
Tasya memejamkan matanya walau hatinya masih bimbang. Dia bingung keputusan mana yang akan dia ambil sekarang.
Sementara Reza, dia sudah meringkuk dibalik selimut putih rumah sakit. Rasa lelah yang menderanya membuatnya cepat tidur, walau sering kali dia terbangun untuk mengecek keadaan sang istri.
Keesokan harinya, keduanya nampak tak banyak bicara. Reza membantu menyuapi Tasya memakan sarapan paginya.
"Makan sedikit lagi sayang" rayu Reza sambil mendekatkan sendok ke mulut Tasya
"Aku kenyang" ucapnya
"Mau sembuh gak?" ancam Reza
Dengan terpaksa Tasya melahap bubur dihadapannya. Dengan perlahan, sepiring bubur akhirnya habis tak bersisa.
"Sana mandi!" perintah Tasya
"Iya sebentar lagi sayang" ucapnya masih berada disamping sang istri.
"Sarapan dulu" Tasya mengusirnya secara halus agar menjauh darinya.
"Suapin ya?" rengek Reza
Tasya melebarkan matanya.
"Bisa sendiri juga!" ketus Tasya
"Biar romantis sayang" Reza tersenyum jahil
Reza mengambil roti dan mengoleskan selai kacang dipermukaan roti miliknya kemudian menutupnya dengan satu lembar roti lain.
"Suapin dong Mam"
"Itu kan Aa pegang. Langsung saja masukan ke mulutnya. Buat apa repot-repot" ucap Tasya kesal
"Beda tahu sayang rasanya di suapin sama makan sendiri" Reza menyela
"Sama saja! Sama-sama masuk mulut" ketus Tasya
"Beda tahu. Coba pegang deh, terus masukin ke mulut Papi" ucap Reza
Dengan terpedaya, Tasya menurut kepadanya.
"Tuh kan beda" Reza tersenyum puas.
"A Reza ih! Menyebalkan!" Tasya tersadar akan keisengan Reza. Dia menyodorkan roti ke tangan Reza. Namun lagi-lagi mulut Reza yang bekerja. Sampai akhirnya Tasya menyerah, dia menyuapi Reza dengan benar. Reza tersenyum puas penuh kemenangan.
"Papi.. " Ragu-ragu Tasya memanggilnya
Reza seketika sumringah. Sudah sangat lama sekali dia tak mendengar Tasya menyebutnya dengan mesra.
"Panggil lagi coba?"
"Apa?"
"Tadi manggil apa?"
"A Reza" ucap Tasya tanpa merasa bersalah
"Mami mah" Reza bersungut
"Kenapa sayang?" tanya Reza kemudian
"Aku boleh tinggal disana?" tanya Tasya dengan takut
"Iya boleh sayang" ucapnya tulus
"Serius?" tanya Tasya
"Tapi.. "
"Apa?" tanya Tasya
__ADS_1
"Mami maafkan Papi kan?"
"Hmm.. Iya."
"Maaf ya sayang. Papi egois" ucapnya bersungguh-sungguh. Reza mendekat ke arah istrinya.
"Maaf aku juga A" Tasya tak kalah sendu.
Reza merangkulnya, Tasya bersandar dibahu Reza. Bahu yang dia rindukan. Aroma yang selalu menenangkan.
"Papi cinta sama Mami. Mami jangan pernah tinggalkan Papi ya"
"Aku juga cinta Papi. Tapi Papi jangan menyebalkan."
"Sakit tahu A, aku merasa dibuang tinggal di apartemen itu" ucap Tasya jujur
"Maaf.. Maaf.. Maafkan Papi. Papi tahu Papi salah" ucapnya
Reza mengecup pelan perban yang membalut kepala Tasya.
"Kita sudah jadi orangtua sayang. Jangan marahan terus ya. Malu sama Vano" ajak Reza
"Iya. Tapi.. Hpp.." Reza melum*t bibir Tasya.
Tasya yang tak siap hanya mematung, tak lama dia membalasnya. Kecupan yang berubah menjadi lebih panas dan menggair*hkan.
Tasya melepaskan pagutan mereka saat terasa sesak.
"Aku kangen sekali sama Papi" ucapnya sambil memeluk sang suami
"Papi jangan ditanya, sedih tahu Mami ketus terus sama Papi" ucapnya
"Papi kerja saja sampai gak fokus" ucapnya
"Aku ingin ketemu Vano, Pap" rengek Tasya
"Oke, kita tunggu dokter. Minta izin dulu sama dokter Mami. Kalau boleh kita ke ruangannya" ucap Reza
"Serius?" Tasya berbinar.
"Sun dulu" Reza menyodorkan pipinya.
Tasya segera mengecup pipi Reza.
"Aku sayang banget sama Papi" ucap Tasya. Reza sangat bahagia mendengarnya.
Tak berapa lama, Ibu dan Rasya tiba membawa perbekalan mereka.
"Sudah lihat Vano Za?" tanya Ibu
"Belum Bu. Aku mau konsultasi dulu dengan dokternya Tasya. Baru lihat Vano" ucapnya
"Jenguk dulu anakmu. Kasihan. Nanti Tasya telepon kalau dokternya datang" ucap Ibu
"Ya sudah, aku ksana dulu ya sayang"
"Papi.."
"Hmm?"
"Foto Vano Pap.." ucapnya
"Gak boleh sayang. Sabar ya. Kan nanti Papi bilang sama dokternya. Oke?" Reza bergegas keluar
Ibu melihat Tasya kini lebih mencair pada suaminya.
"Mau konsultasi apa Reza, Sya?" tanya Ibu
"Mau tanya, aku boleh keluar jenguk Vano enggak Bu" ucapnya
"Oh begitu. Mudah-mudahan saja bisa. Syukur-syukur kamu bisa pulang. Kalau menurut Ibu juga kamu sudah lebih segar"
__ADS_1
"Semoga ya Bu." harap Tasya
***
Tak lama, dokter tiba. Tasya segera menghubungi Reza.
"Bagaimana perkembangan istri saya Dok?" tanya Reza saat dia tiba
"Perkembangannya pesat. Besok sudah boleh pulang ke rumah, kasihan lama-lama disini bosen ya Bu?" ucap Dokter dengan senyumnya
"Serius Dok? Alhamdulillah" Reza tersenyum senang
"Kita lanjut rawat jalan saja ya. Biar pemulihan dirumah. Kontrol seminggu sekali, dan.."
"Ibu Tasya harus mengonsumsi obat anti step selama enam bulan" ucap dokter
"Ke.. Kenapa dok?" Tasya nampak kaget
"Salah satu gejala sisa pasca operasi pada kepala adalah kejang. Kejang pasca operasi kepala disebabkan karena sel saraf membuat koneksi yang baru dan berbeda dengan sel saraf sebelumnya. Apabila terjadi loncatan sinyal pada sel saraf di otak maka bisa terjadi kejang. Maka dari itu, kita antisipasi dengan obat tersebut."
"Dan perlu digaris bawahi. Harus seminggu sekali rutin chek up ya Bu" ucapnya
Reza dan Tasya saling pandang.
"Gak apa-apa Mam." Reza mengelus punggung sang istri.
"Boleh keluar kan dok hari ini? Dia belum bertemu dengan anak kami" ucap Reza
"Tentu saja Pak. Kalau tidak ada yang ditanyakan lagi, saya permisi" Dokter dan asistennya segera keluar kamar.
"Alhamdulillah Sya. Akhirnya kamu boleh pulang" ucap Ibu penuh syukur
"Iya Alhamdulillah Bu."
"Yah, aku gak bisa ikut Ibu pulang. Padahal A Reza sudah mengizinkan." ucap Tasya sedih
Disisi lain, Reza sangat bahagia karena tak akan berpisah dengan anak istrinya.
"Yang penting kamu sembuh dulu. Kayaknya lebih kuat doa Reza" sindir Ibu
"Ibu tahu saja. Padahal aku sudah kasih izin loh Bu." Reza tersenyum
"Terus nanti bagaimana?" tanya Tasya
"Ibu gak bisa terus-terusan disini. Nanti Ibu bolak balik saja ya. Kasihan Ayah juga kan disana" ucap Ibu
"Terus aku disini sama siapa?" Tasya sedih
"Papi sudah bilang, nanti ada saudara Bi Tinah yang jaga Vano. Kamu juga nanti Papi carikan perawat sayang" ucap Reza
"Sudah. Patuh saja sama suamimu Sya. Reza pasti berikan yang terbaik buat anak istrinya" ucap Ibu
"Tuh ibu saja tahu" Reza senang
"Walau kadang ceroboh" sindir Ibu
Reza hanya tertawa kecil.
"A Reza ayo lihat Vano sekarang" ajak Tasya
"Aa ambilkan dulu kursi roda" ucap Rasya yang sedari tadi hanya membisu dan menjadi pendengar setia
"Terima kasih A" ucapnya.
Tasya sudah tak sabar ketika Rasya tiba. Dia segera duduk di kursi roda, tak lama Tasya dan Reza keluar ruangan.
"A Reza.. " ucapnya senang
*** Readers masih mau lanjut gak? Bantu VOTE, LIKE dan KOMENTARNYA ya..
Follow akun instagramku @only.ambu
__ADS_1
Terimakasih ^^ ***