
"Jadi bagaimana Mam?" tanya Reza saat dia naik ke atas tempat tidur
"Aku bingung Pap." Tasya turun dari tempat tidur, dia mengambil brosur dari dalam laci kemudian memberikannya kepada Reza
Reza duduk sambil bersandar, dia membaca satu persatu brosur ditangannya
"Menurut Mami mana yang cocok?" tanyanya
"Ini sih kalau kata aku. Bilingual bahasanya. Kalau yang ini full bahasa inggris. Aku takut Vano gak bisa" ucap Tasya
"Gak apa-apa, kan belajar sayang"
"Aku selama berkunjung ke sekolah rasanya gak percaya Pap. Anak kita sudah mau sekolah. Padahal dulu, dia diambang hidup dan.. Hhh.. Astaghfirullah kalau ingat itu.. " Reza mengelus punggung istrinya.
"Anak kita hebat, sayang. Saking hebatnya dia terlampau tua. Padahal lahir lebih muda daripada seharusnya" Reza mengingatkan membuat Tasya tersenyum mengingat kelakuan anaknya.
"Jadi kapan pendaftaran?" tanya Reza
"Kalau kita daftar begitu open house, kita dapat diskon sepuluh persen Pap. Kalau dilunasi langsung, diskon lagi lima persen" tambahnya
"Sekolah jaman sekarang, udah kayak kredit rumah saja" ucap Reza
"Iya. Di kampung mah gak ada yang begini-begini. Eh ada sih, tapi ya jarang yang daftar sekolah begini. Habis mahal banget." ucap Tasya
"Alhamdulillah kita di mampukan, sayang. Doakan Papi agar rezeki kita mengalir deras." ucapnya
"Selalu sayang" ucap Tasya
"Tidur yuk, Mam..atau mau buat adik untuk Daffa" Reza tersenyum
"Enggak ah" tolak Tasya seraya mengubah posisinya memunggungi Reza
"Papi belum punya kembaran Mami" ucap Reza ditelinga Tasya.
"Papi geli"
"Mam.." Reza melingkarkan tangannya diperit istrinya
"Tidur sayang." ajak Tasya seraya memegang tangan suaminya.
***
"Abang, Mami berkali-kali bilang kalau sampah dibuang langsung ke tempatnya." ujar Tasya yang kesal saat Vano membuang plastik bekas biskuit
"Memang apa masalahnya kalau aku buang sampah dimana saja, Mami?"
"Astaghfirullah.. Apa masalahnya dia bilang" gumam Tasya
"Masalahnya, sampahnya berserakan dan itu tidak baik, Bang" ujar Tasya
"Oh begitu"
"Sekarang buang sama Abang"
"Mami, Abang itu lelah kalau harus berjalan ke tempat sampah"
"Ya Allah beri hamba kesabaran" kesal Tasya
"Aamiin Ya Allah" balas Vano membuat Tasya melotot kepadanya.
"Mami, Abang mau tanya, kenapa sih Mami sukanya marah-marah terus sama Abang?" tanyanya saat Tasya memunguti sampah bekas Vano
"Karena Abang selalu bikin kesal Mami."
"Abang bikin kesal gimana Mami?" tanyanya
"Gak mau buang sampah, Mami kan jadi kesel."
"Mami, bisa kan Mami bicara gak usah marah-marah" ucapnya
"Bisa. Abang bisa gak nurut sama Mami. Jadi anak yang sholeh?" tanya Tasya gak mau kalah
"Bisa."
"Ya sudah, bantu Mami kalau begitu"
"Tapi abang lelah Mami"
"Hhh.." Vano masuk ke kamarnya, tak memperdulikan Tasya yang kesal.
"Pagi-pagi sudah perang antara anak dan Maminya" ucap Reza keluar dari kamar.
"Gimana gak emosi, habis makan biskuit sampahnya berserakan."
Reza hanya tersenyum menuju ke meja makan.
"Daffa mana?" tanya Reza
"Dibelakang sama Opa"
"Jadi hari ini daftar sekolah?" tanya Reza
"Biar Vano trial dulu, Pap. Kalau mau, ya nanti daftar." ucap Tasya
"berapa hari trial-nya?" tanya Reza
"Tiga hari."
"Ya sudah. Nanti diantar Pak Bud saja ya. Maaf Papi gak bisa antar"
Tasya hanya diam tak menyahuti.
***
Jam delapan pagi, Tasya dan Vano berangkat ke sekolah diantar oleh Pak Budi. Dia sengaja tidak membawa Daffa karena ingin fokus untuk sekolah Abangnya.
Vano sangat antusias saat masuk ke dalam sekolahnya. Dia disambut oleh guru yang mengajaknya masuk ke dalam kelas. Vano melambaikan tangannya pada Tasya sesuai dengan instruksi sang guru, sementara Tasya menunggunya diluar halaman.
Vano terlihat sudah siap untuk sekolah. Dia nampak mandiri dan tidak cengeng. Vano dapat mengikuti kelas trial hingga akhir.
"Abang suka sekolah disana?" tanya Tasya saat mereka diperjalanan hendak pulang ke rumah
"Yes, Mami. Aku suka" balasnya dengan penuh semangat.
"Abang gak terpaksa?" tanya Tasya
"Enggak, Mami. Aku mau sekolah disana." pintanya
"Tapi sekarang aku haus, Mami" ucapnya
"Itu minum punya Abang" Tasya menunjuk botol minum milik Vano.
"Iya, tapi abang hausnya bukan ingin air putih. Abang hausnya ingin makan es krim yang dingin" pintanya.
Pak Budi tertawa mendengar celotehan Vano.
"Haus itu minum air putih, Bang" jawab Pak Budi
"Aku hausnya beda, aku hausnya mau es krim, Pak Budi" ucapnya
"Mamiii aku mau es krim" rengek Vano
"Panas tahu Mi." Vano merengek kembali
"Nanti dekat rumah beli es krimnya biar gak meleleh" ucap Tasy
"Ih mami! Aku kan hausnya sekarang" ucap Vano kesal
"Sabar. Kan nanti makannya bareng Dedek." pinta Tasya
__ADS_1
"Dedek gak minta es krim, Mami. Sudah jelas Abang yang minta" ketusnya dengan nada tertahan
"Sabar, sebentar lagi nyampe minimarket dekat rumah" bujuk Tasya
Vano hanya mengerucutkan bibirnya. Dia kesal pada Tasya, hingga tiba dihalaman minimarket. Raut wajahnya seketika berubah menjadi senang.
"Mami, aku mau yang itu" pinta Vano
"Yang besar saja sekalian Bang. Biar makannya bisa rame-rame" bujuk Tasya
"Aku tuh maunya yang ini, Mami" ketusnya
"Ya sudah kalau kayak begitu. Ambil buat Dedek sama Mbaknya juga" ucap Tasya
"Aku gak bisa tangannya kalau pegang banyak-banyak"
"Ya sudah tunggu, Mami ambil keranjangnya."
Setelah mengambil keranjang, Vano segera mengambil berbagai snack dengan semangat. Kemudian Tasya membayarnya dan masuk kembali ke dalam mobil.
"Dedeeekk, Abang pulang. Abang bawa apa coba Dek" teriak Vano
Daffa menghampiri Vano, melihat apa yang dibawanya.
"Dia gak rewel Mbak?" tanya Vano
"Engga Bu, cuma nanyain Ibu tadi tali gak sampai gimana-gimana"
"alhamdulillah. Aku ke kamar dulu ya Mbak." ucap Tasya
Dia segera membersihkan badannya kemudian ikut bergabung kembali bersama anak-anaknya.
***
"Papi kok sudah pulang?" tanya Tasya
"Kata Papi kan sore Papi santainya. Ya sudah pulang saja" jawabnya
"Kangen Mam" bisiknya.
"Gombal
"Serius sayang." ucapnya seraya mendekatkan tubuhnya pada Tasya
"Gimana tadi sekolah Vano?"
"lancar jaya. Alhamdulillah."
"Anaknya mau sekolah?"
"Aku tinggalin diluar malah. Dia di dalam sama gurunya"
"Oya? Terus?" Reza nampak sangat tertarik
"Ya anaknya bisa ngikuti arahan gurunya"
"Daftarin saja langsung, sayang" pinta Reza
"Yakin?"
"iya Mam." ucapnya
Reza memeluk Tasya. Dia mengecup lembut istrinya hingga keduanya terhanyut.
"Mamiiiiii.. Dedek pup Mii.." teriak Vano
"Kenapa sih itu anak selalu ganggu" ketus Reza
"Lagipula masih sore juga ah" ucap Tasya
"Mam, pacaran yuk? Anak-anak titip Mbaknya" ajak Reza. Belum Tasya menjawab, Vano sudah berteriak kembali.
"Iya sebentar."
"Kan ada Mbak sih Bang" gerutu Tasya
"Daffanya gak mau. Maunya sama Mami. Sudah tahu bau banget Mami" ucap Vano
"ya sudah. Ayo Dek" ajak Tasya pada Daffa.
***
Tak terasa, tahun ajaran baru telah dimulai. Elvano sudah memakai seragam sekolah berwarna pink dipadukan dengan warna ungu. Tasya nampak haru melihat putranya yang telah semangat. Tasya menyiapkan bekal makanan untuk Vano.
Reza menghampirinya Tasya di ruang makan. Dia nampak mendekati Taysa. Tapi Tasya yang kesal enggan berdekatan dengan Reza setelah pertengkaran kecilnya semalam.
Flash Back On
"Besok Vano mulai sekolah, Pap. Gak bisa antarkan dia sebentar saja" pinta Tasya
"Gak bisa Mam. Papi ada meeting pagi"
"Kemarin daftar gak bisa, sekarang hari pertama anaknya sekolah loh Pap. Kan biar berkesan juga buat dia" Tasya memberi pengertian
"Papi bilang, Papi ada meeting, Mam. Mami kenapa sih gak ngerti?" ketus Reza
"Ya Papi, buat anaknya sendiri sampe gak ada waktu! Emang Papi gak kasihan sama Vano, yang lain diantar orangtuanya. Sementara dia?" ketus Tasya
"Ya mau gimana lagi Mam"
"Papi bahkan gak pernah menginjakan kaki disekolah Vano" ketus Tasya
"Papi sudha bilang berkali-kali ya sama Mami. Jangan buat Papi kesal, Mam" ketusnya.
Tasya enggan berbicara lagi.
Flash Back Off
"Abang, Papi minta maaf ya gak bisa anter abang sekolah" ucap Reza
"Ya, padahal aku ingin sama Papi."
"Nanti kalau Papi gak sibuk ya Bang" ucapnya
Vano hanya mengangguk. Dia kecewa pada Reza.
Tiba disekolah, Vano tersenyum senang saat melihat banyak temannya. Hari lertama sekolah nampak sangat ramai oleh orangtua yang mengantar anak mereka.
Vano masuk ke dalam barisan. Sesekali dia melirik Tasya kemudian melambaikan tangannya pada Tasya.
"Hai, Mam. Wali murid baru ya?" sapa seorang wanita.
"Iya." Tasya tersenyum
"Yuk sini ikut kumpul dulu, semua wali murid" ucapnya
Mereka berkumpul di salah satu ruangan sekolah.
"Hallo Mam.. Wali murid dari playgroup and kindergarten. Perkenalkan saya Cecilia. Panggil Saya Cecil. Saya mau mengajak anda semua untuk arisan yang selalu dilaksanan setiap bulan ya Mam."
"Arisan sendiri ya buat silatirahmi dan biasanya kita juga sharing dan berbagi."
"Saya harap, semua mengikuti arisan ini ya" ucapnya
"Berapa Jeng, arisannya?" tanya salah seorang wali murid lainnya.
"Tidak mahal kok. Cuma formalitas saja" ucapnya
Tasya yang sebenarnya enggan, mau tidak mau harus mengikuti ajakan mereka. Karena semua mengikuti arisan tersebut. Mereka berbincang panjang lebar, sementara Tasya hanya diam. Dia merasa tak ada yang cocok dengannya.
__ADS_1
"Mam, setuju sama arisan ini?" bisik salah satu wali murid pada Tasya
Tasya hanya tersenyum.
"Aku gak mau sebenarnya. Cuma mau gak ikut, nanti gak enak" ucapnya kemudian
"Sama, saya juga" balas Tasya
"Oya, Mam siapa?"
"Vano"
"Oh, aku Bunda Dira" ucapnya seraya tersenyum
"Playgroup atau Tk?" tanya Tasya
"Playgroup, kalau Vano?"
"Sama"
"Wah, beruntung kita sama. Boleh kan minta nomor ponselnya?" pinta Bunda Dira
"Boleh" Tasya menyebutkan nomornya.
"Maaaammm.. Sudah sepakat semua ya.. Mulai bulan depan mulai setor arisan. Sekarang yuk kita bubar, kasihan kan Daddy-nya nunggu diluar" ucapnya.
Mereka membubarkan diri menghampiri suaminya masing-masing.
"Loh, Mam Vano sendirian?" tanyanya
"Iya. Suamiku sibuk" ucap Tasya
"Sama kita" Bunda Dira tertawa
"Duh akhirnya , aku merasa punya teman disini" ucapnya
"Iya. Aku juga." Tasya membalasnya.
"Eh Mommies, kalian sudah saling kenal ya?" tanya Cecilia seolah berkuasa di sekolah tersebut
"Enggak. Baru kenal juga"
"Oh. Mana Daddy-nya?"
"Gak ikut. Ada keperluan" jawab Tasya
"Oh gitu. Masa sih buat anak gak mentingin. Hari pertama loh" ucapnya seraya menyalakan kipas kecil miliknya
"Eh tapi ya, mungkin gak dikasih izin cuti sama atasannya kali ya" ucapnya kemudian yang membuat Tasya dan Bunda Dira saling pandang.
"Nanti arisan wajib datang ya Mom. Biasa sih, mommy yang lain ada juga yang jualan Tas, sepatu ya yang gitu-gitu lah" ucapnya
"Mam Cecil jualan juga?" tanya Bunda Dira saat melihat jemarinya dipenuhi oleh aksesoris.
"Oh. Enggak. Ini diamond hadiah dari suami, biasa dia suka kasih surprise gitu" ucapnya seraya tertawa bangga.
Tasya yang tak memperhatikan, tiba-tiba melihat ke arah jemarinya. Dia merasa malu sendiri karena hanya memakai cincin pernikahan tanpa memakai aksesoris apapun.
Tasya melirik Bunda Dira, dia juga memakai perhiasan walau tidak terlalu mencolok. Cecil melihat Tasya yang sedikit gelisah, seolah tahu isi hatinya.
"Eh disini bukan ajang pamer sih Mam. Tenang saja, kita semua juga tahu kok siapa-siapa saja disini yang memang 'wow', biasanya terlihat. Tapi kita tidak membedakan" ucapnya seraya melirik Tasya. Taysa hanya tersenyum kaku, dia sungguh tak nyaman dan tersinggung oleh ucapan wanita itu.
"Ya sudah mommies, aku berkeliling ke yang lain dulu ya." ucapnya
"aku kok sebal sama dia" ucap Bunda Dira
"Pamer deh kayaknya. Yang mana sih suaminya?" ucapnya kemudian
Keduanya memperhatikan Cecil, hinggaa akhirnya Cecil menghampiri lelaki dengan perut buncit dan berkumis.
"Oh itu suaminya." ucapnya
"Pantesan ya gayanya begitu, cocok sama suaminya" Bunda Dira tak henti bicara. Tasya hanya membenarkannnya dalam hati.
"Suami kerja apa?" tanya Bunda Dira
"Hanya diperusahaan biasa" ucap Tasya
"Kalau bunda?"
"Aku Ibu rumah tangga. Suami dokter bedah di rumah sakit swasta" ucapnya
"Oh begitu. Secara gak langsung jadi Bu dokter dong" canda Tasya
"haha.. Iya. Orang juga suka ada yang bilang begitu" ucapnya.
"Mam Vano kayaknya masih muda. Vano anak pertama?" tanyanya
"Iya. Kalau Dira?"
"Anak bungsu. Kakaknya sudah SD. Tapi gak disini" ucapnya
"Oh gitu."
Hari perkenalan pun usai. Mereka hendak membubarkan diri. Tasya berjalan keluar gerbang sekolah karena tak mendapatkan tempat parkir disekolahnya.
"Maam? Yuk bareng saya. Dari pada naik taksi" ujar Cecil pada Tasya. Dia sengaja menghentikan mobilnya.
"Mobil kami diluar Tante" balas Vano seolah tak terima
"Oh bawa mobil? Saya duluan ya kalau begitu" ucapnya
"Mami, siapa sih itu?" tanya Vano
"Itu orangtua murid juga Bang."
"Kelas aku?" tanya Vano
"Kayaknya dia TK anaknya" ucap Tasya
"Oh, aku kira kelas aku" ucap Vano
"Tadi ada cewek deketin aku, Mami. Aku gak suka" ujar Vano
"Kok gitu? Dia ingin berteman dengan Abang. Abang gak boleh sombong" ucap Tasya
"Aku gak sombong, Mami. Dianya yang dekat-dekat terus ke aku. Aku jadi kesal. Aku kan ingin main sama laki-laki bukan anak perempuan itu" keluh Vano.
"Maam Vano?" Tasya dan Vano menoleh kearah mobil yang memanggilnya.
"Kenapa jalan?" tanyanya
"Parkir diluar. Gak kebagian tempat" Ujar Tasya. Vano menarik-narik baju Tasya
"Apa sih abang!" gumam Tasya
"Aku duluan kalau begitu ya" ujar Bunda Dira
"Ya silahkan. Hati-hati" ucapnya
"Abang gak sopan kalau Mami lagi berbicara sama orang, Abang suka cari perhatian" ucap Tasya
"Mami gak tahu sih. Cewek yang dimobil barusan yang deketin Abang terus!" gerutunya
.
.
.
__ADS_1
Hallo pembaca setia BSN. Jangan lupa absen yaa.. Like dan komentarnya. Oya, bantu vote juga yang banyak yaa.. Terima kasih ^^