BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Rumah Baru


__ADS_3

"Turun sayang" Reza mengajaknya


Mereka masuk ke dalam rumah bertema tropis modern tersebut. Mereka berjalan melewati teras rumah yang sedikit luas, kemudian menjajaki ruang tamu. Tasya dibuat kagum dengan interior ruangan tersebut.


"Selamat datang dirumah kita, sayang" ucap Reza


"Papi, ini serius?" Tasya nampak tak percaya.


"Maaf, baru sekarang Papi bisa belikan Mami dan anak-anak rumah." sesal Reza seraya merangkul istrinya.


Kedua anaknya dan Mbak mereka langsung mengitari rumah tersebut.


"Mamiiiii ada kolam renang Miiiii" teriak Vano senang seraya melonjak-lonjak.


"Pi?" Tasya makin syok.


"Vano bukan anak miskin, sayang" Reza mengedipkan sebelah matanya seraya menarik lengan istrinya untuk menjelajahi rumah mereka.


Tasya nampak dibuat kagum dengan interior di setiap ruangan membuat kesan elegan.


"Yuk kita lihat kamar kita" ajaknya.


"Sebentar, Mami ingin lihat-lihat dulu."


Tasya masuk ke setiap ruangan hingga mereka masuk ke dalam dapur yang menyatu dengan ruang makan.


"Abang jangan main air ya."


"Iya Mi." ucapnya seraya bermain bersama adiknya di playground mini yang Reza persiapkan untuk mereka.


"Yuk ke kamar kita" ajak Reza


Mereka menaiki anak tangga hingga tiba di sebuah kamar utama yang cukup luas.


Tasya membalikan tubuhnya, dia memeluk suaminya erat.


"Terima kasih sayang untuk hadiahnya" ucap Tasya


"Kewajiban Papi menafkahi lahir batin Mami dan anak-anak, Mi"


"Ini rumah kita. Hasil kita bersama." ucap Reza yang membuat Tasya mengernyit tak faham.


"Hasil ide Mami dulu yang berkembang sampai meluas di perusahaan dan juga doa Mami yang tak putus, sementara Papi sebagai nahkodanya." ucapnya seraya tersenyum.


"Terima kasih telah menjadi payung yang meneduhkan, terima kasih telah menjadi potongan puzzle pelengkap Hidup Papi. Terima kasih telah menjadi segalanya bagi Papi." ucap Reza mengecup lembut Tasya.


"Semoga segera hadir princess yang bisa meramaikan rumah ini" ucapnya membuat Tasya tertawa


"Ih Papi, sudah terharu malah dibikin ketawa. Ujung-ujungnya balik lagi ke princess."


"Semoga usaha dan doa kita terkabul Mi. Ada makhluk kecil lagi disini" ucap Reza mengelus perutnya.


"Mudah-mudahan saja Pi. Ekstra kerja keras kita." Tasya tertawa.


"Suka sama rumahnya?"


"Suka banget Pi."


"Tumben gak tanya harga segala macem?"


"Enggak. Karena uangnya dipakai untuk keperluan kita."


"Eh tapi Pap, terus nanti kita tinggal disini? Papa gimana?" tanya Tasya


"Ya bareng kita disini. Makanya kan Papi sengaja cari rumah yang kamarnya banyak kayak rumah Papa." ucap Reza


"Papa mau tinggal disini?" tanya Tasya


"Belum tahu sih Mam."


"Loh, kok begitu? Memang Papi gak bilang kalau beli rumah ini?"


"Sini duduk dulu biar Papi cerita." Reza menarik tangan Tasya


"Papi sudah bilang dari awal kalau Papi gak terima Vano direndahkan seperti itu. Panas lah rasanya, harga diri Papi rasanya terinjak-injak." Reza menjeda ucapannya.


"Tapi setelah Papi pikir-pikir, memang betul sih, Papi belum memberikan kalian rumah. Sekalipun kita tinggal dirumah sana, renovasi sana, renovasi sini, dan yang kita renovasi pun itu rumah Papa. Bukan rumah kita. Walaupun nantinya bakal jadi milik kita tapi naudzubillahi mindzalik ujung-ujungnya berpikir kalau Papa sudah gak ada kan?"


"Makanya, Papi nekat saja beli rumah ini. Nah, yang Mami lihat di foto itu, dia itu adik kelas waktu SMA. Kebetulan dia agen rumah ini. Pas Mami lihat foto itu, Papi kebetulan memang ketemu orang di hotel itu, Papi suruh dia datang ke Hotel untuk ngurus-ngurus gitu."


"Terus kenapa bohong gak sadar duduk disebelahnya?" Tasya menyubit perut suaminya.


"Haa.. Sakit. Sakit Mam. Serius Papi gak sadar sudah duduk disebelahnya."


"Kan masih ngeles."


"Serius Mi. Masa Papi harus sumpah."


"Yang jelas, terima kasih buat Mami yang bawel akhirnya uang kita bisa terkumpul hingga bisa beli rumah ini. Dan maaf, tabungan kita tidak sedahsyat kemarin" Reza menyeringai.


"Mami sih gak masalah kalau untuk beli rumah. Toh kita tempati dan jujur saja, memang Mami juga berharap Papi belikan rumah untuk keluarga kita." Tasya tertawa.


"Alhamdulillah dong ya, ada hikmahnya. Akhirnya sadar, Papi belum menunaikan kewajiban Papi yang sesungguhnya" ucap Tasya


"Haaah.. Rasanya mimpi Mam bisa beli rumah sebesar ini, hasil keringat sendiri" ucap Reza seraya merebahkan tubuhnya.


"Ini sih mewah Pi. A Reza buat aku bangga" Tasya tersenyum


"Ih manggilnya Mam. Gak enak banget. Haha"


"Kenapa ya Pap? Aku juga kalau Papi manggil nama tuh rasanya Papi lagi marah sama aku."


"Haha.. Sama berarti kita Mam"


"Mamiiiiiiii Daffaa Miiii.. Kejebuurr. Miiiii"


Tasya dan Reza saling lirik. Mereka segera menuruni anak tangga.


Daffa digendong Mbak Uji keluar dari kolam renang. Dia menangis kencang.


"Kok bisa jatuh begitu?" suara Reza meninggi sambil terengah-engah.


"Maaf Pak, tadi lari ngambil bola terus terpeleset."


Reza menggendong Daffa.


"Sudah. Sudah. Kamu gak apa-apa. Jagoan."


"Mandiin aja Mbak. Di bilas saja." ucap Reza


"Yuk sama Mami saja."


"Mbak Diah tolong baju Daffa di koper." ucap Tasya


"Gak usah Mi. Baju-baju mereka sudah ada juga disini."


"Loh kok?"


"Pokonya sudah komplit."


"Baju yang kemarin disana? Kapan dipindahkan?"


"Gak ada yang dipindahkan."


"Terus?"


"Ya pokoknya beli baru semua."


"Astaghfirullah.. Papiiiii" Tasya menyubit Reza membuat Vano terbahak-bahak saat melihat Reza mengaduh kesakitan. Daffa ikut tertawa melihat mereka.


"Mam. Dilihat anaknya tuh. Mami KDRT."

__ADS_1


"Habisnya, sampai baju juga dibeli. Mami kira rumahnya saja."


"Rumah baru, semuanya juga baru dong."


"Suami baru juga?" goda Tasya


"Anak baru! Suami baru. Suami baru. Pikirannya jahat banget" gerutu Reza membuat Tasya tertawa.


"Habisnya ih ujung-ujungnya pasti ada borosnya terus. Baju anak-anak masih pada bagus. Kenapa beli?"


"Formalitas sayang. Cuma baju Mbak saja yang gak dibeliin. Papi gak tahu ukurannya. Maaf ya Mbak."


"Minta mentahnya saja Mbak sama A Reza" ucap Tasya seraya berlalu


***


"Assalamu'alaikum Opaaaa"


"Wa'alaikumussalaam. Kalian sudah pulang? Opa kesepian dirumah sendirian nih." ucap Pak Danu


"Opa ayo kita pindah ke rumah baru aku, Opa."


"Yuk.. Yuk.. " ajak Daffa


" Wah? Rumah baru dimana?"


"Disana Opa, ada kolam renangnya rumah baru aku lebih bagus dari rumah ini."


"Oh ya? Opa diajak kesana?"


"Iya. Opa tinggal disana yaa sama aku" pinta Vano.


"Bener Opa di ajak?"


"Iya Opa. Pokoknya rumah aku bagus banget." ucapnya


"Apa sih? Ribut-ribut." ucap Tasya seraya membawa barang-barang mereka.


"Ini pada ngajak ke rumah baru yang ada kolam renangnya." ucap Pak Danu


"Reza mau bicara Pa sebentar." ucapnya membuat Pak Danu sedikit heran.


"Anak-anak yuk ke kamar. Istirahat dulu." ajak Tasya.


"Aku lapar Mi." ucap Vano.


"Lapar? Gak salah? Baru juga makan, Bang" ucap Tasya


"Ck.. Tapi habis Mi. Diperut akunya sudah kosong lagi. Nih, jalan begini tuh bikin habis tahu Mi makanannya."


"Astaghfirullah.. Kamu tuh pinter banget. Mau apa?"


"Hmm.."


"Gak boleh pizza. Tadi sudah beli diluar makannya."


"Hhh..ya sudah. Aku mau sereal saja. Boleh?"


"Oke tunggu."


"Daffa mau?" Tasya berbalik melihat anak bungsunya


"u'um (huum)"


"Sebentar, Mami ambil dulu ya" ucap Tasya


Dia sedikit melihat percakapan kedua lelaki di depan televisi.


'Moga Papa mau ikut.' batinnya.


***


"Mi kaos kaki belum" teriak Reza pada istrinya.


"Bawel deh Papi. Nih" ucapnya menghampiri Reza


"Aku ngurus Vano dulu ya."


"Eh mau kemana? Belum beres ini." ucap Reza


Tasya merapihkan kerah baju suaminya. Sementara Reza senyum-senyum melihatnya.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Tasya


"Gak apa-apa sayang. Bahagia saja." ucapnya


"Alhamdulillah. Semangat pagi menjemput rezeki suamiku." Tasya mengecup lembut suaminya


"Doakan terus ya sayang." ucap Reza


***


Tasya dan Vano masuk ke dalam mobil mereka.


"Aku memangnya boleh sekolah Mi?" tanya Vano


"Memang kenapa?"


"Kan aku sudah lama gak sekolah. Nanti kalau aku dimarahi Miss gimana?"


"Waktu itu kan Papi sudah izin duluan."


"Ya sudah deh kalau gak apa-apa Mi. Aku mau sekolah" ucapnya


"Ya kan ini juga mau sekolah, Abang."


Pak Budi hanya tersenyum mendengar perdebatan anak dan ibunya.


Tasya masuk ke dalam sekolah, beberapa ibu-ibu nampak melirik Tasya sambil berbisik.


'Kenapa sih mereka?' batin Tasya


"Vanooo, i miss you so much." Dira berlari menghampiri Vano.


"Manusia itu lagi." gumam Vano mencengram baju yang Tasya pakai.


"Mam kemana saja sih?" tanya Bunda Dira mencolek Tasya


"Bu Dook apa kabar? Waktu itu sakit terus kakakku nikah. Ya udah kebablasan. Keenakan libur." Tasya tertawa


"Eh, Mam baca grup gak?"


"Ya ampun aku lupa. Cuma dibuka saja tapi gak di baca. Kenapa memangnya?"


"Pindah yuk, gak enak. Ngopi dulu deh." ajak Bunda Dira


"Ya sudah ayo."


***


"Jadi kemarin ceritanya pulang kampung? tanya Bunda Dira seraya menyeruput moccacino miliknya.


"Iya. Nikahan kakakku."


"Kok gak bawa oleh-olehnya?" Bunda Dira tertawa


"Hehe sorry, kita dari sana lanjut ke pantai. Vano kan minta jalan, untungnya bapaknya cuti. Jadi ya diturutin maunya."


"Enak ya cuti lama. Suamiku susah kalau mau cuti. Alesannya kasihan pasien."


"Ya kalau begitu mah susah mau cuti. Sama sih sebenarnya suamiku juga, dia itu workaholic. Tapi berhubung kakkaku nikah ya mau gak mau dia harus meninggalkan pekerjaannya."

__ADS_1


"Memang kerja dimana sih Papinya Vano?" Bunda Dira menelisik


"Ah cuma di perusahaan biasa."


"Gak mungkinlah, semua orang tahu yang sekolah disini orang tuanya kayak gimana"


"Hehe. Asli, cuma perusahaan biasa kok. Petani Maju" ucap Tasya


"Petani maju yang... "


"Seriusan? Sayuran online itu?" Bunda Dira nampak tak percaya.


"Salah satunya itu"


"Ih Mami Vano gimana sih? Kok gak bilang dari awal"


"Masa iya aku harus bilang. Eh ini punyaku loh, hehe ada-ada saja Bu Dok."


"Wah, bisa nih gratisan dapat sayuran." ucapnya, Tasya hanya tersenyum.


"Eh arisan jadinya bagaimana?" tanya Tasya


"Ya ampun yang liburan, bener-bener libur pegang ponsel kayaknya."


"Besok katanya di rumah Selly dulu karena kan yang menang kemarin Selly."


Mereka berbincang hingga waktu pulang tiba.


"Mam Vanoo" Cecilia melambaikan tangannya. Dia bersama gengnya berbisik-bisik sambil melirik Tasya sesekali saat Tasya mendekat ke arah mereka.


"Mam Vano, gak apa-apa kan rumah tangganya? Maaf loh ya, waktu itu saya foto soalnya memastikan itu benar Daddy Vano atau bukan." ucap Cecil di depan gengnya.


"Oh iya, Papinya Vano dengan temannya yang kebetulan menjalin kerjasama juga. Jadi mereka akrab."


"Syukurlah. Aku pikir Daddy Vano selingkuh. Hehe maaf" ucaonya seraya menutup mulutnya


'Astaghfirullah.. Kenapa sih ini orang bisa banget bikin kesal.' Hatinya terasa bergejolak


"Hati-hati loh Mam, sekarang kan banyak bilang teman eh tahu-tahu teman di kasur. Apalagi kan Daddy Vano cakep tuh Mam" cetus Mami Selly


"InsyaAllah suamiku gak begitu." Tasya membelanya


"Iya ya, percaya deh" ucap Cecil seraya meremehkan


"Eh Mam Vano, harusnya kan arisan di rumah Selly. Berhubung rumah Selly sedang di renovasi, bisa gak sih kita di rumah Mam Vano dulu? Nanti kalau yang dapat arisan Vano, diganti jadi dirumah Selly." ucap Cecil


"Loh, kenapa gak di rumah ibu ketua saja?" Tasya menatap Cecil


"Bukan aku gak mau, Mam. Pembantuku dirumah cuma satu. Kemarin yang dua aku pecat. Jadi sekarang masih cari-cari. Kasihan kan Mbakku kalau sendirian mengatur semuanya." Cecil mengelak


"Oh ya sudah."


"Besok ya Mam." ucap Cecil.


***


"Pak Bud, ke kantor dulu yuk, aku ada perlu sama A Reza." ucap Tasya


"Siap Neng."


"Mau apa kita ke kantor Papi, Mi?"


"Mami mau bicara saja sama Papi."


"Kenapa gak di telepon saja?" tanya Vano


"Soalnya Mami ada rahasia."


"Mami gak boleh ada rahasia tahu"


"Kenapa?"


"Rahasia. Mami gak boleh tahu"


"Dasar kamu tuh!" gerutu Tasya


Mereka tiba di kantor Reza, semua orang menyapanya saat Tasya berjalan ke ruangan Reza. Beberapa orang mengajak berbicara Vano. Vano pun di kelilingi para staff Reza. Sementara Tasya berjalan masuk ke ruangan Reza terlebih dahulu.


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk" suara Reza dari dalam


"Loh kok Mam?"


Tasya menubruk tubuh Reza. Dia memeluk erat suaminya seraya menangis di dekapan suaminya.


"Kenapa Mi? Mami kenapa?" tanya Reza panik melihat istrinya menangis tiba-tiba.


Reza mengelus lembut punggung istrinya hingga Tasya benar-benar tenang.


"Kesel. Sakit hati. Sebel juga."


"Ya kenapa?"


Tasya menceritakan semua kekesalannya pada Reza membuat Reza mengepalkan tangannya.


"Mulutnya gak disekolahin mereka itu."


"Aku kesel juga sama Papi. Lain kali jaga jarak sama temannya! Lihat kan! Jadi fitnah orang!"


"Maaf Mam, Papi gak mikir sampai sejauh sana. Mereka saja otaknya sempit."


"Sudah jangan dipikirkan. Besok bukannya harus arisan dirumah? Persiapkan itu saja."


"Mau Papi antar?" tanyanya


"Enggak usah. Mami belanja kue-kuenya kalau begitu Pi."


***


Tasya menyiapkan segala perlengkapan untuk arisan sepulang sekolah nanti. Dia sengaja tidak menjemput Vano dan menitipkannya pada Bunda Dira.


"Vano, ayo pulangnya sama tante ya."


"Nanti Mamiku jemput."


"Enggak. Tante juga mau ke rumah Vano kok sama Mommy yang lain. Mami Vano titip Vano sama tante. Yuk pulang." ajaknya


"Iya Vano, ayo bareng aku" ajaknya seraya menarik lengan Vano.


"Jangan tarik aku, aku bisa sendiri"


Mereka masuk ke dalam mobil Dira. Dia merapatkan tubuhnya pada Vano.


"Vano, kenapa kamu handsome sih? Bikin aku gemas" ucap Dira.


"Jangan gemas sama aku, aku bukan squishy"


"Tapi aku suka"


Vano menggeeser duduknya agar tak menempel dengan Dira. Semakin lama, Dira semamkin menempel hingga Vano terpojok.


"Tantee.. Dira dekat-dekat aku terus"


.


.


.


Temaan maaf ya aku masih sedikit sibuk untuk beberapa hari ke depan. Tapi aku usahakan untuk up. Terima kasih masih setia menunggu Bang Vano. Dukung terus dengan like dan komentarnya. Jangan lupa vote juga. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2