BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Diantar Papi Ke Sekolah


__ADS_3

Seperti biasa, Pagi-pagi Tasya sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan bekal sekolah Vano.


Dia membuat bento sesuai permintaan sang anak. Tak lupa, Tasya menyiapkan snack dan air minum ke dalam Tasnya.


Tasya mengantar Vano bersama Pak Budi, sementara Daffa ditinggal bersama pengasuhnya dirumah.


"Mami, apa aku terlihat ganteng?" tanyanya setelah kemarin sore Tasya mengajaknya ke barber shop.


"Iya sudah ganteng, Bang" ucap Tasya


"Nanti kata Miss Devi aku pasti dibilang handsome boy" ucapnya Bangga


"Kecil-kecil kamu sudah belajar begitu. Kayak Papi saja"


"Papi memang gimana Mam?"


"Papi sama kamu, sama-sama narsis" ucap Tasya


"Pasti Papi ngikutin aku kan Mam?"


"Iya." Tasya malas menanggapi.


Tiba disekolah, Vano segera masuk ke dalam kelasnya sementara Tasya menunggunya di halaman sekolah bersama pengantar yang lainnya.


"Mam, ngopi yuk? Jenuh nih" ajak Bunda Dira


"Dimana?" tanya Tasya


"Sekitaran sini saja. Aku kemarin lihat ada kedai kopi yang rame" ucapnya


"Hmm.. Gak apa-apa kalau anak-anak ditinggal?" Tasya nampak ragu.


"Gak apa-apa. Santai saja sih" ucapnya


"Yuk" ajaknya kemudian


Tasya mengikuti ajakan Bunda Dira, orang yang dekat dengannya dari awal anak mereka masuk sekolah.


'Sudah lama sekali gak bebas kayak gini' batin Tasya seraya menikmati perjalanan mereka. Tak begitu lama, mereka tiba disebuah kedai kopi.


Tasya dan Bunda Dira memesan kopi mereka.


"Ini kedai yang rame itu?" tanya Tasya seraya mengedatkan pandangannya


"Iya, karena masih pagi jadi gak terlalu rane kali ya."


"Country nih konsepnya " ucap Bunda Dira sambil memandang hiasan yang berada di kedai.


"Huum. Bagus sih, rata-rata klasik kalau enggak modern" ucap Tasya


"Bu Dok, sering jalan begini?" tanya Tasya kemudian


"Enggaklah Mam, susah kalau punya anak." ucapnya


"Iya sih."


"Mam Vano gimana?"


"Apalagi aku, dirumah masih ada yang nungguin" ucap Tasya seraya tersenyum.


Tiba-tiba seorang lelaki masuk ke dalam kedai. Tasya nampak mengingat lelaki tersebut. Tak sengaja, pandangan mereka beradu.


"Loh, istri Reza?" tanyanya


"Hee.. Iya Mas.."


"Cuma berdua?" tanyanya


"Boleh ya, aku duduk" ucapnya seraya menarik kursi


Tasya dan bunda Dira nampak saling pandang


"Rezanya mana Mbak?" tanya Adam


"Kerja."


"Mas Adam sendirian?" tanya Tasya


Belum sempat menjawab, tiba-tiba pelayan menghampiri mereka.


"Bos, barangnya datang" ucap pelayan tersebut.


"Saya tinggal dulu ya Mbak" ucapnya


'Kedai ini punya Mas Adam?' batin Tasya


"Ini punya dia?" tanya Bunda Dir


"Mana ku tahu Bun"


"Wah? Kalau tahu, lumayan tuh Mam bisa gratisan" ucapnya


"Siapa? Teman suamimu ya?" tanyanya lagi


"Iya. Teman suamiku"


Tiba-tiba dering ponsel Tasya berbunyi.


"Assalamu'alaikum Mbak, ada apa?" tanya Tasya


"Wa'alaikumsalam Bu, Daffa minta ayam kriuk" ucap Mbak Uji diseberang sana


"Di kulkas ada ayam kan Mbak?" tanyanya


"Ada tapi sudah dibumbui semua. Daffa mintanya ayam kriuk lihat di televisi" ucap Mbak uji


"Ya ampun.. Sudah kayak Abangnya saja. Ya sudah, Mbak pesan G-Food bisa kan? Nanti aku ganti uangnya. Kalau nunggu aku, pasti masih lama" ucap Tasya seraya melihat jam ditangannya


"Baik Bu. Jadi boleh ya?" tanyabya


"Iya Mbak"


Mbak Uji menutup ponselnya.


"Rewel si kecil?" tanya Bunda Dira


"Minta ayam kriuk sampai nangis-nangis. Akhirnya ku suruh pesan online saja." ucap Tasya


"Emang. Anak suka bikin kesal. Kadang kita masak apa, maunya apa. Kadang masakan kalau lagi laku, laku banget sampai rebutan. Kalau gak selera, itu sampai besok juga masakan utuh. Aku suka kesal" keluh Bunda Dira.


"Kirain aku saja Bun, ternyata Bunda juga" ucap Tasya


"semua keluarga pasti mengalaminya sih kayak begitu"


"huum"


"Eh kalau belanja kemana? Supermarket?" tanyanya


"Iya, yang dekat saja" ucap Tasya


"Aku belanja sayur di aplikasi. Enak loh, disini tuh segar-segar sayurnya. Banyak diskonnya lagi" ucapnya seraya memperlihatkan aplikasi miliknya.


Tasya tersenyum simpul karena yang dia bahas adalah salah satu bisnis milik suaminya yang berasal dari idenya.


"Download deh, lumayan tahu harganya jauh sama di supermarket" ucapnya


"Aku pikir tadi tanya belanja bulanan. Kalau itu mah, aku juga punya aplikasinya" ujar Tasya tak mau kalah.


"Jiwa emak-emak ya, giliran yang bagus harga miring buru-buru dah di ikuti" ucap Bunda Dira


"Eh, anak-anak gimana? Ke sekolah lagi yuk? Takutnya mereka bubar." ucap Tasya


"Bentar. Habiskan ini dulu" ucap Bunda Dira.


Mereka hendak keluar kedai.


"Mbak Tasya" panggil Adam


"Eh, iya Mas Adam?" tanya Tasya


"Aku tunggu dimobil ya Mam" ucap Bunda Dira, Tasya hanya mengangguk.


"Enggak, aku cuma mau kasih voucher" ucap Adam seraya menghampiri.


"Voucher apa ya Mas?"


"Voucher ngobrol bareng aku. Hehe. Becanda ya Mbak. Ini voucher ngopi disini."


"Oh,aku kira apa"

__ADS_1


"Gimana Mbak, suka gak suasana disini?" tanyanya


"Suka Mas, enak kok" ucapnya


"Ini Mbak, vouchernya. Buat Mbak sama temannya. Moga jadi tempat favorit ya Mbak" ucapnya


"Wah, punya Mas Adam ya kedai ini?"


Adam hanya tersenyum.


"Selamat ya Mas. Moga rame terus." ucap Tasya


"Aamiin"


"Eh Mbak, boleh minta nomor ponselnya?" tanya Adam


"Buat apa ya Mas?"


"Biasanya kita kirim promo via pesan Mbak. Biar nanti Aku daftarkan nomor Mbak jadi member kami" ucap Adam


"Oh begitu." Tasya menyebutkan nomor ponsel miliknya.


"Oke. Terima kasih ya Mbak. Salam buat Reza"


"Sip. Nanti aku sampaikan. Aku juga terima kasih loh Mas buat vouchernya. Aku permisi ya Mas. Assalamu'alaikum " ucap Tasya.


" Wa'alaikumussalaam" balas Adam seraya tersenyum.


'Dia makin cantik' batin Adam.


Tasya masuk ke dalam mobil. Dia memberikan voucher tersebut pada Bunda Dira.


"Lumayan, buat kita nanti ngopi lagi Mam" ucap Bunda Dira


***


"Abang.. " Tasya menyambut Vano yang keluar dari kelasnya.


" Abang kenapa? Sakit?" tanya Tasya saat melihat Vano memasang wajah datarnya.


"Enggak Mam."


"Terus kenapa? Bertengkar dengan temannya?" tanya Tasya lagi


"Enggak Mami." mereka naik ke dalam mobil.


"Terus kenapa? Abang biasanya semangat" ucap Tasya.


"Gak apa-apa Mami. Aku ingin jadi pendiam saja" ucapnya


"Tumben. Ada apa? Cerita sama Mami" pinta Tasya


"Enggak apa-apa. Aku cuma ngantuk kok Mam" ucapnya


Tiba dirumah Vano masih tampak murung hingga sore hari Reza pun pulang dan mengajaknya bermain.


"Mam, Vano kenapa?" tanya Reza


"Enggak tahu, dari keluar kelas dia sudah murung." ucapnya Taysa


Reza mendekati Vano lagi.


"Bang, kita berbagi rahasia yuk?" ajak Reza


"Maksud Papi gimana?"


"Cerita rahasia. Khusus cowok yang tahu. Cewek gak boleh tahu" Reza memancing Vano agar berbicara.


"Oh gitu"


"Mau gak?"


"Papi duluan yang bilang" ucap Vano


"Jangan bilang Mami ya, kalau Papi kemarin sudah beli mainan lego" ucap Reza


"Papi? Kok gak ajak-ajak aku. Aku bilang Mami" ucapnya


"Papi beli online Bang, gak ada di toko soalnya." ucap Reza


"Papi curang"


"Kok curang?"


"Besok yuk kita beli" ajak Reza


"Are you serious, Papi?" tanyanya


"Mentang-mentang sekolahnya bahasa inggris, ngomongnya dirumah gak usah pakai bahasa inggris" cibir Reza


"Kata Miss aku, harus dipraktekan Papi"


"Oke. Lanjut. Sekarang Abang punya rahasia apa?" tanya Reza


Vano menggulirkan matanya melihat Reza dari arah samping. Sejenak dia berpikir.


"Papi, jangan bilang Mami ya?"


"Oke janji" ucap Reza cepat


"Kata temanku, aku miskin Papi." ucap Vano dengan raut wajah sedih


Reza membelalakan matanya tak percaya.


"Miskin? Siapa yang bilang?" tanya Reza


"Ssstt.. Nanti Mami dengar" Vano menaruh telunjuknya dibibir mungil miliknya.


"Kakak kelas aku yang bilang. Namanya Juna. Dia bilang aku miskin karena aku gak punya kolam renang dirumah" ucap Vano polos.


Reza menutup matanya menahan amarahnya.


"Abang bilang sama miss?"


"Enggak Pi, Abang diam saja. Abang kasihan sama Mami" ucapnya


"Kenapa?" tanya Reza


"Abang tiap lihat Mami di sekolah tuh, suka diam terus Pi. Mami-Mami yang lain pada berisik terus tasnya pada bagus, bajunya pada bagus, Mami saja yang aku lihat biasa saja." ucapnya


"Aku ingin cepat kerja kayak Papi biar bisa beliin Mami apa-apa semau Mami." ucapnya kemudian.


Reza merasa tersindir oleh ucapan anaknya.


"Abang dibilang miskin sama temannya ngebales dia gak?" tanya Reza


"Enggak Papi. Kan Abang kasihan sama Mami."


"Waktu itu kata Maminya Juna, pas pertama kita sekolah. Abang sama Mami disuruh numpang di mobilnya. Karena dikira kita naik taksi"


"Emang Pak Budi kemana?"


"Ada diluar. Kan mobilnya gak bisa masuk"


"Oh."


"Ini rahasia kita kan Papi." ucap Vano.


"Abaang" tasya mwmanggilnya dari luar


"Iya Mi" Vano berlari menuju Tasya


"Abang besok mau bekal apa?" tanya Tasya


"Mami ternyata sudah tua. Besok Abang mau bekal bento lagi, Mi. Masa lupa" ucapnya


"Oh iya. Mami lupa Bang. Ya sudah sana main lagi." ucap Tasya.


Tasya masuk ke kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya yang terasa tak nyaman. Reza menghampiri istrinya setelah berbagi cerita dengan Vano.


"Mi, kenapa?" tanya Reza


Tasya tak menyahutinya.


"Sayang.." Reza menyentuh Tasya.


"Panas bengini Mam. Mami sakit kenapa gak bilang?" tanya Reza


Tasya hanya memejamkan matanya.

__ADS_1


"Mami, minum obat ya?" pinta Reza


"Gak usah." ucapnya


"Sampai kapan sih Mami mau diamkan Papi? Papi kurang gimana coba, pulang lebih awal dari biasanya. Papi cuma belum bisa nganter sekolah Vano, Mami marahnya sudah hampir seminggu!" ketus Reza


Tasya tak menyahutinya, dia hanya memejamkan matanya. Kepalanya terasa sangat berat.


"Terserah sajalah Mami mau bagaimana juga" ucap Reza dengan amarahnya. Dia meninggalkannya Tasya


***


"Mamii.. Mamii" Daffa membangunkan Tasya


"Mami, bangun Mi. Ayo makan" ajak Vano. Dia memegang tangan Tasya


"Panas Dek" ucap Vano pada adiknya.


"Papi.. Papiiii.. Mami panas banget Pi.. Aku pegang Mami tangan aku kayak kebakar" ucap Vano menghampiri Reza diruang televisi.


"Suruh minum obat saja" ucap Reza santai


"Papi gak mau lihat Mami?"


"Maminya marah sama Papi" ucapnya kemudian


"Papinya nakal sih, jadi Mami marah" ucap Vano


"Siapa yang marah Bang?" tanya Pak Danu yang baru tiba


"Mami, Opa. Mami badannya panas banget Opa. Aku kayak kebakar megangnya." ucap Vano


"Sudah dibawa ke dokter Maminya, Bang?"


"Belum Opa. Maminya tidur terus."


Pak Danu menghampiri Mbak Diah.


"Tolong temani Tasya. Barangkali dia butuh sesuatu" ucap Pak Danu.


"Iya Pak."


Mbak Diah menghampiri Tasya yang memejamkan matanya.


"Bu, makan ya?" tanyanya


Tasya hanya menggelengkan kepala.


"Makan roti sedikit saja bu, terus minum obat." bujuknya lagi. Tasya masih menggelengkan kepala.


Reza masuk ke dalam kamar, dia mengambil jaket miliknya dan berlalu.


"Papi mau kemana?" tanya Vano


"Papi mau keluar sebentar ya."


"Pi ikut" rengeknya


"Enggak. Abang dirumah jaga Mami ya."


"Itut Pi.. " Daffa ikut bersuara


" No. Daffa juga jaga Mami" pinta Reza


Dia segera keluar memakai motor kesayangannya


***


"Mam.. Makan dulu yuk? Papi beli bubur" ucap Reza


"Mami.." Reza segera mengompres tubuh istrinya.


"Sayang minum dulu yuk. Maafin Papi, Mi" pintanya


"Mamii.. Mami jangan sakit.. Abang sedih kalau Mami sakit" ucap Vano mendekat ke arah Tasya. Dia memegang kaki Tasya yang terbungkus selimut.


"Mami jangan sakit" kini Vano terisak membuat Tasya sedikit membuka matanya.


Tasya melambaikan tangannya menyuruhnya mendekat. Dia mengusap lembut Vano.


"Mami" Vano berhambur memeluk Tasya.


"Nanti ketular, abang diluar ya" pinta Tasya. Vano enggan pergi.


"Kalau Mami makan, Vano keluar. Iya kan Bang?" bujuk Reza


"Iya Mi. Mami makan terus minum obat. Kalau enggak, aku mau disini saja sama Mami" ancam Vano.


"Iya, Mami makan. Vano keluar dulu."


"Enggak Mau. Aku gak akan keluar sebelum Mami makan."


Tasya meraba kasurnya mencari ikat rambut yang dia simpan. Dia segera duduk dan mengikat rambutnya. Kedua lelakinya memperhatikan setiap gerak gerik wanita kesayangan mereka.


Reza mengambil bubur, dia hendak menyuapi Tasya.


"Aku bisa sendiri" ucap Tasya


"Papi aja Mi yang suapin. Jangan bandel" ucap Vano membuat Reza menahan senyumnya.


Reza menyuapi Tasya dengan telaten. Dia menatap istrinya hingga Tasya menjadi sedikit salah tingkah.


"Mami lagi sakit juga tetep cantik" ucap Reza


Tasya memalingkan mukanya. Enggan mendengar ocehan Reza.


"Mam, udah dong marahnya. Maafin Papi" ucapnya. Tasya sudah merasa malas menanggapinya. Dia segera meminum obat dan kembali beristirahat.


***


"Mbak, tolong buatkan bento untuk Vano ya. Nanti tolong antar Vano sekolah juga" ucap Tasya


"Iya Bu. Ibu istirahat saja" ucap Mbak Diah.


"Iya, terima kasih ya" ucap Tasya


Dia masuk kembali ke dalam kamar.


Tasya bangun saat Vano hendak pamit bersama Reza.


"Abang, maaf ya Abang diantar Mbak Diah. Abang jangan nakal kasihan Mbak Diah ya" ucap Tasya


"Aku diantar Papi kok, Mi" ucapnya


"Papinya sibuk Vano, Vano sama Mbak Diah saja" tegas Tasya


"Papi kok yang bilang sama aku."


"Jangan ganggu waktu Papi kamu. Kamu sama Mbak Diah saja ya."


"Apa sih Sya! Biar aku yang antar. Aku ke kantor setelah Vano sekolah" ucapnya


"Gak usah ngorbanin waktu untuk anak A. Vano punya pengasuh sendiri. Biar dia yang antar" kesalnya.


"Ayo Van" ajak Reza tak menghiraukan Tasya.


Reza melajukan mobilnya ke sekolah Vano, hingga mereka tiba disana. Reza menggandeng Vano masuk ke dalam sekolah.


Beberapa orang tua melirik Reza dan nampak asing dengannya karena tidak pernah bertemu dengan Reza.


"Morning Elvano, mana Maminya?" sapa guru Vano


"Morning Miss. Mami sakit, aku diantar Papi Miss" ucapnya


"Oh,Mami sakit? Lekas sembuh ya Maminya."


"Nanti pulang jam berapa Miss?" tanya Reza


"Jam sebelas seperti biasa, Dad."


"Oh, oke. Saya permisi Miss" ucap Reza berpamitan pada guru Vano.


Reza hendak masuk ke dalam mobilnya.


"Daddy Elvano.. " sapa seseorang menghampiri Reza


.


.

__ADS_1


.


Temans bantu VOTE yaaa jangan lupa like dan komentarnya. Terimakasih^^


__ADS_2