
Reza dan Rasya menghabiskan makanannya didampingi oleh ibu yang berada di tengah-tengah mereka. Tak ada satu orangpun yang berbicara diantara mereka. Canda tawa bahkan obrolan kecil yang biasa mereka lontarkan pun sirna. Begitupun dengan ibu, larut dengan angan dan harapannya meratapi anak gadis semata wayangnya terbaring lemah tak berdaya.
Betapa tidak, begitu mendapat berita Tasya masuk rumah sakit, hatinya sudah tak menentu. Dia tahu betul kandungan sang putri tercinta masih kurang satu bulan.
"Dedek ada di ruang NICU bu" ucap Reza yang membuyarkan lamunannya.
"Iya ibu tahu" ucap Ibu yang membuat Rasya melirik ke arahnya.
"Apa kata dokter?" tanya ibu kemudian
"Aku belum bertemu dengan dokternya Bu" ucapnya singkat
Rasya mendengus kesal.
Ibu ingin sekali menanyakan kronologis yang sebenarnya terjadi, tapi dia melirik Rasya yang pasti akan mengamuk seperti semalam. Ibu hanya menahannya. Hatinya hanya bertanya 'Kenapa bisa begini?'.
"Aku ke ruang NICU bu. Barangkali anaknya sudah bisa dilihat" ucap Rasya
"Ibu ikut A" sambil bergegas meninggalkan Reza sendirian.
Rasya dan Ibu berjalan ke ruang NICU, tapi sayang pintunya tertutup rapat.
"Lima menit lagi kita bisa lihat Bu" ucap Rasaya melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Tunggu saja disini" ucap Ibu
Beberapa orang mulai datang hendak menunggu giliran besuk untuk melihat bayi-bayi mungil yang berjejer di dalam inkubator dengan cahaya biru yang menyinarinya.
Pintu ruangan dibuka. Ibu dan Rasya segera masuk ke dalam. Mereka mencari nama Tasya dan menuju ke sebuah inkubator.
Ibu dan Rasya melihatnya dalam duka. Rasya merangkul sang ibu untuk menguatkannya.
'Bro, ajak Mamimu berjuang bersama. Kalian pasti bisa!' batin Rasya menyemangatinya.
Mata ibu mulai berkaca-kaca. Pikiran dan hatinya sangat tidak baik-baik saja. Kini statusnya bertambah, selain menjadi seorang ibu, kini dia menjadi seorang nenek dari anak mungil yang memperjuangkan kehidupannya.
"Ganteng" gumam ibu menghibur dirinya sendiri.
Ibu memegang tangan Rasya kuat.
"Dia belum punya nama A?" tanya Ibu
Tiba-tiba seorang perawat menghampiri mereka.
"Tolong bergantian dengan yang lainnya" pinta perawat tersebut.
__ADS_1
Ibu segera keluar, sementara Rasya masih menatap bayi mungil tersebut dalam diam.
"Bu, kita saja yang memberi nama" pinta Rasya saat mendekati ibunya
"Tidak. Dia bapaknya" tolak ibu
Rasya hanya terdiam seakan tak rela. Mereka berjalan kembali untuk ke ruangan Tasya. Saat berjalan, mereka melihat Reza yang berjalan ke arahnya.
"Sudah bisa dikunjungi bu?" tanya Reza
"Sudah. Lihatlah." ucap Ibu. Mereka berjalan saling menjauh.
Reza berjalan ke ruang NICU. Dia menunggu giliran masuk. Begitu masuk, dia segera menghampiri anaknya. Reza menatap anaknya dalam diam.
'Dek, ini Papi sayang. Maaf, Papi tidak disisimu saat kamu lahir. Papi sangat bahagia melihatmu. Kamu harus kuat ya! Ajak Mami untuk kuat juga ya Dek. Kalau Papi boleh protes, kalian curang. Kalian bermain bersama tanpa mengajak Papi. Kenapa kalian tega meninggalkan Papi sendiri begini? Kenapa Dedek gak ajak Papi saja kemarin. Biar kita bermain bersama.'
'Elvano Satria, Papi sama Mami sepakat memberimu nama Elvano sebagai hadiah dari Tuhan yang tangguh. Tak salahkan, Papi menambahkan nama Satria. Ternyata memang kamu itu tangguh. Papi tak meragukan ketangguhanmu. Ayo berjuang nak! Papi selalu menunggumu disini.' hati Reza mencurahkan seluruh cintanya. Sudut matanya nampak berair.
Reza melihat anaknya bergerak. Hal yang membuatnya takjub sekaligus haru. Ingin sekali dia menyentuhnya. Ingin sekali dia menggendongnya. Tapi apadaya, dia hanya bisa menatapnya dalam diam.
***
"Neng, bangun yuk. Kasihan anakmu menunggumu. Dia ganteng kaya Aa, Neng." Rasya tersenyum sedih. Dia bicara sendiri. Dia berharap Tasya mendengar dalam tidurnya.
Rasya menatap nanar tubuh sang adik. Setegar apapun dia bicara, tetap hatinya terkoyak lemah. Ada air mata yang coba dia tahan agar tidak jatuh membasahi pipinya. Tak lama, dia keluar ruangan.
"Belum ada perkembangan?" tanya Pak Taufik
Ibu hanya menggeleng.
Pak Taufik kini masuk ruangan.
"Hanya lima menit ya Pak" Perawat yang jaga mengingatkan.
Dia masuk ke dalam ruangan. Hatinya bergetar melihat anak manjanya yang biasa ceria kini terpasang banyak alat di tubuhnya.
"Neng.. Maafkan Ayah" ucapnya lirih. Satu kata yang membuatnya tak kuasa. Dia berusaha tegar di depan anak dan istrinya.
Lima menit sudah Pak Taufik habiskan waktunya menatap sang Putri. Begitu keluar ruangan, semua keluarganya telah berkumpul.
"Siapa nama bayinya Za?" tanya Pak Taufik
"Kita saja yang kasih nama Yah!" Rasya menjawabnya
"Aku bapaknya!" ucap Reza ketus
__ADS_1
"Bapak? Ngurus anak istrimu saja gak becus!" Rasya tak kalah ketus
"Aku punya hak atas mereka!" seru Reza
"Hak? Hak yang mana lagi! Kewajiban melindungi saja kamu abaikan!" Rasya membalasnya
"Sudah. Berhenti berdebat" ucap Pak Danu
Mereka terdiam.
"Kamu sudah punya nama untuk anakmu Za?" tanya Pak Taufik lagi
"Sudah Yah" ucapnya lemah
"Elvano Satria. Nama yang aku dan Tasya siapkan" ucap Reza
"Tasya memberikan nama Elvano, aku yang menambahkan nama Satria" Reza menjelaskan
"Elvano Martadinata saja Yah!" seru Rasya
"Dia anakku! Aku yang berhak memberikan nama anakku. Kamu harus ingat itu!" amarah Reza merangkak naik
"Sudah ku putuskan namanya Elvano Satria. Tak ada yang boleh merubahnya!" ucap Reza
"Elvano Martadinata! Dia keturunan Ayah! Harus ada yang menurunkan nama Martadinata di keluarga kami. Apalagi dia anak laki-laki." seru Rasya dengan pendiriannya. Dia enggan menerapkan nama Satria pemberian Reza.
"Ya sudah begini saja, tambahkan Martadinata dibelakang namanya. Elvano Satria Martadinata" ucap Pak Danu
"Bagaimana? Kalian keberatan?" tanya Pak Danu pada Reza dan Rasya.
Mereka berdua terdiam. Ibu tak bersuara sama sekali. Baginya, yang terpenting adalah kesembuhan Anak dan pertumbuhan sang cucu tercinta.
"Kalau tidak ada yang keberatan, kita putuskan namanya yang tadi" ucap Pak Danu
"Apa Pak Danu sendiri keberatan?" tanya Pak Taufik yang merasa tak enak
"Saya tak masalah San" ucap Pak Danu santai
"Ibu gak mau lagi ada perdebatan. Kita sedang berduka. Kalian jangan menambahnya. Apa kalian tidak kasihan sama Tasya? Dia pasti sedih melihat suami dan kakaknya berselisih seperti ini" ucap ibu
Keduanya terdiam. Mencerna setiap kata yang ibu ucapkan. Keheningan pun tercipta diantara mereka.
Elvano Satria Martadinata. Anak dan cucu dambaan keluarga Danu Nugraha dan Taufik Martadinata. Besar harapan mereka untuk perkembangan hidup bayi mungil yang berjuang hidup di balik inkubator. Tak putus juga doa yang mereka panjatkan untuk kesembuhan sang ibu dari anak mungil tersebut.
Akankah keajaiban berpihak pada mereka?
__ADS_1