BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Calon Mama Baru


__ADS_3

Reza membalikan tubuhnya melihat siapa yang memanggilnya.


"Daddy Elvano?" tanyanya. Dia melihat Reza dari atas hingga bawah membuat Reza mengikuti arah matanya


"Kenapa Bu?" tanya Reza


"Mommy Elvano kemana?" tanyanya


"Sedang tidak enak badan. Ada apa ya?" tanya Reza


"Oh. Tadinya hari ini mau meeting dadakan untuk kasih surprise ke Miss."


"Surprise apa Bu?" tanya Reza


"Ulang tahun Miss. Biasa kita kasih kue dan kado." ucapnya


"Oh, maaf. Istri saya gak bisa ikut" ucap Reza


"Gak apa-apa. Tolong sampaikan saja. Biasanya kita kan ada uang kas, tapi berhubung baru, jadi kita patungan" ucapnya


"Maaf, Saya harus setor ke siapa?"


"Ke saya saja, Cecilia. Mommy Juna" ucapnya seraya tersenyum


Reza merasa tak asing dengan nama tersebut. Reza memandang wanita tersebut dari atas hingga bawah, melihat gaya wanita tersebut. Percis yang dilakukan wanita itu kepadanya. Cecil merasa percaya diri saat Reza melihatnya. Dia merasa Reza tertarik padanya.


'Cantik Tasya kemana-mana' batin Reza


"Kapan memang acaranya Bu?" tanya Reza


"Besok sih. Makanya sekarang kita mau meeting"


"Oh gitu" Reza membuka dompetnya. Dia memgeluarkan semua uang tunai miliknya.


"Maaf, saya bawa uang tunai hanya segini. Nanti kalau kurang, hubungi istri saya saja." ujar Reza seraya mengeluarkan dua belas lembar pecahan seratus ribuan


"Tidak Dad, gak sampai segitu sih patungannya" ucap Cecil


"Gak apa-apa Bu. Ambil saja semua." ucapnya


"Saya permisi kalau begitu, Bu" Reza masuk ke dalam mobil miliknya.


Reza mengemudikan mobilnya mencari tempat untuk menunggu Vano. Dia masuk ke dalam kedai kopi.


"Loh Za?"


"Sedang apa kau Dam?" tanya Reza


"Kau yang sedang apa? Aku karja lah disini" ucapnya


"Wah? Punya kau ini?" tanya Reza


"Begitulah. Bisnis recehan" ucapnya


"Bisa saja kau" Reza menonjok pelan lengan Adam


"Eh mana istri kau?" tanya Adam


"Haha.. Gak salah kau tanya dia?"


"Kemarin dia kesini dengan kawannya." ucap Adam


"Serius kau?" tanya Reza sedikit terbakar cemburu


"Haha.. Kau tak tahu rupanya?"


"Kawannya, Handsome kayak Aku" Adam mengedipkan sebelah matanya


"Serius kau!" ucap Reza


"Haha.. Takut kau. Makanya jaga istrimu. Aset dia tu. Anggun kali. Kau tak suka, aku yang ambil"


"B*rengsek Kau" ucap Reza


"Kau tak kerja?"


"Aku nganter anakku. Istriku sakit"


"Pantes."


"Eh, istriku dengan perempuan atau lelaki?"


"Perempuan Za. Kalau kau izinkan, aku dekati lah istri kau" ucapnya


"Kau kehabisan gadis Dam?" tanya Reza


"Haha. Istrimu itu, istri idamanku lah. Bolehlah kita nakal, tapi punya istri harus anggun seperti dia. Hahaha" Adam berbicara terus terang.


"Heh! Istrimu cerminan dirimu! Jangan lupa kau. Masa baj*ngan dapat wanita sholehah. Kasihan lah dia. Hahaha" ejek Reza


"Eh Dam, kau ada link yang mau jual rumah, yang ada kolam renangnya" tanya Reza


"Enggak. Kau mau pindah Za?"


"Enggak. Cuma tanya saja aku. Haha"


"Dasar! Ya sudah ku tinggal ya. Masih ada kerjaan" ucap Adam


Dia meninggalkan Reza semetara Reza membuka laptop miliknya. Dia menghabiskan waktu hingga jam pulang sekolah.


Reza menunggu Vano keluar dari kelasnya. Segerombol ibu-ibu menghampirinya.


"Daddy Elvano, terima kasih ya untuk sumbangannya" ucap Cecil


"Oh sama-sama Bu." ucap Reza datar


"Sering-sering saja ya Dad, siapa tahu bisa jadi donatur tetap" ucap salah satu Ibu


"Selama saya mampu, tak masalah buat saya Bu" ucap Reza sedikit menyombongkan dirinya. Dia merasa sakit hati dan terhina saat mengingat anaknya di bully.


"Sudah cakep, baik lagi." celetuk seorang Ibu


"Papiii" Vano berlari menghampiri Reza. Dia menarik tangan Reza menjauh dari Ibu-Ibu tersebut.


"Kok Papi sama Ibu-ibu itu sih? Papi ngobrol apa? Mami gak suka kumpul sama mereka" ucap Vano seraya berjalan ke mobilnya


"Papi keren jadi mereka ingin dekat Papi' ucap Reza asal


"Aku bilang Mami ya, Papi nakal"


"Haha.. Bilang saja" ucap Reza


"Papi, aku mau beli es krim Pi"


"Uang Papi abis Bang"


"Ambil dulu uangnya, Papi. Kan masih banyak"


"Siap. Papimu tidak miskin, Nak. Tenang saja" ucap Reza

__ADS_1


***


"Sudah mendingan sayang?" tanya Reza begitu tiba dikamar mereka


"Alhamdulillah" ucap Tasya singkat


"Cepat sembuh Mam. Papi belikan bubur kacang ijo. Dimakan sekarang ya?"


Tasya tak menyahutinya, dia memainkan ponselnya.


"Mam, Mami ketemu Adam kemarin?" tanya Reza. Tasya sedikit terkejut.


"Iya. Aku gak tahu kedai kopi itu miliknya" ucao Tasya datar


"Kenapa Mami gak bilang?"


"Penting buat kamu?" tanya Tasya


"Kamu?" ulang Reza dengan nada tak suka. Tasya terdiam.


"Aku gak mau dengar kamu pergi ke kedai kopi miliknya lagi" ucap Reza


"Masalah buat kamu?" tanya Tasya.


"Iyalah! Dia suka sama kamu. Kamu gak sadar?"


"Baguslah. Seenggaknya masih ada yang menyukaiku."


"TASYA! Apa maksud kamu!" bentak Reza


"Kamu kan sudah malas jalan sama aku. Apalagi ke sekolah anak. Giliran aku sakit, kamu bisa nganter anak sekolah. Giliran diajak bareng nganter anak sekolah? Alasannya sibuk" Tasya menumpahkan emosinya.


Reza terdiam.


"Kamu tahu, kenapa aku ke sekolah? Karena anak kita kena bullying dari temannya begitupun kamu" ucap Reza. Tasya terkejut mendengarnya


"Tahu dari mana kamu? Jangan ngarang cerita!"


"Vano yang cerita sendiri. Oh ya, cepat sembuh! Biar kamu bisa belanja semua kebutuhanmu. Biar kamu bisa tunjukan siapa suamimu"


"Tunjukan suami? Diajak saja gak mau!"


"Maaf soal kemarin" sesal Reza.


"Papi gak terima Vano di rendahkan." ujarnya dia duduk disamping Tasya.


Reza menceritakan apa yang Vano caritakan kepadanya termasuk memberi sumbangan tadi di sekolah. Tasya semakin terkejut dibuatnya


"Papi sudah gila! Gak usah boros hanya demi gengsi." ucap Tasya


"Biar mereka tahu, Vano bukan orang miskin sesuai perkataan mereka" Kesal Reza


"Ada gunanya setelah itu? Hanya sanjungan pujian yang gak ada manfaatnya"


"Setidaknya anak kita tidak merasa minder Mam" ucap Reza


"Aku yakin, Vano bisa mengatasinya sendiri." ucap Tasya


"Yakin? Seharian kemarin murung, Mami lupa?" tanya Reza


Kini Tasya terdiam.


"Mami juga tunjukan sama mereka. Pakai perhiasan yang Papi belikan untuk Mami. Kalau perlu, kita belanja lagi. Papi jungkir balik kerja buat kalian."


"Apa harus pamer seperti itu? Kalau begitu, kita tak jauh beda seperti mereka" ujar Tasya


"Papi sudah menunjukannya kan tadi?"


Reza mengangguk.


"Rasanya kurang puas." ucapnya


"Papi harap Mami mau melakukannya. Harga diri Papi yang kalian pertaruhkan." ucapnya


"Gak usah berlebihan." Tasya mengelus dada suaminya.


"Sabar aja." ucap Tasya kemudian


"Mami gak suka" ucap Tasya tegas membuat Reza terdiam. Tasya memeluknya erat agar Reza tak mempeepanjang perihal harga dirinya. Reza membalas pelukan istrinya. Dia mengecup kepala sang istri.


'Gara-gara anak kita berantem hampir seminggu. Gara-gara anak juga kita bisa akur lagi' batin Reza


"Masih sakit sayang?" tanya Reza


"Kepala berat sama lemas" ucap Tasya


"Makan dulu yuk bubur kacangnya" ucap Reza


Tasya mengangguk.


Reza keluar kamar bertepatan dengan Vano yang masuk ke dalam kamar.


"Are you oke, Mami?"


"Alhamdulillah."


"Syukurlah. Jangan membuatku sedih Mam" ucap Vano


"Dasar kakak tua" Tasya tersenyum


"Adek mana?"


"Di belakang sama Mbak. Kata Mbak jangan sama Mami nanti takut tertular" ucap Vano.


"Iya Bang. Mami takut kalian sakit." ucap Tasya


Reza membawa bubur kacang ke dalam kamar. Dia menyuapi Tasya pelan-pelan.


"Ponsel Mami bunyi, Mi" ucap Vano


"Papa tuh, angkat" titah Tasya


Wajah Vano seketika berbinar.


"Assalamu'alaikum Papaaaa"


"Wa'alaikumussalaam kesayangan Papa. Lagi apa sih? Kok gak telepon-telepon Papa" mereka mendengarkan Rasya berbicara.


"Maaf Pa, aku sibuk sekolah" ucapnya membuat Reza dan Tasya menahna tawanya.


"Tua dasar" umpat Reza


"Haha.. Anak Papa sibuk ya. Tapi kalau Papa ajak ke rumah calon Mama mau gak?" tanya Rasya


"Siapa A?" Tasya merebut ponselnya


"Mm.. Perempuan Sya"


"Gak cerita!" ketus Tasya. Reza hendak menyuapi Tasya tapi Tasya menahannya.

__ADS_1


"Maaf Neng. Baru juga kenal beberapa bulan"


"Aa yakin?"


"Dulu kamu yakin gak sama A Reza?" Rasya balik bertanya


"Enggak" Tasya melirik Reza sepintas


"Terus kenapa mau?"


"Terpaksa karena takut durhaka sama ayah ibu. Haha"


"Terpaksa sampai punya anak dua. Eh tiga kalau ada." ralat Rasya


"Haha.. Terpaksa keenakan itu mah" ucap Reza


"Loh? A Reza gak ngantor?" Rasya nampak terkejut.


"Nyonya lagi sakit" balas Reza cepat


"Mami sakit, Pa. Papa kapan kesini?" Vano kini memgambil ponselnya


"Kamu sekeluarga yang kesini ya. Papa tunggu"


"Aa cerita dulu!"


"Nanti kalau kamu kesini"


"Kapan acaranya?"


"Minggu depan sih rencana Aa. Tapi Aa belum tahu juga. Kamu deh kesini besok. Bantu Aa. Seminggu cukup kali Sya?"


"Apa? Lamaran?"


"Langsung aja. Akad." ucapnya


"Aa? Serius?" Tasya mdmbulatkan matanya, kemudian melirik Reza


"Aa gak becanda sayang."


"Papa mau apa sih Ma?" tanya Vano yang masih menyimak mereka. Tasya memberikan kode agar Vano diam.


"Aa.. "


"Jangan nangis. Aa gak mau kamu nangis." tebak Rasya. Dan benar saja, Tasya meneteskan air matanya.


"Bisa kan kalian seminggu disini untuk persiapan?" tanya Rasya


"Aa mau kamu yang mengaturnya Sya"


"Memang acaranya gak di pihak perempuan?" tanya Tasya


"Enggak. Di rumah kita saja. Kapan lagi Ibu hajatan coba? Vano masih lama" ucapnya


"Dua kali hajatannya?"


"Enggak, Sya. Disini saja. Nanti Aa cerita semuanya yaa" ucap Rasya


"Pa. Papa mau apa sih? Kok Mami nangis?"


"Papa mau kasih kamu Mama baru" ucap Rasya


"Ma, aku gak mau Mama baru. Aku maunya Mami saja" ucap Vano membuat mereka tertawa


"Papa jangan nakal, Mami lagi sakit Pa. Nanti kalau makin sakit gimana?" tanyanya


"Mami sakit apa?"


"Badannya panas. Tapi sekarang sudah enggak" ucapnya


"Cepet sembuh Mami. Jangan banyak pikiran. Cepet kesini bantu persiapan Papa" pinta Rasya


"InsyaAllah ya Pa. Ibu mana?"


"Biasa Ibu lagi di rumah teteh" ucapnya


"Wah, ibu curi start"


"haha..kayak gak tahu Ibu saja"


"Ya sudah, kamu istirahat"


"Papa.. Pa, jelaskan sama aku" pinta Vano keluar dari kamar membawa ponsel Tasya


"Papi, gimana?"


"Ya kita kesana Mam. Masa gak kesana"


"Mau seminggu disana?"


"Papi besok kerja dulu ya. Kalau mau jalan paling Sabtu. Gimana?"


"Boleh. Vano gimana Pap? Kan sekolah?"


"ya libur Mam. Mau gimana lagi"


"Sayang banget. Baru juga masuk"


"Terus? Mami mau datang sebagai tamu undangan?


"Ngaco. Apalagi Aa minta di urus sama kita"


"Jadi, besok Papi minta izin ke sekolah Abang. Mami harus sembuh. Papi juga sambil bereskan kerjaan." ucap Reza


"Deal" jawab Tasya


"Mana bubur kacangnya?"


"Tadi Mami gak mau. Ya Papi habiskan" ucapnya


"Dasar. Papi mah aku lagi ngomong juga terus aja di suapin. Ya aku tolak lah"


"Haha.. Nanti beli lagi deh"


Vano masuk ke dalam kamar dengan terisak.


"Kenapa Bang?"


"Mamii... " Dia menangis sambil memeluk Tasya


" Aku gak mau punya Mama baru" ucapnya disela-sela tangisannya.


.


.


.


Hari ini double up ya teman. Tolong bantu VOTE yang banyak. Jangan lupa like dan komentarnya juga. Terima kasih ^^

__ADS_1


__ADS_2