
Reza cepat-cepat meraih ponsel tersebut. Dering ponsel tersebut seolah menyadarkannya bahwa sekarang dia adalah lelaki beristri.
"Sebentar" ucap Reza meninggalkan kursinya dan pergi menjauh dari Citra.
Reza sedikit gemetar. Dia mengatur nafasnya kemudian menelepon Tasya karena dering teleponnya berhenti sejak dia mengatur nafas.
"Assalamualaikum" sapa Tasya riang
"Waalaikumsalam, tumben kamu telepon Sya" ucapnya dibuat sebiasa mungkin
"Kok tumben sih A? Mentang-mentang aku jarang telepon" protes Tasya
"Iya, kenapa?" Tanya Reza tanpa basa basi karena ada seseorang yang sedang menunggunya
"Aa kok gak ada di gudang? Aa kemana?" tanya Tasya penasaran
"Kamu di gudang Sya?" Reza sangat terkejut
"Iya. Tadinya aku mau kasih surprise. Eh malah aku yang dapat surprisenya. Haha" ucap Tasya dibuat seriang mungkin
"Aku tanya Pak Bambang, dia juga tidak tahu. Aa katanya tadi buru-buru" lanjut Tasya
"Iya, aku.. Aku meeting mendadak sayang. Setelah ini aku kesana ya." ucap Reza merasa bersalah
"Aku pulang saja ya, Gak enak juga lama-lama disini A. Lelaki semua. Aku gak nyaman" ucap Tasya
"Yasudah hati-hati sayang. Maaf aku gak tahu kamu akan datang, aku akan segera pulang ya" Reza benar-benar merasa bersalah
Kemudian telepon terputus. Reza kembali ke kursinya semula.
"Za, kamu punya pacar baru?" tanya Citra yang tadi melihat ponsel Reza.
Sebenarnya Citra ingin bertanya dari awal melihat kontak Reza dengan foto profil Reza dan Tasya. Tapi dia mengurungkan niatnya.
"Setelah kamu meninggalkanku, aku di jodohkan dengan anak rekan bisnis Papa, Cit" ucap Reza jujur
"Jadi, kamu juga sudah menikah Za?" Citra tak menyangka
"Iya. Aku sudah menikah Cit. Aku harap kamu membebaskan hatimu sekarang dari rasa bersalah. Aku sudah lama memaafkanmu Cit." ucap Reza
Citra sekarang penasaran siapa istri Reza.
"Istrimu orang mana Za?" Citra memberanikan diri bertanya
"Adalah Cit. Kamu tidak mengenalnya. Cit, aku minta maaf. Aku harus pergi sekarang. Istriku menungguku pulang. Aku harap kamu tidak menghubungiku lagi. Aku tidak mau membuatnya sakit hati. Dan aku juga tidak mau merusak rumah tanggamu. Semoga kamu bahagia selalu ya Cit" ucap Reza kemudian pamit pergi.
Citra terdiam. Dia tidak pernah melihat Reza setegas itu kepadanya. Dia juga tidak pernah merasakan Reza sekhawatir itu kepadanya.
'Tidak mau membuatnya sakit hati? Wanita mana yang telah membuatmu seperti itu Za?' batin Citra.
***
Reza mengemudikan mobilnya lebih cepat dari biasanya. Dia merasa sangat berdosa pada Tasya.
__ADS_1
'Bodoh!' Reza memaki dirinya sendiri.
Reza menyesal telah bertemu dengan Citra.
'Kenapa si Citra gw samperin segala' Makinya kembali
Dia sadar sikapnya kemarin menjadi lebih dingin kepada Tasya. Dia merasa sangat bersalah. Kini dia tidak tega kalau harus menyakiti Tasya. Baginya, Tasya berhati malaikat. Jarang sekali perempuan sepolos Tasya di jaman sekarang. Tak terbayang olehnya, jika dia harus berpisah dengan Tasya karena kesalahannya sendiri.
Reza memarkirkan mobilnya di sebuah toko cokelat. Dia membeli kue cokelat dan juga cokelat berbentuk hati sebagai permintaan maafnya yang tidak terucap.
Sesampainya dirumah, Reza dengan tergesa memasuki kamar. Tasya tidak ada disana.
"Sya.." teriak Reza sambil menyimpan plastik berisi kue dan cokelat.
Reza mengetuk pintu kamar mandi. Tasya membuka pintu tersebut dengan wajah yang sangat pucat.
"Sya.. Kamu kenapa? Kamu sakit?" Reza panik
"Aku.. Aku.. " Tasya menahan sakit dan malu untuk bicara
" Kenapa Sya? Kamu pucat sekali" Reza merangkul Tasya dan membawanya ke kasur
"Aku sakit menstruasi A" jawab Tasya malu
"Menstruasi?" Reza mengernyitkan dahinya
"Datang bulan A.. Sshh.. " Tasya meringis
"Ini kali pertama aku datang bulan A setelah menikah" ucap Tasya
"Sya, bukannya datang bulan sebulan sekali?" tanya Reza
"Iya A. Tidak tahu kenapa setelah menikah aku tidak datang bulan." jawab Tasya
"kenapa kamu tidak bilang dari awal kita menikah?" Reza setengah berteriak. Kemudian menyadari kesalahannya.
"Ayo kita ke dokter saja Sya. Dari pada kamu kenapa-napa" ajak Reza
Reza makin diselimuti rasa bersalah. Dia mengucapkan kata maaf berkali-kali dalam hatinya.
"Enggak a. Nanti saja. Aku tadi sudah minum jamu pelancar menstruasi" tolak Tasya
"Ya sudah kamu istrihat sayang" di kecupnya kening Tasya setelah itu di rebahkannya tubuh Tasya. Kemudian Tasya menutup matanya walaupun tidak terlalu ngantuk.
Rintihan kecil sesekali terdengar dari mulutnya. Reza semakin khawatir. Reza mengambil kerudung Tasya.
"Sya.. Ayo kita ke dokter saja. Aa gak bisa hanya diam saja melihatmu begitu" ucap Reza
Tasya masih memejamkan matanya.
"Sya.. Ayo Sya. Jangan buat Aa panik" ucap Reza
Tasya membuka matanya. Dia menurut perintah Reza. Karena dia merasa sakitnya tidak juga mereda.
__ADS_1
"A Reza, maaf ya aku merepotkan" ucap Tasya lirih sambil memakai bergonya.
'Tuhan, kenapa dia baik sekali' Batin Reza terharu atas sikap Tasya
"Nggak sayang. Tidak seharusnya kamu berkata demikian." ucap Reza
"Ayo." ajak Reza merangkul Tasya.
Di perjalanan Reza membawa mobil lebih cepat. Sesekali dia melihat wajah istrinya yang memejamkan mata dengan mimik muka yang kesakitan.
"Sakit sekali sayang?" pertanyaan bodoh Reza keluar
"Enggak A" Tasya pun berbohong. Padahl Reza tahu betul Tasya sangat kesakitan. Baru pertama kali dia melihat Tasya seperti ini.
Setibanya di rumah sakit, Reza bertanya kepada bagian administrasi.
"Silahkan ke poli kandungan Pak" ucap petugas
Reza pun mendaftar kesana. Mereka berjalan ke lantai 2. Disana ada beberapa ibu hamil yang sedang menunggu.
"Keluhannya apa Bu?" tanya seorang perawat
"Saya sakit menstruasi" jawab Tasya malu
"Sudah biasa atau baru sekarang?" tanyanya lagi
"Baru sekarang" ucapnya malu
"Silahkan di tensi dan di timbang terlebih dahulu ya bu" ucap perawat
Reza seperti suami siaga. Dia memegang tas Tasya sambil berdiri di sampingnya.
Setelah selesai menimbang berat badan, mereka duduk di deretan kursi yang di sediakan.
"Masih kuat sayang?" tanya Reza
"Iya A" jawabnya singkat
Tasya merasakan seluruh tubuhnya terasa lemas. Dia menyandarkan kepalanya di lengan Reza.
Dua orang perawat yang berjaga memperhatian mereka.
"Kenapa mba?" Tanya seorang ibu hamil yang baru datang dan duduk di sebelah Tasya. Dia melihat Tasya sangat pucat.
"Sakit menstruasi bu" ucap Tasya membenatkan posisi duduknya. Kini dia duduk tegak tanpa bersender ke suaminya.
"Owh, saya pikir hamil muda mba. Maaf ya" ucapnya kemudian
"Tidak apa-apa bu" ucap Tasya. Kemudian mereka berbasa basi.
Tidak lama kemudian giliran mereka tiba. Dia memasuki ruangan.
Tasya membaringkan tubuhnya kemudian perawat memberikan ultrasonic gel di atas perutnya. Seorang dokter perempuan kemudian melakukan USG. Dia mencari letak rahim Tasya, kemudian dia melihatnya dengan seksama.
__ADS_1