
"Ada apa sih ini?" Tasya masih kebingungan
"Horeeee... " Rasya masih mengomandoi mereka. Para bapak masih bertepuk tangan dengan riang gembira
"Ada apa dulu A? Ini bukan hari ulang tahunku." Tasya mengingat-ngingat
"Gak ada apa-apa. Memang kamu maunya apa?haha" Rasya tertawa puas
"A Rasya! Ih ada apa?" tanyanya masih penasaran
"Gak ada apa-apa Neng. Kamu kan kemarin bilang ingin nasi kuning buatan ibu" ucap Ibu
"Terus itu tumpeng buat apa bu?" tanya Tasya yang masih tak percaya pada mereka
"Buat dimakan Sya. Ayo cepat, Ayah sudah lapar" Pak Taufik menimpali
Masih merasa tak puas, Tasya mengulang pertanyaannya.
"Ibu membuat nasi kuning, terus kata Aa dibentuk tumpeng saja biar berkesan. Ya sudah ibu bentuk saja sekalian. Untung Bi Tinah punya cetakannya, dia bela-belain pulang dulu ngambil cetakan" ucap Ibu seraya tertawa
"Aa saja sama bapak-bapak pada heboh begini" tambah ibu
"Iih dasar.. Aku kira ada apa" Tasya tersenyum senang
Reza ikut tertawa melihat kekonyolan keluarganya. Tapi dia sangat bahagia dengan kekompakan mereka.
Sebenarnya, ibu sengaja membuat tumpeng tersebut sebagai penebus kesalahan para lelaki kemarin. Hal itu sudah mereka diskusikan semalam saat makan bersama.
"Potong tumpengnya.. Potong tumpengnya.." Rasya menyanyikan lagu dengan riang gembira.
"A ingat umur A! Heboh sendiri dari tadi" ucap Tasya
"Iya. Gimana mau dapat jodoh kamu" timpal Pak Taufik
"Yah, Rasya ngedip sedikit saja cewek-cewek pada bubar" ucapnya seraya tertawa
"Haha dasar bocah itu. Om kira bakal pada mendekat" Pak Danu tertawa kesal oleh celotehan Rasya
"Senang ya Bu, suasana begini baru sekarang terjadi disini" ucap Bi Tinah pada Ibu
"Dulu setiap saat begini Bi, sekarang anak-anak punya kesibukan masing-masing yah kita juga jadi kesepian." ucap Ibu
"Iya, lihat Neng Tasya sama kakaknya akrab sekali" Bi Tinah nampak kagum
"Iya. Kadang orang lihat mereka seperti pacaran. Memang dari dulu saling tergantung juga mereka Bi" kenang ibu
"Pak Danu juga nampak bahagia sekali." ucap Bi Tinah
"Hehe.. Sudah biasa lihat Pak Danu begitu, makanya dari dulu beliau senang menginap disana. Padahal di kampung. Eh lama-lama naksir Tasya buat jadi mantunya. Keseringan lihat Tasya kali" ucap ibu seraya tertawa.
"Pilihan Bapak tidak salah tapi Bu" ucap Bi Tinah
"Ibu kok malah disitu. Ayo makan. Bi Tinah ayo" ajak Tasya
__ADS_1
"Iya.. Iya"
Ibu mengajak Bi Tinah untuk makan bersama, tapi Bi Tinah menolaknya. Tak hilang akal, Ibu mengancamnya dengan mengatakan tidak akan datang lagi ke rumah Pak Danu, akhirnya Bi Tinah mau duduk satu meja dengan majikannya.
"Nah gitu dong Bi Tinah" Tasya berseru senang. Sementara Bi Tinah sendiri nampak canggung.
***
Setelah makan selesai, mereka duduk santai di ruang televisi.
"Sya, ibu taruh makanan di kulkas ya. Jangan lupa di makan. Sama ibu belikan cuanki mentah langgananmu. Nanti tinggal di rebus saja. Tuh kan hampir ibu lupa bilang." ucap Ibu
"Serius bu? Terima kasih bu. Ibu tahu sekali Tasya mau itu" Tasya bergelayut manja
"Jaga diri ya Nak. Jangan capek. Nurut sama A Reza. Kasihan dia" Ibu menasehatinya.
"Kenapa Ibu pulang hari ini sih? Kenapa tidak lusa saja atau seminggu disini" Tasya menyandarkan kepalanya di lengan ibunya
"Terus disana siapa yang ngurus. Ini juga kita serahkan ke Mang Maman" ucap Ibu
"Ibu sering-sering ya kesini" ucapnya sedih
"Kumat deh manjanya" ucap Rasya seraya duduk di samping Tasya
"A Rasya, kenapa Aa gak nginep disini saja seminggu" Tasya pindah memeluk lengan Rasya
"Enak saja. Kalau Aa disini, kapan Aa nyari jodoh" ucapnya
"Haha.. Iya ya. Ya sudah sana caro jodoh. Kalau masih gak nemu, aku jodohkan sama teman kantorku" ucap Tasya
"Jangan Bro, berisik dia" Reza menimpalinya
"Haha.. Kamu cariin kakak ipar yang bagus dong Sya" ucapnya
"Aa kayak gak laku saja minta di jodohin" ucap Ibu
"Canda bu. Ibu tenang saja, anakmu yang ganteng ini banyak yang naksir kok" ucapnya kemudian
"Sya, topi Aa mana?" tanya Reza
"Di kamar A. Masa disini" ucapnya
"Kamu ambilkan dong Sya" protes ibu
Tasya beranjak ke kamar, Reza mengekori di belakangnya.
"Tuh malah ikut kesini. Kenapa gak ambil sendiri!" Tasya kesal
"Sayang, Aa sengaja manggil kamu biar ke kamar. Susah sekali. Aa mau beli kue kesukaan Ibu buat oleh-oleh. Kamu tunggu saja disini ya" ucao Reza
"Dedek juga mau ya Pap" ucap Tasya
"Iya. Sama apa lagi Sya?"
__ADS_1
"Gak tahu, disini gak ada makanan khas sih"
"Ya sudah. Aa jalan saja dulu ya" Reza mengambil helm miliknya
"Iya. Hati-hati sayang" Tasya mengecup kilat Reza
Mereka keluar kamar.
"Reza mau kemana Sya?" tanya Ibu
"Keluar sebentar katanya Bu" balas Tasya
Rasya mendengar suara motor Reza dia segera keluar
"Sya, mana helm? Aa mau ikut A Reza" ucapnya
"Tasya gak tahu A. Kalau di bonceng gak pernah pakai helm"
Tak lama Reza masuk ke dalam menuju halaman belakang. Dia mengambil helm untuk Rasya.
"Gagah juga mantuku pakai helm begitu." ucap Ibu begitu melihat Reza memakai helm full face keluar rumah
"Ibu lihat saja motornya. Suaranya saja berisik begitu" ucap Tasya
"A Rasya pasti ingin pakai motor Aa. Haha dasar norak" ucapnya
Setelah beberapa lama, ibu memasukan barang-barang miliknya ke dalan bagasi mobil.
Suara derung motor menghampiri mereka. Rasya mengendarai motor tersebut, sementara Reza dibelakangnya sambil memegang plastik besar.
"Tuh kan, pasti A Rasya yang pakai motor Aa. Dasar norak" ledek Tasya
"Biarkan saja. Wlee" Rasya menimpalinya
"Ini sekalian Bu" ucapnya sambil memasukan kue yang dibelinya kedalam bagasi
"Kenapa beli ini segala Nak." ucap Ibu
"Gak apa-apa Bu. Buat cemilan kalau pulang" ucap Reza
Rasya masih mengagumi sepeda motor milik Reza.
"Bro, sana muter" Reza melemparkan kunci motornya kepada Rasya. Tak segan Rasya langsung tancap gas setelah mendapat lampu hijau.
"Hati-hati A"ucap Tasya
Setelah semua siap, Ibu, Ayah dan Rasya pamit pulang. Mereka berpelukan bergantian. Tasya menangis seperti anak kecil saat mereka hendak pulang.
"Nanti Ibu kesini lagi" bujuknya sambil merekatkan pelukannnya
"Kamu kok manja begitu Sya" Ayah membelai pucuk kepala anak perempuan satu-satunya itu
"Sini peluk dulu kesayanganku" ucap Rasya sambil membentangkan tangannya
__ADS_1
Ketiganya masuk ke dalam mobil, tak lama mobil mereka pun keluar dari halaman rumah.
"Sabar, nanti sudah waktunya kita bisa pulang sayang" ucapnya menenangkan sang istri. Mereka pun masuk kedalam rumah.