BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Hari Besar Tasya


__ADS_3

Sudah sejak subuh Tasya membaca skripsinya. Bolak balik dia membuka kumpulan kertas yang tersusun rapih itu. Sementara Reza tertidur kembali setelah sholat subuh.


Tasya keluar kamar hendak membantu ibunya membuat sarapan.


"Sudah tidak usah bantu ibu, kamu siap - siap saja. Biar ibu yang membuat sarapan" ucap ibu ketika melihat Tasya mendekat


"Terima kasih bu" ucapnya kemudian membalikkan badan menuju kamarnya.


Hatinya tak karuan. Dia takut tak bisa menjawab pertanyaan dari para penguji.


'Kalau aku gak lulus bagaimana? Kalau nilaiku jelek bagaimana? Malu sama A Reza.' batinnya.


Dia kemudian keluar kamar untuk mandi. Setelah mandi dia bersiap diri memakai pakaian formal.


"A Reza bangun" Tasya menepuk-nepuk kaki Reza


"hmm" sambil memejamkan mata


"A, ayo. Katanya mau antar aku ke kampus. Nanti telat bagaimana?" ucap Tasya


"Iya" sambil meregangkan badannya


"Eh ada anak magang" begitu dia berhasil membuka matanya dan melihat Tasya memakai kemeja putih dengan rok hitam.


Tasya masih asik memakai kerudungnya.


"Sya, minum" ucap Reza sambil duduk di tepi kasur.


Semenjak menikah, dia mengikuti kebiasaan istrinya untuk minum air putih begitu bangun tidur.


Tasya kemudian memberikan air minum untuknya.


"Cepat A, nanti terlambat" Tasya memperingati.


Reza mengambil handuk dan membawa baju salin menuju kamar mandi


***


Tasya sudah lengkap dengan memakai blazer hitam dan membawa tasnya keluar kamar. Dia berpapasan dengan Reza yang baru beres mandi.


'Hmm..wangi' ucap Tasya ketika mencium aroma tubuh Reza dari dekat.


***


"A cepat.. " Tasya menghampiri Reza masuk ke dalam kamar.


'Ganteng sekali A Reza' dia menatap lekat-lekat suaminya yang sedang memakai pomade.


"Iya sebentar" kemudian memberikan senyuman manis pada Tasya


Tasya masih menatapnya.


"Sya? Kenapa? Terpesona dengan kharismaku?" tanya Reza


'Banget A.. Tuhan perasaan baru sekarang melihat lelaki seganteng dia' Tasya merasa terhipnotis oleh pesona Reza.


Saat itu Reza memakai sweater tipis berwarna abu tua dengan lengan panjang dipadukan dengan celana jeans dan rambut yang tertata rapi.


"Ayo. Malah bengong. Kenapa sih kamu?" tanya Reza


"Ng.. Nggak A" Tasya gelagapan

__ADS_1


"Sya.. Jangan nervous oke. Percaya kamu pasti bisa" ucap Reza sambil memegang bahu Tasya dengan kedua lengannya. Kemudian mengecup lembut kerudungnya.


Tasya memeluk Reza. Sekali lagi tanpa dia sadari.


Reza dengan senang hati membalas pelukan Tasya.


"Perasaan kamu kok jadi manis sekali Sya. Sepertinya LDR ampuh mengobati kakumu" ucap Reza.


Tasya tersenyum sambil memeluknya. Aroma parfum Reza membuatnya betah memeluk suaminya.


"Ayo, katanya takut telat" ajak Reza


Tasya kemudian melepaskan pelukannya. Reza mengelus pelan kerudung Tasya sambil membuka pintu kamar.


***


Setelah makan mereka pamit kepada orang tuanya.


"Ayah Ibu doakan aku ya" pinta Tasya kepada kedua orang tuanya yang mengantarkan mereka ke teras rumah


"Pasti nak. Jangan takut. Orang lain bisa. Masa kamu tidak?" Ayah menyemangatinya.


"Iya. Pasti bisa InsyaAllah" sambung ibu


"Kita berangkat ya bu. Assalamualaikum" pamit Reza dan Tasya


Reza membukakan pintu mobilnya untuk Tasya.


"Silahkan masuk nyonya Ramadhan" ucapnya sambil tersenyum


"Apa sih A Reza" Tasya tersenyum senang sambil masuk ke dalam mobil.


Reza kemudian menyusulnya. Reza mengambil kaca mata hitam dan memakainya.


'Ini aku deg-degan lihat kamu A dari pada nanti sidang' batin Tasya. Tapi dia bersikap senormal mungkin.


Mobil itupun melaju ke arah kampus Tasya.


Reza tahu, istrinya sedang nervous seperti yang dialaminya dulu.


"A Reza nanti tunggu aku di kampus atau pulang lagi ke rumah?" tanya Tasya memecah keheningan diantara mereka berdua


"Tunggu kamu saja Sya biar gak bolak balik" jawabnya


"Di kampus?" tanyanya


"Aa ke kedai kopi saja ya, sekalian kerja." ucapnya.


Sesampainya di kampus, beberapa orang memakai pakaian yang senada dengan Tasya.


"Semangat ya sayang. Pasti bisa!" ucap Reza seraya mengepalkan tangannya memberi dukungan


"Aamiin. Doain aku ya A" ucapnya


"Pasti dong sayang" seraya membelai Tasya


Tasya keluar dari mobil, Reza melambaikan tangannya sambil tersenyum. Kemudian Tasya bergegas masuk ke dalam kampus.


Reza melajukan mobilnya menuju kedai kopi yang tidak jauh dari kampus Tasya. Dia kemudian membuka pintu belakang mobil dan mengambil laptop miliknya.


Dia masuk ke dalam kedai dan memesan cokelat panas kesukaanya. Setelah itu dia duduk di kursi dan mulai membuka laptopnya. Di seberang mejanya dua orang gadis yang telah lama duduk disana terlihat saling sikut begitu melihat Reza duduk. Salah satu dari mereka menghampiri Reza.

__ADS_1


"Hai, Dava?" tanya wanita itu dengan memakai rok pendek


Reza menengok ke arah wanita tersebut.


"Bukan mbak. Saya bukan Dava" dengan tersenyum ramah.


Senyuman Reza membuatnya terpana.


"Oh.. Maaf, aku kira Dava temanku. Maaf ya mas" ucapnya


"Tidak apa-apa mbak."


"Sekalian malu deh, aku Syaina. Salam kenal" sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan


"Saya Reza" sambil balas menjabat tangan wanita itu seraya berdiri.


"Oke deh Reza. Maaf ya aku salah orang. Habis kamu mirip temanku." seraya tertawa


"Hehe.. Gak apa-apa mbak" Reza seolah menggaruk pinggir keningnya dengan sengaja.


'Oh sudah married' batin Syaina ketika melihat Reza menggaruk keningnya tersebut


"Oke kalau begitu saya permisi ya." baru selangkah dia berjalan kemudian memutar badannya kembali.


"Eh Za boleh minta nomor ponsel kamu? Siapa tahu kita berjumpa lagi" ucapnya


"Oh boleh. Ini nomorku" Reza menyebutkan nomor ponselnya.


"Oke. Terima kasih Reza. Sampai berjumpa lagi" ucapnya seraya berlalu. Kemudian temannya menyusul dan mereka pergi meninggalkan kedai kopi tersebut.


"Berani juga cewek itu minta nomor ponsel laki-laki" ucap Reza seraya duduk dan kembali melihat layar laptopnya.


***


Syaina dan Rara berjalan menuju mobil Syaina.


"Syai, hebat sekali kamu bisa dengan mudahnya dapat nomor ponsel si ganteng" ucap Rara antusias


"Apa sih yang tidak bisa aku lakukan" dengan bangganya. "Tapi kayaknya dia sudah married Ra" Syaina nampak mengingat-ngingat.


"Tahu dari mana kamu dia sudah nikah?" tanya Rara


"Aku lihat di jari kanannya ada cincin gitu" Syaina kemudian terdiam


"Tapi Ra, ganteng luar biasa dia. Apa lagi senyumnya. Membuatku meleleh" ucap Syaina seraya memegang dadanya sambil terpejam.


"Ingat Raka, Syai." Rara mengingatkan


"Iya ingat. Dia sedang jauh kan. Dia juga gak lihat aku." dia tertawa


"Dasar kamu ini"


Kemudian mereka melajukan mobilnya keluar dari area parkir kedai tersebut.


***


Setelah tiga jam Reza menghabiskan waktunya di kedai kopi, dia mulai merasa bosan. Kemudian dia keluar dan pergi meninggalkan kedai tersebut.


Dia mengendarai sedan putihnya dengan kecepatan rendah menyusuri jalanan tanpa tujuan untuk menghilangkan bosan.


Di jalan yang dia lalui terlihat beberapa kios bunga dengan berbagai macam contoh papan ucapan. Dia turun dari mobilnya. Menghampiri salah satu kios bunga tersebut dan berbicara dengan penjual kiosnya.

__ADS_1


Setelah selesai, dia membawa seikat bunga dan berjalan menuju mobilnya.


***Hai Readers, aku lagi kurang semangat nih. Bantu VOTE dengan memberikan koin atau poinnya ya ^_^. Jangan lupa LIKE dan KOMENTAR POSITIFNYA. Terima kasih ^^ ***


__ADS_2