BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Pelipur Lara Reza


__ADS_3

Tasya menunggu Reza dengan cemas. Dia tidak berani bercerita pada Pak Danu, apa yang mereka alami saat ini.


Tak berapa lama, suara mobil masuk di pekarangan rumah mereka. Taysa menyambut sang suami di depan pintu. Reza memberikan senyuman pada Tasya. Tersirat kekacauan dalam wajahnya.


"Capek sayang?" tanya Tasya menghiburnya


"Sedikit" ucapnya seraya masuk ke dalam kamar.


Tasya membantu Reza melepas kancing kemejanya satu persatu.


"Aa sudah makan?" tanya Tasya


"Nanti saja" ucapnya


"Ya sudah mandi dulu biar segar sayang" ucap Tasya


Reza patuh. Dia berjalan gontai masuk ke kamar mandi. Tasya menyiapkan kaos dan celana pendek milik Reza kemudian keluar kamar membawa makan untuk suaminya.


Setelah beberapa lama, Reza keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah. Tasya membantu Reza mengeringkan rambutnya. Reza hanya pasrah menurut pada sang istri.


"Makan dulu sayang" ucap Tasya


"Nanti saja"


"Buka mulutnya, biar aku suapi" Tasya berdiri dihadapnnya.


Reza membuka mulutnya. Entah apa yang dipikirkan suaminya, dia tidak bisa menebak. Baginya, perhatian dan kehadiran dirinya lah yang harus dia utamakan.


Reza telah menghabiskan makannya. Dia masih duduk sambil diam seribu bahasa. Tasya duduk dipangkuannya.


"Hari ini papi belum pegang dedek ya" ucap Tasya


Reza tersenyum. Dia memegang perut istrinya. Sementara Tasya melingkarkan tangannya di pundak sang suami


"Sya, Aa harus bagaimana lagi?" ucapnya putus asa.


"A, satu hal yang selalu aku percaya dalam hidup. Kadang kita harus seperti anak panah A, mundur beberapa langkah untuk melesat jauh ke sasaran. Mari buktikan ke mereka, kita juga mampu tanpa mereka" ucap Tasya


Reza melihat istrinya tanpa berkata apapun.


"Tenang saja, semua ada jalannya. Aa nanti bicara sama Papa. Urusan dengan Ayah, biar aku yang bicara" ucap Tasya


"Jangan campur adukan bisnis dan keluarga Sya" ucapnya


"Tidak. Aku akan berbicara sebagai wakil kamu sayang"


"Aa saja nanti yang bicara sama ayah" ucapnya


"Aa mau coba masukkan proposal ke warteg yang banyak cabang itu?" tanya Tasya


"Aa juga berpikir kesana, tapi.. "


"Untuk memulai tidak ada tapi A. Lakukan saja dulu, hasilnya menyusul. Sekalipun mereka tidak butuh sayuran grade A, malah kita lebih diuntungkan kedepannya kita tidak perlu memperlakukan sayuran seistimewa seperti ke supermarket itu." ucap Tasya

__ADS_1


"Kenapa? Kita rugi Sya kalau jual kualitas bagus dengan harga murah" ucap Reza


"Balik modal saja dulu. Jangan bicara keuntungan. Tumbuhkan saja dulu kepercayaan mereka. Baru kedepannya kasih sayur sesuai kebutuhan mereka. Anggap saja Aa sedang promosi. Tapi jelaskan juga pada mereka, jangan sampai mereka salah paham." ucap Tasya


Reza menimang apa yang dikatakan istrinya. Memang tidak ada yang patut dibantah perkataan istrinya tersebut.


"Besok Aa coba hubungi warteg itu" ucapnya


"Aku juga mau coba jual online. Siapa tahu banyak peminatnya. Kita bongkar barang gak. masalah. Yang penting barang kebuang saja dulu." ucap Tasya semangat


Reza diam tak menyahutnya.


"Sekarang istirahat saja dulu sayang." ajak Tasya


Reza membenamkan wajahnya di dada sang istri. Kali ini sang istri memberikan kenyamanan kepada dirinya. Tasya mengecup kepala suaminya berulang kali.


"Sabar sayang" ucapnya sambil mengecup kepala sang suami.


Reza mendongak. Dikecup kening suaminya. Keduanya tersenyum.


"Love you papi kesayangan mami sama dedek" ucap Tasya lembut. Reza tersenyum. Di dalam dekapan tubuh istrinya.


***


Sebelum subuh, Reza sudah siap-siap hendak berangkat ke gudang untuk memberikan briefing. Dia tidak berani untuk membangunkan istrinya. Segera Reza menulis pesan pada ponselnya agar sang istri membacanya.


Sesampainya disana, Pak Bambang sudah terlebih dahulu tiba. Reza menceritakan semuanya pada Pak Bambang, dia nampak sangat kaget mendengarnya.


"Iya. Dia lancang sekali Pak. Tapi mau bagaimana lagi. Sekarang saya harus kerja lebih keras lagi." ucapnya


***


Tasya tiba di kantor mereka dengan membawa bekal ditangannya. Tasya masuk kedalam gudang, disana Reza nampak sibuk mengatur sayuran.


"A Reza" Tasya berteriak memanggilnya


Reza menoleh kemudiam mendekat ke arahnya.


"Sini, sarapan dulu" ucapnya


"Maaf, Aa tadi gak pamit" Reza takut


"Kenapa minta maaf sayang, Aa kan kerja bukan selingkuh. Aku gak masalah" ucap Tasya enteng. Dia sekarang harus banyak mengalah.


Mereka masuk ke dalam ruangan Reza. Tasya membuka kotak bekal, kemudian menyuapi Reza makan.


"Aa nanti mau ke warteg Sya. Doakan ya" ucapnya disela-sela mengunyah makanan.


"Iya Sayang. Aku sama Lala mau coba jual di online." ucapnya


"Iya, Aa serahkan sama kamu untuk hal itu." balasnya


Setelah makan selesai, Reza menarik Tasya duduk di pangkuannya.

__ADS_1


"Terima kasih sayang. Aa merasa tak sendirian sekarang" dia memeluk erat sang istri.


"Gak perlu terima kasih. Tugasku mendampingi Aa dalam keadaan apapun. Kata ibu, sekalipun suamimu masuk ke lubang tikus, kamu harus berada disampingnya" Tasya menirukan ucapan ibu.


"Untuk apa Aa masuk ke lubang tikus?" tanyanya


"Barangkali Aa mencari kepala ikan asin milik Aa yang dicuri tikus itu" jawab Tasya riang.


"Dasar gadis hamilku" Reza mengecup lembut bibir sang istri


"Sekalipun yang kita miliki sirna, ingatlah, dunia masih tetap berputar. Kita masih harus mengejar. Bukan meratapi" ucap Tasya menyemangati


"Baik Ibu Negara. Sekalipun negara api menyerang. Mari kita lapor pemadam kebakaran" Reza sedikit mencair


"Dasar" Tasya tertawa


"Aa, sudah mandi belum? Kok bau keringat" Tasya mengendusnya


"Ya Tuhan, radar kamu kuat sekali dek" Reza tertawa


"Aa ikh jorok" Tasya turun daei pangkuannya


"Habis tadi airnya marah sama Aa sayang. Tiba-tiba saya dia berubah menjadi dingin seolah tak mau disentuh" Reza membela diri


"Mandi ih. Hueekk.. " Tasya mual


"Astaghfirullah.. Kenapa anakku begitu tega sama papinya sih. Papi bau dikit saja dia langsung protes" Reza menjauh dari Tasya


"Aa pulang dulu kalau begitu. Mau mandi, bicara sama Papa, terus siap-siap menghubungi warteg itu" ucapnya


"Iya. Semangat sayang." Tasya mengepalkan tangannya ke atas


Reza tersenyum. Dia hendak pamit, mendekat ke istrinya.


"Huueek..huuekk.." Tasya mual saat Reza hendak mengecupnya.


"Astaghfirullah.. Dek..iya iya Papi pulang. Ah jadi gak dapat jatah sun kan dari Mami. Kamu protes terus" ucapnya sambil berjongkok.


"Sana ah. Cepat pulang" Tasya mengusirnya


"Teganya Mami" Reza memelas.


Dia membuka daun pintu kemudian keluar ruangan. Tak lama dia kembali lagi.


"Ada yang ketinggalan?" tanya Tasya


"Hatiku sayang. Titip ya" ucapnya riang.


"A Reza ih" Tasya tertawa


"I love you Mami dan Dedek. Papi pulang dulu ya. Jangan nakal" ucapnya diambang pintu


"Iya.. Iya.. Cepat sana. Nanti Dedek protes lagi" ujar Tasya

__ADS_1


__ADS_2