BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Merenggang


__ADS_3

Semenjak resmi diangkat menjadi Direktur PT Petani Maju, kini agenda Reza lebih padat dari biasanya. Dia banyak menghabiskan waktunya dengan berbagai kegiatan yang begitu menguras pikiran dan tenaganya.


Tak jarang, Reza berangkat lebih pagi dan pulang ke rumah saat semua orang sudah terlelap. Bahkan dia sekarang lebih sering bepergian keluar kota hanya untuk melakukan seminar atau undangan dari rekan kerjanya.


Tak ayal, seluruh kegiatannya menyita waktunya bersama istri dan anaknya. Dikehamilan Tasya kali ini bahkan Reza harus melewatkan mendampingi sang istri untuk melakukan check up kandungannya. Tasya kini harus lebih bersabar dengan perubahan Reza.


"Pap, besok check up si Dedek lagi, Papi bisa ikut?" tanya Tasya seraya mengelus perutnya yang kini terlihat membuncit


"Papi sibuk Mam. Mami sama Mbak Diah saja."


"Bulan kemarin aku sama Mbak Diah juga. Gak bisa apa Pap, sebentar saja antar aku? Papi gak penasaran sama anaknya?" tanya Tasya


"Mami gak dengar yang barusan Papi bilang?" Reza menatapnya tajam.


"Papi sekarang gak ada waktu banget buat kita" protes Tasya.


Tasya merasa Reza kembali seperti dulu lagi. Mementingkan pekerjaan diatas segalanya.


"Resikonya kan memang begitu." ucapnya datar


"Aku tahu, tapi sedikit waktu buat kitapun gak ada? Sabtu Minggu Papi lebih banyak menghabiskan waktu Papi sama rekan Papi. Ngopi bareng lah, makan bareng lah, undangan lah. Aku sama Vano juga butuh Papi!" ucap Tasya terang-terangan


"Kamu tuh sekarang bawel ya! Aku begini juga buat kalian!"


"Buat kita? Kita disini makan doang Papi. Gak ada aku ngabisin uang kamu buat aku hura-hura atau jalan-jalan" ucap Tasya


"Kita butuh Papi juga. Apa Papa dulu seperti Papi? Nelantarin anak istrinya?" sindir Tasya


Reza terdiam. Dia ingat, Papanya selalu bersikap hangat padanya sejak dulu. Bahkan setelah Mamanya meninggal, Reza banyak menghabiskan waktu di kantor Pak Danu untuk menemaninya.


"Sudahlah. Aku berangkat." ucap Reza seraya keluar kamar.


Tak ada aktifitas bermanja ria sekedar saling mengecup satu sama lain. Tak ada juga canda tawa diantara mereka. Reza kini menjadi sosok yang berbeda.


Tasya kini duduk ditepi kasur. Tak terasa dia meneteskan air matanya hingga terdengar suara ketukan dari balik pintunya. Tasya segera menghapus air mata yang menetesnya.


Tasya membuka pintu, disana Vano berdiri sambil dituntun oleh Mbak Diah.


"Anak Mami habis jalan-jalan ya." ucap Tasya.


"Sudah cuci tangan sama kakinya Mbak?" tanya Tasya kemudian


"Belum Bu" ucapnya


"Yuk cuci tangan sama kakinya dulu Bang." ajak Tasya


"Biar sama saya saja Bu." ucap Mbak Diah


Setelah selesai, Mbak Diah meninggalkan mereka. Tasya dan Vano kini bermain diatas kasur.


Sepanjang perjalanan, dibelakang kemudi sang supir, Reza nampak memikirkan perkataan istrinya. Sedikit rasa bersalah terbersit dibenaknya. Dia melihat jadwal praktek dokter kandungan, kemudian menelepon seseorang.


"Dit, besok jam dua siang, aku ada jadwal gak?" tanya Reza pada Adit yang kini menjadi sekretarisnya.


"Aku lihat dulu." ucap Adit. Hening sebentar diantara keduanya.


"Ada. Penyerahan sumbangan untuk panti asuhan Al.. "


"Kamu yang jalan ya, aku temani istriku cek kandungan." ucap Reza cepat


"Oke."


"Ada jadwal lain?" tanyanya kemudian.


"Gak ada sih, karena memang hari jumat juga." ucapnya.


"Weekend?"


"Lusa ya? Golf seperti biasa dengan.."


"Carikan alasan aku gak bisa datang Dit. Weekend ini aku ingin bersama keluarga. Istriku protes, aku terlalu sibuk." ucap Reza


"Noted. Aku juga sama. Haha." ucap Adit seraya tertawa.


"Makanya, kamu cari alasan yang bagus, oke?"


"Sip Bos. Ada lagi?"


"Enggak. Aku on the way."


"Baik. Hati-hati dijalan Za." ucapnya


***


Kali ini ucapan Tasya sukses membuatnya gelisah. Dia teringat kembali akan peristiwa naas yang menimpa istrinya tersebut setahun yang lalu.


"Mam, Papi minta maaf atas sikap Papi tadi." dia menuliskan pesan pada istrinya disela-sela meeting bersama para staffnya.


Lama dia menunggu, tak kunjung ada jawaban dari sang istri.


Sementara Tasya asyik bermain dengan Vano yang tidak bisa diam. Vano kini mulai berjalan kesana kemari. Setelah makan, mandi dan bermain, Vano kini terlelap dengan dot susu di mulutnya.


Tasya meletakan dot tersebut diatas nakas. Dia ikut merebahkan tubuhnya yang terasa pegal sambil membuka ponsel.


Satu pesan masuk dari suaminya.


"Tadi saja? Kemarin-kemarin gak ada tuh minta maaf!" gumamnya kesal.


Dia enggan membalas pesan dari suaminya. Tak berapa lama, Tasya ikut terlelap bersama putranya.


***


Tasya dan Vano terbangun oleh dering ponsel yang berbunyi sedari tadi.


"Ih A Rasya ganggu deh." gerutunya saat melihat nama Rasya tertera pada ponselnya.


"Assalamualaikum sayang-sayangnya akuuu" ucap Rasya menampakan deretan giginya yang rapi


"Waalaikumsalam. A Rasya, ganggu kita lagi tidur nih" gerutu Tasya


"Maaf Neng, habis kangen banget sama jagoanku."


"Nih anaknya masih diem." Tasya mengarahkan kamera pada Vano, sementara Vano melihat Rasya dari layar ponsel.


"Pa.. " ucap Vano


" Iya sayang, Papa disini. Nanti Papa kesana ya anakku." ucap Rasya.


"Sini dong Papanya, jangan maen di kebon mulu" sindir Tasya.

__ADS_1


"Iya, nanti kesana."


"Besok dong A, mau liat dedeknya Vano gak?" ajak Tasya


"Kapan check up-nya memang?" tanya Rasya


"Harusnya sih besok A. Makanya besok anterin deh, kalau dokter izinin perjalanan jauh, aku ingin pulang. Kangen rumaah." lirihnya.


"Jadwalnya jam berapa Sya?" kini Rasya serius. Dia seolah tahu, adiknya sedang tidak baik-baik saja.


"Belum tahu sih, aku belum lihat."


"Bener mau dijemput? Kalau dia marah gimana?" tanya Rasya


"Gak marah kayaknya A. Dianya juga sibuk terus. Aku sama Vano jenuh dirumah terus. Sumpek A. Disana biar Vano maen ke kebon kan" Tasya tertawa


"Kamu serius? Lagi ada masalah sama A Reza?" tanyanya.


"Enggak ada kok. Aku cuma jenuh, Aa!"


"Iya.. Iya.. Papa sih seneng kalau Vano mau liburan disini. Nin sama King juga" ucap Rasya


"Makanya Papa besok jemput ya Pa" ucap Tasya


"Anter aku check up dulu sama konsul. Kalau boleh perjalanan jauh, nanti aku pulang." tambahnya


"Kalau gak boleh?" tanya Rasya


"Ya Papa ajak Vano jalan-jalan disini. Iya gak Bang?" tanya Tasya pada Vano


"Oke. Besok Papa kesana ya sayang. Vano jangan rewel. Kasihan Maminya." ucap Rasya


"Ya sudah, Aa kasih tahu Ibu ya Neng. Siapa tahu Ibu mau ikut juga." ucap Rasya


"Dadah kesayangankuu"


"Makan yang banyak Neng. Kok kamu hamil gak gemuk-gemuk." ucapnya khawatir.


"Iya bawel."


"Ya sudah, Papa tutup ya, Assalamualaikum." ucap Rasya


"Waalaikumsalam Papa." Tasya melambaikan tangan Vano pada layar ponsel.


Disaat yang bersamaan, Reza menelpon Tasya saat Tasya tak jua membalas pesannya. Pikirannya menjadi liar kemana-mana. Dia takut Tasya berbuat nekat seperti waktu itu.


"Dia sedang menelepon siapa sih?" gusar Reza.


"Sibuk terus ponselnya." gerutunya kemudian.


Reza sudah berpikir yang tidak-tidak.


***


Reza pulang larut malam, dia menyelesaikan pekerjaannya karena besok dia akan bekerja setengah hari. Dia ingin memberi kejutan pada sang istri dengan menemaninya check up kandungan.


Reza masuk ke dalam kamar, seperti biasa Tasya dan Vano sudah terlelap. Rutinitasnya saat pulang yaitu berlama-lama memandang wajah anak istrinya. Baginya, mereka sehat dan tidak kekurangan apapun merupakan suatu kepuasan tersendiri. Dia lupa akan kebahagiaan anak istrinya yang seharusnya menjadi prioritasnya juga.


Reza merebahkan tubuhnya disamping Tasya yang tidur membelakanginya. Sejak pagi tadi, tak ada komunikasi apapun diantara mereka. Reza melamun, tak butuh waktu lama untuk Reza masuk ke alam mimpi. Dia tidur dengan nyenyaknya.


Pagi hari, Tasya menjalankan kewajibannya seperti biasa. Dengan perut buncit, dia menyiapkan keperluan suami dan anaknya tanpa banyak bicara. Sementara Reza dan Vano masih terlelap.


Tasya segera ke dapur. Dia membuat makanan Vano untuk sarapan dan juga bekal ke rumah sakit nanti. Setelah dirasa semua selesai, dia kembali ke kamar untuk melihat Vano.


"Vano, cuci muka terus makan dulu yuk." ajak Tasya


Tak ada interaksi antara Reza dan Tasya. Tasya segera mengambil Vano untuk dibawanya keluar kamar.


Reza melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Dan berlama-lama disana. Setelah selesai, dia memakai pakaian yang telah disiapkan oleh Tasya. Kemudian keluar kamar dengan keadaan rapi.


Reza menghampiri Tasya yang sedang bermain di halaman belakang.


"Mam, sarapan yuk" ajaknya


"Duluan saja. Aku belum lapar." ucapnya singkat


Reza segera duduk di ruang makan seorang diri. Dia memakan roti kukus sambil berkutat dengan ponselnya.


Tasya membawa Vano masuk ke dalam rumah.


'Bos mah sarapan saja sibuk.' batin Tasya.


Reza tak menghiraukan Tasya yang melintasinya. Dia masih asyik di depan layar ponselnya.


"Aku berangkat Mam." ucap Reza saat Tasya sedang dikamar mandi untuk memandikan anaknya.


"Oh. Hati-hati." ucap Tasya tanpa melirik Reza sedikitpun. Reza tak banyak protes, dia bergegas pergi meninggalkan mereka.


Hati Tasya sangat sedih melihat perubahan sikap Reza yang begitu dingin kepadanya. Namun segera dia menguatkan diri saat melihat Vano tertawa kepadanya.


"Mbak, tolong pakaikan bajunya ya, aku mau mandi." ucap Tasya


Tasya membasahi tubuhnya seraya menangis disana. Setelah berlama-lama didalam kamar mandi, Tasya keluar kamar mandi kemudian berpakaian lengkap.


Dering ponsel mengalihkan perhatiannya.


"Aa.. " gumamnya senang saat melihat nama Rasya tertera diponselnya


"Assalamualaikum A."


"Waalaikumsalam Sya."


"Jadi kesini?"


"Ini lagi dijalan. Jam berapa check up-nya?" tanya Rasya


"Jam 2."


"Ya sudah, dzuhur kayaknya Aa sudah disana." ucapnya


"Aa sama ibu?"


"Enggak. Ibu masak, nyiapin buat Neng. Kalau Neng boleh pulang." ucapnya


"Oh ya sudah. Hati-hati dijalan ya A."


Tasya meneruskan kembali aktifitasnya di depan cermin. Setelah selesai, dia segera menata baju Vano dan baju miliknya ke dalam koper.


Tasya mengambil ponselnya. Dia menghubungi Reza karena lupa meminta izin suaminya. Beberapa kali dia menelepon, Reza tak kunjung mengangkatnya.

__ADS_1


"Sudahlah. Nanti kalau sudah fix boleh perjalanan jauh, aku kasih tahu lagi." gumamnya.


Dia keluar kamar menemui Mbak Diah.


"Mbak, nanti kita pulang kampung ya. Mbak packing ya. Aku sudah packing tadi."


"Pulang kampung?" tanya Mbak Diah sedikit kaget


"Iya. Setelah check up, aku mau pulang ke rumah ibu kalau dokter sudah mengizinkan perjalanan jauh." ucap Tasya


"Sini Vanonya. Mbak siap-siap ya."


"Baik Bu." ucapnya


***


"Za, aku minta maaf. Kamu ada jadwal jam empat sore bertemu dengan Pak Bram dari PT Utama Jaya." ucap Adit


"Kamu gimana sih Dit? Bisa di undur gak?" tanya Reza kesal


"Maaf. Gak bisa Za. Pak Bram nanti malam berangkat ke Swiss katanya." ucap Adit


Reza mendengus kesal.


"Besok kamu kan bisa libur Za." ucap Adit menghiburnya.


"Oke deh." ucapnya singkat


***


Rasya tiba dirumah Pak Danu saat siang hari.


"Assalamualaikum anakku. Papa datang." ucap Rasya keluar dari mobil menghampiri Vano yang menunggunya.


"Sehat A?" tanya Tasya seraya mencium punggung tangan Rasya.


"Alhamdulillah sehat makanya kesini." Rasya mengambil Vano dari gendongan Tasya


"Yuk istirahat dulu. Pasti capek." ajak Tasya


Rasya becanda dengan Vano yang senang saat melihatnya datang.


"Mana mertuamu Sya?" tanya Rasya


"Dari pagi sudah pergi. Gak tahu mau kemana" ucapnya


"Kamu sudah bilang sama A Reza?" tanya Rasya


"Tadi gak di angkat A. Nanti saja kalau dokter sudah kasih izin perjalanan jauh, baru aku bilang." ucapnya


"Loh? Dari kemarin kamu gak bilang?" Ucap Rasya sedikit meinggikan suaranya


"A Reza pulangnya malam banget. Aku gak ketemu. Tadi pagi juga berangkatnya pagi-pagi. Jadi kita gak banyak komunikasi."


Rasya bisa menyimpulkan permasalahan mereka.


"Kamu izin dulu, baru Aa bawa kamu pulang." ucapnya tegas.


"Iya nanti A. Yuk Aa makan dulu." ajaknya


"Nanti saja. Aa belum lapar."


"Sana kamu telepon suami kamu dulu." ujarnya.


Tasya berlalu ke dalam kamar. Dia mencoba menghubungi Reza kembali. Dan lagi-lagi Reza tak mengangkatnya.


Tasya menghampiri Rasya kembali.


"A, mau makan sekarang? Sudah jam segini kita harus berangkat." ucap Tasya


"Yuk sekarang saja. Nanti makan mah beli di rumah sakit saja." ucapnya


"Mbaak yuk berangkat." ajak Tasya.


"Kopernya bawa sekarang A. Biar gak bolak balik. Nanti kalau gak jadi ya tinggal turunkan lagi." ucap Tasya


"Ya sudah kalau begitu." Rasya tak banyak bicara


Mereka naik ke dalam mobil Rasya. Sementara Rasya mengangkut koper dan tas milik Tasya dan Mbak Diah.


***


Reza melihat jam yang melingkar ditangannya. Dia bergegas pulang ke rumahnya.


"Ngebut ya Pak Dan, takutnya telat jemput mereka." ucap Reza


Reza duduk dengan gelisah, dia kemudian membuka ponselnya.


"Banyak sekali telepon dari Mami" gumamnya seraya tersenyum.


"Pasti dia senang." ucapnya kemudian. Dia tak sabar melihat wajah istrinya yang kaget saat melihatnya pulang.


Reza segera turun dari mobilnya negktu tiba dihalam rumah. Sementara sang sopir menunggunya dari dalam mobil.


"Maaam, Papi pulang." ucapnya seraya


tersenyum


"Loh Za? Neng Tasya tadi sudah berangkat sama A Rasya" ucap Bi Tinah


"Rasya?" tanya Reza heran


"Iya. Tadi A Rasya kesini jam dua belasan kalau gak salah. Terus mereka berangkat." ucap Bi Tinah


"Kemana mereka Bi?


"Ke rumah sakit."


"Oh. Ya sudah kalau begitu." Reza masuk ke dalam kamar, merebahkan tubuhnya seraya memainkan ponselnya. Setelah beberapa lama sebuah pesan masuk dari Tasya.


"A Reza, aku telepon gak di angkat dari tadi. Aku sekarang dirumah sakit sama A Rasya. Aku izin pulang ke kampung ya, dokter sudah kasih izin untuk perjalanan jauh. Aku ingin istirahat disana sama Vano."


Reza tersentak saat membacanya.


"Mami.. "


.


.

__ADS_1


.


Duuh.. Si Papi kumat lagii.. Gimanaa siih? Yuukkk saweran like dan komentarnya buat mereka. Jangan lupa Vote dan rate bintang 5. Terima kasiiihh ^^


__ADS_2