
"Minum Mam.." pinta Reza
"Oh iya, maaf lupa sayang" Tasya segera memberikan air putih pada Reza.
Tasya menunggu Reza meneguk air putih yang diberikannya.
"Jadi bagaimana?" tanya Tasya tak sabar
"Sini duduk" pinta Reza
Tasya duduk di sampingnya.
"Sini" Reza menepuk pahanya
Tasya segera pindah dipangkuan Reza, dia tak banyak bicara.
"Gak usah panik." ucapnya seraya merebahkan kepalanya pada dada sang istri seraya melingkarkan tangannya dipinggang sang istri. Reza melepas lelah disana.
"Vano gak apa-apa kan matanya Pap?" tanyanya lagi. Kedua tangan Tasya mendongakkan kepala suaminya agar mereka bersitatap.
"Iya. Alhamdulillah. Anak kita sehat." ucapnya seraya memberikan senyuman terhangat.
"Alhamdulillah. Benar kan Pap? Papi gak bohong?" ucapnya berkaca-kaca
"Untuk kesehatan anak kita buat apa Papi bohong"
"Kemarin saja baru bilang kalau Vano prematur" Tasya bersungut
"Karena kemarin Mami koma, mana mungkin begitu Mami sadar Papi langsung bilang kalau anak kita prematur" dalihnya
Tasya terdiam, membenarkan semua ucapan suaminya.
"Kapan dia bisa pulang sayang?" tanya Tasya lagi
"Minimal kalau berat badannya mencapai 1.8 kilogram baru bisa pulang" ucapnya
"Seminggu bisa gak ya Vano naik segitu?" Tasya seolah berpikir
"Papi gak bisa jamin. Besok Papi kasih surat peringatan ke tiga buat Vano biar dia mau pulang" candanya
"Anak sendiri disamain dengan karyawan" Tasya bersungut
"Biar dia jera Mam. Mau pulang ke rumah atau enggak. Betah banget sama suster. Papi juga mau." canda Reza
"Apa!" Tasya menjewer telinga suaminya
"Ampun sayang.. Sakit Mam" ucapnya seraya mengusap telinganya
"Papi nakal, tiada maaf bagimu" ancamnya
"Becanda sayang. Papi nakalnya sama Mami saja"
"Dasar" Tasya hendak beranjak dari pangkuan sang suami tapi Reza menahannya.
"Apa sih sayang? Lepas dulu ah" rengek Tasya
"Sebentar." ucapnya.
Tasya kembali duduk. Dia mengelus lembur kepala suaminya.
"Papi gak ada rahasia kan?" tanya Tasya curiga
"Enggak sayang. Papi cuma ingin manja saja sama Mami" ucapnya
"Mami takut sekali. Takut anak kita kenapa-napa" keluhnya
"Kalau Papi boleh jujur, Papi juga sama sayang"
"Cuma.. Balik lagi sama yang memberi nyawa. Semoga kita dipercaya merawat Vano." ucap Reza pasrah
"Tapi, rasanya gak rela kalau aku harus kehilangan dia. Setelah dulu kita kehilangan anak pertama kita Pap" Tasya mulai meneteskan air mata kembali
"Papi tahu, tapi kita bisa apa? Kita sedang ikhtiar kan? Kita berdoa juga. Selain itu? Ya kita cuma bisa pasrah" ucap Reza
"Maaf ya, andai aku gak kecelakaan.. "
"Papi gak suka Mami bilang begitu" potong Reza cepat
"Takdirnya sayang. Memang sudah jalannya" ucapnya kemudian
Tasya terdiam.
Reza mengecup lembut bibir Tasya.
"Makan yuk? Papi lapar" ajaknya
Tasya beranjak dari pangkuan suaminya.
"Papi mendingan ganti baju dulu deh" pinta Tasya
Reza patuh. Dia segera ke kamar mandi kemudian memakai kaos yang disediakan istrinya. Tasya mengajaknya keluar kamar. Mereka duduk di ruang makan. Tasya melayani suaminya dengan telaten. Memasukan satu persatu lauk pada piring milik suaminya.
"Pap.."
"Apa papi gak akan ke kantor? Mami kasihan sama Papa" ucap Tasya
"Papi gak mau Mami sendirian" ucapnya seraya mengunyah
"Gak apa-apa sayang. Daripada Papi begini terus" ucap Tasya
"Yakin?" tanya Reza menghentikan sejenak makannya kemudian meneguk air yang sudah Tasya sediakan.
"Huum. Aku gak apa-apa. Ada Bi Tinah juga kan. Jadi gak sendirian." ucapnya
"Pengasuh Vano suruh kesini saja ya? Biar adaptasi juga. Mami juga punya teman" ucapnya
"Ya sudah dia suruh kesini saja. Mami juga lupa, baju Vano belum pada di cuci dari beli waktu itu." ucap Tasya
"Besok Papi minta datang kesini."
Tasya mengangguk sambil memakan kerupuk.
Setelah selesai makan, Reza berbicara dengan Bi Tinah untuk meminta pengasuh Vano segera tinggal dirumah menemani istrinya.
***
Keesokan harinya, seperti biasa pagi-pagi sekali Bi Tinah sudah berada di dapur untuk menyiapkan sarapan. Dia ditemani oleh perempuan berwajah ayu yang merupakan salah satu keponakannya yang akan menjadi pengasuh Vano.
"Orang rumah memang belum pada bangun jam segini Lik?" tanya keponakannya
"Sebentar lagi biasanya pada keluar." ucap Bi Tinah singkat
Tak lama, Tasya keluar kamar.
"Lik" keponakan Bi Tinah mencolek pinggang Bi Tinah ketika Tasya mendekat ke arah mereka.
Seketika Bi Tinah menoleh.
"Neng, ini keponakan Bibi yang akan mengasuh Vano." ucap Bi Tinah
"Oh ini. Saya Tasya Mbak" Tasya mengajaknya berjabat tangan
"Diah Bu" ucapnya sopan
__ADS_1
"Jangan panggil Ibu, samakan saja seperti Bi Tinah manggilnya." pinta Tasya ramah
"Sudah tahu kamarnya?" tanya Tasya
"Sudah bibi arahkan disana Neng" Bi Tinah menunjuk kamar yang dekat dengan halaman belakang.
"Mau dimana saja boleh kok, saya gak masalah" ucap Tasya seraya tersenyum
"Tolong nanti bantu saya ya, untuk saat ini memang Vano belum pulang. Tapi nanti tolong cuci baju-baju Vano saja terlebih dahulu" pinta Tasya
"Baik Bu"
"Jangan panggil Ibu" ralat Tasya
"Panggil Neng saja seperti Bi Tinah, mbak" ucapnya
"Baik" Mba Diah mengangguk.
Tasya menyiapkan roti kukus dan cokelat panas untuk suaminya.
"Reza sakit? Dari kemarin makannya di kamar terus" tanya Bi Tinah
"Enggak. Lagi manja saja dia mah Bi" Tasya tersenyum malu
"Iya, kangen Neng Tasya sepertinya" ucap Bibi
"Tiap hari ketemu Bi. Bosen kali yang ada"
Bibi tersenyum
"Sebelum Vano pulang, manfaatkan waktunya. Nanti mah susah kalau sudah ada Vano harus curi-curi waktu" ucap Bi Tinah
"Hehe iya Bi. Aku ke kamar dulu ya" ucap Tasya seraya membawa nampan ditangannya.
Tasya berjalan masuk ke dalam kamar. Sementara Mbak Diah memperhatikannya hingga Tasya hilang dibalik pintu.
"Kasihan ya Lik" ucap Mbak Diah pada Bi Tinah saat melihat Tasya masih dengan balutan perban di kepalanya. Dia telah mengetahui cerita kecelakaan Tasya dari Bi Tinah.
"Iya. Untungnya masih selamat. Kalau tidak, gak tahu Reza bakal kayak gimana" ucap Bi Tinah
"Kenapa memang Lik?" tanyanya
"Suaminya sayang banget sama Neng Tasya" ucap Bi Tinah
Sementara Tasya menaruh nampan di atas nakas. Dia meraih selimut dan melipatnya. Terdengar suara air dari dalam kamar mandi mereka.
Tasya menyiapkan pakaian Reza. Kemudian menunggunya dengan bermain ponsel. Tanpa dia sadari sang suami sudah berada di hadapannya.
"Astaghfirullah.. Papi" ucap Tasya yang nampak kaget
"Lihat apa sih? Sampai Papi keluar kamar mandi juga Mami gak tahu" ucapnya
"Enggak."
"Sana pakai baju" ucap Tasya
Tapi Reza tak menghiraukannya. Dia menyeruput cokelat panas dihadapannya.
"Istri siapa sih akhir-akhir ini sweet sekali. Nyiapin sarapan di kamar terus" goda Reza seraya mencolek dagu istrinya
"Gak suka?"
"Suka sekali dong. Apalagi kalau di suapin juga. Dipakaikan baju juga"
"Manja itu mah" ucap Tasya
Reza tersenyum.
"Manja juga sama istrinya"
"Mami sudah ketemu?" tanya Reza
"Sudah."
"Suka sama orangnya?" tanya Reza
"Belum tahu Pap. Orang baru ketemu. Ya sekarang biasa saja. Tapi masih muda" ucap Tasya
"Oh"
Reza memasang kemerjanya. Tasya mendekat kemudian mengancingkan kemeja suaminya.
"Love you Mami" Reza mengecup pipi istrinya
"Semua saja ni" Tasya mendekatkan wajahnya
"Ih Mami mah belum mandi" protes Reza yang membuatnya tertawa
"Papi nanti jenguk Vano gak?" tanya Tasya
"Pasti sayang. Nanti sebelum ke kantor" ucapnya
Reza duduk sambil memakan sarapannya.
"Papi tinggal gak apa-apa kan?" tanyanya memastikan
"Gak mau sih, tapi Papi harus cari uang yang banyak buat aku dan Vano" Tasya bergelayut manja
"Pasti. Maaf ya ditinggal. Papi usahakan gak pulang malam" ucapnya masih mengunyah roti miliknya.
Reza mengecek ponselnya sementara Tasya menempel di bahu suaminya.
"Duh, Papi jadi malas kerja kalau Mami begini. Maunya sama Mami saja"
"Yuk mau berangkat sekarang?" tanya Tasya
Mereka keluar kamar dengan bergandengan.
"Pulang beli buah ya." pinta Tasya yang membuat Mbak Diah melirik ke arahnya.
Tasya mengajak Reza berjalan ke arah dapur.
"Ini yang ngasuh Vano, Pap" ucap Tasya pada Mbah Diah
"Reza" ucapnya seraya mengulurkan tangan
"Saat ini saya titip istri saya ya Mbak. Tolong temani istri saya saja dulu sebelum Vano pulang" pinta Reza
"Baik Pak" ucapnya
Reza tak protes masalah panggilannya. Dia sudah biasa dengan panggilan tersebut.
"Saya tinggal ya." ucap Reza seraya tersenyum
Sementara Mbak Diah merasa gugup saat pertama kali melihat Reza. Dia mencuri-curi pandang ke arah majikannya.
"Ganteng sekali seperti artis" gumam Mbak Diah melihat kedua majikannya melenggang ke luar.
"Lik.. Lilik.. " Mba Diah mencari Bi Tinah
"Apa?"
"Pak Reza ganteng banget Lik. Aku sampai gemetar begini melihatnya" ucap Mbak Diah
__ADS_1
"Hus! Kamu itu! Jangan macam-macam" ucap Bi Tinah
"Enggak kok. Cuma muji ganteng saja Lik"
"Jangan bikin malu Lilik. Mengerti?" ancam Bi Tinah
***
"Mbak Diah.. Mbaak" Tasya memanggilnya setelah suaminya berangkat kerja.
"Sini yuk." ajak Tasya pada Mbak Diah saat dia mendekat
Tasya membuka pintu kamarnya
"Ayo masuk. Vano satu kamar sama aku, Mbak. Jadi bajunya juga disini" ucap Tasya
Mbak Diah mengedarkan pandangannya. Melihat kamar majikannya.
'Beda ya kamar orang kaya. Kamar saja luas begini' batinnya.
"Sedikit-sedikit saja dulu ya Mbak. Jemurannya juga gak muat kalau semuanya" ucap Tasya
"Baik Bu" ucap Mbak Diah.
Mba diah membawa baju-baju Vano keluar kamar. Sementara Tasya merebahkan tubuhnya. Tak butuh waktu lama, dia tertidur.
***
Tasya terbangun saat dirasa tenggorokannya sangat kering. Dia melihat jam dinding tengah menunjukan jam sebelas siang. Tasya ke dapur, dan dia mendengar dua orang sedang mengobrol di halaman belakang. Dia berjalan ke halaman belakang. Disana Bi Tinah dan Mbak Dian sedang berbincang.
"Neng, baru bangun?" tanya Bi Tinah
"Iya. Aku ketiduran. Efek obat sepertinya" ucapnya.
Tasya melihat baju-baju Vano tergantung disana melambai-lambai oleh hembusan angin.
"Lihat baju Vano jadi kangen" ucapnya
"Sabar ya Neng. Nanti dia juga pulang" ucap Bi Tinah
Tasya mengangguk pelan.
"Mba Diah sudah nikah?" tanyanya
"Saya sudah bercerai Bu" ucapnya
"Dia KDRT Neng sama suaminya" Bi Tinah menimpali
"Astaghfirullah..terus bagaimana? Dilaporkan? " tanya Tasya
"Ya pisah gitu saja Neng. Orang seperti kita mana berani lapor polisi." Bi Tinah bicara kembali
"Mbak Diah sudah punya anak?" tanyanya lagi
"Anak saya meninggal waktu usianya lima tahun Bu. Dia demam tinggi sama sesak nafas" ucap Mba Diah
"Maaf ya Mbak. Aku tanya-tanya jadi mengingatkan" Tasya menyesal
"Gak apa-apa Bu." ucapnya singkat
"Makanya saya bawa kesini Neng, ya daripada dirumah terus" ucapnya
"Iya. Nanti bantu aku jaga Vano ya. Mudah-mudahan lekas pulang" ucap Tasya
"Mami disini, Papi cari di kamar gak ada" ucap Reza dengan bersandar di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya di dada membuat ketiga orang yang sedang berbincang menoleh ke belakang.
"Loh, Papi kok pulang?" Tasya bangkit berhambur memeluk suaminya. Dia lupa ada Bi Tinah dan Mbak Diah disana.
"Eh, aku tinggal ya Bi, Mbak Diah" pamit Tasya yang baru sadar.
Reza merangkul istrinya sambil berjalan.
"Papi mau makan bareng Mami makanya pulang" ucapnya
"Baru sebentar Mami sudah kangen Papi" Tasya memeluk erat
"Papi juga"
"Makan sekarang?" tanya Tasya
"Huum. Papi harus ke kantor lagi nanti. Gak apa-apa ya?" tanya Reza
"Iya. Papi pulang juga aku sudah senang." ucapnya seraya sibuk mengambil lauk makan.
"Vano bagaimana?"
"Vano nangis tadi Papi lepas gendong kangguru" ucapnya
"Masa? Ya Allah gak tegaa. Kenapa Papi lepas" Tasya protes
"Orang suruh perawatnya. Ya sudah Papi lepas. Eh anaknya nangis. Gak tahu karena Papi ancam SP 3 itu anak" Reza nyengir
"Papi ih. Anak sendiri beneran di ancam"
"Hehe biar cepat pulang sayang" ucapnya tanpa merasa bersalah.
***
"Lik, aku tiap lihat Pak Reza langsung gugup gitu" ucap Mbak Diah
"Lilik gak gugup gitu?" tanyanya
"Lilik ngurus dia dari kecil. Gimana mau gugup"
"Oh iya ya. Gantengnya kayak Artis. Gimana yang Artis beneran" ucap Mbak Diah.
Reza menghampiri mereka.
"Bi, tolong buatkan jus semangka dong. Tasya masih makan" ucap Reza pada Bi Tinah
"Iya Za"
Reza berterima kasih kemudian masuk kembali. Dia melanjutkan makannya.
"Sana kamu yang buat. Jus semangka tanpa gula. Semangka saja d blender" ucap Bi Tinah.
"Eh, Lilik saja yang buat. Kamu nanti lihat ya. Biar besok-besok kalau Lilik repot, kamu yang buat" ucapnya
Bi Tinah dan Mba Diah masuk ke dapur. Mbak Diah melirik ke arah mereka berdua seolah penasarannya belum selesai.
Tasya masih asyik berbincang dengan suaminya saat mereka makan. Sesekali Reza tersenyum mendengar perkataan Tasya.
'Ya ampun kalau senyum manisnya melebihi gula biang' batin Mbak Diah yang terpesona.
Reza menyadari gelagat Mbak Diah yang selalu curi-curi pandang ke arahnya. Dia berusaha senatural mungkin.
Bi Tinah memberikan arahan pada Mbak Diah. Dia menyuruh mengupas semangka dari kulitnya kemudian memasukan ke dalam blender bersama es batu. Setelah selesai, Bi Tinah menuangkan jus semangka ke dalam dua gelas.
"Kasih ini" Bi Tinah menyodorkan gelas berisi jus pada Mbak Diah.
Mbak Diah membawa nampan mendekat ke meja makan. Dia nampak sangat gugup, terlihat dari getaran tangannya yang tak biasa.
"Loh, Mba Diah sakit?" tanya Tasya
__ADS_1
*** Temaans seperti biasa bantu VOTE yaaa..jangan lupa tinggalkan jejak dengan LIKE dan KOMENTARNYA.
Oya ikuti juga spinoff novel ini yang negisahkan tentang Keenan dan Lala. Pantengin di My Enemy, My Love! Teruma kasih ^^ ***