
Temans, tolong bantu vote terus yaa..
Jangan lupa pencet tombol like dan tulis komentar seperti biasa.
Happy reading ^^
---------------
Reza menjalankan hukuman dari istrinya. Berkali-kali dia mengecek Tasya agar bisa pindah tidur ke sampingnya namun selalu gagal. Tasya masih selalu terjaga saat dia melihatnya.
Tasya tidur seorang diri dengan leluasa. Dia merasa sangat nyaman dikasur empuk itu sendirian. Andaikan tak hamil, mungkin dia sudah berguling kesana kemari dari atas kasur empuk tersebut. Sementara Reza membolak balikan tubuhnya mencari posisi yang nyaman untuk dirinya, namun sayangnya sofa tersebut tak membuatnya nyaman sama sekali. Tapi karena rasa kantuk yang sudah menerpanya, dia pun terlelap dengan sendirinya.
Tasya turun dari ranjang, dia berjalan kearah suaminya. Diam-diam dia mengambil foto suaminya yang tengah menjalani hukuman tersebut. Ada rasa tak tega dalam benaknya, namun semua itu demi membuat suaminya jera.
Tasya mengecup kening suaminya. Dipandangnya lekat-lekat wajah suaminya yang tertidur pulas.
"Maaf ya sayang, demi Papi juga" ucapnya
Tasya yang tak tahan lantas mengecup lembut bibir suaminya.
"Love you Papi" lirihnya.
***
Pagi-pagi sekali Tasya sudah berkutat di dapur membuat sarapan dan bekal untuk suaminya. Dia tahu hari ini jadwal suaminya memberikan kuliah umum di salah satu Universitas ternama.
Tasya sengaja membuat sushi untuk suaminya. Dia membuat catatan kecil dalam sebuah kertas dan memasukannya ke dalam kotak sushi tersebut.
Tasya melirik jam, dia segera masuk ke kamar untuk melihat suaminya. Disana, Reza masih tertidur dengan lelap.
"Harusnya dia bangun sendiri kan, jam segini masih tidur. Kalau telat, aku juga nanti yang gak enak" gerutunya
Tasya mendekat ke arah suaminya. Dia tak lantas membangunkannya melainkan menyubit kaki suaminya. Dengan refleks Reza menggerakan kakinya tanpa membuka matanya sama sekali. Hal itu membuat Tasya tertawa sendiri.
Kini Tasya beralih ke tangannya Reza. Dia menyubitnya kembali, lagi-lagi Reza hanya menepuk bekas cubitan Tasya.
'Dikira nyamuk kali ya' batin Tasya
Tasya yang gemas kini menarik pipi Reza, Reza hanya menggeliat dan meneruskan tidurnya. Rasa gemas kini berubah jadi rasa kesal. Tasya menyetel alarm tepat ditelinga Reza yang sukses membuatnya terbangun seketika.
"Mami.. " Ucapnya
" Mau kerja gak? Jam delapan ini" bohong Tasya
"Serius Mam?" Reza terlonjak kaget. Dia segera bangun dan melihat jam dinding.
"Papi kira beneran jam segitu." ucapnya seraya hendak merebahkan kembali tubuhnya.
"Yang kemarin buat materi sudah dipelajari belum?" tanya Tasya
"Oh iya." Reza menuju kamar mandi.
Tasya yang tak tega, dia menyiapkan perlengkapan suaminya. Hanya dengan pikirannya sendiri, Tasya mengalahkan aturannya sendiri. Begitulah wanita, dia hanya bisa menggertak agar didengar tanpa berniat melakukan apa yang sudah diucapkannya. Begitu pikirnya.
Reza tersenyum saat melihat baju yang telah tersedia untuk dirinya.
"Sayang" Reza memeluknya dari belakang saat Tasya sedang merapikan selimut.
"Peraturan nomor 4." ucapnya.
Reza segera melepaskan dirinya.
"Papi pikir Mami sudah.."
"Ini karena Papi mau jadi pembicara bagaimana membohongi istri" ucap Tasya
"Mam ih" Reza mengeringkan tubuhnya.
Dia segera berpakaian dan mempelajari bahan untuk materinya nanti.
Tasya membawa sushi ke dalam kamar. Dia menyuapi suaminya yang serius membaca materi. Reza hanya meliriknya sepintas sambil tersenyum dan melanjutkan kegiatannya hingga tak terasa, sarapannya telah habis.
Tasya memberikan air minum kepadanya. Dengan senang hati, Reza meneguk air tersebut dan memberikan gelasnya kembali pada Tasya.
Saat hendak bangkit, Reza menarik tubuh Tasya kepangkuannya.
"Peraturan nomor 4" ucap Tasya
"Lagi ngehukum saja masih care banget sama Papi, gimana Papi gak cinta sama Mami" ucapnya seraya tersenyum
Tasya merasa sangat malu mendengarnya.
"Itu karena kasihan saja mau bicara kiat-kiat jadi direktur pembohong depan mahasiswa" ucap Tasya
"Love you Mami" Reza melum*t lembut bibir Tasya, Tasya hanya mematung. Semakin lama, Tasya membalas pagutannya. Tangannya melingkar pada leher suaminya.
"Ih nyebelin. Sudah tahu peraturan nomor 4" gerutu Tasya melepaskan pagutan mereka yang membuat Reza terbahak seketika.
"Kalau gak ada kuliah umum, diamond nengok si Dedek nih pasti" ucapnya
"Dasar nyebelin Papi! Aku tambah hukumannya." Tasya beranjak dari pangkuan suaminya.
'Pesona Reza, gak bisa dia nolak begitu saja' batin Reza bangga.
"Bekalnya jangan lupa dimakan Pap" ucap Tasya saat Reza hendak berangkat. Reza hanya mengangguk
"Awas, jangan tebar pesona sama mahasiswi" ancam Tasya. Reza hanya tersenyum.
"Tebar pesona gimana sih sayang?"
"Secara nanti tuh pasti ada yang tanya, gimana caranya bisa jadi direktur di usia muda." Reza tertawa
"Papi jawab apa dong sayang?" tanyanya gemas.
"Jawab saja direktur turunan." Reza terbahak mendengarnya.
"Anak kali turunan." ucap Reza
"Iyalah. Emang diturunkan dari Papa. Kalau bukan karena Papa karena siapa coba?" Tasya bicara saat Reza merapikan rambutnya.
"Karena skill Papi dong makanya bisa berada diposisi sekarang." ucapnya bangga.
"Skill apa? Skill bohong?" tanya Tasya. Reza hanya tersenyum tak menanggapi.
__ADS_1
"Papi berangkat sayang." Reza mengecup seluruh wajah istrinya. Sementara Tasya memeluknya erat.
"Yang manja Dedek apa Mami ini?" tanya Reza
"Dedek lah, Mami lagi hukum Papi. Oh iya lupa peraturan nomor 4" ucapnya menjauh dari tubuh Reza, Reza hanya tertawa melihat tingkah istrinya.
"Iya iya. Papi berangkat ya Mami, Dedek jangan nakal" Reza pamit pada Tasya. Dia juga menghampiri Vano yang sedang bermain.
***
Reza menapakan kakinya di Universitas. Dia disambut oleh pemyelenggara disana. Reza duduk diruang tunggu yang disediakan sebelum dia dipanggil oleh pembawa acara.
Tak berselang lama, pembawa acara memanggil namanya. Semua peserta yang hadir disana bertepuk tangan riuh saat melihat wajah tampan Reza. Mereka seolah terhipnotis oleh pesona Reza.
Reza menyampaikan materi serta beberapa pengalamannya dalam dunia bisnis hingga tiba di sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan menyimpang terlontar dari mulut mahasiswi yang penasaran dengan dirinya. Namun, Reza hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari mereka.
"Jawab sekali saja dong Mas" celetuk salah satu mahasiswi yabg menanyakan statusnya.
"Harus banget ini dijawab?" tanya Reza
Dan suara riuh kembali terdengar.
"Kalau saya bilang jomblo, ini antrian pasti mengular" ucapnya menggoda para mahasiswi yang membuat suasana semakin panas.
Reza merasa mendapat hiburan dengan keramaian mereka.
"Jangan buat penasaran dong Mas" ucap mereka kemudian
"Kalau saya bilang disini saya jomblo, dirumah ada yang menunggu percaya gak?" tanyanya lagi. Mereka semakin riuh.
"Sudah-sudah jangan berhalusinasi punya suami seorang lelaki sukses tanpa menemaninya dari nol, betul Mas Reza?." ucap si pembawa acara disertai dengan anggukan Reza.
"Iya betul." ucap Reza
"Loh? Ini materinya jadi menyimpang begini." ucap Reza.
Mereka semua tertawa.
"Jarang-jarang kan seger gini jadi pembicara kita. Biasanya yang sudah berumur Mas. Makanya mereka semua pada heboh begini" ucap pembawa acara.
"Dan perlu diakui, antusiasme kali ini luar biasa." ucapnya
"Terima kasih." ucap Reza.
Setelah selesai, Reza berjalan menuju tempat parkir. Tiba-tiba beberapa mahasiswi memanggil namanya dengan seketika Reza menoleh.
"Mas Reza, boleh gak kita magang di perusahaan Mas?" tanya seorang mahasiswi.
"Boleh saja. Silahkan datang langsung saja ya ke sana" ucap Reza
"Boleh kami minta nomor kontak Mas Reza?" tanyanya kemudian
'Wah, dimodusin nih' batin Reza.
Reza memberikan nomor ponsel Adit dengan segera.
"Terima kasih ya Mas" ucap Mereka. Mereka meninggalkan Reza dengan tertawa riang karena telah berhasil mendapatkan nomor ponsel Reza.
Reza segera masuk kedalam mobil. Dia tersenyum jahil saat melihat mereka menjauh dari mobilnya.
***
"Waah..Bu Direktur baik hati sekali. Masih bikinin kotak bekal buat suaminya yang gak tahu diri" ucap Adit saat masuk ke dalam ruangan Reza.
"Berisik kamu Dit." ucap Reza
"Za, kamu kasih nomorku sama siapa?" tanya Adit.
Reza mendongak melihat Adit yang berdiri kemudian tertawa.
"Biasa mahasiswi" ucapnya masih menyisakan senyumnya.
"Kebiasaan kamu." ucapnya
Reza hanya tertawa.
"Hukumanku belum beres, kalau ditambah yang ini bisa-bisa dia pulang kampung lagi" ucap Reza
"Hukuman apa?" tanya Adit.
"Haha.. Biasalah" Reza lupa, Adit tak mengetahuinya.
Adit memberikan laporan padanya. Mereka berbincang sebentar. Tak lama, Adit keluar dari ruangan.
***
Reza pulang lebih cepat dari biasanya. Saat melintas toko buah, Reza segera memutar balik mobilnya dan masuk ke toko buah tersebut.
"Mbak, ada buah delima?" tanyanya.
"Ada Pak, sebelah sana" ucap pelayan menunjuk salah satu rak yang berada disana.
Reza mengulas senyumnya. Dia segera mengambil beberapa buah delima import berukuran jumbo untuk istrinya.
'Moga saja Mami luluh sama ini' batinnya.
Tak lama, Reza segera membayar dan kembali ke mobilnya.
Reza tiba dirumah saat Tasya sedang mengasuh Vano diruang bermainnya. Dia masuk ke dalam kamar, menaruh delima tersebut diatas nakas sebelum menghampiri Tasya dan Vano.
"Tumben cepet?" tanya Tasya saat Reza mendekat ke arahnya
"Iya kerjaan lagi sedikit" ucapnya
Reza berjalan masuk ke dalam kamar, diekori oleh Tasya.
"Sayang.."
"Peraturan nomor 4, Papi" ucapnya
"Hapus semua peraturan, tukar dengan ini gimana?" Reza mengambil kantong berisi delima.
"Apa ini?" tanya Tasya
__ADS_1
Tasya yang senang lantas memeluk Reza.
"Terima kasih Papi.." Tasya berhambur memeluk Reza
"Hapus ya hukumannya" pinta Reza
"No. Enak saja."
"Aku kasih remisi deh." ucapnya.
"Masa remisi sih sayang. Ini banyak loh" ucapnya seraya memperlihatkan delima tersebut.
"Ya sudah, nomor 2 dihapus deh." ucap Tasya
"Apa yang nomor 2?"
"Siapkan baju dan bangun tidur sama Mami" ucap Taysa
"Mami ih, Papi kan sudah cari ini tuh muter-muter tahu Mam." ucapnya
"Sayang, Papi sakit badan tidur di sofa." ucap Reza
"Ya sudah no 1 dihapus, yang lain tetap jalan." ucapnya.
Tasya mengambil buku catatan miliknya yang telah lama tidak diisi.
"Tulis dua lembar kalimat penyesalan." ucap Tasya
"Ini Papi yang cerita atau saya menyesal bla bla bla" tanya Reza
"Bebas. Mau kalimat cerita Papi atau tulisan 'saya menyesal..'" Tasya memberi arahan
"Oke. Papi nulis dulu." ucapnya
Reza menuliskan untaian kalimat hukuman. Sementara Tasya meninggalkannya agar Reza bisa lebih fokus.
Setelah beberapa lama, Tasya masuk ke dalam kamar. Dia tak mendapati Reza disana. Suara gemericik air dari dalam kamar mandi menandakan Reza berada disana.
Tasya duduk di sofa, dia membuka apa yang ditulis suaminya.
Entah Reza kurang paham, atau memang sengaja. Reza menuliskan surat cinta untuk istrinya.
*Dear :
My Beautifull Wifey
Tahu gak sayang, tadi waktu kuliah umum Papi dapat pelajaran apa? Semua mahasiswi terjerat pesona Papi dong, tapi bukan itu yang menjadi poin Papi sih karena Papi sudah biasa mengikat mata-mata wanita dengan kegantengan Papi yang hakiki ini.
Ketika orang lain tergoda berlomba-lomba mencari seseorang yang sukses atau mapan. Mami hadir tanpa melihat semua itu. Papi tahu kita dijodohkan. Namun saat itu, bisa saja mami menolak perjodohan kita begitu saja dan orang tua kita juga pasti tak kan memaksa.
Papi sadar betul, Mami menemani Papi dari nol, kita jatuh bangun bersama dan itu membuat Papi bersyukur karena Mami selalu support Papi dalam keadaan apapun.
Mami sayang, maafkan Papi yang suka membuat Mami kesal, suka membuat Mami marah. Tapi Papi sangat bersyukur masih bisa mendengar semua itu dari pada Papi harus ditnggalkan seperti kemarin.
Terima kasih Mami masih bersedia mengingatkan Papi dalam segala hal. Dan maaf, kalau Papi masih suka boros.
Apalagi ya Mam? Pegal nih nulisnya. Hehe.
Oya, Papi cuma minta tolong tetap disamping Papi apapun yang terjadi, karena aku tanpamu butiran debu.
Tetaplah bersamaku jadi teman hidupku
Berdua kita hadapi dunia
Kau milikku, milikmu kita satukan tuju
Bersama arungi derasnya waktu
Kau milikku, ku milikmu
Kau milikku, ku milikmu
Eh jadi nyanyi, hehe. Pokoknya love you Mami to the moon and Back.
Mam, please Mamiku cantik, udahan hukumannya ya.. Papi mau mandi dulu, gerah nih. Byee*..
Tasya tersenyum melihat tulisan tangan suaminya. Bersamaan dengan itu Reza keluar dari kamar mandi. Pandangan mereka beradu. Keduanya tersenyum malu. Hingga tawa mereka memenuhi ruangan pribadinya tersebut.
"Papi ih, malah nulis surat. Disuruh nulis penyesalan juga" Tasya memberanikan diri membuka percakapan
"Hehe.. Papi kan belum pernah nulis surat cinta buat Mami. Anggap saja surat cinta, sayang" pintanya seraya mengeringkan badan
"Surat cinta dari mana? Isinya minta dihapus hukuman dengan basa basi panjang lebar." gerutu Tasya
Reza tertawa seketika. Dia mendekat ke arah istrinya dengan menanggalkan handuknya.
"Papi, cepetan dibaju ih" Tasya segera mundur saat Reza mendekat, sementara Reza tersenyum jahil.
"Aku foto nih ya biar tersebar" ucap Tasya
"Wah, coba foto Mam. Siapa tahu nanti Papi jadi cover majalah playb*y" ucapnya seraya berpose.
"Dasar gak tahu malu. Sana dibaju atau ditendang nih?" ancam Taysa
"kalau ditendang Mami yang rugi loh" ucapnya
"Papi ih mes*m"
"Mes*m gimana coba? Orang dikamar bareng istri kesayangan lagi." Reza masih menggoda.
"Sudah ah, Papi mulai gil"
Reza mencium istrinya dan menggiringnya keatas kasur tanpa melepaskan pagutannya.
"Udah ya hukumannya?" ucap Reza
Tasya mengangguk terbuai oleh aroma tubuh suaminya.
"Yes!" Reza bersorak. Dia segera bangkit dan memakai pakaiannya.
"Terima kasih3 Mami" ucapnya seraya meniupkan ciuman dengan tangannya.
"Papiiii moduuussss" Teriak Tasya saat Reza kabur keluar kamar.
__ADS_1
'i am the winner' ucapnya bangga