BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Ngidam Lagi


__ADS_3

Temans BSN Tolong bantu Like dan komentarnya disetiap bab yaa.. Kalau punya poin, bantu VOTE juga, oke? Terima kasih ^^


---------


"Ah, ibu hamil kambuh lagi sensitifnya. Sabar Zaa.." Reza mengusap kasar mukanya. Dia segera keluar kamar.


"Sayang.." Reza mendekati Tasya yang sedang bermain dengan Vano. Disana Mbak Diah juga ikut berjaga.


"Mami.. Yuk bicara dulu." ajaknya.


Mbak Diah memperhatikan mereka.


"Mam, malu sama Mbak Diah. Yuk ke kamar dulu." ajak Reza seraya berbisik.


Tasya melihat Mbak Diah sepintas


"Yuk.." Reza menggenggam tangannya.


"Titip Vano ya Mbak" ucap Reza seraya menuntun istrinya.


Reza menutup pintu kamarnya. Sementara Tasya duduk di bibir kasur dengan cemberut. Dia enggan melihat Reza.


"Anaknya mirip Papi loh kalau Mami gak mau lihat Papi." Reza menggoda


"Iyalah. Kamu yang buat!" ketus Tasya.


"Kok kamu sih?" Goda Reza tak terima, tapi masih dengan nada halus.


Tasya terdiam.


"Mami.. Lihat Papi dong."


Reza membalikan dagu Tasya, tapi Tasya masih enggan melihatnya.


"Mubadzir loh kalau punya suami ganteng gak di lihat. Diluar banyak yang curi-curi pandang sama Papi." ucap Reza dengan penuh percaya diri.


"Kalau marah sama suami, cantiknya luntur loh." rayunya lagi


"Emang kain apa!" gerutu Tasya


"Mami.."


"Duh, hormon hamil balik lagi ya."


"Sayang.."


Tasya masih diam tak membalasnya.


"Papi minta maaf, Papi tadi bilang sama Papa. Papi janji deh bakal jaga rahasia."


'Hah! Rahasia apa coba? Nanti itu perut juga makin besar.' batin Reza


"Mami.. Jangan marah dong."


Reza mengalungkan tangannya di leher Tasya. Dia mengecup pipi Tasya tak henti. Sementara Tasya mencoba berontak.


"Papi gak berhenti sebelum Mami maafkan Papi." ancam Reza.


"Terserah"


"Eh nantangin yaa" Reza semakin gencar.


Kini Reza memberi rangsangan pada telinga Tasya.


"Ya sudah. Iya iya." Tasya kewalahan. Titik sensitifnya telah dikuasai Reza.


"Nanggung Mam." Reza melanjutkan aktivitasnya semetara tasya menarik tubuhnya menjauh dari Reza.


"Sana Ah"


Reza tak berhenti. Kini Reza memagut bibir Tasya mesra dengan menahan kedua tangannya pada rahang sang istri membuat ciuman mereka semakin dalam. Reza yang berniat hanya menggoda, kini dia terbuai oleh permainannya sendiri.


Tasya mulai membalas pagutan Reza, mereka saling menautkan lidah satu sama lain. Puas bermain di bibir Tasya, kini Reza memindahkan ciumannya di leher jenjang sang istri. Lenguhan kecil nampak terdengar dari mulut Tasya membuat Reza lebih bersemangat. Dia seakan tak pernah puas menikmati tubuh indah istrinya. Satu tangannya meraba bagian dada sang istri yang masih terbungkus oleh daster yang dikenakan sang istri. Tak puas dengan itu, kini tangannya menyusup masuk kedalam daster mencari pengait yang menyangga dada sang istri kemudian melonggarkannya. Tangannya kembali lagi memegang dada sang istri dengan leluasa dibalik kain penutup dada.


Reza membaringkan istrinya dengan perlahan. Sambil berpagutan kini tangannya bergerilya diperut sang istri. Seketika dia menghentikan aksinya.


"Yah" ucapnya seraya membenamkan wajahnya pada dada sang istri.


"Dek, kuat kan ya? Papi udah gak kuat. Sebentar saja ya.. " bisiknya ditelinga sang istri yang membuat Tasya tertawa kecil. Tasya yang sudah memuncak tak menghentikan aktivitas Reza. Kini mereka melanjutkan gairah yang terjeda. Reza kembali memberi rangs***** demi rangs*****. Kini Reza mulai menarik celana dalam sang istri, Tasya membantu menurunkannya dengan sebelah kakinya hingga semua terlepas.


Reza segera membuka baju miliknya dan melemparkan di sembarang arah, dia kembali memagut bibir Tasya sementara Tasya mulai meremas rambut Reza menahan gejolak yang kian menaik.


Puas meremas rambut suaminya, kini tangannya menurunkan celana Reza tanpa melepaskan pagutan mereka. Reza segera melepaskan pagutan mereka dan menanggalkan celananya hingga tak ada satu kainpun yang melekat ditubuhnya.


Kini Reza sudah siap menyatukan miliknya, Reza membuka kaki sang istri yang menunggu dibawah sana. Tiba-tiba terdengar suara tangisan mendekat ke arah pintu kamar mereka.


"Bu.. Bu.." Mbak Diah mengetuk pintunya.


Reza terperanjat, dia segera turun dari kasur masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Tasya segera menurunkan dasternya kembali. Tasya segera membuka pintunya.


"Vano ingin ke Mami. Gak mau nyusu juga." ucap Mbak Diah.


"Sini sayang." Tasya menggendong Vano seketika tangis Vano terhenti.


"Terima kasih Mbak" ucap Tasya seraya menutup pintunya kembali.


"eeuuuggghhh... Vanooooo... " Reza mendekat dengan geram masih dengan bertelanjang.


"Papi.."


"Ayo Mam, nanggung. Vano simpan saja di tempat tidurnya." usul Reza


"Enggak ah. Kasihan."


"Mami gak kasihan apa?" Reza menurunkan pandangannya


"Mandiin gih. Biar menciut." goda Tasya seraya tertawa kecil.


"Ayo Mam, sebentar saja."


"Papi. Gak tahu malu! Sana mandi. Apa-apaan sih."


"Mam.." Reza masih merengek.


Tasya mendorong tubuh Reza agar masuk ke dalam kamar mandi.


"Gara-gara dia. Euh!" Reza kesal sementara Tasya melotot kearahnya.


"Adek kakak kompak." Tasya tertawa


"Maksudnya?"


"Tadi Papi mau lanjutin kan, padahal sadar aku hamil. Akhirnya kakaknya yang turun tangan." Tasya tertawa.


"Dasar Bang Vano bikin kesel!" Reza mencium pipi anaknya.


"Harusnya kalau sudah jadi Abang, beri contoh yang baik dong Bang. Papi sama Mami lagi mesraan tuh di dukung." ucap Reza


Sementara Vano hanya memperhatikan Reza bicara.


"Sana ah mandi. Gak tahu malu telanjang begitu." ucap Tasya.


"Perkasa Mam Perkasa!" ucapnya bangga.


"A Reza!"


"Iya.. Iya.. Papi main sama sabun nih?"


"Amit-amit gak tahu malu."


"Sabar ya.. " Tasya merasa kasihan pada suaminya.


"Atulah Mam.."


Tasya tertawa sambil membawa Vano ke kasurnya.


" Cemburu yaa Mami sama Papi berduaan. Vanonya gak diajak." Tasya mencium Vano gemas.


"Vano mau jadi Aa ya. Eh, Aa atau Abang?" Tasya memainkan tangan anaknya.


"Kata Papi Abang Vano? Aa Vano? Atau Kakak Vano?" Tasya menghujani sang anak dengan ciuman. Sementara Vano hanya tertawa.

__ADS_1


Tak lama, Reza keluar dari kamar mandi. Tasya tertawa meledek.


"Sabar Papi." goda Tasya


"Yuk makan diluar. Aku kok ingin makan nasi uduk." ajak Taysa


"Papi beliin ya?"


"Makan di tempat Pap."


"Ya sudah ayo."


Tasya segera bangkit sementara Reza menghampiri anaknya.


"Duh, ini lupa belum di benerin." ucap Tasya seraya mengaitkan kembali penyangga dadanya.


Tasya segera mengganti bajunya. Setelah siap dia membawa perlengkapan milik Vano.


"Mbak, ayo makan diluar. Aku ingin nasi uduk." ajak Tasya pada Mbak Diah.


"Baik Bu."


"Papa belum pulang kan?" tanya Tasya


"Belum."


"Ya sudah kunci saja semua." titah Tasya.


Reza membawa Vano masuk terlebih dahulu ke dalam mobil.


"Jangan yang aneh-aneh ya Dek nanti ngidamnya." ucap Reza mengelus perut Tasya saat menjalankan mobilnya.


"Memang waktu Vano aneh Pak?" tanya Mbak Diah penasaran


"Waktu Vano jam dua malam harus keluyuran terus. Minta es krim lah, minta apa lagi Mam?"


"Pecel Lele kalau gak salah" ucap Tasya


"Nah itu, sampai jera sendiri gara-gara ada yang malak." Reza tertawa mengingatnya.


"Gak tahu nih sekarang. Permulaan minta nasi uduk. Okelah masih gampang." ucap Reza lagi.


Keempatnya tiba di tempat nasi uduk.


"Aku mau ayam saja Pap." pinta Tasya


"Eh semur jengkol kayaknya enak."


"Mam?"


"Apa?"


"Serius mau itu? Mami gak pernah loh makan itu?" Reza menatapnya heran


"Enggak. Cuma bilang kayaknya enak doang. Papi mau?"


"Enggak."


"Coba yuk Pap?" ajak Tasya


Reza nampak ragu.


"Yakin nih?" tanya Reza


"Enggak. Aku penasaran tapi gimana ya" Tasya cengengesan.


"Enak kok Bu." ucap Mbak Diah.


"Haha.. Aku penasaran. Tapi takut. Boleh gak sih? Hamil makan jengkol?" tanya Tasya


"Boleh Bu."


"Papi, ayo coba." ajak Tasya tersenyum


"Bener Mami mau?"


"Seporsi saja. Coba satu doang. Kalau gak suka kasih Mbak Diah. Hehe"


"Tapi Papi makan ya?"


"Iya."


"Rame ya Bu disini?" ucap Mbak Diah yang baru pertama kali.


"Iya. Disini memang rame terus Mbak."


Tasya mengedarkan pandangannya.


"Punya usaha begini Enak kali ya, orang sudah pada datang sendiri." ucap Tasya


"Jangan lihat orang dari hasilnya, kita gak tahu perjuangannya kayak gimana." timpal Reza.


"Kayak Papi maksudnya?"


"Cakep. Mami tahu." Reza cengengesan bangga.


"Tau lah, bela-belain aku di kurung di apartemen." sindir Tasya


"Ya ampun Mam. Jangan bahas itu dong."


Tasya tertawa.


"Beda cerita kalau sekarang dikurung disana. Ada Vano sama Mbak Diah yang nemenin. Kayaknya gak bakal bosan." ucap Tasya


"Mau tinggal disana lagi?"


"Enggak. Lebih nyaman dirumah."


"Tapi Papi ingin beli rumah sendiri Mam."


"Buat apa?"


"Beli Villa yuk? Buat kita refreshing."


"Enggak. Enggak. Enggak. Papi jangan ngaco lagi deh." Tasya melotot


Reza tertawa.


"Papi tuh sudah berada dijalan yang benar beberapa bulan ini, awas saja kalau macam-macam lagi." ancam Tasya


"Tabungan kita kan sudah banyak sekarang. Mau beli kontrakan? Tanah? Apartemen? Papi beliin langsung." Bisik Reza dengan bangga


"Diem gak?" ancam Tasya seraya mencubitnya.


Reza mengaduh sambil tertawa.


Tak lama, pesanan mereka pun tiba.


"Jarang kita bisa makan bareng begini. Untuk ini anak tidur." ucap Tasya.


"Makan Mbak. Kalau mau tambah bilang ya." ucap Tasya


"Ini juga cukup Bu."


"Papi cepetan."


Tasya mengambil sendok, memberikan jengkol pada Reza.


"Mami mau lihat Papi dulu." ucapnya senang.


"Dek, lihat nih. Papi dikerjain Mami. Puas kamu Dek?" Reza berbicara sendiri.


"Yang ini kayaknya lebih tega dari Vano deh." gerutu Reza


Tasya tertawa.


"Cepetan."


Reza mulai menggigitnya kemudian memasukan nasi pada mulutnya.


"Mm.. Lumayan lah. Bumbunya enak malah." ucap Reza yang membuat Tasya menelan salivanya.

__ADS_1


"Coba" Tasya mulai menatuh di piring miliknya kemudian menambahkan bumbu semur diatasnya.


Taysa tertawa riang sebelum memakannya.


"Enak. Cepet makan." Reza tak sabar.


Tasya menjilati bumbu yang menempel di tangannya.


"Enak kok" ucapnya


"Coba Mam, makan jengkolnya."


Tasya mulai menggigitnya. Matanya berputar seolah berpikir.


"Gimana ya? Ada pahitnya dikit. Bener gak sih?" ucap Tasya sambil mengunyah.


"Mbak coba Mbak. Mbak suka kan?" tanya Tasya


"Suka banget saya Bu" ucap Mbak Diah malu-malu


"Papi pesan satu porsi lagi buat Mbak Diah deh, masa bekas kita."


Reza yang asyik makan segera memesan kembali.


"Coba dulu yang ini Mbak." Tasya menuangkan satu butir jengkol pada Mbak Diah. Dia melihat Mbak Diah memakannya dengan malu-malu.


"Enak banget ini Bu" Mbak Diah nampak berbinar.


"haha.. Mbak Diah biasa saja kali ekspresinya." Tasya tertawa. Dia senang Mbak Diah menyukainya.


"Cepet makan Mam."


"Oh iya."


Tasya segera makan dengan lahap sementara Reza menambah nasinya yang terbungkus dengan daun pisang dengan bawang goreng diatasnya.


"Sedikit ya Pap nasinya" ucap Tasya


"Kayaknya harus tiga bungkus ini mah" ucap Reza


"Bilangnya mau olahraga. Lihat nasi depan mata saja takluk." ucap Tasya


"Besok deh olahraganya."


"Mbak, nambah nih nasinya." Tasya menyodorkan piring yang berisi beberapa bungkus nasi dihadapannya.


"Aku juga mau nambah ah." ucap Tasya


"Buset Mami hamil yang ini beda." ucap Reza


Tasya hanya tertawa.


***


"Mam, hah!" Reza mendekatkan mulutnya pada Taysa begitu masuk mobil.


"Seumur-umur ini mobil baru sekarang nih kena bau jengkol." ujar Reza


"Papi gak rela?"


"Bukan begitu Mam, pertahanan semua runtuh gara-gara si mungil ini nih" Reza mengelus perut Taysa.


"Puas kamu nak, puas kan. Mami Papi disuruh nyoba yang enggak-enggak." ucapnya kemudian.


Mbak Diah menahan senyumnya sambil menggendong Vano yang tengah bangun dan mengunyah biskuitnya.


"Rasakan akibatnya ya dek. Terus saja kerjain Papi."


"Ayo mau apa lagi? Mumpung diluar nih." tentang Reza


"Mbak ada yang di pengen?" tanya Tasya


"Enggak Bu."


"Mami mau apa?" tanya Reza


"Enggak. Pulang saja Pap. Kasihan Vano."


"Bener?"


"Iya."


"Yasudah kita pulang. Abang Vano mau apa? Hey.. Lihat Papi nih." Reza melihat ke arah spion.


"Mau sama Mami gak?" tanya Tasya.


"Sudah di belakang saja Mam." protes Reza


Setelah beberapa lama mereka tiba dirumah. Disana nampak Pak Danu yang tengah menonton televisi.


"Waah, dari mana cucu Opa?" tanya Pak Danu


"Jalan dong Opa." Reza menimpali


"Sya, Papa bawa martabak tuh di meja makan" ucap Pak Danu.


"Iya Pa. Aku ganti baju dulu."


Tasya berlalu meninggalkan mereka. Tak lama keluar menuju meja makan.


Tasya membawa martabak ke ruang televisi. Dia mengambil sepotong martabak dengan toping keju yang melimpah.


"Mami? Gak kenyang?"


"Apa sih Papi, cuma sepotong"


"Wah, siap-siap naiknya banyak ini" sindir Reza


"Dulu juga makan banyak tetep aja yang buncit perutnya doang" ucap Tasya santai


Pak Danu tak menghiraukan mereka. Dia sibuk bermain bersama cucunya. Berlama-lama mereka disana.


"Vano tidur yuk? Sudah jam segini." ajak Tasya


"Papa juga istirahat Pa."


"Iya. Yuk tidur Van. Mau tidur sama Opa?" ajak Pak Danu


"Papi beresin Pap" Tasya melihat mainan Vano yang berantakan


"Kok Papi sih?"


"Saya saja Pak." Mbak Diah menimpali


"Terima kasih Mbak."


Mereka meninggaljan Mbak Diah yang merapikan ruang televisi.


Tasya masuk ke dalam kamar sambil menggendong Vano.


"Papi buat susu ya?"


"Siap Bos" Reza segera membuat susu untuk anaknya


Sementara Tasya menidurkan Vano di tempat tidur mereka.


"Ni sayang susunya." Tasya memberikan susu pada Vano dan ikut merebahkan diri disampingnya.


"Papi besok kerja?"


"Iyalah sayang. Kayaknya minggu-minggu ini kita peresmian."


Sejak Vano lahir, Reza disibukan dengan mengurus pembuatan PT karena kemajuan perusahaannya. Dia menggunakan nama yang sama dengan CV Petani Maju milik mereka supaya mempermudah proses pembuatan PT-nya.


"Mudah-mudahan semuanya lancar ya Pap."


"Ciiee.. Jadi istrinya direktur ciee.." Reza menggodanya


"Dih, biasa saja. Direkturnya juga masih takluk sama istrinya." cibir Tasya


Reza tertawa mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2