
"Aku mual A" ucapnya
"Sana kamu tidur lagi Sya" Rasya merasa tak enak hati
"Iya. Aku duluan ya A. Cepat tidur Aa juga" ucap Tasya
Tasya mengekor Reza yang berjalan dengan kesal.
"Kamu, Aa diamkan berani ya?" ucap Reza dengan nada ketus
"Berani bagaimana?" tanya Tasya
"Malam-malam kelayapan diluar bareng Rasya" ucapnya
"Astaghfirullah. Sadar A. A Rasya kakak kandung aku. Aa kenapa cemburu? Lagipula siapa yang kelayapan. Orang depan televisi!" Tasya jengkel
"Kelewat manja kamu sama Rasya!" Reza emosi
"Dari dulu juga sudah biasa. Kenapa sih? Aa iri?" tanya Tasya
"Suami kamu siapa? Rasya?" Reza semakin emosi
'Astaghfirullah.. Yang waras ngalah' batin Tasya
"Iya Aa. Maaf kalau Aa cemburu gara-gara aku manja sama A Rasya" ucap Tasya sadar akan penyebab kemarahan Reza.
Reza terdiam. Dia mengendalikan emosinya.
"Masih mual?" tanya Reza melunak
"Sedikit" ucap Tasya
"Jangan marah lagi ya sayang?" pinta Tasya
"Iya. Asal kamu manjanya sama Aa saja. Jangan sama Rasya" ucap Reza
"Memang aku manja gimana ke A Rasya? Perasaan aku biasa saja" Tasya tak mengerti
"Apa-apa minta tolong Rasya. Buka kepiting lah, buka wafer lah. Terus Aa cuma buat pajangan kamu saja gitu" Reza kesal
"Ih ya ampun.. Begitu saja cemburu?" Tasya menggelengkan kepalanya
"Apa kabar dengan hati aku yang tiap hari harus menahan cemburu gara-gara si Rosa" ucap Tasya yang membuat Reza tersentak.
"Cemburu kenapa? Aku gak ada rasa sama dia" ucap Reza membela dirinya
"Aku sudah pernah bilang bukan? Batu saja kena tetesan air bisa terkikis. Itu batu loh yang keras. Apalagi hati kamu. Kita bertengkar sedikit, syetan bahagia A. Gak nutup kemungkinan buat kamu khilaf" ucap Tasya sedih
"Terus Aa harus bagaimana? Pecat dia?" tanya Reza kesal
"Gak perlu. Aa kan gak ada rasa. Semoga saja selamanya begitu" ucap Tasya datar
"Kok kamu begitu?" tanya Reza
"Terus aku harus bagaimana? Merengek agar Rosa di pecat? Rasanya aku egois dong kalau begitu" ucap Tasya
"Terus maunya kamu gimana?" tanya Reza
"Ya sewajarnya saja. Aku gak mau Aa larang aku dekat sama A Rasya. Saudara aku cuma A Rasya satu-satunya A." ucap Tasya
"Kalau orang tua sudah gak ada. A Rasya yang jadi sandaran aku A" ucap Tasya menelan berat salivanya.
"Terus kamu jadikan Aa apa?" tanya Reza
"Ya suamilah"
"Suami buat apa?"
__ADS_1
"Buat ini" Tasya menunjuk perutnya seraya menahan tawa
"Itu doang?" Reza masih serius
"Buat bahagiakan aku, menuruti kemauan aku, manjain aku"
"Kan ada Rasya"
'Astaghfirullah.. Makin menjadi dia' batin Tasya
"Hhh.. Sudahlah A. Aku malas debat lagi sama Aa." tasya merangkak naik ke atas tempat tidur. Dia merebahkan tubuhnya yang lelah.
Reza ikut berbaring disampingnya. Sementara Tasya malah bangun kembali. Reza hanya melihat gerak gerik sang istri.
Tasya mengambil minyak angin. Dia mengoleskan pada tubuhnya. Reza yang tak tega bangkit berdiri hendak membantunya.
"Gak perlu." tepis Tasya
"Sini Aa bantu" ucapnya
"Sudah kok" Ucap Tasya.
Tasya membawa minyak angin tersebut di genggamannya. Dia memunggungi Reza sambil menghirup aroma minyak angin tersebut.
Reza mengelus lembut punggung Tasya.
"Aa minta maaf' ucapnya lirih
Tasya diam. Dia menelan rasa sakitnya sendirian
"Sayang.. " Reza memanggilnya sambil melingkarkan tangannya ke perut sang istri dan mengelusnya.
" Dek, jangan nakal ya. Kasihan Mami" ucap Reza
Tasya masih terdiam.
"Maafkan Aa sayang" ucapnya mengecup pundak sang istri yang beraroma minyak angin.
***
"Neng.. " ibu mengetuk pintu kamar Tasya
"Neng.." ucao ibu kemudian
Tasya dan Reza membuka matanya. Tangan Reza masih memeluk istrinya.
"Tasya.. " Ibu mengetuk kembali
"Awas tangannya A" ucap Tasya. Dia segera bangun dan membuka pintu
"Kamu jam segini baru bangun" ucap ibu
"Aku gak bisa tidur Bu" ucap Tasya
"Kenapa? Sakit?" tanya ibu
"Semalam mual sampai muntah. Perut gak enak, si Dedek juga gak bisa diam" ucap Tasya pada ibunya.
"Kenapa? Kamu ada yang dipikirkan sampai gak bisa tidur segala?" tanya ibu
"Enggak apa-apa bu" ucapnya cepat
"Ayo sarapan dulu. Terus istirahat lagi" ajak Ibu
"Aku cuci muka dulu ya Bu" ucapnya
Begitu menutup pintu, Reza telah ada dibelakangnya.
__ADS_1
"Papi.. Bikin kaget saja" ucapnya memegang dadanya.
Reza memeluk tubuh istrinya kemudian mengecup kening sang istri.
'Semalam marah-marah, sekarang tiba-tiba baik' batin Tasya
"love you Papi. Jangan marah-marah terus ya sayang" Tasya mengelus punggung suaminya
Reza hanya tersenyum.
"Sana cuci muka, kamu masih bau naga" protes Reza
"Suruh siapa peluk-peluk" gerutu Tasya berjalan ke arah kamar mandi
Reza menunggu Tasya keluar dari kamar mandi sambil memainkan ponsel.
"Sayang, aku ke kantor hari ini ya, ada kerjaan sedikit. Kamu gak usah ke kantor saja ya" ucap Reza
"Iya." balas Tasya singkat
"Yuk" ajak Tasya melangkah keluar kamar.
Ibu sudah menunggu mereka sambil berbincang asyik dengan Bi Tinah.
"Papa gak dibangunkan Pap?" tanya Tasya
"Sudah berangkat tadi. Katanya mau olahraga" ucap Ibu
"Aa mana bu?" tanya Tasya kemudian. Reza meliriknya. Tasya segera memegang paha suaminya agar tidak marah.
"Aa masih tidur. Dia bedagang sepertinya" ucap Ibu
"Mereka makan bertiga tak banyak bicara."
"Ibu pulang nanti siang sepertinya" ucap Ibu
"Kok mendadak sih bu?" tanya Tasya
"Ayah kasihan gak ada yang ngurus" ucap Ibu
"Besok saja Bu pulangnya" pinta Reza
"Ayah sudah bawel Nak." ucap Ibu
"Aku nanti sama siapa Bu?" ucap Tasya sendu
"Ada suami kamu kan. Nanti juga ibu lebih sering kesini." ucap Ibu
"Ayah juga butuh Aa buat bantuin Ayah." ucap ibu lagi
Tasya terdiam. Tiba-tiba dia merasa sedih.
Setelah selesai makan, Tasya lebih dulu pamit masuk ke dalam kamar. Reza mengekor saat melihat perubahan sikap istrinya.
"Kenapa?" tanya Reza
"Gak apa-apa. Aku cuma merasa sedih saja" ucap Tasya
"Ada Papi Mam. Papi gak jadi ngantor" ucapnya
Tasya terdiam. Dia hanya ingin berada di dekat ibu dan kakaknya. Jauh di benak Tasya sebenarnya dia teramat sangat ingin pulang bersama sang ibu.
'Gak terbayang sekali hidup jauh dari orang tua. Dulu aku pikir, nikah punya anak tetap di rumah ayah. Ternyata berakhir di tempat asing ini' batinnya merasa kesepian. Ditambah dengan sikap Reza yang akhir-akhir ini sangat menyebalkan membuatnya kadang tak betah.
"Mam" Reza memegang lembut tangan Tasya.
"A Reza, aku ingin pulang" ucapnya dengan wajah sendu.
__ADS_1
*** Temans tolong Bantu VOTE yaa.
Jangan lupa like di setiap chapternya. Tinggalkan jejak dengan komentarnya juga. Terimakasih ***