
Setelah empat jam kepergian Reza, Tasya masuk ke kamarnya. Dia merasa ada yang aneh. Padahal kamar ini sudah dia tempati sejak lama. Tapi rasanya ada yang beda.
'A Reza sudah sampai belum ya? Apa aku kirim pesan saja? Nanti dia gak fokus lagi kalau masih nyetir' Pikiran Tasya tak tenang.
"A sudah sampai? Kabari aku ya A kalau sudah sampai" Tasya menulis pesan kepada suaminya.
Dia memegang ponselnya. Seluruh pikirannya berotasi pada suaminya.
'Apa aku suka dia?' gumam Tasya berkali-kali.
'Dia kok gak balas pesanku? Sudah sampai belum ya?' berulang kali menanyakan hal yang sama dalam hatinya.
"Aku ini kenapa sih? Kok begini? Sya sadar Sya. Ingat sidang sebentar lagi. Fokus fokus fokus" Tasya bergumam sendiri
Akhirnya dia membuka laptopnya untuk mencari kesibukan. Begitu laptop menyala sebuah telepon masuk ke ponselnya.
"A Reza" gumamnya senang
Dia membenarkan posisi duduknya seolah Reza ada di hadapannya.
"Assalamualaikum" ucapnya tak sabar untuk segera mendengar suara Reza
"Waalaikumsalam. Kamu lagi apa Sya?" tanya lelaki diseberang sana
"Aku lagi belajar A. A Reza sudah di rumah?" tanyanya penasaran
"Iya baru saja tiba. Capek Sya, Aa lagi rebahan di kasur kita." ucap Reza
'Kasur kita?' Tasya tersenyum sendiri
"istirahat saja kalau begitu A"
"Iya ini kan sambil istirahat. Aku kok merasa beda ya Sya disini sendirian." jujur Reza
'Sama A' batinnya
"Beda bagaimana?" tanya Tasya pura-pura tidak tahu
"Gak tahu, baru saja kamu tinggal. Berasa kosong saja disini. Padahal kamu juga belum lama tinggal disini" jelas Reza
'Sama lagi kita a' lirih Tasya dalam hati
"Sabar ya A. Hanya seminggu." Tasya menghibur. Hiburan yang sama untuk dirinya sendiri.
"Kamu kangen Aku gak sya?" tanya Reza
"Iya" Tasya malu
"Iya apa?" desak Reza
"Kangen A Reza" ucapnya kemudian
'Kangen sekali aku sama kamu A' ucapnya dalam hati
"Serius?" tanya Reza
"Iya A. Sudah Aa istirahat dulu. Besok kan harus kerja juga."
"Yasudah aku tidur ya Sya. Lumayan pegal juga." ucapnya
__ADS_1
"Sya.. "
" Iya a?"
"i miss you Tasya Fadilla Ramadhan" ucap Reza
Dalam hati Tasya seakan ingin meledak begitu mendengar kalimat tersebut. Namun cepat-cepat dia menguasai dirinya.
"I miss you too A Reza" ucap Tasya malu-malu.
Setelah itu telepon terputus. Tasya memegang dadanya. Dia merasakan ritme jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Senang dan Rindu bercampur menjadi satu. Belum lama di tinggal Reza, dia sudah sangat merindukannya.
"Biasanya kamu tidur sebelah sini a" Tasya membaringkan tubuhnya sambil mengusap kasurnya. Dia memejamkan matanya, membayangkan suaminya.
'Aku kok kayak orang gila begini. Aku kenapa? ' Tanyanya dalam hati. Dia tersenyum sendiri.
***
Keesokan harinya.
"Bu aku berangkat dulu ya, aku harus menyerahkan buku ke perpustakaan." Ucap Tasya
"Kamu bawa motor Sya?" tanya ibu
"iya bawa bu. Assalamualaikum." Tasya pamit pada ibu sambil mencium punggung tangannya
'Oiya aku belum laporan sama A Reza' batin Tasya
"A, aku ke kampus ya. Mau mengembalikan buku ke perpustakaan. Aa jangan lupa sarapan ya. Hati-hati dijalan kalau pergi. Assalamualaikum" Tasya menulis pesan pada suaminya.
Dia melajukan motornya menuju kampus. Setibanya di kampus, dia mencari Tari yang telah datang lebih dulu.
"Sya, sini" tari melambaikan tangannya
"Belum datang. Kita tunggu saja disini" Tari menjelaskan
*Dering Telepon
Tasya segera mengambil ponsel dalam. Tasnya.
"Assalamualaikum A." Tasya tersenyum
"Waalaikumsalam. Sudah di kampus kamu Sya?" tanya Reza
"Iya. Baru saja tiba. A Reza sudah makan?" tanyanya kemudian
"Belum. Sebentar lagi. Aa beres mandi. Makanya kamu pamit Aa gak tahu." ucap Reza
"Sya ingat ya, jangan tertawa sama laki-laki lain di kampus." ancam Reza yang teringat perdebatan mereka terakhir kali
Tiba-tiba saja Tasya tersenyum senang dengan ancaman Reza.
"Iya A" ucapnya singkat
"Ya sudah, Aa mau makan dulu. Hati-hati disana ya Sya." ucap Reza
"Iya. Selamat makan A. Hati-hati juga disana" balas Tasya memberikan perhatian kepadanya.
"Miss you Tasyaku" Reza mengakhiri teleponnya
__ADS_1
Lagi-lagi Tasya dibuat tersenyum sendiri. Dia tidak sadar kalau seseorang di depannya sedang memperhatikan kelakuannya tersebut.
"Kalau tidak dosa, rasanya aku ingin kabur saja dari pada di jodohkan dengan om-om galak kayak dia" Ucap Tari sambil memperagakan curhatan Tasya tempo lalu
"Belum sebulan kamu sudah kelepek-kelepek dibuatnya. Ternyata semudah itu om-om galak itu membuatmu jatuh cinta Sya. Baru sekarang aku melihatmu begitu." Tambah Tari
Tasya tersenyum malu. Perasaannya dengan mudah tertangkap oleh temannya itu.
"ibu bilang aku jangan menghindar Tar" Tasya beralasan
"ibu bilang ibu Bilang bu , alasanmu itu terlalu dibuat-buat Esmeralda" cibir Tari
"Hehe.. Tar, aku gak tahu, dari kemarin setelah A Reza pergi aku kok merasa kosong saja gitu. Merasa ada yang kurang, tapi gak tahu apa." Tasya jujur
"Ya karena kamu sudah jatuh cinta sama Om galak itu" ucap Tari
"Baru sya, aku melihatmu bertingkah begitu. Apalagi pas om galak telepon barusan. Aura jatuh cintamu itu terpancar kemana-mana" Tari menjelaskan
'Aku jatuh cinta?' Tasya memastikan perasaannya lagi
"memang begini Tar rasanya jauh cinta?" Tasya bertanya dengan polosnya
Tiba-tiba Tari bernyanyi :
Jatuh cinta berjuta rasanya
Biar siang biar malam terbayang wajahnya
Tari seakan menjelaskan dalam penggalan lagu tersebut.
"Terus aku harus gimana Tar?" rengek Tasya
"Tuhaaan.. Baru aku lihat orang jatuh cinta kebingungan begini" tari berdecak
"Woi.." Rina datang mengagetkan Tari dari belakang
"Eh woi woi woi woi" ucap Tari latah
"Kalian asik sekali. Lagi curhat apaan sih? Pasti lagi bahas aku kan?" Rina percaya diri
"Rin hot news!"
"Apa sih?" Rina penasaran
"Ada yang terjerat cinta om galak" meledek Tasya
"iih kalian. Kasih aku solusi dong" ucap Tasya
"Ada orang jatuh cinta minta solusi? Rin kenapa kamu punya teman sepolos dia sih? Aku kasihan pada temanmu itu Rin. Sudah mau lulus kuliah baru jatuh cinta dan dia minta solusi" ckckck Tari makin menyudutkan Tasya
"Solusi? Memang ada masalah apa Sya kamu dengan om galak itu?" Rina kebingungan.
"Aduh, ini lagi ikut-ikutan eror" Tari menepuk jidatnya
"Jelasin sih. Kan aku gak ngerti" pinta Rina
"Begini, sahabatmu yang mau lulus ini akhirnya pertahanannya diruntuhkan oleh om-om galak. Sekarang dia mulai kelepek-kelepek sama si om galak itu. Dan dia dengan polosnya minta solusi? Memangnya jatuh cinta sebuah masalah?" jelas Tari. Mereka berdua nampak serius mendengar penjelasan Tari
"Masalah cinta? Aku ahlinya" ucap Rina sambil menepuk dadanya bangga
__ADS_1
"Apa kamu bilang? Seorang jomblo sok-sokan jadi pakar cinta" Tari meledeknya
Mereka semua tertawa.