
Reza turun dari mobil barunya. Derap langkah kaki lelaki bersepatu pantofel mengkilat itu, menyita perhatian semua orang yang telah menunggunya sejak tadi.
Semua mata tertuju pada lelaki jangkung berperawakan tegap dengan wajah diatas rata-rata itu membuat sebagian lelaki yang hadir disana iri dengan ketampanannya, tak sedikit juga yang ingin meniru gaya dari lelaki calon ayah tiga anak itu.
Seluruh karyawati menikmati pemandangan segar yang melintasi mereka menuju podium saat hendak memberikan sambutan sebagaimana yang dituturkan oleh MC.
Balutan kemeja batik pilihan istri tercintanya membuatnya lebih percaya diri berdiri tegap diatas sana, menatap seluruh karyawan, karyawati serta tamu undangan penting lainnya.
Nama Reza Ramadhan sendiri, kini tengah diperbincangkan karena menjadi salah satu orang berpengaruh di wilayah mereka dalam pemberdayaan sumber daya manusia di wilayahnya.
Bagaimana tidak? Setelah jatuh bangun mengarungi dunia persayuran, dalam kurun waktu kurang dari satu tahun pasca kecelakaan istrinya, dia berhasil merekrut seratus orang lebih untuk bekerja di perusahaan yang ia pimpin.
Setelah memberikan sambutan, Pak Danu didampingi Reza serta pejabat daerah membunyikan sirine secara bersama-sama sebagai simbolisasi peresmian PT Petani Maju.
Senyum merekah dari pasangan ayah dan anak itu terpampang saat mereka saling memeluk satu sama lain membuat semua orang yang ada disana bertepuk tangan.
Setelah usai, Reza menyalami satu persatu para tamu kehormatan serta bertukar cerita dengan masih mengembangkan senyumnya. Seperti biasa, seluruh rangkaian acara berakhir dengan acara ramah tamah.
***
Acara telah berakhir, Reza masuk ke dalam ruangannya. Disana sang ayah sedang duduk sambil memainkan ponselnya.
"Pa.."
Pak Danu berdiri menghampirinya. Memeluk sang anak dengan erat, menyalurkan kasih sayang dan kebanggaannya disana. Tak terasa matanya memerah, sebulir air bening menetes dari mata lelaki tua itu. Lama dia memeluk putra kesayangannya dengan erat.
"Terima kasih nak" ucapnya seraya mengusap sudut mata dengan punggung tangannya.
"Aku yang terima kasih Pa. Terima kasih sudah membawaku ke titik ini." ucap Reza tak kalah haru melihat panutannya menitikan air mata.
"Kalau seperti ini, Papa sudah gak mengkhawatirkanmu lagi. Kamu sudah jauh lebih maju dari Papa." ucapnya
"Papa bicara apa, aku masih kurang dalam banyak hal, Pa." ucapnya
Pak Danu duduk sementara Reza menuangkan air untuk ayah tercintanya. Tak berapa lama, suara ketukan terdengar dari balik pintu.
"Masuk" ujar Reza
Seorang lelaki sepantaran Reza masuk ke dalam ruangan. Pak Danu segera berdiri. Reza merangkulnya seraya mengucapkan terima kasih. Begitupun dengan Pak Danu.
Adit yang tak menduga dengan adegan tersebut tiba-tiba saja meneteskan air matanya.
"Selama saya bekerja, saya merasa sangat dihargai disini." ucap Adit pada Pak Danu dengan rasa haru
"Terima kasih Nak, kamu sudah banyak membantu Reza." ujarnya.
"Saya yang seharusnya berterima kasih Pak. Saya dirangkul disini. Saya merasa diperlakukan sebagai keluarga disini." ucap Adit.
"Mainlah kerumah, ajak anak istrimu kesana" ujar Pak Danu.
"Baik Pak. Nanti saya main kesana." ucap Adit
Mereka berbincang disana dengan hangat.
***
"Papi kok belum ngasih kabar." gumam Tasya seraya melirik jam yang menempel di dinding kamarnya.
Tasya menunggu kabar dari suaminya. Dia sangat penasaran bagaimana proses peresmian PT-nya berlangsung.
Tasya tak kehabisan akal, dia segera menelepon Lala.
"Assalamualaikum La." ucapnya saat Lala menerima panggilan teleponnya
"Waalaikumsalam Buuu.. Cieee ibu direktur meneleponku rasanya deg-degan banget" goda Lala seraya tertawa
"Haha.. Apa sih Lala, Eh gimana La acaranya sudah beres?" tanya Tasya
"Sudah Bu. Ya ampuuunn Pak Rezaaa, buuuu ganteengg luar biasaaa. Begitu naik panggung Bu.. Aduh bikin meleleh" ucap Lala
"Ih kamu malah bahas A Reza, itu acaranya gimana La? Lancar enggak?" tanya Tasya tak sabar
"Lancar ibu. Keren deh kolaborasi antara Pak Dan sama Papi mertuaku"
"Deuuh Neng Lala dasar. Alhamdulillah kalau lancar La."
"Masih dikantor sekarang?"
"Iya Bu. Tapi sebentar lagi pulang bu." ucapnya
"Eh, aku punya foto Papi mertua buat Mami mertuaku." ucap Lala
"Nanti aku kirim ya Bu. Tadi lupa. Hehe"
"Duh penasaran seganteng apa sih suamiku tercinta Laa."
"Idih si Mami penasaran juga. haha.."
"Auranya itu loh Bu.. Eeeggghhh.. Jadi ingin nikung."
"Hus kamu itu sembarangan kalau bicara."
"Hehe maaf-maaf Mami mertua."
"Eh, pangeranku sudah sehat Bu?" tanya Lala
"Alhamdulillah sudah mendingan La. Tuh lagi main sama Mbak Diah."
"Duh alhamdulillah deh pangeranku jangan sakit lagi yaa.. Nanti akunya sedih" ucap Lala seraya tertawa.
"Ya sudah deh La, nanti aku sambung lagi ya. Ni si jagoan nangis. Assalamualaikum" ucap Tasya
"Waalaikumsalam bu. Salam buat pangeranku ya Buu..."
Tasya mematikan sambungan teleponnya. Dia tersenyum mendengar ucapan Lala barusan.
Tasya segera keluar kamar.
"Mami disini sayang." ucapnya seraya menghampiri Vano yang sedang menangis di gendongan Bi Tinah.
"Berat Bi, jangan gendong Vano." ucap Tasya
"Gak apa-apa. Cuma sebentar kok." ucap Bi Tinah.
"Vano mau sama Mami? Huum.. " Tasya mengambil Vano.
" Mandi yuk? Biar Papi pulang, Vano sudah wangi." ucap Tasya
"Saya siapkan airnya Bu." ucap Mbak Diah menghampiri mereka.
"Yuk Mbak" ajak Tasya.
"Abang bau acem ya.. Tapi acemnya nagih begini" Tasya menghirup aroma tubuh anaknya seraya masuk ke dalam kamar diikuti oleh Mbak Diah.
Mbak Diah segera menyiapkan air untuk mandi Vano sementara Tasya membuka baju anaknya.
"Mandi ya sayang sama Mbak Diah." ucapnya seraya memberikan Vano pada pengasuhnya.
__ADS_1
Tasya menyiapkan baju Vano kemudian menunggunya.
Tak lama terdengar suara ketukan pintu kamar.
"Iya Bi.. " Tasya membuka pintunya, satu bucket bunga mawar merah dikelilingi oleh mawar putih menutupi wajah lelaki yang dia nanti.
"Papi.." pekiknya senang. Dia berhambur memeluk suaminya bertepatan dengan Mbak Diah yang keluar dari kamar mandi.
"Suka?"
"Banget sayang."
"Eh Abang habis mandi?" tanya Reza yang membuat Tasya segera melepaskan pelukannya.
"Hehe.. Aku jadi lupa ada Mbak Diah. Maaf ya Mbak."
Mbak Diah tersenyum kikuk melihat mereka. Dia merasa malu sendiri.
"Biar aku yang urus Vano Mbak." ucap Tasya
"Iya Bu."
"Vano sama Mami Papi ya.. Mbaknya keluar dulu. Dadaah" ucap Mbak Diah pada Vano.
"Terima kasih Mbak." ucapnya kemudian saat Mbak Diah keluar kamar.
Reza menutup pintu kamarnya. Tasya kembali berhambur memeluk Reza seraya menciumnya penuh gairah.
"Anaknya belum dibajuin sayang." ucap Reza
"Hehe.. Iya lupa. Habis Papi so sweet banget." ucapnya
"Orang itu disiapin dari kantor buat Papi pas tadi peresmian." Reza tertawa
"ih Papi mah! Kirain Papi sengaja beli buat aku." ucap Tasya yang ikut tertawa merasa ditipu oleh suaminya.
"Abang, jahat banget Papinya Bang." ucap Tasya seraya mengeringkan tubuh anaknya
"Papi menang banyak Bang. Dipeluk, dicium juga." ucapnya masih tertawa
"Dasar!" Tasya melempar handuk Vano pada Reza.
"Ini deh buat Mami." Reza mengeluarkan cokelat dari saku belakang celananya.
"Ih di kentutin enggak?" tanya Tasya yang sibuk memakaikan baju pada Vano
Reza tertawa mendengar ucapan Tasya.
"Enggak sayang. Ya kalau ada aroma tak sedap berarti kentutnya gak kerasa."
"Dasar si Papi mah! Kirain bakal so sweet gitu. Eh tahunya" Tasya memonyongkan bibirnya.
"Habis Papi tuh pas dapat bunga jadi kapikiran gitu ingin kasih ke Mami"
"Iya bukannya beli eh dapat dikasih juga dari orang lain." Tasya masih manyun
"Haha.. Mami kan yang suka bilang mubadzir. Ya sudah Papi bawa pulang"
Reza hendak membuka bajunya.
"Jangan dibuka" cegah Tasya
"Kenapa?"
"Kita belum foto bareng Pak Direktur." ucap Tasya
"Oh ya ampun" Reza tersenyum
"Vano taruh dulu Mam biar kita berdua." ucap Reza
"Ih jahat bapaknya."
"Sudah banyak kan sayang tadi foto bareng Vano. Sekarang giliran sama istri direktur dong." ucapnya bangga
Taysa segera menaruh Vano dalam box dan memberikannya mainan. Mereka berfoto mesra berdua.
"Love you Mami." ucapnya
"Love you Papi nyebelin" ucap Tasya sementara Reza tertawa.
"Mam, mandi yuk?" ajak Reza
"Aku titip Vano sama Mbak Diah dulu ya." ucap Tasya
Tasya segera membawa Vano keluar.
"Mbak, titip Vano dong, aku mau mandi." ucap Tasya
Dia segera masuk kembali ke kamarnya. Mereka saling melempar senyum. Reza memeluknya mesra. Tasya berjinjit hendak mencium suaminya. Reza menyambutnya. Bibir mereka saling memagut mesra.
"Suamiku hari ini ganteng banget." puji Tasya pelepas ciumannya
"Masa sih? Setiap hari juga ganteng." ucapnya
"Beda loh sayang, apa karena jadi direktur?" usil Tasya
"Dasar Mami." Reza tersenyum
Tasya membuka satu persatu kancing kemeja batik yang dikenakan suaminya. Sementara Reza memeluk pinggang istrinya sambil menatapnya.
"Sukses sayang acaranya?"
"Huum. Alhamdulillah Mam."
"Papi bahagia?"
"Bahagia banget punya istri sholehah dan kerjaan lancar." Reza mengecup lembut bibir Tasya.
Dia mulai membuka daster istrinya. Setelah itu, giliran Tasya membuka celana panjang yang dikenakan Reza.
Kini kulit mereka bersentuhan. Reza mengelus lembut kandungan istrinya yang masih datar.
"Sakit lagi? Tanyanya
"Enggak sayang."
Reza menuntunnya masuk kedalam kamar mandi. Keduanya saling menyabuni, saling membasuh satu sama lain, menyalurkan cinta diantara mereka.
Setelah selesai, mereka pun kompak memakaikan baju satu sama lain seraya berbincang hangat.
Suara telepon mengusik keasyikan mereka.
"Ibu Video Call sayang." ucap Tasya melihat ponselnya.
"Assalamualaikum.." ucap Tasya
"Waalaikumsalam. Mana anakku Sya?" tanya Rasya
__ADS_1
"Ih dasar Aa." Tasya bersungut
"Papi ambil Vano dulu."
"Sya, sehat?" tanya Ibu
"Iya Bu. Alhamdulillah. Ibu ayah sehat?" Tasya bertanya balik
"Iya alhamdulillah. Mana Vano?"
"Lagi di ambil A Reza, Bu. Tadi sama Mbak Diah. Aku beres mandi." ucapnya.
Vano dan Reza datang. Tasya mengarahkan kameranya pada mereka.
"Wah, ada Pak Direktur. Selamat Za. Semoga amanah, semoga jadi pemimpin yang adil dan bijaksana." Ibu mendoakannya.
"Terima kasih ibu, ayah atas doa dan suportnya."
"Lancar tadi?" tanya Ibu
"Alhamdulillah Bu."
Tasya mendudukan Vano diatas kasur. Dia mengarahkan kamera ke arah Vano.
"Kapan kalian kesini?" tanya Ibu
Reza dan Tasya saling tatap.
"Kasih tahu sekarang saja ya Mam." ucap Reza. Tasya mengangguk.
"Nin saja yang kesini ya." ucap Reza
"Mami gak bisa perjalanan jauh Nin, kasihan Dedek Vano takutnya gak kuat." ucap Reza seraya tersenyum
"Loh? Masa Vano gak kuat. Waktu itu kan Vano juga kesini." ucap Ibu
"Bukan Abang Vano Nin, tapi Dedeknya." Reza mempertegas.
"Loh? Za? Tasya hamil lagi?" Ibu nampak kaget
"Hah? Kamu hamil lagi Neng?" Rasya mendekatkan wajahnya ke arah kamera.
"Biasa saja kali reaksinya." ucap Tasya
"Ya Allah, A Reza doyan banget." ucap Rasya membuat Reza tertawa.
"Punya istri cantik, mubadzir kalau dianggurin. Iya gak bu?" Reza tertawa
"Kalian gak bisa pakai cara aman? Kasihan Vano." ucap Ibu sedikit khawatir
"Pakai Bu, cuma gimana dong akunya perkasa. Haha"
"A Reza gak tahu malu!" Taysa mencubitnya.
"Ya sudah, ibu nanti kesana. Jaga kandunganmu Sya. Jangan capek ngurus Vano kan kamu ada yang bantu juga."
"Iya Bu."
"Sudah berapa minggu?" tanya Ibu
"Pokoknya dua bulanan deh Bu. Aku juga gak nyangka bakal cepet begini." ucap Tasya
"Gak apa-apa. Alhamdulillah dikasih cepet, orang lain mau punya anak harus ngeluarin biaya ratusan juta. Kamu tinggal menjaga kandunganmu saja." ucap Ibu
"Anakku bawa sini saja Sya, kamu kan punya satu lagi." ucap Rasya.
"Enak saja! Makanya cepet bikin."
"Ibu gak beliin adonannya. Gimana mau bikin coba?" Tanya Rasya.
"Dasar. Makanya cari calon."
"Mau cari calon gimana? Tiap hari ke kebon terus. Paling ketemu sama brokoli" ucap Rasya
"Ibu, gak jodohin apa gitu bu? Kasihan dia sudah ingin punya anak Bu." ucap Tasya
"Tenang. Aku masih belum setua a Reza." sindir Rasya
"Haha.. Aku tua juga sudah mau 3 ya." timpal Reza yang tak terima
"Ih kalian malah berantem. Mana cucu Nin mana?" ucap Ibu
Tasya kembali mengarahkan ponselnya ke wajah Vano. Ibu dan Rasya nampak antusias melihat bocah kecil yang tak bisa diam itu.
"Ayah mana Bu?" tanya Tasya
"Jangan tanya ayah deh, dia mah lebih seneng di luar dari pada di rumah." ucap Ibu
"Tadi kamu ikut ke perusahaan?"
"Enggak. Kemarin Vano demam. Jadi aku takut demam lagi."
"Duh cucu Nin sakit ya sayang? Mau tumbuh gede tuh." ucap Ibu
"Iya Nin mau pinter jalan kayaknya nih." timpal Reza
Setelah beberapa lama berbincang, akhirnya sambungan telepon pun terputus.
"Papi, Papi nanti susah gak sih kalau mau cuti kerja?" tanya Tasya
"Tergantung. Kalau banyak kerjaan masa iya Papi cuti."
"Kenapa?"
"Gak apa-apa. Rasanya ingin liburan saja. Hehe"
"Liburan?"
"Huum. Seru kayaknya Pap"
"Nanti lah kalau Mami sudah memungkinkan perjalanan jauh." ucap Reza
"Iya tahu. Aku ngerasa bosen saja Pap dirumah."
"Sabar ya sayang" Reza mengecup kening istrinya.
"Papi gak mungkin cuti sekarang-sekarang. Tapi sabtu minggu ayo deh kita ajak Vano main."
"Mudah-mudah sudah pulih betul anaknya."
"Eh, Ibu bukannya mau kesini?" tanya Reza
"Oh iya."
"Gak apa-apa nanti ajak ibu sekalian nyoba mobil baru Mami." Reza tersenyum
"Terima kasih sayang. Baik banget sih suami aku."
__ADS_1
"Iya dong. Papi gitu loh." ucapnya seraya membanggakan diri.
Maaf ya temans, Akhir-akhir ini aku kurang semangat. Bantu semangatin dong dengan vote, like dan komentarnya. Terima kasih^^