
Keesokan paginya, ibu dan Bi Tinah sedang sibuk di dapur.
"Ibu kenapa tidak istirahat?" tanya Tasya
"Iya Neng, Bibi sudah larang tapi Ibu memaksa. Katanya Neng Tasya pasti kangen masakan Ibu" ucap Bi Tinah
"Hehe.. Iya sih. Aku kangen masakan Ibu"
"Apalagi nafsu makanmu sekarang besar Sya. Ibu sih senang kamu gak mual muntah. Jadi kamunya enak mau makan apapun" ucap Ibu
"Iya Bu, tapi nanti aku makin gemuk. Kemarin aku makan banyak A Reza puas sekali tertawanya" Tasya bersungut
"Jangankan Reza, Ibu saja heran melihat makanmu sebanyak itu." ucap Ibu
"Kalau kata orang tua dulu, kamu itu hamil kebo" ucap ibu
"Apa itu bu? Memang Tasya kebo apa bu" Tasya bersungut
"Ya hamilnya kayak kamu. Tidak mual, tidak muntah, tidak banyak keluhan, masih lincah melakukan apapun" jelas Ibu
"Iya betul Bu. Saya juga berpikir demikian. Cuma saya gak berani bilang, takutnya Neng Tasya marah sama Bibi. Hehe" ucap Bi Tinah
"Enggak Bi. Masa Tasya marah sama Bi Tinah. Mana berani. Hehe" ucap Tasya
"Iya gak akan berani, tapi kalau sama Aa, sensitifnya minta ampun" tiba-tiba Reza menimpalinya dari belakang Tasya
"Haha.. Sabar.. Gak hamil saja dia sudah begitu. Apalagi hamil" ucap Ibu
"Ibu mah. Beda cerita Bu, kalau A Reza kan tersangkanya dan aku korbannya" Tasya bersungut
"Kamu ini, kayak suamimu bertindak kriminal saja" ibu memperingatinya
"Yang lucunya Reza disuruh mandi terus Bu" ucap Reza
"Aa sih bau badannya" sanggah Tasya
"Iya karena indera penciumannya lebih sensitif. Pokoknya yang namanya ibu hamil mah dia ratunya" ucap Ibu
"Tuh dengar A" Tasya menjulurkan lidahnya
"Sudah-sudah, ayo sarapan. Panggil mertuamu, ayah sama Rasya sana" pinta Ibu
"Iya Bu" ucapnya
***
Mereka berkumpul di meja makan dengan hidangan yang dibuat oleh Ibu Tasya.
"Wah, kalau tiap hari ada besanku, berasa makan mewah terus" ucap Pak Danu
"Pak Dan bisa saja. Ayo habiskan kalau begitu, jangan kalah sama Tasya" ledek ibu
"Ibu.. " Tasya bersungut
Reza mengulum senyumnya
"Tuh kan ketawa" Ucap Tasya pada Reza
"Enggak. Aa gak ketawa kok"
"Bocah nakal sekarang jadi SSTI. Haha" Pak Danu tertawa puas
"SSTI apa Pa?" tanyanya
__ADS_1
"Suami-suami takut istri. Gak gaul kamu dengan singkatan begitu saja." ledek Pak Danu
"Bukan takut, tapi mengalah Pa. Mana ada takut sama Tasya" ucapnya
"Yakin A Reza?" timpal Tasya
"Enggak" semua tertawa mendengarnya.
***
Menuju siang hari, Reza, Pak Danu, Pak Taufik dan Rasya akan pergi ke gudang untuk mengontrol perkembangan usaha Pak Danu. Pak Danu tidak menyia-nyiakan kesempatan akan kehadiran besannya untuk sekedar berbincang seputar bisnisnya tersebut.
"Za, ayo cepat" panggil Pak Danu dari luar kamar.
"Iya" teriaknya
"Papa bawel sekali" gumamnya
"Papa semangat karena ada temannya" ucap Tasya sambil memberikan topi yang diminta Reza
"Kamu ditinggal sama Ibu gak apa-apa ya?" tanya Reza
"Iya."
"Kalau ada apa-apa telepon ya sayang" ucapnya lagi
"Iya"
"Jangan capek-capek" tambahnya
"Mau jalan gak sayang? Kasihan mereka sudah nunggu" Taya gemas
"Sun sayang dulu" pinta Reza
Tasya mengecup seluruh wajah Reza.
"A Reza, mau ke gudang saja kayak mau pergi kemana gitu" Tasya berdecak
"Takutnya lama sayang, tahu sendiri kan dua bos besar kalau kumpul kayak gimana" ucap Reza
"Za.. " panggil Pak Danu kembali
"Ayo sayang, antar Aa sampai depan" ajaknya sambil menggenggam tangan istrinya
"Manja sekali" protes Tasya
"Sya, nanti kamu melambaikan tangan ya" pinta Reza
"Ya ampun A.. " Tasya tertawa dengan tingkah konyol suaminya
Mereka berjalan keluar kamar
"Pamitnya kayak mau perang saja kamu!" ucap Pak Danu
"Ibu, Reza titip Tasya ya bu. Assalamualaikum" ucapnya sambil keluar
"Anak itu, pakai acara bilang titip segala" Ibu tersenyum
"Ibu hamil mau ikut?" tanya Rasya dari dalam mobil
"Para lelaki saja yang jalan. Aku sama Ibu dirumah. Jangan lupa oleh-oleh ya" ucap Tasya pada kakaknya
"Iya, oleh-olehnya sayuran" ledek Rasya
__ADS_1
Reza duduk di kursi depan dengan Rasya.
"Sya.." mata Reza mengisyaratkan sesuatu
'Ya ampun A Reza ingin aku melakukan hal yang memalukan' batinnya
"Hati-hati semua, hati-hati papi" ucapnya sambil melambaikan tangan dengan wajah malu.
Semua tertawa melihat tingkah Tasya.
"Dia kayak mau di tinggal ke negara lain saja" ucap Rasya. Tapi Reza sangat senang mendengarnya.
Mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah mereka. Tasya masih berdiri sampai mobil tersebut hilang dari pandangannya.
***
Tasya masuk ke dalam rumah, disana ibu sedang duduk sambil menonton televisi. Dia membayangkan anaknya hidup dengan kedua lelaki di rumah besar ini. Ada rasa tak tega dalam hatinya.
"Sya.. " panggil ibu saat Tasya mendekatinya
"Kamu disini betah Neng?" tanya Ibu
"Dulu sih gak betah Bu. Tapi lama-lama sudah terbiasa jadi betah" ucapnya
"Apa kamu bahagia?" tanya Ibu kemudian.
Entah angin dari mana ibu bertanya demikian. Tasya hanya tersenyum malu tanpa menjawabnya.
"A Reza baik sekali sama Tasya, Bu. Makanya Tasya nyaman sama A Reza. Papa Danu juga sering menghibur Tasya dengan candaanya" ucapnya
"Iya, Ibu lihat Reza sangat menyayangimu." ucap Ibu
"Berarti kami tidak salah ya menjodohkanmu" ucap Ibu lega
"Memang kenapa bu?" tanya Tasya
"Dari awal kamu nikah, kalau Ibu kangen kamu, Ibu selalu merasa berdosa sama kamu Nak karena telah menjodohkanmu. Tapi Ibu tepis sendiri pikiran Ibu dengan meyakinkan diri bahwa Reza pilihan terbaik untukmu" ucap Ibu
"Ibu, Tasya nikah sudah mau dua tahun Bu. Ibu baru bicara sekarang. Kalau Tasya gak suka A Reza, gak mungkin Tasya hamil anaknya. Dua kali lagi Bu" mereka tertawa bersama
***
Keempat lelaki tiba di gudang. Mereka masuk dan melihat-melihat para karyawan bekerja. Meskipun kantor libur, aktifitas keluar masuknya sayuran tidak pernah berhenti sama sekali.
Semua karyawan dibagi menjadi tiga shift. Mereka bertugas secara bergiliran yang di atur oleh Pak Bambang.
"Reza ada rencana mau masukkan proposal ke warteg ternama yang punya banyak cabang Yah" ucap Reza di sela-sela perbincangannya
"Bagus itu. Hanya kualitas sayurannya berbeda dengan permintaan supermarket sepertinya" ucap Pak Taufik
"Iya begitu Yah, tapi masih Reza pertimbangkan juga. Masih Reza pelajari" ucapnya
"A Reza, kenapa tidak jual online saja. Jadi tidak hanya penjualan besar, skala kecil juga bisa. Kayak kiloan begitu." Rasya memberikan sarannya
"Aku juga ada pikiran kesana, tapi kita kan harus bongkar barang kalau begitu. Resikonya lebih tinggi, barang mengendap di kita lebih lama" ucapnya kemudian
Mereka berdiskusi dengan asyiknya. Sesekali mereka tertawa bersama oleh candaan-candaan yang terlontar dari mulut Pak Danu dan Pak Taufik.
Menjelang sore, mereka baru beranjak untuk makan. Reza mengecek ponselnya. Dia melihat beberapa panggilan dan pesan masuk dari istrinya.
"Wah, ibu negara pasti marah nih" ucap Reza tiba-tiba
"Kenapa A?" tanya Rasya
__ADS_1
"Pasti ada yang marah, teleponnya gak keangkat. Ponselku malah mode sillent" ucapnya sambil menempelkan ponsel di telinganya.
"Haha.. Itu anak sungguh merepotkan" ucap Rasya