BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Masakan Papi Juara


__ADS_3

Tasya duduk di kursi makan sementara Reza sibuk menyiapkan bahan-bahan yang akan dia masak.


"Sedang apa dia Sya?" tanya Pak Danu menghampiri


"A Reza ingin masak buat Tasya katanya Pa" ucap Tasya


Reza mendelik.


'Dia yang minta juga' batinnya


"Kenapa? Nebus dosa tabungannya dia kuras?" sindir Pak Danu


"Papa tahu?" tanya Tasya kaget


"Papa nebak saja. Papa kan tahu harga motor itu berapa. Sekarang itu motor sudah kembali lagi. Pasti nguras tabungan kan?" ucap Pak Danu


"Apalagi kemarin dia jatuh miskin" sindir Pak Danu lagi


"Iya Pa. A Reza mah lebih penting motor daripada calon anaknya sendiri" Tasya merasa punya sekutu


"Pa, Papa jangan kompor Pa" Reza protes


"Aa juga kan sudah minta maaf Sya. Sudah jangan dibahas terus dong" Reza bersungut


"Semudah itu kamu maafkan dia Sya? Dulu Mama ngusir Papa dari kamar sampai-sampai Papa tidur di sofa" kenang Pak Danu


"Kenapa Papa tidur di sofa?" tanya Tasya


"Dulu lagi senang modif motor. Hampir sama lah kelakuannya sama si anak nakal" ucap Pak Danu


'Pantas saja begitu. Buah jatuh gak jauh dari pohonnya**' batin Tasya


"Berarti harusnya aku juga begitu ya Pa kayak Mama?" tanya Tasya melirik Reza


"Pa, Papa mending jalan saja sama teman Papa daripada ganggu kita" Reza mulai kesal


"Berarti nanti Aa tidur di sofa ya A" Goda Tasya


"Seminggu loh, Papa tidur di sofa Sya" Pak Danu makin semangat mengompori anaknya


"Paa.." Reza berteriak. Pak Danu seketika pergi ke kamarnya.


Tasya melihat tajam ke arah Reza.


"A Reza durhaka!" ucap Tasya ketus


"Durhaka apa sayang?" Reza tak mengerti


"Teriak sama Papa" ucap Tasya ketus


"Ya maaf sayang, Papanya sih komporin kamu terus. Aa kan kesal" ucap Reza


"Mama juga begitu kan dulu? Aa juga harus nanggung akibatnya." ucap Tasya


"Sayang.. Masa tega" Reza mendekat


Tasya sekuat tenaga menahan tawanya


"Jangan ya, nanti Aa sakit bagaimana?" ucap Reza seraya memegang tangan Tasya di arahkan ke pipinya sendiri sebagai sandaran.


"Jangan ya Mam. Nanti Mami rindu loh di peluk Papi kalau malam" bujuk Reza dengan wajah memelas.


"Iya sayang. Aku becanda. Aa takut begitu" ucap Tasya


"Sudah sana teruskan A. Eh sholat maghrib dulu saja" ajak Tasya


Mereka masuk ke kamar.


Setelah selesai, Reza kembali ke dapur dengan menggandeng istrinya.


"Bahannya ada semua kan?" tanya Tasya

__ADS_1


"Hmm.. Oregano gak ada sayang" Reza melihat resepnya kembali dari layar ponsel miliknya


"Ada. Aku taruh di atas sana" Taysa menunjuk deretan bumbu dalam botol.


Reza segera mencarinya. Tasya memperhatikan suaminya.


'Kita kerjain Papi ya Dek. Biar tahu rasa.' batin Tasya senang.


Reza mulai menyalakan kompor. Dia menyiapkan semua bahan dengan teratur sesuai resepnya.


"Mam, takarannya bagaimana?" tanya Reza


"Gak tahu. Aa yang masak" ucap Tasya seraya mengangkat bahu


"Ya Tuhaann.. " Reza mulai frustasi


"Aku gak pernah pakai takaran tapi di kira-kira saja. Tapi tetap enak kan?" Tasya berbangga diri


"The best Mami. Bagaimana Mam kasih contoh coba" tantang Reza


"Aku tidak sebodoh itu Ferguso! Kerjakan sendiri!" ucap Tasya


Reza tersenyum saat ide curangnya terbaca.


"Ya ampun Mami"


"Dedek Pap, anakmu bukan aku" protes Tasya


'Maafkan Mami ya Nak. Tapi nanti juga kamu makan buatan Papi kan? Pasti kamu juga suka' batin Tasya


"Pasti bisa lah. Aku percaya" ucap Tasya


"Sun semangatnya mana?" pinta Reza


"Sini dong" pinta Tasya


Reza mendekat. Dia membungkuk sejajar dengan Tasya yang sedang duduk.


"Semangat!" ucap Tasya di telinga suaminya


"Ah lama" ucapnya seraya mengecup Tasya beberapa kali. Yang terakhir kalinya kecupannya lebih dalam dan lebih lama.


"A!" Tasya melepaskannya


"Maaf, habis manis sayang" Reza menyeringai seraya mandekati kompor.


"Dasar! Kalau Papa lewat bagaimana?" Tasya ketus


"Tapi kamu juga menikmatinya. Malah ikutan" Reza membela diri.


"Ya Neng mah nerima saja Bang" ucap Tasya. Mereka berdua tertawa senang.


Reza kembali sibuk dengan bahan-bahan dan ponsel di tangannya.


Dia nampak serius. Hal itu membuat Tasya merasa gemas.


'Papi lucu sekali ya Nak. Bahkan lagi seriuspun dia tetap ganteng' batin Tasya sambil mengelus perutnya. Tasya mengambil ponselnya, dia kemudian memfoto Reza tanpa Reza sadari.


'Gantengnga aku' batin Tasya


"Ini fettuccine langsung di masukkan ke bumbunya sayang?" tanya Reza


"Lihat resepnya bagaimana?" tanya Tasya


Reza membacanya kembali dengan seksama.


"Buat tiga piring sayang. Barangkali Papa mau" ucap Tasya


"Gak perlu. Nanti Papa meledek Aa" ucap Reza


"Buat atau tidur di sofa?" ancam Tasya

__ADS_1


"Ya Tuhan.. Iya iya.. Mami kok ngancam sih?" Reza tak terima


"Gak ada protes" ucap Tasya


Reza menyiapkan tiga piring, Tasya berjalan ke kamar Pak Danu.


"Pa, ayo makan" ajak Tasya


Pak Danu segera keluar kamar. Dia mengikuti Tasya.


"Masak apa dia?" tanya Pak Danu


Reza menghampiri mereka dengan satu piring di setiap tangannya. Kemudian meletakkan di atas meja.


"Ini gak pakai racunkan?" tanya Pak Danu


"Spesial buat Papa mah gak cuma racun tapi pakai bangkai juga" ucap Reza


"A Reza jorok!" Tasya kesal


Pak Danu tersenyum saat Tasya memarahi anaknya.


Reza mendekat seraya membawa piring miliknya.


"Bagaimana rasanya sayang?" tanya Reza memperhatikan Tasya


"Belum juga makan. Sabar A" ucap Tasya


Tasya mulai menggulung pasta dengan garpu.


Hup


Tasya terdiam sejenak.


"Juara A!" ucap Tasya senang sambil mengunyah.


"Enak kan Pa?" tanya Tasya pada mertuanya


"Lumayan bisa di telan" ucap Pak Danu


"Bilang saja enak. Gak usah sungkan" sindir Reza


Mereka makan dengan lahapnya.


"Mau lagi sayang?" tanya Reza saat melihat piring Tasya yang hampir kosong


Tasya tersenyum.


"Masih ada kok" Reza berjalan ke dapur utnuk mengambil sisa pasta.


"Tuan Takur mau tambah?" tanya Reza


"A!" Tasya melotot ke arahnya


"Papa Danu mau tambah gak?" ralatnya kemudian


"Jangan banyak bicara kamu! Cepat masukan ke piring" ucap pak Danu


"Bilang saja ketagihan" gerutu Reza


"Mubadzir tahu! Bukan ketagihan!" ucap Pak Danu yang memang menikmatinya.


"Iyalah bosku" ucap Reza tak mau berdebat.


Pak Danu mulai berbicara serius mengenai pekerjaan mereka. Reza mendengarkannya sambil menikmati pasta buatannya. Sesekali dia menyahuti Pak Danu dengan mulut penuh dengan makanannya.


Tasya membereskan piring bekasnya.


"Aa yang bereskan nanti sayang. Kamu istirahat saja" ucap Reza di sela-sela obrolan mereka.


"Jangan lupa obatnya di minum juga sayang" ucap Reza kemudian.

__ADS_1


Tasya pamit pada mereka. Dia masuk ke dalam kamar hendak meminum obat. Setelah beberapa lama, dia kembali ke dapur. Reza sedang membereskan peralatannya di dapur.


"Bang, teh manis hangatnya satu" ucap Tasya seraya duduk di kursi makan.


__ADS_2