BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Kesundulan


__ADS_3

Hallo, terima kasih atas antusiasme para readers yang membuatku melanjutkan cerita BUKAN SITI NURBAYA ini. Seperti biasa, tolong bantu VOTE yaa..


Tinggaljan jejak dengan LIKE dan KOMENTARNYA. Terima kasih..


---------


Beberapa bulan berlalu, suasana dirumah Pak Danu yang biasanya sepi kini menjadi sedikit ramai dengan kehadiran Elvano.


Tasya mengurus Vano dengan bantuan Mbak Diah mulai dari mandi hingga Vano tidur. Meskipun Mbak Diah membantunya, tapi tak jarang Tasya harus begadang untuk menidurkan Vano yang terbangun tengah malam karena Vano tidur bersama mereka. Begitupun dengan Reza, dia tak segan membantu Tasya membuat susu, mengganti popok, bahkan menidurkan Vano.


Vano mungil kini tumbuh menjadi anak yang lucu dan menggemaskan dengan bulu mata yang lentik dan rambut yang tebal percis seperti Ibunya.


Vano yang berada dalam fase merangkak dan belajar berdiri, dia merangkak kesana kemari tanpa henti dengan kedua telapak tangannya bertumpu pada matras yang dikelilingi oleh pelindung disetiap sudutnya. Terkadang dia memegang meja atau pelindung samping untuk belajar berdiri.


"Vanoo..sini, Opa punya apa nih" Pak Danu mengacung-ngacungkan sebuah apel agar menarik perhatian Vano.


Vano merangkak menghampirinya. Pak Danu memberikan Vano buah tersebut, kemudian Vano mulai memasukkan ke mulutnya walau kesusahan. Hal tersebut sontak membuat Pak Danu tertawa senang.


"Lucu sekali cucu Opa." ucap Pak Danu.


"Tasya mana Mbak?" tanya Pak Danu kemudian


"Sedang bersiap mau ke kantor Pak. Pak Reza memintanya membawakan bekal"


"Alasan saja itu anak" Pak Danu tertawa mengejek. Dia bermain kembali dengan sang cucu.


Tasya menyiapkan perlengkapan Vano untuk dibawa ke kantor. Kesehariannya kini mengurus Vano dirumah dan menjaga janin kecil buah cinta mereka yang ketiga. Ya, Tasya hamil lagi!


FLASH BACK ON


"Mami sakit? Kok dari kemarin Mami kayak gak semangat gitu?" tanya Reza saat dia pulang dari kantor.


"Gak tahu, aku gak enak badan terus dari kemarin Pap. Apa masuk angin kali ya?" tanya Tasya.


"Di kerok enak kayaknya Pap."


"Coba sini Papi kerokin."


"Bisa emang?"


"Gampang, cuma gitu doang mah."


"Sebentar, aku bawa dulu minyaknya." Tasya segera mengambil minyak dan koin kemudian diberikan kepada Reza.


"Sudah sih gitu saja sayang" ucap Reza saat Tasya membuka dasternya dan hanya menyisakan celana dalam.


"Yang ada nanti bukan di kerok Papi tapi dilahap Papi" cibir Tasya, seketika Reza tertawa.


Tasya segera memakai celana santai, dan menutupi dadanya dengan baju. Sementara Reza mulai mengeroknya.


"Kencang sedikit Pap. Gak kerasa."


"Takutnya nanti Mami sakit."


"Enggak. Nah gitu." Tasya memberikan instruksi.


"Ih sakit Pap." protesnya lagi


"Begini?" Reza masih mengatur tenaganya agar sesuai dengan keinginan Tasya.


Tiba-tiba suara ketukan pintu menghentikan aktifitas mereka. Reza segera membuka pintu karena tahu yang mengetuk pintunya pasti Mbak Diah.


"Ini Vano tidur Pak" ucap Mbak Diah berdiri menggendong Vano di depan pintu


"Tolong taruh saja ya, tanganku kotor" ucap Reza


"Masuk saja Mbak" ucap Tasya masih tetap diposisinya. Dia tak merasa malu sama sekali.


"Permisi ya Bu." Mbak Diah masuk kemudian menaruh Vano dalam box bayi sementara Reza meneruskan mengerok sang istri.


"Ibu sakit?" tanya Mbak Diah.


"Gak tahu Mbak, aku gak enak badan begini" ucapnya


"Sini sama saya saja Pak ngeriknya" ucap Mbak Diah


"Kok ngerik sih Mbak? Hehe aneh banget"


"Memang apa Bu?"


"Kerokan. Iya kan Pap?"


"Sama saja sih sayang. Intinya bikin belang kulit." ujar Reza tak ambil pusing.


"Ni Mbak, sama aku banyak protes" Reza memberikan koinnya pada Mbak Diah. Dia segera mencuci tangannya.


"Maaf ya Mbak, jadi ngerepotin. A Reza mah aneh ngeroknya"


"Iya Bu gak apa-apa." Mbak Diah mulai mengerok Tasya


Reza keluar dari kamar mandi.


"Mam, Mami hamil lagi kali ya?" ucap Reza tiba-tiba


"Ih apa sih Papi. Enggak lah. Masa hamil." Tasya menyela


"Soalnya Mami sakit enggak, tapi kayak begini" ucap Reza


"Enggak ah."


"Mami jangan minum obat dulu ah, Papi ngeri kalau Mami beneran hamil."


"Apa sih Pap, hamil-hamil terus. Sudah sana keluar ah."


Tasya memberikan kode pada Reza seolah tak enak akan pembahasan mereka.


"Bisa jadi hamil sih Bu. Saya dulu kayak Ibu, gak enak badan, terus kayak lemes gitu." ucap Mbak Diah


Reza yang hendak keluar merasa terpancing kembali.


"Nah kan? Sudah deh Mbak jangan dilanjut." perintah Reza


"Ih Papi! Aku ini bener gak enak badan. Lagipula kita kan safety." Tasya sengaja merubah bahasanya agar Mbak Diah tak mengerti karena malu membahas hal yang menurutnya pribadi.


"Mam, itu kan cuma bisa cegah doang. Kalau Papi perkasa ya gimana lagi coba." ucap Reza yang membuat Mbak Diah tersenyum.


"Coba cek kalender, tanggal menstr*** sudah terlewat belum?" Reza mengingatkan


"Aku lupa. Ada di ponsel tanggalannya. Nanti saja sih."


"Papi yakin Mami hamil, wiih hebatnya Papi bisa membobol pertahanan." Reza membanggakan diriku


"Papi, gak tahu malu ih ada Mbak Diah juga. Sana ah keluar cepetan." Tasya mengusirnya.


"Papi beli tespack nih ya. Mami awas kalau minum obat." ancamnya.


Reza mengambil kunci motor kemudian mengambil topi miliknya.

__ADS_1


"Titip wedang ronde Pap." pinta Tasya


"Mbak, orang hamil boleh kan ya wedang ronde? Itu kan rempah ya?" tanya Reza


"Boleh Pak." ucapnya singkat


"Ih Papi! Hamil-hamil terus. Enggak ah. Gak kasihan apa sama Vano." ucap Tasya kesal.


"Habis feeling Papi sih Mami hamil." Reza masih bersikeras.


"Sana cepetan."


Reza segera keluar kamar.


"A Reza kalau bicara selalu gak disaring. Maaf ya Mbak."


"Gak apa-apa Bu. Malah saya kadang lucu melihat Ibu sama Bapak begitu." jujurnya


"Lucu kenapa Mbak? Saya malah suka sebal. Dia mah sengaja buat emosi terus" gerutu Tasya


"Lucu saja gitu kalau bicaranya, kalau becandain Ibu" ucapnya


"Dia mah gak tahu malu Mbak. Dulu waktu saya masih kerja, di kantor pun begitu. Di rumah sama di kantor gak ada bedanya. Sampai aku malu sendiri sama temanku Mbak."


Mbak Diah hanya tersenyum mendengarnya. Mereka asik berbincang hingga Mbak Diah selesai mengerok Tasya.


Tasya memakai bajunya kembali setelah Mbak Diah menghangatkan tubuhnya dengan mengoleskan minyak angin. Tak lama, Reza datang dengan membawa wedang ronde dalam mangkuk.


"Sudah di cek?"


"Belum. Baru juga beres." Tasya menerima wedang ronde dari tangan Reza.


"Gak jadi beli tespacknya?" tanya Tasya


"Ini." Reza mengambil dari saku celana cargonya.


Reza menaruhnya di atas nakas. Kemudian mendekati Tasya.


"Enak sekali perutku. Kan pasti ini mah cuma masuk angin." ucap Tasya


Tasya menyuapi Reza. Mereka menghabiskan wedang ronde berdua.


"Mam, sudah di cek belum?" Reza masih penasaran.


"Oh iya." Tasya segera mengambil ponselnya kemudian membuka tanggal yang selalu dia tandai setiap bulannya.


"Gak mungkin." ucapnya


"Gimana?" tanya Reza


Tasya masih terpaku melihat layar ponselnya. Reza yang penasaran mengambil ponsel dari tangan Tasya, melihat bolak balik antara bulan kemarin dan bulan ini.


"Sembilan hari Mam." ucapnya


"Papi.." Tasya kini ketakutan


"Coba besok di tespack Mam." ajak Reza


"Kalau jadi gimana Pap?" Tasya risau


"Ya Alhamdulillah. Papi perkasa dong." ucapnya


"Kayaknya mustahil Pap. Kita kan selalu pakai.."


"Ya kan itu bukan jaminan. Kalau Allah sudah berkehendak jadi. Ya jadi sayang." Reza mengingatkan.


"Apa bocor Pap?"


"Haha.. Gak mungkin sih, ada-ada saja."


"Terus itu bisa begitu?"


"Mami lupa? Seriusan?"


"Apa?" Tasya masih tak mengerti.


"Waktu Papi dari kantor pulang siang-siang.." Reza menyeringai, mencoba menggoda Tasya.


Tasya menutup mulutnya yang mengaga.


"Tuh kan. Kata aku kalau itunya habis di tahan dulu. Papi kan.." Tasya panik


"Padahal itu aku langsung cuci juga." sesal Tasya


"Gimana dong? Papi itu perkasa banget kan?" Reza masih membanggakan dirinya


"Sebal deh sama Papi. Kalau beneran jadi bagaimana? Papi tanggung jawab. Aku gak mau." ketus Tasya.


"Loh Mami? Itu anak Papi. Ya iyalah tanggung jawab Papi sama kayak Vano. Mami gimana sih? Ada-ada saja." ucapnya


"Iya tapi.. Ih Papi mah kan." Tasya masih panik


"Sudah, tidur yuk. Besok kita tespack. Kan belum tentu juga."


"Mudah-mudahan enggak jadi." ucap Tasya.


"Aku belum siap." Lirih Tasya


Keesokan paginya, Tasya yang kurang tidur karena memikirkan hal semalam segera masuk ke kamar mandi dengan membawa tespack. Dia menunggu hasil kerja dari tespack tersebut dengan rasa cemas. Tak berapa lama, dua garis terlihat dari alat tersebut.


"Ya Allah.. Ini gak mimpikan?" gumamnya seraya jantungnya berdegup kencang.


Lama dia memandangi tespack tersebut. Dia merasa tak menyangka dan juga sangat khawatir.


Setelah selesai, Tasya segera keluar kamar. Disana terlihat Vano telah bangun dan sedang duduk bermain dengan mainanya sendirian.


"Anak Mami sudah bangun. Yuk sini." Tasya mengangkat Vano untuk merangkak di atas kasur miliknya. Vano mendekati Reza, dia bermain di samping Reza.


"Hmm.. Vano Papi ngantuk" ucap Reza saat Vano mulai berdiri bertumpu pada tubuh Reza


"Terus ganggu saja Nak" Tasya memerintahkan.


"Vano.." Reza protes kini Vano menjilati pipinya.


"Jangan Nak, kotor. Vano lapar? Iya?" tanya Tasya


Tasya segera mengambil biskuit anaknya. Dan memberikannya pada Vano. Sesaat dia lupa ingin memberitahu Reza.


"Enak? Duuh kasian anak Mami kelaparan ya." ujar Tasya


Vano masih asyik mengunyah biskuit miliknya.


"Papi.."


"Masih ngantuk Mam"


"Katanya ingin tahu hasilnya."

__ADS_1


"Hasil apa?" Reza memgangkat kepalanya sambil memicingkan matanya menatap Tasya


"Sana cuci muka dulu."


"Aduh Mam, Papi masih ngantuk."


"Eeh, Vano mau kemana? Sini.. Ini biskuitnya ." Vano yang hendak ke ujung kasur segera menghampiri Tasya kembali.


"Papi, bangun Pap" Tasya menaikan suaranya.


"Heh, gara-gara ini anak ini." Reza mendekap anaknya sementara Vano meronta sambil menangis. Reza menghujani ciuman pada perut Vano


"Ih. Kasihan" Tasya mencubit perut Reza yang membuat Reza melepas pelukan pada Vano.


"Sana cuci muka, aku titip Vano sama Mbak Diah dulu. Kasurnya banyak remahan biskuit Vano nih" ucap Tasya


Tasya membawa sang anak keluar.


"Mbaak.. Mbak Diaah.." Tasya mengetuk pintu kamar Mbak Diah dengan tangan Vano seraya becanda dengan anaknya


"Iya Bu" Mbak Diah membuka pintu kamar.


"Eh Vano sudah bangun." Mbak Diah mengambil alih Vano.


"Eh lupa, belum aku ganti popoknya Mbak. Aku titip ya, mau beresin kasur dulu." ucap Tasya


"Iya Bu."


Tasya segera berlalu masuk ke dalam kamarnya lagi. Disana Reza sedang melipat selimut mereka.


Saat Tasya masuk, Reza memeluk tubuhnya.


"Sayang, Papi perkasa sekali ya." Ucapnya yamgbtelah melihat hasil tespack Tasya.


"Papi.. " Tasya kini duduk


"Aku belum siap hamil lagi." ucapnya


"Sayang.."


"Papi gak kasihan apa sama Vano? Lihat? Jalan juga belum dan dia harus jadi kakak karena kesalahan kita." air matanya menggenang.


"Mam, Pasti bisa sayang."


"Papi gak tahu kan resiko caesar dibawah dua tahun? Hamil lagi kurang dari dua tahun?" ucap Tasya yang kini ketakutan.


Reza segera mengambil ponselnya, mencoba mencari informasi seputar kehamilan dengan jarak yang dekat.


Reza sedikit terperanjak saat mengetahui resiko yang akan dihadapi istrinya.


"Sayang.. Apa.. Kita gugurkan saja?" ucap Reza riba-tiba


"Papi tega? Makanya bertindak itu jangan semaunya terus!" Tasya kini meneteskan air matanya.


"Siang ini kita konsul sama dokter Felly." ucap Reza


Tasya kini menumpahkan tangisnya, Reza memeluknya erat.


"Aku gak siap hamil lagi, kasihan Vano, tapi aku gak tega kalau anak ini kenapa-napa juga" Tasya bicara sambil tersedu


"Maafkan kecerobohan Papi sayang."


"Enaknya gak ada sejam, akibatnya begini kan" Tasya mencoba protes.


"Iya, maafkan Papi sayang. Nanti siang kita tanya dokter Felly ya" bujuk Reza


Terdengar suara tangisan Vano dari luar. Dengan segera Tasya masuk ke kamar mandi sementara Reza membuka pintu.


"Ini Pak, Vano ingin ke Mami" ucap Mbak Diah saat Vano masih merengek di gendongannya.


"Sini sayang. Mami di kamar mandi" ucap Reza mengambil Vano. Dia segera menutup pintunya kembali.


Tasya keluar dari kamar mandi.


Vano merentangkan tangannya saat melihat Tasya sambil berontak pada Reza.


"Iya ini Mami. Sini.. Sini.. Sini.. Sayang" Tasya menggendong Vano dan menciuminya.


"Vano ingin sama Mami yaa." Tasya menciumi pipi anaknya.


"Duduk sayang. Mami hamil harusnya jangan gendong dulu Vano" ucap Reza.


Tasya mendelik sebal pada Reza.


"Aku mau teh manis hangat."


"Sebentar, Papi buatin ya" ucap Reza seraya keluar kamar. Kini tinggal Tasya dan Vano.


"Vano, maafkan Mami sama Papi ya Nak." ucap Tasya lirih.


Dia memeluk Vano penuh kasih sayang.


"Maafkan Mami ya, gak bisa jaga diri dari Papi." ucapnya kemudian.


"Maaf, Vano sekecil ini harus jadi kakak." Tasya memeluk erat Vano yang membuat Vano merengek.


Tasya mengambil beberapa mainan Vano. Kemudian dia merebahkan tubuhnya, sementara sang anak sibuk dengan mainannya.


Tak lama Reza datang membawa teh hangat. Tasya segera mengambil teh tersebut. Vano mendekati Tasya saat melihat Tasya memegang gelas.


"Sebentar.. panas Nak" Ucap Tasya saat Vano tak sabar.


Reza segera mengambil Vano sementara Vano meronta.


"Mami buatkan susu Vano saja ya." Tasya bergegas membuat susu untuk anaknya. Setelah beres, Vano direbahkan sambil menghisap susu dari dotnya.


"Papi gak minta maaf sama anaknya?"


"Minta maaf kenapa?"


"Ih Kamu!" Tasya ketus


"Oh" Reza faham saat istrinya marah.


"Jagoan Papi, kamu mau punya adek. Hebat ya, kamu masih kecil begini sudah jadi kakak. Papi bangga sama kamu Nak" ucap Reza


Tasya semakin sebal mendengarnya. Dia menatap tajam Reza.


"Maaf.. Maafkan Papi yang keenakan ya Van, habis Mami buat Papi lupa diri." ucapnya seraya melirik sang istri.


"Papi bisa gak sih serius?"


"Hehe maaf."


"Takdir Allah, Vano harus jadi kakak usia dini. InsyaAllah Mami kuat, Vano juga pasti gak rewel. Papi bakal nyari uang lebih giat lagi untuk kalian." Reza mengecup lembut kening Tasya dan mengecup gemas pipi sang anak.


"Love You kesayangan-kesayangan Papi" ucap Reza sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2