
Reza menghentikan langkahnya, dia berjongkok di depan sang istri tercinta.
"Kenapa berhenti Pap?" tanya Tasya
"Mami janji, nanti ketemu Vano gak nangis?" tanya Reza
"Memang kenapa?" tanyanya penasaran
"Sayang, mmm..." Reza kehilangan kata
"Apa?" Tasya penasaran
"Anak kita prematur." Reza akhirnya jujur
"Prematur? Kenapa bisa?" Tasya nampak syok
"Mami kan kecelakaan. Jadi Vano harus segera diselamatkan." Reza menggenggam tangan istrinya
"Gara-gara aku, anak kita.." satu bulir air bening lolos jatuh di pipinya
"Bukan gara-gara Mami. Tapi kehendak Allah, Mam. Harus ingat itu"
Kini air matanya tak terbendung.
"Sstt.. Kalau Mami nangis, Papi putar balik. Kita gak usah lihat Vano dulu" ancam Reza sambil mengusap air mata sang istri.
"Iya. Aku mau lihat Vano"
"Janji gak nangis?"
"Iya"
"Janji gak nyalahin diri sendiri?"
Tasya terdiam
"Aku.. "
"Sudah kita ke kamar lagi. Mami belum siap"
"Kenapa gak bilang dari awal? Kenapa semua menutupi?" Tasya menangis lagi
"Yuk, kita ke ruangan. Malu tuh di lihat orang. Nanti Papi jelasin" ucap Reza
Tasya melihat ke sekitar. Nampak beberapa orang melihat ke arah mereka.
"Yuk ke kamar dulu saja." Reza hendak memutar kursi roda tapi ditahan oleh Tasya
"Ayo kita lihat Vano saja. Aku gak akan nangis" ucapnya
Reza melanjutkan langkahnya. Mau tidak mau, kenyataan pahit ini harus mereka telan. Reza tak bisa lama-lama menyimpannya, karena takut menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.
Reza membawa Tasya masuk ke dalam ruang NICU. Dengan sigap, perawat membukakan pintu untuk mereka.
Tiga perawat yang berjaga saling berbisik.
"Hallo tante suster Vano, ini Maminya Vano" ucap Reza ramah karena sudah mengenal mereka.
Tasya tersenyum walau gurat kesedihan masih terpancar diwajahnya.
"Hallo Maminya Vano. Cantik sekali" ujar salah satu perawat.
"Bolehkan lihat Vano? Kasihan sudah rindu berat" ucap Reza
"Boleh. Silahkan" ucap mereka.
Reza mendorong kursi rodanya mendekat ke inkubator.
"Ya Allah.. Vano.." Tasya memegang inkubatornya. Air matanya menggantung
"Janji gak nangis kan?" ucap Reza. Segera Tasya mengerjapkan matanya.
Ketiga perawat memperhatikan keduanya.
__ADS_1
"Vano, maafkan Mami yaa.. " ucapnya lirih
Reza menggenggam tangan sang istri.
"Vano saja gak nangis. Masa Mami cengeng" ucap Reza
"Pap, dia sekecil itu?" tanya Tasya
"Iya, dia BBLR. Bayi dengan berat badan rendah. Maminya kurang rakus makannya" sindir Reza
"Terus bagaimana?" tanya Tasya
"Ya, Vano gak bisa pulang kalau belum 1.8 kilogram" ucap Reza
"Aku mau jaga Vano, Pap" Tasya merengek
"Gak boleh. Vano kan sudah ada yang jagain." ucap Reza
"Terus nanti bagaimana? Aku mendingan disini saja" tanya Tasya
"Nanti kita bicarakan lagi. Malu tuh dilihat tante suster" Reza melihat ke arah mereka, sementara para perawat gelagapan.
"Sudah yuk ke kamar lagi." ajak Reza
"Masih kangen." ucap Tasya
Keduanya terdiam. Memperhatian anak mereka.
"Vano Gerak Pap" Tasya antusias
"Ini Mami, Elvano.." ucapnya kemudian. Tasya menelan salivanya berat
"Iya sayang" Reza tersenyum lembut sambil merangkul sang istri.
Satu perawat meremas tangan temannya gemas.
Reza keluar ruangan saat ponselnya bergetar.
Sementara Tasya hanya meliriknya sekilas. Tak lama, Reza masuk kembali.
"Yuk Mam. Papi ditunggu Pak Bambang. Nanti kita kesini lagi habis maghrib" ajak Reza
Reza mendorong kursi roda sambil mengucapkan terimakasih pada para perawat.
"So sweet banget. Aku penasaran Vano nanti seganteng apa lihat orang tuanya serasi sekali ya Tuhaaan" satu perawat nampak tak bisa menahan mulutnya. Ketiganya sangat antusias membicarakan mereka.
"Mam, Papi ke kantor sebentar ya, seperti biasa nanti Papi kesini lagi kalau urusan sudah beres" ucap Reza
"Iya" ucapnya singkat. Hati dan pikirannya masih dipenuhi oleh Elvano
***
"Bu, kenapa semua menutupi kalau Vano prematur?" tanya Tasya pada Ibu
"Masa iya kamu baru sadar kita langsung bilang Sya." ucap Ibu
"Kamu dan Vano selamat saja rasanya Ibu sangat bersyukur sekali. Alhamdulillah Allah masih sayang sama kita" ucap Ibu
"Ibu gak ada maksud menutupi apapun. Hanya saja kita memilih waktu yang tepat." ucap Ibu
"Kamu jangan berpikir macam-macam Neng. Pokoknya fokus dengan kesembuhan kamu dulu" ucap Rasya
"Iya A." Tasya nampak menerima semuanya. Dukungan keluarganya begitu besar.
Setelah maghrib, Tasya dan Rasya kembali ke ruang NICU untuk bertemu Vano. Mereka menghabiskan waktu dengan memandang bayi mungil dalam inkubator tersebut.
***
"Maaf.. " ucap Reza saat mereka tinggal berdua di kamar. Reza datang jam sembilan malam. Ibu dan Rasya telah pamit pulang.
"Gak apa-apa A. Aku mengerti." ucap Taysa
"Cuma, sekiranya begitu. Gak usah Aa berjanji." ucap Tasya datar
__ADS_1
"Iya. Maaf sayang." ucap Reza lagi
"Ya sudah, tidur saja. Pasti Aa lelah kan?" ucap Tasya
"Mami marah?"
"Tidak"
"Tapi kelihatan sekali kalau sedang marah" ucapnya kemudian
"Aku gak marah, hanya kecewa saja. Setidaknya sibuk juga beri kabar. Agar aku gak khawatir. Dan aku gak suka Aa berjanji kalau gak bisa nepati" ucap Tasya
"Iya sayang. Nanti sesibuk apapun, Papi kabari Mami" ucapnya
"Ya sudah tidur saja" ucap Tasya
Reza patuh karena memang dia merasa lelah.
***
Pagi-pagi Reza sudah berkemas membereskan barang-barang mereka sebelum dokter visit untuk terakhir kalinya. Ibu dan Rasya juga datang lebih pagi. Mereka semangat untuk pulang kecuali Tasya. Dia nampak murung karena tak tega meninggalkan Vano sendirian.
"Mam,ayo ketemu Vano" ajak Reza
Tasya mengangguk setuju. Mereka pamit pada Ibu dan Rasya.
"Papi, aku gak mau pulang. Aku gak tega meninggalkan Vano sendirian disini" ucap Tasya
"Mami fokus penyembuhan dulu. Vano anaknya kuat Mam" Reza menghiburnya
"Vano kasihan Pap sendirian"
"Vano mah senang kayaknya Mam. Ditemani suster-suster cantik"
"Bapaknya itu yang senang!"
Reza tertawa.
Mereka tiba di ruang NICU.
"Hallo tante suster. Mami Vano datang lagi" ucap Reza
"Silahkan" ucapnya ramah.
"Boleh, Maminya yang gantikan sus?" tanya Reza
"Tentu saja Pak. Mari sini Bu" ucap suster tersebut
"Gantikan apa?" tanya Tasya heran
"Nanti Mami tahu sendiri"
Dengan cekatan para perawat membantu Tasya melakukan skin to skin dengan Baby Vano.
Rasa haru saat pertama kali mereka bersentuhan kulit.
"Ya Allah Elvano, sayang, ini Mami. Maaf Mami baru menyentuhmu. Vano, anak Mami" ucap Tasya meneteskan air mata
"Jangan sedih Mami, nanti Vano ikut sedih" hibur perawat saat membetulkan gendongannya.
Tasya segera menghapus air matanya.
Perasaanya campur aduk antara senang dan sedih saat menggendong Elvano yang sangat mungil.
"Vano sayang" Reza mentowel pipi putra tercinta sambil berjongkok disamping Tasya.
"Papi Mami disini sekarang. Ada Mami ya Vano ya" Reza mengajak bicara putranya
"Vano minum susunya yang banyak ya. Maaf Mami gak bisa mengasihi Vano" ucap Tasya menahan sedihnya.
"Gak apa-apa ya Vano, Vano mah gak rewel Mam. Jagoan Papi mah sholeh" Reza menimpali
Para perawat merasa haru melihat keluarga kecil mereka.
__ADS_1