BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
SAH!


__ADS_3

Waktu yang dinanti telah tiba. Begitu adzan subuh berkumandang, Reza sudah bangun. Dia sudah beres mandi dan memakai kaos putih serta celana pendek.


Setengah enam pagi ada yang mengetuk pintu kamarnya. Ternyata asisten teteh datang untuk membantu Reza sekedar memakaikan kain batik untuk hiasan celananya.


"Ganteng maksimal A" ucap asisten si teteh sambil tersenyum.


***


Di rumah Tasya sangat ramai. Semua sibuk mempersiapkan untuk hari ini. Rumahnya sudah di hias dengan tenda dari mulai halaman depan yang luas sampai ke dalam kamarnya. Tak lupa janur kuning melengkung di depan pagar halaman rumah dengan tulisan Reza & Tasya pada sterofoam berbentuk hati.


Tasya sendiri sedang di rias oleh teteh di kamarnya. Hatinya tak karuan. Ada rasa sedih di hatinya. Dia akan menjadi seorang istri. Istri dari seorang lelaki yang sama sekali tidak dia cintai dan tidak pernah menyatakan cinta kepadanya.


Untuk menyesal rasanya sudah terlambat. Dia hanya bisa berdoa supaya pernikahannya langgeng dan dia bisa saling jatuh cinta.


Ayah mengetuk pintu kamar Tasya. Kemudian menghampiri putri semata wayangnya yang sedang di rias. Ayah mengecup lembut kepala anaknya. Tasya tersenyum melihat ayahnya dari pantulan cermin besar didepannya.


Ibu kemudian menyusul masuk. Ibu terlihat lebih muda setelah berhias. Ibu membelai lembut kepala Tasya. Mereka semua bungkam menahan rasa sedih dan haru. Kemudian orang tuanya keluar kamar tanpa berkata apapun.

__ADS_1


"Teh boleh minum?" suara Tasya berat.


"Boleh atuh Neng." teteh kemudian mengambilkan air minum kemasan untuk Tasya.


"Benar kan kata teteh, cantik banget. Teteh gak repot poles sana sini Neng. Kulit Neng bagus banget" puji teteh


"Aku gak pernah perawatan padahal teh" ucap Tasya jujur


Di pintu kamar, Rasya melipat tangannya memperhatikan adik bungsunya di rias.


"Cantik banget kesayanganku" ucap Rasya mendekat.


"Bahagia selalu ya Neng" ucap Rasya.


"A Rasya udah atuh kasian Nengnya dari tadi nahan tangis" ucap teteh


"Maaf teh. Hehe" Rasya kemudian keluar kamar.

__ADS_1


***


Di hotel semua telah siap. Teman dekat Pak Danu dan Teman Reza berkumpul di hotel setelah mereka janjian sebelumnya. Sedan putih beserta 3 mobil lainnya melaju ke rumah Tasya.


***


"Pengantin Datang" ucap sang hansip memberi informasi kepada semua orang agar bersiap. Jantung Tasya makin tak karuan.


Reza keluar dari mobil di dampingi ayahnya. Keduanya nampak gagah. Setelah acara penyambutan tibalah saatnya ijab qobul.


Tasya pun keluar dari kamar dengan kebaya putihnya senada dengan jas Reza. Tasya kemudian duduk di samping Reza. Reza tak melirik Tasya. Dia takut hafalannya kabur setelah melihat calon istrinya tersebut.


"Saya terima nikah dan kawinnya Tasya Fadilla binti Taufik Martadinata dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" ucap Reza lantang dan lancar.


"SAH!" ucap kedua saksi dilanjutkan pembacaan doa dan penandatanganan buku nikah.


Semua bersyukur. Proses ijab qobulnya lancar. Tak terasa air mata menggantung di sudut mata Tasya. Dia menempelkan tisu yang sedari tadi di pegangnya.

__ADS_1


Kini dia resmi menjadi istri dari Reza Ramadhan. Lelaki dewasa yang terpaut 9 tahun lebih tua dari usianya.


Acarapun berlanjut. Keharuan berubah menjadi kegembiraan. Tasya dan Reza berulang kali berpose berdua atau dengan tamu undangan. Mereka sangat serasi membuat kagum para tamu yang datang.


__ADS_2