BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Sebuah Permintaan


__ADS_3

Reza termenung sendiri di kamar apartemen setelah membaca diary milik Tasya. Dia tak melanjutkan membacanya. Baru sebagian saja sudah membuatnya sakit. Dia seolah merasakan apa yang selama ini Tasya rasakan.


Hening.


Tak ada satu suarapun yang terdengar disana. Dia merinding sendiri, membayangkan sang istri hampir satu bulan berada dalam suasana seperti itu. Tanpa melakukan apapun. Tanpa berbicara dengan siapa pun.


Entah harus menebus dengan apa semua dosa yang dia lakukan pada istrinya tersebut.


Kini pikirannya beralih pada Vano, sang buah hati. Dia khawatir akan berat badan sang buah hati yang kini menurun.


Menurut sang dokter, Elvano termasuk kedalam bayi BBLR (Berat Badan Lahir Rendah). Kondisi dimana bayi memiliki berat badan kurang dari 2.5 kilogram saat dilahirkan.


"Bayi BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) sangat rentan akan gangguan kesehatan. Untuk itu, si kecil memerlukan perawatan ektra. Dan ini sering terjadi pada bayi yang lahir prematur." suara dokter Vano selalu terngiang ditelinganya.


Reza menjambak rambutnya. Dia frustasi akan keadaannya yang menimpanya saat ini. Dia harus berdiri tegar menghadapi ujian yang Tuhan berikan kepadanya.


Dia membuka ponselnya, dia mencari informasi mengenai BBLR untuk mengetahui lebih banyak informasi disana. Di bukanya satu persatu informasi mengenai hal tersebut. Ternyata dia tidak sendiri. Ada banyak bayi yang berjuang sama seperti Vano. Dia sedikit mendapat semangat saat menonton video-video mereka.


'Aku harus tegar. Bukankah Tuhan memberikan ujian sesuai dengan kemampuanku?' Batinnya menguatkan


Reza bergegas membereskan kembali barangnya. Mengecek satu persatu ruangan disana. Hingga tidak ada satupun yang tertinggal. Setelah selesai, Reza membawanya pulang ke rumah.


***


Reza tiba dirumah dengan menyeret kopernya, dia masuk ke dalam kamar barunya. Kamar dengan design minimalis modern bercat warna pastel pilihan Tasya.


Reza menaruh barang mereka. Dia merentangkan badannya untuk sekedar beristirahat sejenak setelah kesana kemari seharian.


Lagi-lagi pikirannya melayang pada sang istri dan anak tercinta. Dia tak bisa tidur tenang setelah kejadian naas itu.


Reza segera bangkit dan keluar kamar. Dia meminta Bi Tinah membuatkan jus semangka kesukaannya untuk melepas dahaga yang dia rasakan.


Setelah meneguk habis jus, Reza kembali ke kamar, mengambil peralatan yang dia butuhkan untuk menginap di rumah sakit.


***


"A Reza kemana Bu?" tanya Tasya saat dia sudah bangun


"Katanya mau ambil barang dari apartemen ke rumah." ucap Ibu singkat


"Memang sudah jadi Bu kamarnya?" tanya Tasya antusias


"Sudah. Bagus sekali designnya. Ibu juga suka" ucap Ibu


"Itu aku yang pilih Bu" Tasya tersenyum senang


"Kapan aku boleh pulang ya Bu? Rasanya aku ingin segera pulang ke rumah" ucap Tasya


"Neng, kamu pulang saja ke kampung kita ya?" Rasya bersuara.


"Kenapa memangnya A?" tanya Tasya heran


"Biar Aa sama Ibu bisa bantu kamu jaga Vano. Kamu juga ada yang merhatiin kalau disana" ucapnya


"Hmm.. Iya ya, aku juga mau pulang A. Kangen suasana rumah" ucap Tasya


"Iya. Ibu juga maunya begitu. Tahu sendiri disini numpang dirumah besan, walau baik tapi rasanya gak nyaman. Gak seperti rumah sendiri" ucap Ibu

__ADS_1


"Iya Bu. Aku juga mau" ucap Tasya


"Nanti aku bilang sama A Reza" ucapnya kemudian.


***


Reza membawa beberapa plastik dan tas dipundaknya. Dia berjalan tergesa melewati lorong rumah sakit. Setibanya diruangan, disana nampak Ibu, Rasya dan Tasya sedang berbincang.


"Sayang.." Reza melempar senyum pada sang istri


"Assalamualaikum A" Tasya menyela


"Oh iya, waalaikumsalam" Reza nyengir malu.


"Aa kayak mau pindahan. Bawa apa saja?" tanya Tasya


"Baju ganti sama makanan."


"Ibu sudah makan?" tanya Reza


"Sudah. Tadi Rasya beli makan" ucap Ibu


"Aku bawa makanan Bu. Buka saja mumpung masih hangat" ucap Reza


"Bawa apa sih?" Ibu penasaran. Dia membuka beberapa plastik.


"Banyak begini. Siapa coba yang mau makan" ucap Ibu melihat martabak telur, roti bakar, nasi goreng dan beberapa biskuit serta buah.


Reza hanya tersenyum. Dia mendekat ke arah istrinya.


"Kadang-kadang A" ucapnya


"Aa sudah makan?"


"Belum sayang."


"Makan dulu" Ibu menimpali


"Iya bu"


Mereka berbincang kembali. Tak lama, Rasya dan Ibu pamit pulang.


Tasya merebahkan tubuhnya sambil memandang suaminya yang sedang asyik menonton televisi.


"A.. "


" Hmm.. Mau ke toilet?" tanya Reza


"Bukan."


"Kenapa sayang?"


"Setelah keluar rumah sakit, aku tinggal di kampung saja ya A" pinta Tasya


"Kenapa?" Reza nampak kaget


"Biar ada yang urus Vano. Aku juga kan masih begini. Aku takut gak bisa maksimal ngurus Vano" ucap Tasya

__ADS_1


"Aa sudah bilang sama Bi Tinah untuk mencarikan pengasuh buat Vano sama nanti kita minta satu perawat dari rumah sakit buat ngurus Mami dirumah" ucap Reza.


"Biayanya tidak sedikit A kalau begitu. Lagipula aku takut kalau Vano di urus orang lain" sanggah Tasya


"InsyaAllah ada rezekinya sayang. Mami gak usah takut, kan Mami ngawasin Vano dirumah."


"Papi gak mau Mami kerja dulu untuk saat ini" imbuhnya kemudian


"Kenapa aku gak boleh pulang sih A? Disini juga gak ada teman." ucap Tasya datar


Reza mendekat ke arah istrinya.


"Sayang, Papi janji nanti Papi gak akan lembur lagi. Papi temani Mami. Dirumah juga gak sendirian. Ada Vano, ada Bi Tinah, ada yang ngasuh Vano, ada perawat, Papa juga ada" ucap Reza


"Gak usah janji A." ucapnya datar


Reza terdiam.


"Mami tega ninggalin Papi disini?" ucap Reza


"Hmm.. Papi bisa kesana kalau Papi kangen kita"


"Papi kangennya setiap hari Mam" ucapnya


"Gak mungkin lah" ucap Tasya datar


Mereka terdiam.


Reza tak mau berdebat. Sementara Tasya memejamkan matanya dengan rasa kesal.


Keesokan harinya, Reza sudah berpakaian rapi. Seperti biasa, dia hanya akan mengontrol gudang dan mengambil tagihan ke hypermarket.


Ibu dan Rasya tiba di rumah sakit untuk menggantikan Reza.


"Ibu mau bicara Za" ucap Ibu


Reza mengikuti Ibu keluar ruangan. Sementara Tasya menatap mereka dengan wajah penasaran.


"Ada apa Bu?" tanya Reza


"Hmm.. Ibu mau minta izin sama kamu."


"Izin apa Bu?" tanya Reza penasaran


"Ibu mau bawa Tasya dan Vano pulang ke kampung" ucap Ibu


"Semalam Tasya juga sudah bicara Bu" ucap Reza


"Terus bagaimana? Kamu setuju?" Ibu berharap


"Ibu hanya ingin merawat mereka. Kalau Ibu kan Ibunya. Dia pasti lebih leluasa mau minta apapun sama Ibu. Beda lagi kalau di urus orang lain kan Za" ucap Ibu sedikit memaksa


"Hmm.. Aku pikirkan dulu Bu." Reza merasa tak enak hati jika harus menolaknya langsung.


*** Bagaimana Readers, ada yang setuju dengan Ibu? Atau bertahan dengan Reza dirumah?


Yuk, bantu VOTE koin dan poinnya. Tinggalkan jejak juga dengan LIKE dan KOMENTAR di setiap chapternya. Terima kasih ^^ ***

__ADS_1


__ADS_2