
"Pap, mobil itu nanti siapa yang nyetir?" tanya Tasya pada suaminya yang sibuk di depan laptop karena tadi pulang jauh lebih awal dari biasanya.
"Pak Budi."
"Kok Pak Budi? Terus Papa gimana?" tanya Tasya
"Ya Papa kan jarang keluarnya sayang." Reza masih menatap layar laptopnya.
"Kalau Papa pergi? Kita bagaimana?"
"Nanti kita panggil driver harian saja sayang."
"Idih Papi gak mau rugi." Tasya tertawa
"Kata Mami hemat kan?"
"Terus sudah ada drivernya?"
"Ada. Saudaranya Pak Budi atau temannya gitu. Papi lupa"
"Sudah bilang?"
"Sudah sayang."
"Kenapa sih?" kini Reza menatapnya.
"Mau coba mobil baruu" Tasya cengengesan.
"Dasar. Dulu ngomel-ngomel." ucap Reza seraya tersenyum.
"Iya kan dulu aku belum hamil. Sekarang kan sudah hamil. Beda lagi." Tasya mengelak.
"Papi mau bawa mobil itu?" tanya Tasya kemudian
"Enggaklah. Kayak supir dong."
"Ciee direktur takut turun pamor." cibir Tasya.
"Hehe.. Bukan begitu sayang, kan Papi juga ingin menikmati."
"Papi ke kantor mau pakai yang baru?" tanya Tasya
"Enggak. Khusus buat Mami sama Vano saja. Papi mah tetep pakai si ex*tic"
"Kecuali moment tertentu." ucapnya kemudian.
"Terus..tabungan?"
"Aman. Sampai Mami lahiran semua sudah ada."
"Alhamdulillah, semoga bertambah tiap bulannya."
"Insya allah nambah sayang. Papi kan gajian juga tiap bulan." ucapnya
"Jadi Mami mau coba kemana pakai mobil itu?" tanya Reza kini menutup laptopnya dan menaruhnya di atas nakas.
"Mm.. Kemana ya?"
"Mall?"
"Enggak ah. Jauhan dikit dong." tolak Tasya
"Kemana dong?"
"Pulang" ucapnya singkat
"Kandungan Mami kan masih rawan perjalanan jauh." tolak Reza
"Kemana dong? Ada ide gak?"
"Besok pikirkan lagi. Sekarang tidur yuk." Reza menggeliat.
Keduanya kini naik ke atas kasur. Mereka tidur berhadapan. Tasya tersenyum riang, begitupun Reza yang bahagia melihat sang istri.
"Kayaknya ada yang senang banget?" tanya Reza
"Senaaang banget. Papi romantis deh." Tasya mencolek dagu suaminya.
"Bukan karena mobilnya, tapi karena kejutannya." ucap Tasya seraya tersenyum
"Jadi gak seneng dapat mobil baru?" Reza cemberut
"Senang. Alhamdulillah. Mobil mewah, mobilnya para artis tuh." Tasya memperlihatkan deretan giginya
"Tau dari mana Mami?"
"Kan kalau nonton gosip, artis rata-rata pakai mobil begitu. Leluasa katanya."
"Oh"
"Papi juga pikirnya begitu. Leluasa. Secara nanti si Abang agak gedean terus ada si kecil juga. Meriah deh tuh mobil." ucap Reza
"Alhamdulillah ya Pap. Kita berada di titik ini." Tasya membelai suaminya.
"Alhamdulillah. Terima kasih Mami selalu mendampingi dalam situasi apapun."
Tasya kini memeluknya erat.
"Jangan pernah berubah ya Pak Dirut.." Tasya tersenyum jahil dalam dekapan suaminya.
"InsyaAllah enggak sayang. Papi gak punya sayap, gak punya tombol juga buat berubah. Andalan Papi cuma si diamond doang." Reza cengengesan
"Papi ih. Suka rusak suasana deh."
"Ya memang betul kan? Yang bisa berubah cuma si diamond." Reza tersenyum geli
"Dasar mes**"
***
Pagi-pagi Reza sudah bersiap ke kantor karena peresmian kantor baru akan di lakukan lusa.
"Maaam.. Kaos kakinya mana?" Reza berteriak.
"Sabar.. Ya ampun kayak anak kecil sih, teriak segala. Kan tinggal ngambil di lemari. Biasanya juga ngambil sendiri." Tasya keluar dari kamar mandi langsung mengambil kaos kaki untuk suaminya.
"Nih."
"Sarapannya Mam?"
Tasya menatapnya heran.
"Papi mau buka laptop dulu sebentar. Kayaknya ada yang kelupaan."
"Oh." Tasya bergegas keluar menuju dapur.
Tasya segera membuat cokelat hangat dan mengambil roti kukus membawanya ke dalam kamar
"Sebentar ya Bang, Papi mau berangkat kerja. Abang main saja dulu sama Mbak Diah ya sayang" ucap Tasya saat melewati anaknya yang sedang bermain.
Tasya masuk kembali ke dalam kamar.
"Minum dulu." Ucap Tasya memberikan cokelat panas pada Reza yang tengah memangku laptopnya.
Tasya mengambilnya kembali kemudian menaruhnya di atas nakas.
"Buka mulutnya." Reza menggigit roti kukus masih fokus di depan laptop sementara Tasya hanya duduk sambil menyuapinya.
Tasya menyuapi Reza hingga semuanya habis.
"Lagi gak?"
"Enggak."
"Nanti siang beli dasi sama jas Mam."
__ADS_1
"Loh kan ada?"
"Buat peresmian sayang." Reza menatapnya
"Oh ya sudah. Nanti dicari."
"Mau yang gimana?"
"Terserah Mami saja."
"Papi gak ikut?"
"Papi sibuk. Mami sendirian gak apa-apa kan?" tanyanya
"Ya sudah. Nanti Mami sama Mbak Diah."
"Nanti Papi bilang sama Pak Budi." ucap Reza seraya menutup laptopnya.
"Iya."
"Ciee gayanya pakai jas dan dasi." Tasya meledeknya.
"Sehari doang Mam. Itu karena peresmian."
"Kenapa gak pakai batik?"
"Batik?" Reza nampak menimang.
"Harus gitu pakai jas sama dasi?" tanya Tasya
"Enggak sih. Nanti deh Papi pikirkan dulu." ucapnya seraya menghujani wajah istrinya dengan kecupan.
"Papi berangkat ya."
"Sayang jangan rewel ya, biar Maminya gak uring-uringan ke Papi." Reza mengecup perut Tasya.
Tasya mengantarkan Reza keluar kamar. Sementara Reza menghampiri anaknya yang sedang bermain.
"Abang jangan rewel ya, kasihan Maminya. Kan ada dedek diperut Mami." ucapnya seraya mengecup anaknya
Reza membawanya ke halaman rumah di ekori oleh Tasya. Dia kembali pamit pada anak dan istrinya. Sementara Vano nangis dan meronta ingin ikut pada Reza.
Tasya membawanya masuk ke dalam rumah dan menenangkan Vano sambil mengajaknya bermain. Setelah Vano tenang, Tasya segera sarapan karena tadi dia hanya fokus menyuapi suaminya.
***
Tasya menerima telepon dari Reza yang meminta Tasya membelikan batik baru untuk peresmian tersebut. Dengan semangat Tasya segera bersiap diri untuk pergi ka Mall.
"Mbaak.. Ayo Mbak." ajak Tasya pada Mbak Diah.
Mbak Diah menghampirinya dengan menggendong Vano.
"Pak Budi sudah siap belum ya?" tanya Tasya pada Mbak Diah.
"Sudah di depan Bu." ucapnya.
Tasya mengetuk pintu kamar Pak Danu.
"Vano mau jalan sekarang?" tanya Pak Danu
"Iya Opa. Vano pinjam Pak Budinya ya Opa."
"Iya Van, duh.. Vano naik mobil baru yaa.."
"Hati-hati ya Van.. Opa boleh ikut gak?" tanya Pak Danu.
"Papa ikut saja yuk? Biar sekalian cari batik juga." ajak Tasya
"Papa ikut nih?" tanya Pak Danu yang antusias
"Iya deh Pa. Mending ikut saja."
"Ya sudah, Papa ganti baju dulu, kebetulan Papa juga mau servis jam tangan." ucap Pak Danu
"Aku tunggu di depan kalau gitu ya Pa." ucap Tasya
Tak berselang lama, Pak Danu menghampiri mereka dengan pakaian santainya.
"Yuk jalan. Sini Vano sama Opa." ucap Pak Danu seraya mengambil Vano dari tangan Mbak Diah.
Mereka memasuki mobil.
"Asik, Opa naik mobil baru." ucapnya seraya duduk disamping menantunya.
"Wah, enak ini Bud dari pada mobil saya." ucap Pak Danu.
"Beda ya Pak." Ucap Pak Budi sambil melajukan mobilnya.
***
Mereka tiba di Mall. Taysa segera mengeluarkan stroller Vano dan menaikkan Vano ke atas stroller. Dia mendorong Vano sambil mencari toko pakaian batik.
"Di lantai dua apa tiga gitu kalau gak salah toko batiknya Sya." ucap Pak Danu.
Mereka masuk ke dalam lift menuju lantai dua. Setelah lama berjalan, mereka tiba di sebuat toko yang menyuguhkan berbagai pakaian yang terbuat dari batik dengan corak yang beranekaragam.
Tasya memilih batik yang cocok untuk suaminya.
"Mbak yang slimfit sebelah mana?" tanya Tasya
"Deretan yang ini Bu. Slimfit lengan panjang." ucap pelayan.
Tasya melihat-lihat batik satu persatu. Dia mengambil salah satu batik dan dipandangnya lekat-lekat seolah membayangkan suaminya yang memakai pakaian tersebut. Tak lama, Tasya mengambil satu lagi. Dia nampak menimang mana yang lebih cocok untuk Reza.
"Bingung aku Mbak." ucap Tasya saat Mbak Diah dan Vano mendekat.
"Dua-duanya bagus Bu."
"Iya. Makanya saya bingung Mbak."
"Dua-duanya saja Bu. Biar nanti Bapak yang pilih." Mbak Diah memberikan saran
"Iya ya."
Tasya memberikan kedua batiknya kepada pelayan. Kemudian menghampiri Pak Danu yang juga sibuk memilih batik untuk dirinya.
"Aku bantu pilih ya Pa."
Saat Tasya sedang memilih batik untuk Pak Danu, seorang wanita bersama dengan suster dan seorang anak yang membuntutinya masuk ke dalam toko tersebut.
"Itu bukannya istri Reza?" gumam wanita tersebut seraya mematung lebih jauh, menyaksikan Tasya yang sedang mengukur batik di depan tubuh mertuanya.
Dia segera mengambil ponsel dan memotretnya berkali-kali.
"Gila, sukanya om-om" ucap wanita tersebut.
"Kasihan Reza, dia diselingkuhi dengan om-om" ucapnya kemudian.
Dia pura-pura memilih baju. Mengikuti setiap gerak gerik Tasya bersama mertuanya. Tak lama, Tasya memberikan batik kepada pelayan dan berjalan menuju kasir.
"Mbak." sapa seseorang.
Tasya mematung nampak sedikit terkejut melihat wanita tersebut.
"Istrinya Reza ya?" sapanya
"Iya. Mbak.."
"Saya mantannya, Citra. Kita kan pernah bertemu" sapanya
"Iya saya ingat Mbak." seketika Tasya merasa sedikit kesal.
"Mana Rezanya?"
"Kerja Mbak." ucap Tasya malas.
__ADS_1
Pak Danu melihat mereka dari kejauhan sambil bermain bersama Vano.
"Oh, salam ya buat Reza." ucapnya tanpa merasa bersalah.
"Iya Mbak."
"Aku duluan Mbak." ucap Tasya kesal.
Dia bergegas menuju kasir.
Wanit tersebut lanjut memilih batik dibagian wanita.
Tasya segera keluar dengan raut wajah kesal.
"Siapa tadi? Temanmu?" tanya Pak Danu melihat oerubahan wajah menantunya
"Bukan Pa. Mantan A Reza." ceplosnya kesal.
"Mantan Reza?" Pak Danu mengulangnya.
"Iya Pa." Tasya semakin kesal membahasnya
"Untung gak jadi mantu Papa." ucapnya menghibur Tasya.
"Kenapa memangnya?"
"Lihat gayanya saja sudah begitu Sya. Kayaknya Reza harus merogoh saku banyak-banyak kalau sama dia."
Tasya tersenyum mendengarnya. Mengerti maksud ucapan dari Pak Danu.
"Papa mau ke toko jam?"
"Iya nanti saja pulangnya Nak. Ada dilantai bawah kok."
"Sekarang kemana nih Vano? Mau beli baju juga kayak Opa?" tanyanya
"Enggak Opa. Vano kan dirumah saja nanti."
"Vano mau naik mainan? Yuk Opa ingin lihat Vano naik kuda-kudaan." ucapnya
"Di lantai atas Pa." ucap Tasya
"Ya sudah ayo."
Mereka segera naik ke lantai atas. Vano sangat senang melihat banyak mainan disana dengan warna-warna yang mencolok. Mbak Diah mendudukan Vano disalah satu mainan.
"Aku jajan dulu Pa." Tasya keluar dari area mainan dan pergi ke sebuah toko roti yang semerbak wanginya menggugah seleranya.
"Coba, Opa beli dulu tiketnya." ucap Pak Danu menghampiri meja loket. Tak lama Pak Danu membawa kartu dan menggesekan pada mobilan yang ditumpangi Vano.
Vano terkejut saat mobil tersebut bernyanyi dan bergerak. Seketika dia menangis ketakutan. Pak Danu terbahak melihat sang cucu yang ketakutan.
"Hei, jagoan masa takut. Sini naik. Seru Van" ucap Pak Danu.
Mbak Diah mendekatkan Vano ke mobilan tersebut. Vano berbalik masih dengab tangisnya. Meronta-ronta agar Mbak Diah menjauh dari mobilan tersebut.
"Aduh, cucu Opa takut ya."
"Main apa dong Van?" tanya Pak Danu.
Tak lama Tasya datang membawa plastik berisi beberapa roti yang dibungkus oleh paperbag setiap rotinya.
"Pa ini"
"Nanti saja. Anakmu lucu sekali. Dia ketakutan naik mobilan." ucap Pak Danu yang merasa terhibur.
"Kaget pasti Pa. Orang baru pertama kali kesini." ucap Tasya sambil menyomot rotinya dan duduk disebuah kursi.
Pak Danu kembali mengajak main Vano kembali.
***
Reza disibukan dengan tumpukan kertas yang berada di mejanya. Semuanya harus dia selesaikan hari ini sebelum peresmian PT-nya dilaksanakan.
Reza meregangkan tubuhnya saat tubuhnya terasa kaku. Beberapa kali dia memijit keningnya sendiri kemudian mengambil air minum yang tersedia disampingnya.
Reza merebahkan kepalanya di kursi kerjanya untuk istrirahat sejenak. Dia membuka ponsel. Ada beberapa pesan masuk. Dan satu panggilan telepon dari istrinya.
"Wah, pasti ibu negara ngamuk nih." gumamnya.
Tak lama dia membuka pesan satu persatu dari bawahannya dan juga dari beberapa rekannya.
Terakhir dia membuka pesan dari sebuah nomor yang tidak dia kenal. Disana menampakan beberapa foto Tasya bersama Pak Danu tanpa keterangan apapun.
"Mami kok beli nomor baru gak bilang?" gumamnya
Tanpa curiga Reza membalas pesan tersebut.
"Kok beli nomor baru lagi sayang? Opa ikut juga ternyata. Gak mau kalah yaa Pak Presdir." balasnya
Lama tak ada balasan membuat Reza menjadi sedikit curiga.
"Itu nomor siapa sebenarnya? Tasya bukan ya?" Reza sedikit berpikir.
Reza menghubungi nomor tersebut karena penasaran.
"Hal..lo" sapa seseorang disana dengan suara gugup.
"Siapa ini?" Reza menelisik saat suara yang dia dengar bukan istrinya.
"A..ku Citra, Za." ucapnya masih terbata
"Citra?" Reza mengulangnya kemudian paham dengan maksud isi pesan tersebut.
"Dia Papaku Cit, istriku gak mungkin selingkuh. Dia sedang mengandung anakku yang ke tiga. Terima kasih atas laporannya." Reza segera menutup ponselnya.
"Wah gilaa, saat begini mantan datang lagi. Tahu saja aku mau naik jabatan." gumamnya.
"Apa Mami ketemu dia? Bisa-bisa tidur di luar." gumamnya seraya membuka ponselnya kembali dan menghubungi istrinya.
"Assalamualaikum sayang." ucap Reza dibuat ceria saat sambungan telepon terhubung.
"Waalaikumsalam."
"Dimana?kok berisik sayang?"
"Masih di Mall. Vano lagi main sama Papa."
"Papa ikut?" Reza pura-pura tak tahu.
"Iya. Papa juga beli batik sekalian benerin jam katanya."
"Baguslah. Papi khawatir kalau Mami sendirian.
"Iya tenang saja."
"Anak Papi mana? Rewel gak dia?"
"Enggak. Ada Opanya anteng Pap."
"Oya, ada salam dari Citra sang mantan pacar." ucap Tasya penuh penekanan.
"Mami ketemu dia?" tanyanya
"Iya. Makanya dia salamin juga."
"Sudahlah gak penting sayang."
"Penting dong. Kan mantan?" Tasya cemburu.
"Mami cemburu ya?"
"Iya. Makanya nanti Papi jangan tidur sama Mami. Tidur diluar!" kesalnya seraya mematikan ponselnya.
"Wah, kacau nih si Citra." gumam Reza seraya melihat ponselnya.
__ADS_1
Yooo ibu-ibuuu cemburu gaaakk kalau suaminya dapat salam dari mantanya?? Langsung bilang sama istrinya pula. Haa..
Biar gak makin panas bantu like dan komentarnya. Jangan lupa VOTE yang banyaak yaa.. Terima kasih^^