
Reza terdiam. Ucapan Tasya seolah tamparan baginya. Dia tidak menyangka kalau selama ini Tasya benar-benar tidak bahagia dengannya.
"Sya.." di genggam erat tangan Tasya
"Kamu serius?" suara Reza terasa berat
"Kalau iya, bagaimana?" Tasya memancingnya
"Aa sudah terlanjur sayang sama kamu Sya. Aa sudah jatuh cinta sama kamu. Aa gak mau kehilangan kamu. Bukan kah kamu juga hanya ingin menikah satu kali?" Reza serius
Tasya tersenyum senang mendengar semua yang Reza katakan.
"Terima kasih a. Aku senang mendengarnya." ucap Tasya
"Jadi kamu bahagia Sya sama Aa?" tanya Reza
"Mana ada orang yang bahagia dengan pernikahan seperti ini A? Tidak ada yang memimpikan pernikahan seperti ini. Nikah di usia masih muda dengan orang yang tidak aku kenal. Terus aku harus pindah dan hidup bersama orang asing. Dan aku juga harus menghadapi skripsiku. Siapa yang tidak stres a?" Tasya mengeluarkan isi hatinya
"Tapi terima kasih Aa sudah sabar menghadapi aku. Terima kasih juga telah membuka hatiku. Ya walaupun lebih banyak omongan ibu yang terngiang di telingaku A. Hehe"
Reza memeluk Tasya erat.
"Aa minta maaf Sya. Kalau Aa membuatmu stres berlebih sampai kamu begini. Aa minta maaf karena belum bisa membuatmu bahagia" Reza menyesali semua perbuatannya setelah mendengar semua isi hati Tasya.
"Kamu mau pulang ke rumah ibu?" tanya Reza
"Siapa tahu di sana membuatmu lebih rileks" tambahnya lagi
"Enggak A. Kalau aku pulang apa kata orang tua kita" tolak Tasya
"Biar nanti Aa yang jelaskan ke mereka" Reza meyakinkan
"Tidak usah a. Aku disini saja. Lagian aku sudah terbiasa bareng Aa. Kalau jauh kayak waktu itu, aku malah kangen sama Aa" Tasya menolaknya lagi
"Terima kasih Sya. Ayah memang tak salah memilihkan kamu untukku" puji Reza dengan senyumnya
"Apa sih A Reza" tasya malu
"A, masa ini kue cuma d liatin saja dari tadi?" Tasya mencolek krim dari kue nya.
"Sini, biar Aa yang potong" Ucap Reza
***
Seminggu Kemudian
"Sayang, kamu punya kaos warna ini kan?" Tanya Reza menunjuk kaos yang sedang dipakainya
"Hmm.. Ada kalau tidak salah" Tasya membuka lemari pakaiannya setelah keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit di tubuhnya.
"Yang ini?" Tasya memperlihatkan kaos lengan panjangnya
"Iya. Pakai saja yang itu ya" pinta Reza
"Kenapa memangnya A?" Tasya heran. Tidak biasanya Reza mengatur Tasya
"Aa ingin samaan saja warna bajunya" Reza malu
"A, kenapa tidak beli kaos soul and mate saja sekalian" Tasya tertawa
"Sejak kapan Aa kayak anak ABG?" ejek Tasya kemudian
__ADS_1
"Sejak menikah denganmu." jawab Reza enteng
"Apa sih A Reza. Tumben sekali. Inget umur A" ejek Tasya yang masih tidak percaya dengan tingkah laku Reza
"Iya ingat. Kita seumuran sayang. Sudah pakai saja jangan protes" Reza pura-pura kesal
"Celananya warna yang sama juga?" Tasya melirik Reza menggoda
"Harus" Reza tersenyum malu kembali.
"Sepatunya?" goda Tasya lagi
"Sya.." Reza melotot
"Iya.. Iya.. "
Kini Tasya duduk di meja riasnya. Dia berdandan senatural mungkin namun tampak segar.
"Cantik Sya" Reza berdiri dibelakangnya melihat dari pantulan cermin
"Iya karena aku perempuan a" jawab Tasya
Tasya berdiri hendak memakai sepatunya. Tapi Reza memeluknya dari belakang.
"Are you ready sayang?" Reza mengembangkan senyumnya. Masih melihat dari pantulan cermin
"Kita mau kemana sih A?" Tasya penasaran
"Rahasia" ucap Reza sambil melepaskan pelukannya. Kemudian dia mengambil topinya.
"Aku gak pakai topi?" goda Tasya
Dia memakaikan topi tersebut di kepala Tasya.
"Kamu yang ini" ucap Reza
"A.. " Tasya tersenyum geli melihat tingkah laku suaminya.
" Eh kita fofo dulu sayang" ajak Reza
Mereka berdua berfoto dengan berbagai gaya.
"Ayo.." ajak Reza
Mereka memakai kaos berwarna biru tua dipadukan dengan celana jogger berwarna krem, dan memakai sepatu berwarna putih.
Bedanya, kaos Tasya berlengan panjang dan tidak menampakkan lekuk tubuhnya serta memakai kerudung berwarna hampir sama dengan celananya. Tak lupa, Tasya menggendong ransel hitamnya. Sedangkan Reza sudah memakai topi hitam yang tadi diambilnya.
Tasya menarik baju Reza sehingga Reza menghentikan langkahnya dan berbalik melihatnya.
Reza mengembangkan senyumnya.
"A, malu" ucap Tasya melihat pakaian mereka.
"Sama" ucap Reza merasa dirinya konyol. Tiba-tiba saja dia mendapatkan ide gilanya ini.
"Haha.. A Reza sih. Aku ganti baju saja ya?" pinta Tasya
"Lama lagi. Sudah ayo" ucapnya sambil menggenggam tangan Tasya
Mereka keluar dari kamar. Reza menggandeng tangan Tasya yang berada di belakangnya.
__ADS_1
Pak Danu sedang membaca koran di ruang tamu sambil menyeruput teh manis kesukaannya.
"Pa, Reza jalan dulu ya" ucap Reza melewati pak Danu
"Iya" masih fokus pada korannya
"Papa mau ikut?" tanya Tasya kemudian
Pak Danu menutup korannya.
"Papa pikir kamu sendirian." ucapnya pada Reza
"Papa dirumah saja. Capek, kemarin kan Papa habis jalan dengan ayahmu" tolak Pak Danu
"Kalian mau karyawisata kemana weekend begini?" ledek Pak Danu melihat mereka berdua.
Tasya tersenyum malu.
"Tasya nih Pa, minta Reza pakai baju yang sama" Reza berkelit
Tasya menyubit pinggang suaminya
"Enak saja! Papa percaya kan sama Tasya?" Tasya mencari pembelaan
"Sudah-sudah. Yang penting kalian pakai baju" Pak Danu pusing melihat perdebatan pasangan suami istri tersebut.
Mereka berdua kemudian pamit dan masuk ke dalam sedan putihnya.
Seperti biasa, Reza memakai kacamatanya. Dan Tasya selalu terpesona menyaksikan Reza yang memakai kacamatanya.
'A Reza ganteng banget' puji Tasya dalam hati.
"Siap Sayang?" goda Reza
"Kemana sih kita A? Dari tadi aku nanya jawabnya rahasia terus" Tasya cemberut
"Kamu pasti suka deh sayang" Reza mengembangkan senyumnya
"Ayo cepetan, aku penasaran" ajak Tasya
Mobil mereka melaju keluar dari halaman rumah. Sepanjang jalan mereka melihat orang-orang yang sedang berolahraga dan berjalan-jalan.
"Sayang, lihat jajanan semua" mata Tasya berbinar ketika melintasi pasar mingguan di dekat rumah Reza.
"Sya, ingat apa kata dokter" Reza mengingatkan
"A Reza, seumur-umur aku jajan cuanki, cilok, batagor, gak pernah kaya kemarin. Kata dokter kan karena stres berlebih bukan karena makanan" Tasya masih protes karena sekarang Reza semakin ketat mengatur pola makan Tasya
"Mencegah lebih baik daripada mengobati. Kamu mau nanti gak lancar lagi? Pokonya kalau sampai bulan depan menstruasi kamu belum lancar atau sakit kayak kemarin lagi. Kamu belum boleh jajan sembarangan." Reza mengancam
"Aa nih yang bikin stresnya!" Tasya bergumam.
"Buat kebaikanmu sayang. Patuh sekali saja ya" Reza berbicara salembut mungkin
"Kalau bulan depan biasa lagi, aku boleh ya a? Aku kangen sekali jajanan itu" Tasya memelas
"Atau aku mau pulang ke rumah ibu ya A? Aa disini kan kerja" Tasya memberikan ide piciknya
"Aa tahu apa yang ada di pikiranmu Esmeralda. Kamu pulang cuma buat jajan biar Aa gak lihat kan? Hmm.. Sudah ku duga" Nada bicara Reza dibuat-buat
"Haha.. Habis Aa kayak Tuan Takur. Jahat!" ucap Tasya sambil tersenyum dengan tingkah suaminya.
__ADS_1