
Keesokan harinya mereka tengah bersiap untuk pulang.
"Sya, yang ini jangan di simpan di bawah ya, isinya makanan semua" ucap ibu memberikan satu buah dus kepada Tasya
"Ibu, repot-repot segala bu" ucap Reza
"Sama anak sendiri apa yang direpotkan. Ibu malah senang" balas ibu
"Terima kasih bu. Ibu ikut kita kesana yuk bu." ajak Reza
"Ibu ingin sih, tapi kalian tahu sendiri disini bagaimana. Kegiatan gak pernah berhenti" ucap ibu
Reza membawa semua barangnya ke dalam bagasi. Sebagian dia taruh di kursi belakang mobilnya.
"Kalian jaga kesehatan ya. Salam buat Papa kalian" ucap Pak Taufik
"Iya yah. Assalamualaikum" pamit mereka
***
"A, kok kita jalan kesini?" tanya Tasya merasa heran
"Kita lewat jalan biasa saja sayang, gak usah ke jalan tol" terang Reza
Reza sebenarnya lebih merasa takut atas kejadian yang menimpa Tasya kemarin. Dia sengaja menghindari jalanan tersebut, agar mereka tidak larut dalam kesedihan.
"Lebih lama dong a?" ucap Tasya
"Iya anggap saja kita jalan-jalan. Kita belum pernah kan lewat jalan sini" ucap Reza
"Yes, bisa berhenti di kebun teh dong A" Tasya semangat
"Boleh" ucap Reza
Mereka telah menyusuri jalanan yang beragam. Melewati pasar tradisional yang membuat macet, melewati perlintasan kereta api, menyeberangi jembatan yang di bawahnya sebuah sungai yang panjang, melintasi sawah-sawah yang menguning dan terbentang luas, bahkan melewati toko oleh-oleh.
"Mau beli oleh-oleh?" tanya Reza
"Itu di belakang sudah banyak A. Siapa yang mau makan?" ucap Tasya
"Iya sih" ucap Reza tanpa menatapnya
Toko oleh-oleh berderet sangat panjang dengan halaman yang luas. Beberapa bus terparkir di depan sebagian toko-toko tersebut.
"A, ayo beli oleh-oleh" Tasya berubah pikiran
"Katanya tadi gak mau" ucap Reza
"Iya sekarang mau. Hehe. Jarang-jarang kan sayang" ucapnya
Reza memperlambat laju mobilnya, kemudian menyalakan lampu sein dan menepikan mobilnya di salah satu toko oleh-oleh.
Tasya keluar lebih dulu, dia masuk ke dalam salah satu toko tersebut sambil melihat-lihat beragam oleh-oleh disana. Suasana toko tersebut sangat ramai oleh rombongan anak sekolah.
Di dalam toko, terpajang berbagai macam olahan makanan dan pernak pernik. Tak hanya dari daerah tersebut, banyak makanan dan pernak pernik dari daerah lain.
Reza keluar dari mobilnya masih menggunakan kaca mata hitam kesayangannya. Dengan berbaju putih, berjaket warna gading dan celana jeans yang membuatnya nampak lebih energik.
Reza memasuki toko oleh-oleh, dia mengedarkan pandangannya mencari istrinya. Dari arah samping, lima orang remaja wanita saling berbisik melihat ketampanan Reza.
Mereka kemudian mendekat ke arah Reza, salah satu dari mereka sengaja menabraknya sampai dia menjatuhkan dirinya.
"Aw.. " ucap remaja tersebut
__ADS_1
"Maaf, maaf saya gak lihat" ucap Reza tanpa sadar dia meminta maaf.
Reza membantu remaja tersebut untuk segera bangkit. Remaja tersebut dengan sengaja memegang lengan Reza.
"Aduh, kakak kenapa gak lihat-lihat, sakit sekali" ucapnya dengan nada dibuat semanja mungkin
"Maaf ya Dek" ucap Reza lagi
"Kamu gak apa-apa Cha?" temannya menghampiri
"Sedikit sakit" ucapnya lagi
"Kakak, tanggung jawab dong?" ucap salah satu temannya
Reza bingung dengan tingkah remaja tersebut. Karena dia merasa tidak terlalu keras bertabrakan dengan remaja tersebut.
"Kakak gak mau tanggung jawab?" teman lainnya menimpali.
"Saya harus tanggung jawab apa?" Reza bingung
"Ya ini, temanku kesakitan." ucapnya lagi
"Iya, saya harus tanggung jawab gimana?" Reza masih merasa heran.
"Saya minta nomor ponsel kakak saja, nanti kalau sakit saya berlanjut. Kakak harus tanggung jawab" ucapnya
Reza semakin bingung dengan tingkah mereka.
Tasya melirik sepintas gerombolan orang tersebut. Dia mundur kembali untuk memastikan yang dilihatnya suaminya.
Tasya kemudian mendekat, ternyata benar sang suami sedang di keliling oleh remaja wanita.
"Papi ada apa ini?" Tasya sengaja menyebutnya begitu sebagai tanda bahwa Reza lelakinya
Semua mata tertuju pada Tasya
"Terus dia minta tanggung jawab" ucap Reza membuka kacamatanya.
Lima remaja tersebut makin terpesona dengan ketampanan Reza.
"Tanggung jawab bagaimana? Apa kamu luka?" tanya Tasya pada remaja tersebut
"Kakiku sakit kak. Kalau sakit ini berlanjut bagaimana?" Remaja tersebut seolah menantangnya
"Iya. Masa gak mau tanggung jawab" temannya menimpali
"Iya tanggung jawab bagaimana?" Tasya mulai kesal dengan kelakuan mereka yang dibuat-buat
"Saya minta nomor ponsel kakaknya saja. Nanti kalau sakit saya gak reda. Saya hubungi kakak" ucap remaja tersebut melihat ke arah Reza
"Ya sudah, kasih nomor ponselnya pap" ucap Tasya
Remaja tersebut tersenyum menang
"Tapi mam.. " Reza tak mengerti dengan keputusan Tasya
Tasya kemudian menyebutkan nomor ponsel dan dengan cekatan remaja tersebut mencatatnya.
Reza menahan senyumnya ketika mendengar Tasya menyebutkan bukan nomor ponselnya melainkan nomor ponsel Tasya sendiri.
Setelah mendapatkan yang diinginkan, mereka kemudian meninggalkan Tasya dan Reza.
Reza tersenyum senang, sementara Tasya menatapnya tajam kemudian keluar dari toko tersebut.
__ADS_1
"Loh, gak jadi belanja?" tanya Reza mengekorinya
Tasya tak menjawabnya. Kemudian dia masuk ke dalam mobilnya.
"A Reza! Bisa gak sih gak tebar pesona terus?!" Tasya kesal
Reza tertawa keras sambil menepuk tangannya. Tasya makin kesal dibuatnya.
"Oops..." Reza menutup mulutnya untuk menahan tawanya kembali
"Pertama kali loh, Aa lihat kamu begitu" ucap Reza tertawa kembali
"A Reza!" Tasya makin kesal dibuatnya
"Mami.." Reza tertawa
Tasya makin kesal
"Ada yang cemburu sama anak remaja" Reza menggodanya
Tasya memukul pelan lengan Reza. Reza semakin menjadi
"Habis kesal sekali, aktingnya pintar sekali anak jaman sekarang" Tasya bersungut
"Papi ada apa ini?" Reza mengulangi yang di katakan Tasya tadi
"Aa gemas sama kamu Sya. Kucing manis bisa galak juga. Haha" Reza merasa puas
Tasya memalingkan wajahnya ke arah jendela
"Mami sayang..hfff.. Sorry mam." ucapnya masih menahan tawa
"Papi sudah panik loh mam, papi kira mami bakal kasih nomor ponsel papi. Eh ternyata. Haha" Reza masih tak puas
"Senangnya ada yang cemburu. Cemburu sama anak remaja" Reza tak henti tertawa dan menggoda istrinya
"Sudah puas tertawanya?" Tasya kesal
"Sudah mam, sekarang malah ingin nerkam mami. Gemas sekali" Reza mencubit pipi Tasya
"Terima kasih Mami Tasya, Papi terharu dibelain begitu" ucapnya sambil tersenyum
"A Reza! Ih sebal!" Tasya mencubitnya
"Papi gak bakal lupa sama kejadian ini" ucapnya lagi
Tasya terdiam
"Ayo belanja" ajak Reza
"Malas" ucap Tasya
"Ayo turun sayang" ajak Reza lagi
"Gak mau. Kesal sama Aa" ucap Tasya
"Sya.." panggil Reza
"Tasya.." Reza memegang dagunya mengarah ke arahnya.
Pandangan mereka beradu, segera Tasya melihat ke arah lain
"Hei, sayang.." ucap Reza
__ADS_1
"Apa!" Tasya kesal
"I Love you mami" ucap Reza sambil tersenyum