
Reza mengatur emosinya. Dia belum beranjak dari dapur. Dia mencuci gelas yang kotor, kemudian merapihkan susu tersebut ke tempatnya semula.
'Huufff.. Apa sembilan bulan bakal begini terus?' keluhnya
'Tapi lebih kasihan istrimu Za! Dia membawa anakmu kemana-mana selama sembilan bulan di perutnya' batinnya bergulat
Dia berjalan gontai kembali ke kamar, dilihat sang istri sudah terlelap dengan sisa-sisa air mata di wajah cantiknya.
"Maaf ya sayang, Aa hanya belum terbiasa dengan perubahanmu" dia mengecup lembut kening sang istri.
Reza merebahkan tubuhnya di sisi sang istri. Tak lama dia terlelap karena lelahnya.
***
Keesokan harinya, Tasya tengah bersiap-siap, dan Reza masih tidur dengan nyenyak. Dia sengaja tidak membangunkan suaminya karena merasa kesal.
Dia berjalan ke dapur untuk minum air hangat yang disediakan Bi Tinah.
"Bi Tinah masak apa?" tanyanya sambil duduk di meja makan
"Bekal buat Neng. Bibi buatkan manisan mangga juga" ucapnya
"Bi Tinah terima kasih banyak ya, Tasya senang sekali. Kemarin begitu tiba di kantor langsung Tasya makan bekalnya. Hehe"
"Bibi senang kalau Neng mau makan masakan bibi. Tapi tidak mual muntah Neng?" tanyanya kemudian
"Alhamdulillah tidak bi. Kenapa ya? Dulu bangun tidur sudah gak kuat, bibi tahu sendiri. Yang ini malah makan juga suka,
Walau mual dan terasa ingin muntah sesekali"
"Iya beda-beda kehamilan itu Neng. Tiap anak beda cerita kehamilannya. Gak mesti sama. Dulu pun bibi begitu, hamil anak ke tiga malah paling repot"
"Oh begitu. Kalau yang ini bisa di ajak kerjasama. Cuma saya kalau siang bawaanya ngantuk saja sama malas. Hehe"
"Iya. Yang penting sehat. Mau minum susu sekarang Neng? Bibi lihat banyak sekali susunya"
"kalau gak minum susu gak apa-apa kan bi?"
"Ya gak apa-apa Neng. Asal makannya saja di jaga"
"Aku kayaknya gak mau minum susu Bi. Malah jadi gak suka sama susu. Baunya amis sekali" Tasya begidig
"Ya sudah gak usah di paksa. Daripada tidak nyaman. Ini bekalnya Neng sama manisannya. Jangan sampai ketinggalan ya" ucapnya
"Aku ke kamar dulu kalau begitu ya Bi" pamit Tasya
Begitu masuk kamar, Reza sedang mengancingkan bajunya.
"Sya.."
Tasya pura-pura tak mendengar. Dia meraih tas dan ponselnya. Begitu memegang daun pintu, Reza menyambar tangannya.
"Masih marah? Aa minta maaf ya, kemarin Aa lelah. Maaf sudah marah-marah" ucapnya tulus
Tasya tak bergeming. Dia hendak membuka pintu kamarnya kembali. Tapi Reza menarik tangannya.
"Sayang, jangan marah-marah. Kasian baby kita" ucapnya kemudian
__ADS_1
'Iya kasihan sama babynya saja!' gerutu Tasya
"Kamu ingat kan kata dokter apa?" ancamnya kemudian
Tapi Tasya masih merasa kesal
Reza melihat jam di kamarnya. Dia berhenti membujuk Tasya dan segera merapihkan diri kembali karena hari ini ada meeting yang tak bisa di tundanya.
'Tuh kan, cuma segitu perhatiannya' batin Tasya kesal
"Ayo sayang" ajaknya dengan tergesa
'Loh dia gak sarapan?' batin Tasya
Sesekali Reza melihat jam di tangannya. Dia menambah kecepatan mobilnya.
"Nanti Aa langsung berangkat ya sayang. Ini sudah terlambat" ucapnya
Tasya membuka kotak bekalnya. Dia menyodorkan sendok berisi nasi dan lauknya ke mulut Reza. Reza melahapnya kemudian melirik sang istri dengan senyuman.
"Terima kasih sayang" ucapnya
Tasya masih menyuapi sang suami sampai mereka tiba di kantor. Tasya menyendokan nasi terakhirnya pada Reza. Menunggunya sampai selesai minum.
Reza sangat bahagia dengan perlakuan istrinya.
"Begitu beres Aa akan cepat pulang ya sayang" Reza hendak mengecup Tasya, tapi Tasya segera menolaknya dan turun dari mobil.
'Dia masih marah saja' batinnya
Reza segera melajukan mobilnya.
"Waalaikumsalam" jawab Keenan
"Ibu kenapa bu? Sepertinya ibu tidak semangat?" tanya Keenan
"Tidak apa-apa Keenan. O ya mana Lala?" tanyanya kemudian
"Belum datang bu" jawab Keenan singkat
"Ibu selamat ya bu atas kehamilannya" ucap Keenan tulus
"Terima kasih Keenan"
"Kata Lala ini kehamilan kedua ibu, maaf saya pikir kehamilan pertama ibu" Keenan mengajaknya ngobrol
"Iya, ini yang kedua. Kemarin saya sempat keguguran" terangnya
"Memang ibu sudah lama menikah bu?" Pertanyaan yang ingin dia tanyakan dari dahulu
"Hmm.. Dua tahun kurang dikit. Hehe." ucapnya singkat
"Oh, dulu aku kira ibu pengantin baru bu"
"Ya ini pun masih baru Keenan, belum ada apa-apanya kalau dalam rumah tangga" Tasya mengingat kembali pertengakarannya semalam
"Iya ya bu, rumah tangga itu rumit menurutku. Tapi orang lebih memilih berada dalam kerumitan rumah tangga daripada kesengsaraannya sendirian" ucap keenan
__ADS_1
"Nah itu tahu, ayo segera berumah tangga" Tasya melempar senyumnya
"Haha.. Ibu meledek. Nanti bu, saya masih belum lulus. Belum mapan seperti Pak Reza" sindirnya
"Kenapa nikah harus nunggu mapan?" Tasya merasa tak enak
"ya kan biar bisa bahagiakan pasangannya bu" tukas Keenan
"Memang kebahagiaan bisa dibeli dengan kemapanan Keenan? Salah kalau kamu berpikir demikian." Tasya mulai ketus
"Assalamualaikum.. Hallo everybody..selamat pagi" Lala datang memecah perdebatan mereka.
"Waalaikumsalam. La, kamu bawa apa La?" tanya Tasya pada plastik yang dibawa Lala
"Makan siang kayak ibu. Hehe"
"Yah, aku malah sudah habis dijalan tadi La"
"Astaga bu, ibu sudah makan dua porsi pagi ini?" Lala berdecak
"Tidak. Tadi dimakan Pak Reza. Dia tidak sempat sarapan. Makanya kotak bekalku dia yang makan" terang Tasya
"Oh begitu"
"Nanti siang bareng saya saja bu kalau mau makan" Ucap Keenan
"Terima Kasih Keenan, tapi sepertinya Pak Reza nanti bawakan makan siang untuk saya" tolak Tasya
"Iyalah. Pak Reza mister over protektif. Kemarin saja terang-terangan melarangku makan buah milik ibu. Hehe. Aku kesal sih awalnya tapi malah jadi lucu begitu Pak Reza bilang 'Anakku kasihan La'. Hehe"
"Iya, kadang dia tuh bikin malu La." kenang Tasya yang membuatnya menjadi kangen
"Ops, takut keluar Pak Reza nanti aku kena lagi" Lala menutup mulutnya
"Lagi meeting di luar La, aman" Tasya menyeringai
***
Semenjak hamil, setiap siang Tasya tidak pernah melewatkan tidur siangnya. Dia selalu tidur di ruangan suaminya karena satu-satunya tempat yang mempunyai sofa yang membuatnya nyaman.
Reza masuk ke dalam ruangan dengan membawa plastik berisi makanan di tangannya.
Dia melihat sang istri sedang tidur pulas dengan kain tipis menyelimutinya sampai ke pinggang.
"Kasihan dia setiap hari harus tidur di sofa" gumam Reza
"Sayang.. " Reza mengelus pipi istrinya dengan lembut.
"Sya, ayo bangun" Reza masih membangunkannya
Tidak lama, Tasya membuka matanya.
"Ini minum dulu" Reza memberikan air mineral padanya. Tanpa bicara, Tasya mengambil gelas tersebut dan meneguknya sampai habis.
"Kamu belum makan sayang? Maaf Aa pulang agak lama" Reza merasa bersalah
Reza memeluk istrinya, Tasya hanya pasrah saat Reza memeluknya. Dia masih kesal tapi dia juga sangat merindukan Reza. Ada rasa nyaman saat suami memeluknya.
__ADS_1
'Apa ini bawaan baby juga?' batin Tasya