
"Abaaaang... Adeeeekkk.. Bangun.. Sudah siang" Tasya mengetuk pintu kamar anaknya masing-masing.
Dia kembali ke kamarnya dan menggelengkan kepala melihat suaminya yang kembali pulas.
"Piii.. Mau kerja gak sih?" Ucap Tasya ketus
Reza meregangkan tubuhnya. "Hooaaamm.. Males Mi."
"Anak sama Papinya sama semua. Bikin gregetan pagi-pagi tahu gak?" ucap Tasya seraya melipat selimutnya.
Reza duduk ditepi ranjang sambil menyaksikan istrinya yang ngomel dan masih sibuk melipat selimut.
Reza menarik lengan istrinya hingga Tasya terduduk dipangkuannya. "Masih pagi ngomel terus sih sayang?"
"Habisnya gak anaknya, gak Papinya lelet banget. Makin susah kalau dibangunin."
"Miiii handuk kecil Ab.. Opss.. Pagi-pagi udah mesraan aja." Vano membuka pintu kamar orangtuanya tanpa permisi.
Tasya yang malu pada anaknya, segera bangkit sementara Reza bersikap cuek.
"Heh! Masuk kamar orangtua tuh ketuk pintu dulu kek! Untung Papi cuma meluk doang."
"Papi ih!" Tasya melotot.
"Kalau lebih dari meluk, aku videoin Pi" Vano tertawa.
"Abang." Tasya menatapnya.
"Sorry Mi." Vano melipat kedua tangannya
"Mi, handuk kecil Abang yang warna cokelat dimana sih?"
"Ya dilemari Abang."
"Gak ada Miii, Abang udah cari." Vano nampak kesal.
"Apa kebawa ke lemari Adek?" ucap Tasya seraya keluar kamarnya menuju kamar Daffa.
"Deekk... "
" Iya Mi."
"Buka dulu pintunya sayang"
Daffa membuka kamarnya, dia masih mengancingkan baju seragamnya. Sementara Tasya membuka lemari pakaian Daffa.
"Oh ya ampun ternyata disini." Ucap Tasya seraya mengambil handuk dari lemari Daffa.
"Mi, aku pulang telat ya."
"Mau kemana?"
"Basket Mi"
"Bawa bekal gak?"
"Enggak ah, Mi."
"Ya udah. Cepet pakai bajunya Dek, Udah jam segini."
Tasya memberikan handuk pada Vano yang menunggunya. Dia kemudian menuruni anak tangga ikut membantu Mbak Diah menyiapkan sarapan mereka.
"Bu, sabun cuci piring sudah habis." lapor Mbak Diah.
"Oh Ya Allah, lupa. Nanti kita belanja yuk Mbak." ajaknya
Tak berapa lama, Daffa menuruni anak tangga dengan menggendong tasnya di sebelah bahunya.
"Adek mau sarapan apa?"
"Nasi goreng aja Mi." Daffa duduk di samping Tasya, seraya menaruh tas miliknya. Dia menyendokan nasi goreng ke dalam piring yang diberikan Tasya.
"Papi mau makan apa?" Tanya Tasya saat Reza ikut bergabung bersama mereka.
"Roti kukus aja Mi."
Tasya sejenak terdiam saat menyiapkan roti kukus untuk suaminya.
"Mi? Are you oke?" Daffa menatap Maminya hang tiba-tiba saja terdiam.
"ehm.. Pi, lusa lima tahunan Opa."
"Ya ampun Papi lupa" Reza mendekati Tasya seraya merangkulnya. Dia mengelus lengan istrinya yang nampak bersedih.
"Mi.." Daffa masih menatap Maminya.
"Lanjut makannya, Dek. Mami gak apa-apa." Tasya mengerjapkan matanya menahan tangis sementara Reza masih mengelus lengan istrinya seraya mengecup lembut kening sang istri.
Tasya masih mengingat jelas saat kepergian Pak Danu lima tahun lalu. Pak Danu dengan keadaan segar bugar tiba-tiba terkena serangan jantung saat beliau sedang berolahraga bersama Pak Budi.
Tasya yang saat itu sedang pulang kampung merasa sangat berdosa karena telah meninggalkan Pak Danu seorang diri. Tak ayal, Tasya sangat terpukul atas kepergian mertua tercinta. Berbulan-bulan Tasya menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian sang mertua tercinta hinga akhirnya Tasya bisa ikhlas atas kepergian mertuanya.
Bayangan sang mertua masih belum sepenuhnya hilang dari memory dirinya. Setiap kali Reza meminta roti kukus, setiap itu juga dia teringat sang mertua. Reza sempat melarang Mbak Diah menyediakan roti kukus agar Tasya berhenti bersedih, namun Tasya marah besar pada suaminya. Reza akhirnya menyerah, membiarkan sang istri berperang melawan rasa sedihnya sendiri hingga detik ini.
"Mau di kantor atau di rumah, pengajiannya?" tanya Reza. Kini dia duduk disamping sang istri yang masih berdiri menyiapkan roti untuk dirinya.
"Kantor saja, Pi."
"Ya udah, nanti Papi minta Adit yang handle semuanya."
"Adek juga sama Abang nanti harus ikut ya" pinta Tasya
"Kemana Mi?" timpal Vano menghampiri mereka seraya menarik kursi makan.
"Peringatan Opa, Bang. Nanti kirim doanya sama karyawan Papi saja." Tasya menanggapinya
"Mi, aku gak ikut ah." Tasya terlihat sedikit kecewa.
"Abang!" Daffa dan Reza menatapnya tajam.
Vano yang paham, segera berdiri. Dia memeluk Maminya mesra dari belakang.
"Maaf Mi. Iya, Abang ikut. Abang cuma becanda, Mi" Vano mengecup pipi Tasya.
"Terima kasih, sayang"
"Heh!" Reza mengangkat sebelah kakinya hendak menendang sang anak.
"Pelit amat Pi. Mami aja gak protes aku cium."
"Sudah lanjut makannya, udah jam segini." ucap Tasya seraya memberikan nasi goreng pada Vano.
"Mami nanti ke swalayan ya Pi, stok sabun habis."
"Sendiri?"
"Nanti sama Mbak Diah aja."
"Bang, anter Mami" titah Reza
"Aku futsal Pi"
__ADS_1
"Adek?"
"Basket Pi"
"Fix dua-duanya gak dapat uang pulsa."
"Pi!" seru keduanya
"Mami sama Mbak aja Pi, diantar Pak Budi." ucap Tasya yang memaklumi kegiatan anaknya.
"Love you Mi" ucap keduanya merasa dibela sang Mami.
"Yakin gak apa-apa?" tanya Reza
"Iya sayang."
"Maaf ya Mi. Tapi Abang usahakan pulang cepat deh."
"Kenapa gak besok aja sih Mi? Besok kan weekend. Kita bisa anter Mami belanja." usul Daffa
"Setuju. Sekalian nonton Mi. Ada film action yamg bagus Mi." ucap Vano
"Mau besok aja? Dianter Papi sama anak-anak?" tanya Reza
"Mie hotplate menanti, Mi" Vano menggoda sang Mami.
"Boba juga Mi, yuhuu" Adek tak kalah menggoda dengan kesukaan Maminya.
"Ya sudah, belanja besok deh, biar ada yang nentengin belanjaan Mami" ucap Tasya seraya tersenyum.
Daffa lebih dulu menghabiskan makanan miliknya.
"Ayo Bang cepetan."
"Sebentar lagi, tanggung nih."
Selesai makan, keduanya pamit pada orangtuanya. Tasya selalu mengantarkan mereka hingga mereka pergi meninggalkan rumah.
Bruumm.. Bruumm..
Vano menggas motor besarnya. Dia nampak gagah dengan memakai jaket hoddie dan celana sekolah duduk di atas kuda besi kesayangannya.
"Helm Abang, Dek" pintanya pada Daffa.
Daffa mengambil helm yang diminta Abangnya kemudian naik dibelakang Vano. Vano segera memakai helm full face miliknya.
"Kita berangkat ya Mi"
"Jangan ngebut, Bang. Hati-hati dijalan ya"
"Siap Mi" keduanya melambaikan tangan pada Tasya.
Tasya masuk ke dalam rumah seraya tersenyum setelah kedua jagoannya tak lagi nampak dalam penglihatannya.
"Mi, Adek belikan motor sekarang aja?" tanya Reza begitu Tasya mendekat.
"Gak tahu, Pi. Mami takut Pi kalau dia bawa motor sendiri."
"Mi, dia kan sekarang sudah SMA. Papi kan janji sama dia, mau belikan motor begitu masuk SMA sama kayak Abangnya dulu. Nanti dia nagih lagi."
"Mami lebih aman aja kalau mereka berangkat bareng kayak gitu, daripada mereka bawa motor masing-masing."
"Gini saja, Kalau dia nagih Papi belikan. Kalau enggak ya nunggu dia minta saja. Atau, Vano bawa mobil saja biar mereka aman? Dia juga sebentar lagi lulus kan Mi?"
"Berlebihan Pi, anak SMA bawa mobil ke sekolah ah. Mami gak suka."
"Loh, bukannya teman-temannya pada bawa mobil?"
"Ya gak apa-apa, dari pada anak Papi direndahkan orang." ucap Reza mengingkatkan Vano yang sempat di bully.
"Gak deh, Mami gak setuju Pi."
Keduanya tak melanjutkan perdebatannya. Reza kembali ke kamarnya untuk mengambil tas miliknya yang tertinggal. Tasya mengikutinya dari belakang.
"Hati-hati dirumah ya Mi." ucap Reza seraya merapikan rambut miliknya. Kini terdapat satu dua helai uban dirambutnya tersebut.
"Iya sayang." mereka berpelukan mesra.
"Jangan malam-malam pulangnya ya, Pi."
"Siap sayang."
"Sabar ya, nunggu Vano bisa handle kantor, biar nanti Papi bisa temani Mami tiap hari dirumah jadi gak kesepian." ucapnya.
"Iya sayang. Tenang saja. Mami bukan anak kecil."
Reza mengecup mesra istri kesayangannya. Kemudian menggenggam tangan Tasya menuruni anak tangga hingga dia pamit meninggalkan rumah.
***
Vano memarkirkan motornya dideretan paling pojok sekolah mereka.
"Kamu bawalah helmnya. Abang nanti kan futsal dulu." ucap Vano saat Daffa memberikan helm padanya.
"Adek juga basket Bang. Cantolin disana aja. Kalau hilang, tahu sendiri kan Mami kaya gimana?" Daffa memberikan kembali helmnya pada Vano kemudian pergi meninggalkan Vano terlebih dahulu.
Vano berjalan menuju kelasnya melewati koridor sekolah. Pemuda tampan dan pintar tersebut menjadi salah satu most wanted di sekolahnya. Tak hanya teman sebayanya, para junior pun banyak yang terpesona dengan ketampanannya.
Tak hanya Vano, Daffa sendiri pun menjadi incaran para gadis. Sikapnya yang terkesan dingin pada para gadis, membuat penasaran dan mereka gencar mendekati Daffa.
Sayangnya, sampai saat ini tak ada satupun yang berhasil meluluhkan hati kedua kakak beradik tersebut. Terlebih, Tasya meminta kedua anaknya agar menikmati masa mudanya tanpa berpacaran terlebih dahulu.
***
"Assalamu'alaikum Mii.. Adek pulaang" teriak Daffa begitu masuk ke dalam rumah. Pemuda dingin di hadapan wanita lain tapi begitu manis di depan Ibunya tersebut pulang ke rumah menggunakan ojek online.
"Loh? Abang mana?"
"Emang dia belum pulang Mi? Adek kan gak bareng Abang."
"Belum Dek. Ya udah, sana kamu mandi dulu."
Tak berapa lama, Vano tiba dirumah.
"Panjang umur anak Mami."
"Siapa yang ulang tahun Mi?"
"Ih kamu mah! Maksudnya baru saja Mami tanyain Adek, kamu udah datang." ucapnya seraya Vano mencium punggung tangannya. "Sana pada mandi dulu, terus makan."
"Tahu saja Mi kalau Abang lapar" ucapnya
Kini Tasya menemani kedua anaknya makan. Meski sudah SMA, keduanya selalu bermanja pada sang Mami.
Awalnya mereka melakukan hal tersebut hanya karena instruksi dari Papi mereka agar Maminya tak merasa kesepian. Tapi semakin kesini, keduanya menjadi terbiasa. Tasya sendiri menyukai suami dan anak-anaknya bergantung kepadanya.
"Bang, tadi ada salam dari Calista." ucap Daffa disela-sela makan mereka.
"Calista siapa sih?" Vano masih menyendokan makanan ke mulutnya.
"Calista teman sekelasku. Anak MD."
__ADS_1
"MD apa sih Dek?" tanya Tasya penasaran
"Modern Dance, Mi"
"Oh."
"Bilang sama dia, Wa'alaikumussalaam" balas Vano singkat
"Abang suka dia?" tanya Mami
"Enggak Mi. Anaknya yang mana saja aku gak tahu." Vano meneguk air minumnya. "Emang Mami izinin Abang pacaran?"
"Sebisa mungkin jangan dulu. Abangkan mau masuk kuliah. Mami inginnya Abang fokus saja dulu." Tasya menopang pipinya di atas meja. "Tapi Mami juga tidak mau membatasi kalian bergaul. Kalau memang kalian bisa mempertanggung jawabkan semuanya, yaa.. Mami gak bisa melarang. Toh kalian sudah pada besar juga."
"Siap Mi. Buat saat ini belum ada yang ngusik hati aku, Mi" jawab Vano jujur.
"Belagu" Daffa melempar potongan kerupuk pada Vano
"Daripada kamu, gak laku-laku"
"Gak lihat apa adikmu ini di ikuti terus gadis-gadis. Kalau lagi main basket, mereka sengaja nonton dulu."
"Mereka nontonin si David kali bukan kamu."
"Heh! Mereka pada teriak tahu kalau Adek lagi maen"
"Teriak apa? Maling? Maliing?" gitu?" Vano menahan tawanya begitupun Tasya ikut tersenyum mendengar ocehan anaknya
"S*alan!" gerutu Daffa kesal seraya melempar tempe pada
"Adek" Tasya mengingatkan anaknya.
"Si Vano tuh Mi, Rese kan"
"Kalian lagi makan ah. Jangan berantem dulu."
Tasya beranjak dari kursinya mengambil kue dari dalam lemari es.
Selesai makan, ketiganya menonton televisi. Daffa tiduran di kaki sang Mami sambil bermain game. Sementara Vano sibuk di depan laptop miliknya.
Tak berapa lama, Reza tiba dirumah. Kedua anaknya meninggalkan mereka, seolah tugasnya telah selesai.
"Mau makan sayang?"
"Tadi udah Mi."
"Ya udah, yuk mandi dulu" ajaknya.
Keduanya kini masuk ke dalam kamar.
"Kenapa sih mukanya gak ceria?" tanya Tasya seraya melepas kancing bajunm suaminya.
"Kesel aja Mi" Reza menceritakan mengenai pekerjaannya pada sang istri.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk" Teriak Reza.
"Mi, Abang jalan sebentar ya"
"Kemana?"
"Rumah temen. Bentar aja Mi. Jam 10 pulang deh."
Tasya melihat jam yang menggantung di dinding kamarnya.
"Jam 9" tawar Tasya
"Mi.." Vano tak terima.
"Abang mau bikin Mami khawatir?" tanya Tasya
"Ya udah iya" kesalnya.
"Bos" Vano mengangkat kedua alisnya melihat Reza.
"Pacaran kamu?" tanya Reza
"Kanjeng Mami bisa ceramah 7 hari 7 malam kalau aku pacaran, Pi" ucapnya
"Heh! Enak aja! Sebulan tahu!" ketus Tasya
"Haha.. Keluar dari kamar Mami kayaknya kuping aku langsung copot dengerin Mami ceramah"
Kedua orang tuanya hanya tersenyum mendengar celotehan Vano.
"Pi.. Ck.."
Reza membuka dompetnya.
"Kemana dulu?" tanya Reza sementara Vano nampak tersenyum melihat uang yang dikeluarkan Papinya.
"Jalan doang Pi sama temen. Besok weekend kan? Buruan sih Pi. Jam 7 nih"
"Yakin? Duit Papi jangan-jangan dipakai traktir cewek lagi?" Reza masih curiga.
"Astaghfirullah dosa Pii suudzon sama anak." Tasya tersenyum mendengar ocehan keduanya.
"Adek gak ikut, Bang?" tanya Tasya
"Adek lagi maen game Mi."
"Sama siapa?"
"Mbak Diah."
"Mbak Diah?" Tasya mengulangnya dengan wajah tak percaya.
"Ya sendiri Mi, sama teman onlinenya. Masa sama Mbak Diah sih." Gerutu Vano saat Maminya tak faham sementara Reza kini tersenyum mendengarnya.
"Mami kira beneran."
"Bos" Vano mengulurkan tangannya.
Reza akhirnya menyerah, dia memberikan uang pada Vano.
"Terima kasih ketuuaaa." Vano mencium Maminya. "Abang jalan yaa. Love you Mi"
"Heh" Reza selalu mengangkat kakinya menendang angin.
"Pipi doang Pi, bukan cium bibir Mami" ucap Vano seraya meninggalkan mereka
"Vanoooo!" Reza berdecak kesal.
.
.
.
Maaf nunggu lamaa yaa.. Aku benergbener subuk kemarin-kemarin. Terima kasih atas antusiasme luar biasa buat BSN. Komentar kalian kadang bikin aku terharu. Hehhe.
__ADS_1
Terus like, komen, dan vote yaa.. Terima kasih ^^