
"Sya, Papa ada diluar. Kamu gak malu sama Papa kita bertengkar begini?" tanya Reza yang sudah putus asa
Tasya terdiam. Dalam hatinya dia malu dengan sang mertua. Karena ini kali pertamanya dia bersikap seperti ini.
"Sya, udah ya marahnya" Reza memeluk tubuh Tasya
Tasya berontak, tapi Reza menahannya sekuat tenaga.
"Maafkan Aa. Aa akui Aa salah. Tak seharusnya Aa cerita sama dia. Tapi perlu kamu tahu, Aa tidak menyisakan rasa cinta sedikitpun buat yang namanya mantan pacar" jelas Reza
Tasya mendengarkan semua ucapan Reza dalam dekapannya. Ada rasa nyaman didekap suaminya itu.
"Masa neng gak percaya sama Aa? Kemana-mana kita kan selalu berdua. Ponsel Aa juga gak ada rahasianya." jelasnya lagi
Hati Tasya melunak. Logikanya mulai bekerja. Memang benar apa yang diucapkan suaminya tersebut. Tapi tetap saja dia kesal dengan tingkah laku mantan Reza tadi.
"Sayang.. Sudah ya marahnya" Reza mengeluarkan rayuan mautnya
Di kecup kening istrinya tersebut.
"A Reza.." Tasya membuka suara. Dia melepaskan pelukan Reza
"Aa sendiri yang bilang kita harus terbuka. Sekarang Aa juga yang ingkar! Aa bertemu mantan Aa sendiri tanpa cerita apapun. Andai saja tadi Aa tidak keceplosan mungkin aku gak akan tahu sampai kapanpun!" Tasya kesal
"Iya. Aa salah. Maaf Aa mengingkari perkataan Aa sendiri. Aa lupa tidak memberitahumu." Reza mengakui kesalahannya
"Neng mau kan maafkan Aa?" Reza melihat istrinya penuh harap
Tasya terdiam.
"Aa janji gak bakal ingkar lagi sayang." ucap Reza
Dipeluk istrinya tersebut. Di kecup seluruh wajah istrinya. Tasya pura-pura menghindar. Dalam hatinya sangat senang, Reza memperlakukannya dengan lembut.
Tasya kemudian berdiri, dia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
'Sabar Za.. Ingat umur istrimu jauh lebih muda.' batinnya menghibur dirinya sendiri.
***
Reza bergantian mandi. Dia merasa lelah setelah mencari-cari Tasya tadi. Dia tak menyangka Tasya senekat tadi.
Tak lama kemudian, Reza keluar dari kamar mandi. Pandangan mata mereka beradu. Tasya cepat-cepat memalingkan wajahnya. Sementara Reza mendekatinya dengan senyum yang hangat.
"Sya.. Masih marah?" tanya Reza
Tasya terdiam.
Reza mengecup kening istrinya yang sedang duduk dengan kedua lengannya bertumpu pada kasur sehingga mata mereka sejajar.
"Tasya Fadilla Ramadhan.. " goda Reza.
Tasya ingin tersenyum. Dia selalu senang saat suaminya memanggilnya seperti itu.
Reza mengecup lembut bibir Tasya. Di kecupnya bertubi-tubi. Reza membangkitkan hasratnya sendiri.
Dikecup daun telinga Tasya, Tasya menghindar. Tapi tangan Reza dengan sigap menahannya.
__ADS_1
Tasya mulai terpancing oleh kecupan Reza yang sembarang di wajahnya. Dia mulai membalas saat Reza mengecup bibirnya kembali. Semua amarah, cemburu, dan kesalnya telah lebur dalam permainan mereka.
***
"Sya, Aa sama sekali tidak menyangka kamu senekat tadi" ucap Reza sambil memeluk Tasya di dalam selimut
"Hehe.. Aku juga gak menyangka A. Kok aku bisa nekat begitu."
"Terus tadi dari mana?" tanya Reza penasaran
"Dari taman kota" ucap Tasya singkat
"Taman kota yang dekat rumah kita ini?" Reza tak yakin
"Iya" ucap Tasya singkat
"Ngapain kamu Neng disana? Marah sampai begitu. Jangan di ulangi ya sayang. Aa panik luar biasa Sya" jujur Reza
"Ya gak tahu, pokoknya aku merasa gak ada tujuan. Kalau pulang, aku gak enak sama Papa. Tiba-tiba saja ingin turun disana." jelas Tasya
"Terus nangis disana sampai matamu sembab begitu?" tanya Reza kemudian
"Hehe. Iya" Tasya malu
"Kamu gak malu Sya?" tanyanya
"Tadi sih enggak. Karena emosi kali ya, kalau sekarang sih dipikir-pikir malu juga. Untung nggak ada yang kenal" Tasya merasa dirinya konyol
"Untung gak ada yang nyulik bidadari Aa" goda Reza
"Iya nggak ada kalau itu A. Tapi malah kena bola" Tasya mengingat kejadian tadi
"Tadi aku kan duduk sendirian, tiba-tiba dari belakang kena tendangan bola keras sekali. Orangnya sih minta maaf, basa basi sambil ngambil bolanya" jelas Tasya
Reza menahan tawanya.
"Nanti lagi kamu gak boleh begitu sayang. Aa gak suka. Marah boleh, tapi jangan kabur-kaburan begitu." Reza memperingatinya.
"Iya maaf, aku gak akan begitu lagi A" Tasya menyesal
Reza mencium kening Tasya.
***
Satu Bulan Setelah Pertengkaran
"Sya, kamu makan apa sih sampai bolak balik kamar mandi begini?" Tanya Reza saat memberikan obat diare.
"Aku gak tahu A. Aku kan makan yang Aa makan juga" ucap Tasya yang lemas setelah beberapa kali dia bolak balik ke kamar mandi.
Reza melihatnya dengan tatapan tajam.
"Kamu kemarin jajan siomay abang-abang itu sama si Lala" Reza menuduhnya
Tasya mengingat-ngingat.
"Kapan A?" Tasya masih belum ingat
__ADS_1
"Kemarin waktu di kantor, kamu nawarin Aa, tapi Aa tolak karena Aa sudah kenyang makan salad itu loh. Akhirnya kamu jajan sama si Lala" jelas Reza
'Oh iya, kemarin aku makan sambal kebanyakan' batinnya.
Tasya terdiam tak berani membuka suara.
Tidak lama kemudian, Tasya berlari ke kamar mandi lagi.
***
"Sya, apa kita gak ke dokter saja? Aa khawatir sayang" ucap Reza
"Nggak. Aku hanya diare saja A" tolak Tasya
"Sudah sana, kan mau meeting sama Mas Wisnu" Tasya menyuruhnya pergi
"Iya tapi Aa gak tega ninggalin kamu di rumah" ucap Reza
"A, disini ada Papa sama bi Tinah, kalau ada apa-apa, aku tinggal teriak saja" ucap Tasya
"Ya sudah, Aa berangkat kalau begitu. Hubungi Aa ya kalau ada apa-apa" pinta Reza
"Iya sayang" ucap Tasya singkat.
Reza kemudian mengecup seluruh wajah istrinya. Hal yang rutin dia lakukan saat berangkat dan pulang kerja walaupun mereka selalu pergi bersama.
Tasya tidak keluar kamar. Dia melihat kalender dalam ponselnya. Tasya penasaran dan takut. Dia segera mencuci muka dan memakai bergonya serta kardigan miliknya.
"Sya, kamu mau kemana? Bukannya kamu sakit?" Tanya Pak Danu saat melihat Tasya memakai bergo dan kardigannya.
"Ke apotek sebentar Pa, mau beli obat" jawabnya
"Suruh si Budi saja Nak" Papa melarang
"Malu Pa, obat wanita. Hehe" Taysa berbohong
"Pa Budi dimana Pa?" tanyanya kemudian
"Ada di belakang" jawab Pak Danu singkat
Tasya berjalan ke halaman belakang. Disana Pak Budi sedang mencabuti rumput.
"Pa Budi, aku pinjam motornya dong" pinta Tasya
"Sebentar" Pak Budi merogoh saku celananya
"Ini Neng. Mau kemana?" tanya Pak Budi
"Ke apotek sebentar. Pinjam motornya ya Pak" ucap Tasya sambil berlalu meninggalkan Pak Budi.
Tasya sudah beberapa kali meminta dibelikan motor matic kepada sang suami. Tapi Reza selalu menolaknya. Reza takut kejadian dulu terulang kembali.
"Cari apa mbak?" tanya pelayan setelah Tasya masuk ke dalam apotek tersebut
"Tespeck" ucapnya malu
Pelayan menyodorkan sebuah tespeck dengan merk terkenal.
__ADS_1
Tasya kemudian membayarnya. Dia hendak keluar apotek. Tiba-tiba seorang lelaki membuka pintunya dari luar.
"Mbak.." sapa lelaki itu senang