BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Rencana Persalinan


__ADS_3

"Vano kenapa Mbak?" tanya Tasya


"Vano badannya hangat Bu. Dia juga nyari Ibu" ucapnya


Reza membuka matanya karena mendengarkan percakapan mereka sambil menatap istrinya.


"Aku pulang ya Mbak. Tunggu ya. Assalamu'alaikum." Tasya menutup teleponnya.


"Besok sekalian saja ajak dia berobat Mam" pinta Reza.


"Mudah-mudahan sembuh, Pap. Papi sih malah minta lagi, jadi lama kan kita" gerutu Tasya sambil memungut bajunya


"Nanti Papi yang sakit kalau Papi nahan terus sayang. Lagiphla sayang banget kan kita cuma nempati hotel ceuma sebentar." ucap Reza yang ikutan mengambil pakaiannya.


"Duh, mana Mami belum mandi." Taysa memakai bajunya


"Nanti dirumah kan bisa Mam. Kita barengan" ajak Reza


"Ih dasar" Tasya kini sudah rapi begitupun dengan Reza.


"Love you Mami, terima kasih atas segalanya" ucap Reza seraya mendekat kemudian mengecup bibir istrinya


"Love you too, sayangku" Tasya menangkup wajah suaminya. Dia juga mengecup bibir Reza. Keduanya tersenyum.


Reza menggandeng Tasya keluar dari Hotel.


"Pelan sedikit Pap jalannya. Sakit nih" ucapnya.


"Maaf. Maaf." Reza menyeimbangkan jalannya.


"Ada yang mau dibeli sayang, sebelum pulang?" tanya Reza


"Apa ya? Gak ada kayaknya. Kita pulang saja" ajak Tasya


Reza fokus menyetir sementara Tasya sedikit resah memikirkan sang anak.


***


"Maam" ucap Vano sambil menangis. Dia merentangkan tangannya.


"Ini Mami sayang. Sini sini Nak" Tasya ikut merentangkan tangannya.


"Mam, sini Papi saja yang gendong Vano" ucapnya seraya mengambil alih Vano dari tangan Mbak Diah.


"Maaf ya Bang, Mami tadi ikut Papi meeting dulu." ucap Reza sambil menggendong Vano dan menciuminya


Reza membawa Vano ke halaman belakang. Sementara Tasya segera mandi dan berganti pakaian.


"Vano sudah minum obat Mbak?" tanya Tasya yang sudah segar dengan rambutnya yang basah.


"Tadi gak mau Bu." ucap Mbak Diah


"Makan mau?" tanyanya


"Sedikit Bu"


"Gak apa-apa. Asal ada makanan masuk saja" ucap Tasya


"Aku kasih dulu dia obat deh" Tasya mengambil obat milik Vano


Tasya menghampiri Vano dengan membawa obat ditangannya. Vano bermain dengan Reza sambil melihat kelinci peliharaannya.


"Kasih obat dulu sayang" ucap Tasya pada Reza


Keduanya membujuk Vano untuk meminum obatnya. Hingga akhirnya mereka sedikit memaksa Vano.


"Vano! Kok disembur ke Papi sih!" Reza membentak Vano. Sebagian kemejanya terkena noda sirup berwarna merah.


"Papi! Apa sih marahin anak! Wajarlah namanya juga anak-anak" Tasya balik membentak Reza


"Ya kan Mam, kemeja Papi jadi kena obat nih" ucapnya tak terima


"Ya terus kenapa? Bukan Papi juga yang nyuci. Segitu doang sampai bentak anak." Tasya ketus


"Sini Van! Gak usah sama Papi" Tasya merebut Vano dari Reza


'Mam, jangan gendong. Dia berat Mam!" Reza meninggikan suaranya, namun Tasya sama sekali tak menghiraukannya.


Tasya sedikit membanting pintu Vano kemudian menguncinya. Sementara Reza masuk ke dalam kamar mereka.


"Kamu jangan mau digendong Papi lagi ya Bang. Sebel banget Papi marahin kamu cuma gara-gara obatnya ke kemeja Papi." Kesal Tasya


Vano hanya melongo melihat Ibunya bicara sendiri. Tasya menemani Vano bermain hingga Vano terlelap karena pengaruh obat tidur dalam kandungan obat tersebut.


"Mam.. " suara ketukan pintu dari luar


Tasya terbangun mendengar suara ketukan pintu.


"Mami.." Reza terus memanggilnya sementara Tasya tak menghiraukannya.


"Biarin saja dia sendirian." ucap Tasya hingga tak ada kagi suara ketukan dari Reza.


Setelah beberapa lama, Tasya merasa ingin buang air kecil, mau tak mau, dia harus keluar kamar.


"Vano masih tidur Bu?" tanya Mbak Diah


"Iya Mbak. Masih tidur. Aku juga tadi malah ikutan tidur. Sebentar ya Mbak, kebelet" ucap Tasya seraya berjalan menuju toilet.


Keluar dari kamar mandi, Tasya melihat Reza membawa plastik.


"Sayang, Papi beli cilok buat Mami" ucap Reza


'Sogokannya cilok' batin Tasya yang sedikit tergoda.


Tasya segera masuk ke kamarnya. Sementara Reza masih di dapur menuangkan cilok dalam mangkok.


"Ini ciloknya Mam" ucap Reza saat masuk kedalam kamar.


Taysa masih diam


"Maaf Mam. Gak maksud marahin Vano. Papi kaget saja saat dia menyemburkan obatnya" ucap Reza


"Aku gak suka ya, Papi marah gara-gara hal sepele begitu" ucap Tasya


"Tahu gak, sakit hati aku, Papi marahin dia" ucapnya kemudian


"Iya maaf. Papi juga gak sadar sudah bentak Vano" ucapnya


"Aku gak suka tahu, anak aku dibentak-bentak" ucap Tasya


"Iya. Vano juga anak Papi, Mam" Reza mengingatkan


"Ya tapi kenapa tadi Papi bentak dia. Sebel tahu. Sakit hati dengernya" ucap Tasya


"Iya maaf sayang"


"Papi mah lebih sayang kemeja daripada anak sendiri. Gara-gara gitu saja sampai bentak anak segitunya" Tasya masih tak henti.

__ADS_1


"Iya Mami. Kan Papi dari tadi juga minta maaf. Papi juga nyesel Mam" ucapnya dengan nada kesal.


Tasya mengambil air putih dan meneguknya. Dia mengatur emosinya.


"Makan dulu Mam" ucap Reza


Reza memotong cilok tersebut dan menyodorkan ke mulut Tasya.


"Ayo.. Papi sengaja beli ini buat Mami" ucapnya


Tasya menerima suapan darinya. Reza pun menyuapi dirinya sendiri. Dia ikut menikmati cilok yang dibelinya.


'Ada direktur makan cilok? Suamiku doang kayaknya' batin Tasya. Tak sadar dia menyunggingkan senyumnya.


"Kenapa sih Mam senyum sendiri?" tanya Reza


"Enggak." jawabnya singkat


"Inget yang tadi ya sayang" Reza menggodanya.


"Bukan. Papi mah kesana terus mikirnya" gerutu Tasya


"Terus kenapa sih sayang?" tanyanya


"Gak apa-apa"


"Tuh kan, gak mau jujur" Reza cemberut


"Aku ingin ketawa saja, ada direktur yang suka makan cilok? Kayaknya Papi doang" ucap Tasya


"Karena mereka belum tahu enaknya makan yang kenyal-kenyal kayak.. " Reza melirik milik Taysa


"sembarangan!" ketus Tasya membuat Reza tertawa seketika.


Suara tangis Vano mendekati kamar mereka. Reza segera membuka pintu kemudian mengambil Vano dari Mbak Diah.


"Abang kok rewel sih Bang, biasanya gak rewel kalau sakit" ucap Reza


"Manja Papi. Kalau nanti kan terbagi kasih sayangnya. Makanya Papi harus sering manjain Vano" ucap Tasya


"Papi manjain terus lah. Vano minta apa juga Papi beliin. Iya kan Bang" ucap Reza


"Vano minta Papa baru katanya Pap" canda Tasya yang membuat Reza menatapnya tajam.


"Wah, Mami doain Papi meninggal kalau kayak begitu" ucap Reza


"Naudzubillahi mindzalik. Aku gak mau jadi janda muda" ucap Tasya


"Habis Mami bilangnya begitu" ucap Reza


"Enggak sayang. Maksudnya kan bukan kesana Pap" Taysa memeluk Reza yang sedang menggendong Vano.


"Gak kebayang, Mami harus kehilangan kalian. Nyawaku, hidupku, segalanya bagiku" ucap Tasya yang membuat Reza tersenyum lebar.


"Makanya jangan bicara sembarangan." ucap Reza.


"Iya. Maafkan aku suamiku" ucap Tasya lembut


***


Pagi-pagi Tasya sudah bersiap untuk mengecek kandungannya. Begitupun Reza, dia telah memakai setelan kerjanya seperti biasa. Reza berniat mengantar Tasya dan Vano berobat.


"Baru semalam Papi, sakitnya juga." ucap Tasya


"Daripada terlambat sayang. Mending dari sekarang" ucap Reza


"Ya sudah terserah Papi saja" ucapnya


"Papi, harusnya buka dulu blazernya tadi tuh" ucap Tasya


"Memangnya kenapa?" tanya Reza


"Orang-orang pada merhatiin." ucap Tasya sedikit cemburu


"Ya gak apa-apa. Papi hot daddy kan. Nganter istri lagi hamil sambil gendong anak. Papi jadi idaman tuh pasti." ucap Reza


"Bangga" kesal Tasya


"Memang Mami gak bangga?" tanya Reza


"Enggaklah. Gak suka Papi jadi perhatian orang" ketusnya.


"Idih, Mami cemburu Van" ucap Reza senang.


Tasya masuk kedalam ruangan setelah namanya dipanggil.


"Sudah bisa dikeluarkan ini Dedeknya Bu" ucap dokter Felly.


"Sudah siapkan tanggal?" tanya Dokter


"Belum mikir kesana Dok, Vano demam. Kalau setelah Vano sehat. Bagaimana Dok?" tanya Reza


"Boleh saja Pak. Nanti bisa hubungi saya atau pihak RS saja ya kapan mau caesarnya." ucap Dokter tersebut.


"Tapi Dok, saya bisa menyusui nanti?" tanya Tasya


"Tentu saja Bu, nanti kita lakukan Inisiasi Menyusui Dini atau biasa disebut IMD. Jadi ibu bisa mengasihi."


"Kalau dulu kendalanya karena ibu mengonsumsi obat, nah untuk sekarang ibu bisa memberikan asi" ucap dokter yang membuat Tasya bersemangat.


Setelah berbincang lama, mereka segera keluar ruangan menuju poli anak.


"Papi, aku kok jadi takut ya" ucap Tasya.


"Gak apa-apa sayang. Mami emang gak penasaran lihat si ganteng?" tanya Reza seraya menggandeng Tasya.


"Pengen tapi.. " Tasya nampak sangat resah


"Ssstt.. InsyaAllah gak apa-apa sayang" ucap Reza seraya berjalan menuju ke poli anak.


Tiba dipoli anak, disana sudah ramai. Namun kehadiran mereka sedikit menyita perhatian.


"Mbak, perasaan mereka merhatiin kita ya Mbak?" tanya Tasya pada Mbak Diah


"Saya kira, saya saja bu yang berpikir demikian" ucap Mbak Diah


"Saya aneh gak sih Mbak?" tanya Tasya


"Enggak Bu." ucap Mbak Diah


Vano mengajak Reza bermain di playground mini di depan poli anak. Dengan terpaksa Reza mengikuti kemauan sang anak. Beberapa Ibu-Ibu memperhatikan Reza.


'Oh, ternyata si Papi yang nyita perhatian mereka' batinnya


Lama menunggu membuat Reza lelah mengikuti Vano kesana kemari bermain dengan anak lainnya. Dia membawa Vano duduk, namun Vano meronta minta kembali bermain.


"Mbak tolong deh, lumayan juga nih" keluh Reza

__ADS_1


Mbak Diah kini menuruti permintaan Vano, berjalan menuju playground mini.


"Elvano" suster memanggil dari balik pintu


"Yah, si Mbak beruntung nih. Baru jalan sudah dipanggil" ucap Reza. Tasya tertawa mendengarnya.


***


Reza mengantarkan mereka sampai di halaman rumah tanpa turun dari mobilnya. Dia segera berangkat menuju kantornya karena dirasa sudah sangat terlambat. Setibanya dikantor, Adit mengikuti Reza.


"Pak Reza, anak magang.. " ucap Adit melirik ketiga gadis dibelakang Adit.


"Suruh masuk saja ke ruangan. Sama kamu juga, Dit" ucapnya


Reza masuk ke ruangannya diikuti oleh Adit dan anak magang.


"Gimana?" tanya Reza


"Ini surat dari kampusnya Pak" ucap Adit.


Reza kemudian membacanya dengan seksama. Ketiga gadis tersebut saling sikut melihat Reza.


"Aku sih Oke, cuma untuk selanjutnya ikuti arahan Pak Adit saja ya. Saya kemungkinan cuti beberapa hari ini." ucap Reza


"Loh, Za?" Adit nampak kaget


"Istri saya mau lahiran Dit" ucap Reza singkat dan dengan sengaja.


"Ini saya tandatangani langsung ya. Nanti selanjutnya ikuti Pak Adit atau kamu serahkan pada Rosa saja, Dit?" tanya Reza


"Siap Pak. Nanti biar Rosa yang mengarahkan mereka" ucap Adit


"Ada yang mau ditanyakan Adek-Adek?" tanya Reza menatap mereka satu persatu


"Mm.. Berapa lama cutinya Pak?" ceplos salah satu wanita berambut panjang dengan kemeja putih yang memperlihatkan lekuk tubuhnya.


"Hah?" Reza dan Adit sedikit heran


"Ya, takutnya kita membutuhkan bantuan dari Bapak" jawabnya.


Reza tersenyum.


"Saya kurang tahu berapa lama, kalau kalian butuh apa-apa, hubungi Pak Adit saja. Jelas ya?" ucap Reza


Reza mulai menandatangani surat tersebut kemudian memberikannya kembali. Ketiga gadis tersebut pamit meninggalkan ruangan Reza.


"Pak Adit, bisa minta nomor Pak Reza?" tanya wanita tadi.


"Maaf tidak bisa. Pak Reza tidak suka nomornya dihubungi oleh sembarang orang." ucap Adit.


"Pantesan yang kemarin dia kasih, malah nomor Pak Adit." gerutunya membuat Adit sedikit tersenyum.


Adit masuk kembali keruangan Reza setelah kepergian mereka.


"Kamu, urusan begini saja masa dilimpahkan ke aku, Dit! Buat apa ada HRD? Gila kamu!" Reza murka


"Maaf Bos, mereka lolos. Mereka bilang kenalanmu makanya HRD percaya sama mereka." ucap Adit


"Awasi saja mereka Dit! Aku gak mau mereka membuat onar. Dari gerak geriknya saja sudah beda!" ucap Reza tegas.


"Siap Bos."


"Tapi, berapa lama cuti Za?" tanyanya kemudian


"Belum tahu, Vano demam. Istriku gak mau caesar sekarang kalau anaknya belum pulih" ucap Reza


"Nanti kalau sudah dapat tanggalan baru aku kabari" ucap Reza


"Tanggalan apa?" tanya Adit heran


"Tanggalan lahiran lah. Kan istriku harus caesar." terang Reza


Adit hanya mengangguk.


***


Sore hari, Reza telah tiba dirumahnya.


"Loh Papi? Kok sudah pulang lagi?" tanya Tasya heran.


"Kepikiran Mami sama Vano. Dikantor juga mau ngapain lagi, untung gak ada kerjaan" ucapnya


"Tahu gitu gak usah ke kantor saja tadi Pap" ucap Tasya.


Reza mendengarkan istrinya seraya melepas kancing kemejanya satu persatu.


"Mami sudah lihat tanggalan?" tanya Reza


"Belum sempat Pap. Aku bingung, takut juga. Mana Vano juga sakit" ucap Tasya


"Berasa beban banget tau Pap" wajahnya terlihat sendu. Dia duduk dibibir kasur


Reza berjongkok dihadapnnya.


"Sayang, rileks yuk. Mami pasti bisa, Mam. Jangan takut." ucap Reza


"Ngomong mah gampang, prakteknya susah" ucap Tasya


"Ya Mami hilangkan pikiran negatifnya." ucap Reza


"Gak bisa Pap, apalagi kalau ingat resikonya itu.. " ucap Tasya menggantung.


" Sayang, percaya deh. Rata-rata yang ngelahirin kayak Mami selamat kan? Jangan takut" Reza mencoba menenangkan.


"Aku masih takut. Kalau bisa ngelahirin kayak bersin 'Hachim' langsung keluar gitu. Gak akan takut kayaknya" ucap Tasya


Reza terbahak mendengarnya.


"Ini yang takut malah ngelawak" ucap Reza masih dengan tawanya.


"Ini lihat tanggalnya dulu. Ada yang cocok gak?" tanya Reza. Dia membuka ponselnya. Melihat tanggalan yang pas untuk kelahiran anaknya.


"Papi, nama?" tanya Tasya


"Nama apa?" Reza balik bertanya


"Papi sudah siapkan nama belum buat Dedek?" tanya Tasya


"Ya ampun sayang, kenapa kita bisa lupa?" Reza menepuk jidatnya.


.


.


.


Nah loh mereka sampai lupa siapkan nama untuk anaknya. Hayoo Readers mau sumbang nama. Hahaa

__ADS_1


Bantu like, komentar dan votenya saja yaaaa


Terima kasih ^^


__ADS_2