BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Semua Tentang Tasya Part 1


__ADS_3

Mendapat proyek besar dengan Adit, membuat Reza sering bekerja lembur. Dia berambisi untuk mencetak banyak uang untuk kehidupan istri dan anaknya kelak.


Sementara di sisi lain, Tasya selalu kesepian. Berada seorang diri di apartemen mewah yang mereka sewa.


Dukungan yang dibutuhkan tak dia dapatkan dari suaminya. Semakin lama, dia merasa semakin menjauh dengan Reza. Reza selalu pulang larut malam kemudian tidur dengan pulas karena kelelahan. Begitu bangun, Tasya tak mendapati Reza karena dia tengah bekerja. Begitu aktifitas keseharian mereka sampai saat ini.


Tasya sangat merindukan Reza yang hangat. Reza yang selalu berkata mesum, selalu membuatnya tertawa, dan yang selalu berdebat dengannya. Kini Tasya merasa ada jarak yang memisahkan mereka.


Tasya lebih banyak mencurahkan isi hatinya dengan tulisan. Sama halnya seperti yang dia lakukan dulu saat dia masih gadis.


Dalam waktu hampir sebulan, sangat terasa perubahan dalam rumah tangganya.


***


"Sayang sedang apa?" pertanyaan monoton yang selalu ditanya Reza saat dia bekerja.


Jemu Tasya membalasnya. Tanpa perlu dibalas, Reza pasti tahu apa yang dia lakukan.


Saat siang tiba, Tasya merasa sangat jenuh. Dia hendak ke rumah Mertuanya untuk sekedar berbincang dengan Pak Danu dan Bi Tinah. Rasanya sudah lama sekali dia tidak berbicara dengan manusia lainnya.


Tanpa pikir panjang, dia segera berhias untuk pergi kesana. Tak ada seorangpun yang bisa dia ajak pergi.


"Minta A Reza antar ke rumah Papa, Hhh.. Sudahlah. Pasti berbagai alasan dia berikan. Kemarin saja ingin makan gado-gado harus nunggu dia libur. Sementara hari liburnya dipakai untuk bekerja juga." Tasya bicara sendiri.


Tasya dengan mantap melangkahkan kakinya keluar. Sudah lama dia tidak menghirup udara bebas karena yang dilakukan setiap harinya hanya mengurung diri di dalam apartemen.


Siang itu, Tasya terlihat sangat cantik. Sampai salah seorang ibu tua berbicara dengannya karena tertarik dengan pesona Tasya dan perut buncitnya.


"Kenapa sendirian Nak? Mana suamimu?" tanya ibu tua tersebut.


"Dia bekerja Bu" ucapnya ramah.


"Panggil Oma saja." perintahnya.


"Sedang hamil besar, jangan berjalan sendirian. Kalau ada apa-apa bagaimana?" tanya Oma tersebut


Tasya hanya tersenyum.


"Keluarga gak ada disini?" tanya Oma penasaran


"Ibu saya minggu depan kesini Oma. Sekarang saya mau ke rumah Mertua saya Oma" ucapnya lembut.


Oma merasa iba.


"Hati-hati dijalan Nak." ucap Oma tersebut.

__ADS_1


Mereka berpisah. Tasya melenggangkan kakinya setelah taksi online menunggunya. Tasya nampak antusias.


'A Reza, aku ke rumah Papa ya. Aku bosan sendirian disini.' dia mengirim pesan pada Reza.


Setelah beberapa lama, tak ada balasan darinya.


"Mungkin dia sibuk" gumam Tasya. Hal yang sudah biasa dia dapati, sehingga tak membuatnya kesal.


Dia berbasa basi dengan driver taksi online. Tak terasa sudah berada di seberang rumah Pak Danu.


"Berhenti disini saja Pak" ucap Tasya


Taksi online tersebut menghentikan mobilnya. Tasya turun dari taksi online tersebut dengan wajah bahagia.


Dia mengedarkan pandangannya hendak menyebrang jalan. Baru melangkahkan kakinya tiba-tiba sebuah motor menghantam tubuhnya. Tubuh Tasya terpental kemudian jatuh membentur aspal. Seketika darah mengalir dari kepalanya dan luka memar di sebagian tubuhnya. Tasya tak sadarkan diri.


Orang-orang mulai bergerombol membuat sebagian jalanan macet.


"Di depan kita ada kecelakaan, Bud" ucap Bi Tinah pada Budi yang mendengar ada keramaian di depan.


Pak Budi segera keluar. Dia melihat ke tempat kejadian.


"Gotong-gotong, bawa ke rumah sakit" terdengar suara beberapa orang.


Pak Budi mendekat, dia begitu terkejut saat dilihatnya Tasya sudah bersimbah darah.


Beberapa orang menoleh ke arahnya.


"Astaghfirullah.. Neng Tasya.." lutut Pak Budi terasa lemas.


"Tolong bawa ke rumah sakit" ucap Pak Budi panik. Beberapa orang nampak membopong Tasya ke dalam angkutan umum.


"Tunggu. Saya bawa seseorang. " ucap Pak Budi ketika angkutan tersebut hendak melaju. Dia menyebrang jalan masuk ke halaman rumah.


"Bi Tinah.. Bi.." Pak Budi berteriak sangat kencang.


Bi Tinah yang kaget segera berlari keluar.


"Ada.." Pak Budi menyeret Bi Tinah setengah berlari. Menyebrang jalan kemudian masuk ke dalam angkutan umum tersebut.


"Ya Allah.. " Bi Tinah berteriak histeris. Dia menangis sejadi-jadinya saat angkutan umum itu melaju.


Beberapa ojek online membantunya untuk membersihkan jalan agar Tasya dan kandungannya bisa segera tiba di rumah sakit.


Setelah beberapa lama, mereka tiba di IGD. Tasya langsung mendapat penanganan. Bi Tinah tak henti menangis. Dia terkulai lemas duduk di lantai rumah sakit. Sementara Pak Budi tak hentinya menelepon Reza.

__ADS_1


Ponsel Reza dengan mode sillent. Dia baru selesai berbincang dan makan siang dengan Adit dan rekan bisnisnya yang baru. Mereka saling melempar canda satu sama lain setelah meeting.


"Za. Angkat Za.. " Pak Budi mondar mandir sambil berbicara sendiri.


Dia kemudian menelepon Pak Danu yang sedang makan siang bersama temannya. Namun tak kunjung diangkatnya juga.


"Keluarga Ibu Tasya?" panggil seorang dokter


Pak Budi segera menghampiri.


"Pasien kondisinya kritis. Kita harus segera mengeluarkan bayinya." ucap dokter tersebut.


"Tolong segera selamat Dok. Saya mohon selamatkan ibu dan bayinya." ucap Pak Budi dengan bergetar.


Tak banyak bicara, dokter tersebut segera berlari ke ruangan Tasya. Tasya kemudian dibawa ke kamar operasi. Pak Budi mengikutinya.


Setelah diruang operasi, Pak Budi menghubungi Reza kembali.


"Assalamualaikum Pak Bud? Ada apa?" ucap Reza dengan nada ceria


"Zaa..Reza..segera ke rumah sakit" ucapnya menahan tangis


"Papa kenapa Pak?" Reza berteriak kaget


"Neng Tasya.. " Pak Budi menangis


" Tasya? Kenapa?" Reza tak sabar


"Cepat ke rumah sakit Harapan Za" ucapnya disela tangisnya


Reza tersentak. Beberapa temannya nampak bertanya. Namun Reza segera berlari menuju mobilnya. Reza melajukan mobilnya dengan cepat.


Butuh waktu sekitar satu jam untuk dia tiba di rumah sakit. Reza mencari ruang operasi yang Pak Budi tukis dalam sebuah pesan.


Begitu tiba, Reza berpapasan dengan bayi mungil dengan peralatan ditubuhnya di dorong oleh perawat keluar dari ruangan.


"Pak Budi, Tasya Kenapa?" Reza berteriak.


Sementara tangis Bi Tinah kembali pecah saat melihat Reza.


"Neng Tasya kecelakaan. Dia tertabrak motor" ucap Pak Budi dengan nada bergeta


"Kenapa bisa Pak? Kenapa?" Reza mengguncang tubuh Pak Budi.


Reza tak mengerti dengan apa yang dialami saat ini. Apakah dia bermimpi ataukah ini memang nyata.

__ADS_1


Pak Budi menceritakan kronologi yang dialami Tasya. Tubuh Reza terkulai lemas dengan mata memerah. Tatapannya kosong. Rasa sesak tiba-tiba dia rasakan. Terlintas bayangan Tasya yang tertawa dengan perut buncit dalam benaknya. Dia memejamkan matanya.


Pintu ruangan terbuka. Seorang dokter memanggil keluarga Tasya. Reza menghampiri dokter tersebut. Disana dokter menjelaskan bahwa kondisi Tasya dengan cedera di bagian tempurung tengkoraknya. Dokter tersebut meminta persetujuan kembali untuk operasi Tasya selanjutnya. Tak banyak bicara, Reza meminta agar operasi tersebut segera dilakukan.


__ADS_2