Tasya
"Kalau beres kerjaan, hari ini juga kesana, Mi"
Tiba-tiba suara ketukan pintu ruangan Reza terdengar.
__ADS_1
"Mam, nanti disambung ya. Papi kerja lagi. Miss you Sayang" Reza mengakhiri panggilannya membuat Tasya tersenyum sendiri.
"Senyum-senyum yang habis terima telepon" goda Zahra
"Hehe.. Biasa, bapaknya anak-anak laporan"
"Sudah dapat A?" tanya Tasya
"Sudah. Tapi gak satu set. Jadinya milihnya yang beda-beda."
"Gak apa-apa yang penting komplit semua" ucap Tasya
Rasya melakukan pembayaran sementara Tasya dan Zahra menunggunya diluar.
"A, mau jajan dong" pinta Tasya
"Eh maaf Ra. Lupa" Tasya sedikit sungkan
"Gak apa-apa Sya, kamu kayak kesiapa saja. Lagian kamu adiknya A Rasya" ucap Zahra
"Mau apa? Gak anaknya, gak emaknya tukang malak semua" gerutu Rasya
"Baguslah. Memanfaatkan yang ada kan"
"Punya suami Direktur tuh manfaatin"
"Ih uangnya dia aku tabung dong untuk masa depan anak-naak"
"Ya sama lah, Aa juga buat masa depan anak-anak Aa. Iya gak Za?"
"A Rasya, cuma jajan saja sampai ribut" Zahra mengingatkannya
"Denger tuh kata calon istrinya!"
"Kakak ipar, kakak aku masa pelit banget"
"Ih apa sih Sya, geli banget dengarnya juga" ucap Zahra membuat mereka tertawa
***
"Dit, siapkan berkasnya." ucap Reza
"Sudah Bos."
"Yuk jalan" Ajak Reza
Adit melajukan mobilnya menuju sebuah resto hotel bersama Reza. Disana dia disambut oleh seorang wanita yang tersenyum pada Reza.
"Maaf aku terlambat" ucap Reza pada seorang wanita dengan rok span dan kemeja bermotif bunga.
Reza duduk disamping wanita tersebut. Sesekali mereka bersitatap dan nampak tertawa bersama.
Tak mereka sadari, seseorang mengambil foto mereka.
***
"Mamiiiiiiii" Vano dan Daffa menghampiri Tasya
"Mami dari mana Mi? Daffa nangis ditinggal Mami" ucap Vano
"Daffa nangis sayang?" tanya Tasya
"uum. Mi dai ana?" tanya Daffa
"Mami tadi habis nganter Papa."
"Papa pasti beli mainan gak ajak-ajak aku" ucap Vano
"Papi beli barang buat calon Mamanya Abang"
"Tuh kan, aku gak mau punya Mama, Mi" keluh Vano
"Kenapa?"
"Papa sibuk sama Mama baru. Jadi lupa kan sama aku"
"Papa gak lupa, Bang" Rasya menimpali
"Bisa gak sih, aku gak usah punya Mama baru. Cukup Mami, Nin, sama Mbak saja yang temani aku." pinta Vano
"Enak saja! Papa masa harus jomblo seumur hidup" ucap Rasya seraya duduk di sofa.
"Jomblo apa Pa?" Vano yang tak bisa diam, berdiri di sofa tepat disamping Rasya.
"Jomblo itu Sendirian"
"Papa, Papa tuh punya aku dan Daffa yang menemani. Tenang Pa, Papa gak sendiri." vano menepuk bahu Rasya
"Beda Abang, Papa butuh Mama kamu buat berkembang biak"
"A Rasya ih ngomongnya!" Tasya mengingatkan kakaknya
"Bahasa orang dewasa memang sulit dimengerti" ucap Vano. Rasya terbahak mendengarnya.
"Untung dia gak tanya arti berkembang biak" ketus Tasya pada Rasya
"Jadi artinya apa itu?" Vano kini bertanya
"Artinya, Papa belikan kamu Pizza" ucap Rasya
"Mana Pa?"
"Disana. Ambil sendiri. Papa capek"
Tasya bermain bersama Daffa untuk melepas rindunya.
"Daffa rewel gak Mbak?" tanya Tasya
"Enggak kok Bu. Cuma tadi sempat cari Ibu pas dia ngantuk"
"Gimana Sya?" Ibu menghampiri mereka
"Beres Bu. Alhamdulillah gak susah sih Zahra nyari bajunya"
"Memangnya kamu" Rasya mencelanya
"Beda orang beda selera lah. Kebetulan Zahra sukanya waran-warna gelap, jadi gak ribet." ucap Tasya
"Niiiin.. Sini.. Mau berkembang biak gak?" Vano berteriak membuat Rasya dan Tasya tertawa.
"Apa yang berkembang biak? Sapi?" Ibu menghampiri Vano
"Bukan Nin! Ini pizza. Aku lagi berkembang biak" ucap Vano
"Kamu mah memamah biak bukan berkembang biak" canda Ibu
"Nin, aku tuh bukan Mama-Mama tahu! Tuh Papa sibuk sama Mama-Mama. Masa aku mamabiak" ucap Vano seraya menggigit pizza miliknya
"Sudah Bu, jangan dilanjut. Sama dia mah gak ada berhentinya kalau bicara" ucap Tasya
"Aku mandi dulu ah, gerah anget" Tasya meninggalkan Rasya dan Ibu yang masih bercengkrama.
Selesai mandi, Dia merebahkan tubuhnya di kasur miliknya. Tasya mencari ponsel hendak menghubungi Reza karena seharian penuh dia tak membuka ponsel miliknya.
Beberapa pesan masuk ke ponselnya. Nampak satu pesan masuk dari nomor yang tidak dia kenal. Tasya segera membuka pesan tersebut. Munculah sebuh gambar Reza bersama seorang perempuan yang tidak dia kenal, dihadapan Reza, duduk seorang laki-laki yang memunggungi foto tersebut karena berhadapan dengan Reza.
"Mommy Vano, ini Daddy-nya Vano bukan ya? Maaf tadi aku melihat Daddy-nya Vano ada di Hotel yang saya kunjungi juga. Benarkan ini suaminya?" seseorang mengirim pesan pada Tasya.
.
.
__ADS_1
.
Temaans maaf ya, waktu updatenya gak tentu karena ada beberapa hal yang harus di prioritaskan di dunia nyata. Terima kasih masih support BSN. jangan lupa like dan komentarnya yaa. Bantu VOTE juga yaaa. Terima kasih^^