
Tasya memperbesar foto yang dikirimkan orang tersebut. Dia melihat Reza yang sedang tertawa dengan wanita tersebut. Tasya memejamkan matanya, hatinya seketika terasa panas.
Saat bersamaan, Reza meneleponnya. Namun Tasya sengaja tak mengangkatnya. Dia ingin mendinginkan hati dan pikirannya. Hingga tak lama panggilan tersebut berhenti.
"Bahagianya yang ditinggal pulang kampung." Tasya mengirimkan foto tersebut pada Reza.
Lama tak ada balasan dari Reza. Dia meninggalkan ponselnya di atas nakas kemudian keluar kamarnya.
"Loh, anak-anak kemana A?" tanya Tasya
"Vano di kamar Aa, Daffa sama Mbaknya" ucap Rasya
"Tidur dua-duanya a?"
"Iya. Kamu juga istirahat Sya."
"Iya A. Ya sudah, aku ke kamar ya A"
Tasya masuk kembali ke kamarnya. Dia mengecek ponselnya, ada beberapa panggilan telepon dari Reza yang tak terjawab.
Tak berapa lama, panggilan telepon terhubung kembali.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalaam. Dari mana Mam? Papi dari tadi telepon"
"Habis menenangkan hati dan pikiran" jawab Tasya asal
"Jangan salah faham sayang, dia cuma rekan bisnis. Papi juga gak sendiri" ucap Reza
"Iya"
"Mami marah? Gak percaya?"
"Percaya gak percaya sih"
"Siapa yang kirim foto itu ke Mami?" tanya Reza penasaran
"Ada aja"
"Ya siapa?"
"Mommy Juna"
Reza sesaat berpikir. "Oh, yang nagih patungan ke Papi?" tanyanya
"Iya kali." jawab Tasya asal
"Jangan kehasut sayang. Papi gak macem-macem disini. Sumpah. Lagi pula Papi sama Adit, Mam"
"Tapi duduknya lengket banget. Senang ya sama cewek cantik. Kesempatan."
"Papi gak sadar Mam. Ya Papi duduk, asal narik kursi saja. Lagipula kan tanda tangan juga. Jadi biar ga susah." Reza berdalih
"Alasan"
"Tuh kan. Gitu kan. Suaminya cari uang gak percaya."
"Ya percaya, cuma kesel aja lihatnya. Kalau benar sama Adit, kenapa gak duduk bareng Adit saja."
"Ya Papi gak sadar, sayang. Mana sih nomor wanita itu? Kurang ajar itu Ibu-Ibu! Secara gak langsung kita di adu domba tahu gak!" Reza sedikit tersulut
"Buat apa nomor dia?"
"Papi mau buat perhitungan! Ngusik rumah tangga orang."
"Harusnya aku berterima kasih sama dia karena jadi tahu Papi di luar gimana"
"Astaghfirullah sayang. Gak penting ah marahnya, kalau Papi ada affair, bisa-bisa di gorok sama Pak Danu." ucap Reza membuat Tasya tersenyum
"Biarin, biar di gorok sekalian."
"Ya ampun Mii jahatnyaa.. Papi di gorok Papa, kamu yang rugi."
"Kok rugi?"
"Iya lah. Mami mau jadi janda muda?"
"Naudzubillahi mindzalik Papi!" ucap Tasya membuat Reza tersenyum dibalik teleponnya.
"Ya makanya, jangan mikir macem-maem."
"Ya kali, Papi puber kedua" Keluh Tasya
"Tuh kan. Sudah nanti honeymoon jadiin aja. Biar kita ada waktu berdua. Papi titipkan anak-anak sama Ibu. Biar Mami gak suudzon terus sama Papi"
"Wajarlah suudzon sama Papi. Emang mau Mami suudzon sama Adit? Kan gak nyambung!"
"Iya sih tapi gak mau ah Mami mah suka marah-marah gak jelas tahu gak! Lagi deketan, enak. Papi rayu diamond, beres. Jauh kayak gini, kesiksa tahu!"
"Enak aja rayu diamond" ketus Tasya membuat Reza terbahak.
"Papi menyebalkan tahu gak!"
"Enggak. Yang Papi tahu menyenangkan. Dah ya, jangan percaya foto itu.
"Percaya lah. Orang itu asli."
"Iya, disana yang jelas Papi gak berdua sama wanita itu, Papi sama Adit juga. Jangan mikir macem-macem. Papi disini fokus biar cepet kesana, sayang. Gak enak jauh-jauh dari kalian. Sepi tahu Mam."
"Biarin gak perlu kesini sekalian. Biar Papi tahu rasa disana gak ada teman"
"Janganlah. Rindu itu berat, sayang. Anak-anak kemana? Sudah tidur?" Reza mengalihkan topik pembicaraan mereka
"Iya."
"Kalau dekat enak nih, kesempatan"
"Apa sih Papi!"
"Mami sudah makan?"
"Sudah. Papi?"
"Sudah sayang. Tadi gimana?"
"Ya gak gimana-gimana. Cuma nyari seserahan saja."
"Ya sudah, sana tidur" titah Tasya kemudian
"Iya sayang. Papi tidur ya, ngantuk nih Mi. Love you and Miss you, Mami"
***
"Mami sini, mau pisan goreng gak?" Tanya Vano
"Wah, enak kayaknya Bang. Mami minta ya"
"Enak saja Mami minta punya aku, minta sama Nin tuh"
"Mami maunya punya Abang. Boleh ya?"
"Enggak Miiii"
"Abang kok teriak-teriak sih sama Mami?" Ibu menghampiri mereka
"Nin, masa Mami minta punya aku. Mami kan sudah gede, bisa ngambil sendiri."
"Ya ampun pelitnya." Tasya pura-pura sedih
"Ya sudah iya iya. Mami boleh minta punya aku. Ck.. Merepotkan"
"Apa kamu bilang?"
"Enggak Mi, aku gak bilang apa-apa."
"Tadi kamu bilang Mami merepotkan?"
"Enggak Mi. Lagian Mami sudah dengar kenapa pura-pura gak dengar? Gak boleh gitu Mami, mau nanti gak bisa dengar beneran?"
Ibu tersenyum melihat kelakuan anak dan cucunya.
"Ya gak mau"
"Dosa tahu pura-pura itu. Iya kan Nin?"
"Tahu dari mana dosa?" Ibu menimpali
__ADS_1
"Kata Papa aku."
"Yang gitu saja cepat tahu, giliran suruh nyanyi gak bisa-bisa" gerutu Tasya seraya mengambil pisang goreng.
***
"Aa udangan sudah jadi belum sih? Biar disebar sekarang-sekarang" tanya Tasya pada Rasya yang sedang bermain dengan kedua anaknya.
"Nanti siang tinggal di ambil Sya."
"Aku ikut Pa"
"u'um apa uga"
"Daffa ikut?" Rasya mengangkat Daffa dalam dekapannya, sementara Daffa tertawa senang.
"Ck.. Papa mainnya sama Daffa terus. Aku gak diajak main" Vano bersandar pada dinding seraya melipat kedua tangannya.
"Aa" Tasya menatap Rasya kemudian menggulirkan bola matanya pada Vano.
"Sini Bang" ajak Rasya
"Enggak. Aku gak mau lagi sama Papa" Vano menekuk mukanya
"Cemburu dia mah. Sama adek juga cemburu" ucap Tasya
"Biarin nanti abang sudah kerja, Abang gak bagi uang ke Papa" gerutunya
"Mami dikasih gak?"
"Iya. Nanti Mami dibelikan make up sekotak." Tasya tertawa
"Papa enggak Bang?" tanya Rasya
"Enggak. Papa mainnya sama Daffa terus gak sama aku" ketusnya
"Ya sudah maafkan Papa ya, yuk main sama-sama" ajak Daffa
"Tidak semudah itu mengajakku" ucap Vano membuat Rasya tertawa.
"ini anak bahasanya ya ampun"
"Itu tuh kebanyakan nonton kartun yang di televisi, bahasanya kan begitu. Dia jadi ikut-ikutan" ucap Tasya
"Terus biar mudah, Papa harus bagaimana wahai anakku?" Rasya mengikuti Vano
"Belikan aku es krim dan kinder *** nanti aku maafkan Papa" ucapnya
"Haha.. Syaratnya berat sekali. Papa gak punya uang"
"Bohong itu dosa Papa."
"Tuh dengar anaknya." Ibu tiba membawa sayuran mengalihkan perhatian Vano.
"Nin mau masak apa?"
"Sayur sop buat Abang sama Adek"
"Oh, aku boleh membantu?"
"Abang main sama Daffa juga sudah membantu Nin itu"
"Ah, gak seru! Nin sama Papa gak seru! Aku gak suka lagi deh" Vano meninggalkan Ibu.
***
"Pak, untuk hari Kamis, meeting di cancel." ucap Adit
"Kok seenaknya begitu Dit? Giliran kita minta cancel kemarin gak bisa." Reza meninggikan suaranya
"Pak Tommy masuk rumah sakit Pak." ucapnya
"Oh, aku pikir bukan karena itu. Ya sudah kalau begitu. Aku bisa pulang lebih awal hari ini?" tanya Reza
"Bisa Pak, meeting dengan staff setelah makan siang." ucapnya
"Oke" Reza bersemangat.
***
"Ke rumah Mama ya, bilang kalau Abang kangen mama" pinta Rasya
"Pa, aku gak kangen sama Mama baru aku"
"Iya. Abang pura-pura saja kangen ya. Nanti kasihkan buahnya buat Mama. Oke?"
"Are you serious, Papa?" Vano menatap Rasya yang sedang melajukan mobilnya.
"Haha.. Tentu saja sayang. Bilang gitu ya sama Mama?" pinta Rasya
"Pura-pura itu dosa. Papa kan bilang sama aku. Tapi kenapa Papa sendiri yang suka sekali pura-pura" ucap Vano
"Duh nyesel Papa bilang begitu. Kamu pinternya kebangetan"
"Terima kasih Papa, aku pintar dan juga handsome." Vano mengusap rambutnya
"Ck.. Anak Papa keren. Makanya nanti Abang bilang ya sama Mama ya?"
"Nanti Papa belikan mainan" bujuk Rasya
"no"
"Apa dong? Abang mau apa?"
"Kinder ***, es krim, dan mainan."
"Kan tadi udah es krim sama kinder ***"
"Itu kan tadi Papa. Aku mau lagi"
"Baiklah. Tapi janji ya nanti bilang gitu ke Mama" ucap Rasya
"Oke. Tapi beli sekarang ya" pinta Vano
"Siap Bos.Give me five" ajak Rasya. mereka ber-tos ria.
***
"Bang, ingat ya. Bilang Abang kangen sama Mama, oke?" Rasya menginstruksi Vano saat mereka tiba di halaman rumah Zahra.
Rasya mengetuk pintu rumah Zahra, tak lama Zahra membuka pintunya.
"Assalamu'alaikum Ra"
"Wa'alaikumussalaam. Eh ada Abang"
"Salim Bang" titah Rasya
Vano mengulurkan tangannya seraya membawa kinder *** ditangannya.
"Yuk masuk dulu" ajak Zahra. Zahra meninggalkan mereka dan kembali membawa teh hangat beserta cemilan untuk Vano dan Rasya
"Bang kasih dong ke Mama buahnya."
"Berat Pa"
"Ini Ma, dari Abang" Rasya memberikan buah yang dibawanya.
"Terima kasih Abang."
"Iya Ma."
"Katanya dia kangen sama kamu Ra" ucap Rasya
"Oh ya? Abang kangen Mama?" tanya Zahra
"Iya Ma. Aku kangen Mama" ucap Vano.
"Sini dong sama Mama" Zahra merentangkan tangannya. Vano menyambutnya. Mereka berpelukan sementara Rasya hanya tersenyum menyaksikan keduanya.
"Abang jajan apa ini?"
"Kinder *** Ma"
"Beli dimana ini?"
"Di minimarket Ma. Di beliin Papa. Kata Papa bilang kangen sama Mama nanti dibelikan ini" Vano memainkan kinder *** miliknya sementara Zahra melirik Rasya yang tengah menahan malu.
__ADS_1
"Jadi yang kangen Mama siapa? Papa atau Abang?"
"Papa. Iya kan Pa?" Rasya geram dengan tingkah Vano namun dia menahannya. Sementara Zahra tertawa mendengar kepolosan Vano.
"Anak kecil gak bisa bohong A" ucap Zahra pada Rasya
"Hehe.. Aa kangen cuma sekalian saja nganterin undangan kesini, barangkali ada yang mau di undang kan" Rasya berdalih
"Jadi kangen atau cuma nganter undangan A?" tanya Zahra
"Kok malah kamu sih yang godain Aa." Zahra tertawa melihat Rasya yang malu-malu.
"Pada kemana sih? Kok sepi? Ibu mana?"
"Ngaji A."
"Kamu gak ngaji?" tanya Rasya
"Hehe. Aku sedang halangan A"
"Oh."
"Halangan apa Mama?"
"Rahasia ah" ucap Zahra yang membuat Vano mencebikan bibirnya
"Lucu banget sih anak Mama"
"Pa buka Pa" Vano mengulurkan jajanan miliknya
"Minta sama Mama"
"Sini, Mama buka ya?"
"A Rasya, kita belum sah tapi manggilnya sudah begini. Hehe jadi malu sendiri aku, A" ucap Zahra
"Gak apa-apa kali. Latihan Ra" ucapnya seraya tersenyum.
Mereka berbincang ringan sementara Vano asyik memakan jajanan miliknya.
"Pa ayo pulang Pa. Nanti Mami cari-cari aku" ajak Vano
"Sudah habis saja ngajak pulang" gerutu Rasya
"Memang Papa mau nginep disini?"
"Enggaklah. Belum sah."
"Belum sah itu apa Pa?"
"Ribet ah jelasin ke kamu" Gerutu Rasya, Zahra tertawa meilhatnya.
"Pinternya anak Mami Tasya"
"Ayo Paa, kasihan kan Daffa nanti gak ada teman kalau aku disini terus" rengek Vano
"Ya sudah ayo. Pamit dulu sama Mama" ucap Rasya
"Mama, aku pulang dulu ya?"
"Gak nginep disini?"
"Enggak Ma"
"Aa pulang ya Ra. Nanti ketemu lagi kita sudah sah" ucap Rasya yang membuat Zahra tersipu malu.
Rasya melajukan mobilnya.
"Papa marah sama Abang. Kenapa Abang bilang ke Mama kalau Papa yang kangen" ketus Rasya.
"Kan Papa yang kangen. Abang gak kangen Pa"
"Kamu sudah dibelikan jajanan juga. Papa gak jadi belikan mainan buat Abang"
"Jadi" Rengek Vano
"Enggak. Suruh siapa Abang gak nurut sama Papa". Seketika Vano menangis.
"Sudah jangan nangis"
"Aku gak mau lagi sama Papa" ucap Vano masih menangis.
Hingga tiba dirumah, Vano segera turun dari mobil Rasya. Dia berlari memeluk Tasya.
"Mami ayo pulang Mi.. Aku gak mau disini lagi" rengek Vano
"Kenapa? Kok Abang datang-datang langsung minta pulang."
"Pokoknya Abang mau pulang sama Papi. Gak mau tinggal disini" Vano menangis.
"Aa kenapa sih?" tanya Tasya hera
"Mm.. Dia rewel Sya. Ngajak pulang terus dirumah Zahra"
"Kamu dari rumah Mama?" Vano mengangguk sambil menangis.
"Aku mau pulang Mi. Aku gak mau disini lagi. Cepetan!" Vano masih menangis
"Kata Papa, Abang rewel. Kok Abang begitu?"
"Abang gak rewel. Papa yang jahat. Papa marah gara-gara Abang bilang Papa yang kangen sama Mama" ucapnya masih terisak
Tasya menahan tawanya.
"A Rasya" Tasya tersenyum hendak meledakan tawanya.
"Diem!" ancam Rasya
"Haha..sudah tahu Vano pinter kebangetan disuruh bohong, mana mau dia" Tasya tertawa
"Ayo Mi pulang" Vano masih merengek.
"Papa minta maaf Bang. Sini sama Papa"
"Enggak! Aku gak suka lagi sama Papa"
"Ayo beli mainan"
"Enggak! Aku mau sama Papi aku"
Tasya mendekat ke arah Rasya seraya memangku Vano.
"Gak sabar yaaaa" goda Tasya seraya terbahak. Dia segera kabur meninggalkan Rasya seraya membawa Vano.
"Duh sakit Bang. Kamu berat banget. Turun ya?" pinta Tasya
Vano patuh, dia masih merengek meminta pulang hingga akhirnya dia tertidur.
***
"Vano gak bangun Sya?" tanya Ibu saat Tasya menidurkan Daffa
"Enggak Bu. Alamat begadang nanti malam ini mah".
"Mudah-mudahan saja bangunnya subuh Sya."
"Iya Bu. Aku pindahin dulu Daffa Bu" ucap Tasya
Tasya mengambil ponselnya setelah menaruh Daffa dikasurnya.
"Gimana gak suudzon, sampai jam segini gak ada telepon, gak ada pesan juga." gerutu Tasya saat melihat ponselnya.
Tok.. Tok.. Tok..
Tasya membuka pintu kamarnya.
"Loh Papi?"
.
.
.
Teemaansss yuukk bantu like dan komentar.
Jangan lupa vote juga yaaa. Terima kasih^^
__ADS_1