
"Masih pusing sayang?" tanya Reza pada istrinya yang kini duduk sambil meneguk air.
"Sudah mendingan. Terima kasih sudah pijat aku ya A" ucapnya tulus
"Besok gak perlu ke kantor ya? Aa khawatir Sya" ucapnya
"Tapi aku maunya sama Aa terus" rengek Tasya
"Aa cuti saja kalau begitu ya?" usul Reza
"Kasihan Papa A. Aku gak apa-apa begini juga sayang. Pusing sedikit tadi itu. Wajar sayang" Tasya meyakinkan
"Nanti kalau aku pusing, Aa pijat aku lagi ya" pintanya
"Siap ibu negara" ucapnya seraya tersenyum
"Yuk pulang" ajak Reza
"Kok pulang? Baru jam segini A" Tasya heran
"Bos mah bebas" Reza tersenyum bangga
"Aa khawatir sama kamu. Pulang saja yuk" ajak Reza
Tasya yang memang merasa masih lemas, tidak menolaknya. Mereka keluar ruangan, Keenan menghampiri Reza yang hendak keluar.
"Pak Reza, saya hari ini terakhir disini Pak" ucap Keenan mengingatkan
"Ya ampun saya sampai lupa." ucap Reza
"Apa A?" Tasya menghampiri mereka
"Saya hari ini terakhir magang disini bu" ulangnya.
"Keenan, bisa kamu ikut ke ruangan saya sebentar?" ajak Reza
Keenan mengikuti Reza masuk kembali ke ruangannya
"Terima kasih, kamu sudah mau magang di tempat sederhana kami. Walaupun saya tidak tahu, kenapa kamu memilih magang disini dari pada di perusahan besar. Semoga saja, kamu bisa mengambil sedikit ilmu selama magang disini. Saya juga mohon maaf apabila saya ada kesalahan" ucapnya
"O ya, ini ada sedikit uang saku dari kami. Tolong diterima" ucap Reza sambil menyodorkan amplop cokelat yang dia ambil dari dalam laci meja kerjanya.
"Saya tidak mengharapkan ini Pak. Saya diterima disini pun sudah merasa senang" ucapnya sambil menyodorkan kembali amplop cokelat dihadapannya.
"Tidak apa-apa Keenan. Terima saja. Ini sudah kami pertimbangkan sejak lama. Kamu juga sudah membantu meringkan pekerjaan kami beberapa bulan ini" ucapnya
"Baik saya terima Pak. Terima kasih" ucapnya
Keenan berdiri dan mengulurkan tangannya, Reza pun berdiri seraya menjabat tangan Keenan.
Tasya mengurungkan niatnya untuk pulang setelah mendengar kabar tentang perpisahan bersama anak magang tersebut.
'Pantas Lala tidak semangat' batinnya
Keenan dan Reza keluar ruangan.
"Ibu, terima kasih sudah membimbing saya ya bu. Mohon maaf kalau saya banyak salah" ucapnya.
"Saya juga sama ya Keen, maaf kalau kurang nyaman selama disini. Terima kasih sudah banyak membantu, terutama membantu pekerjaan Lala" imbuhnya.
__ADS_1
Keenan kini melihat Lala yang memang jelas menampakan kesedihannya.
"La, aku pamit ya. Terima kasih sudah membimbingku. Maaf kalau aku menyebalkan buatmu"
Mendengar kata menyebalkan, Reza dan Tasya saling pandang menyiratkan sesuatu.
"Iya Keen. Terima kasih juga sudah membantuku ya" ucapnya sedih
"Hari ini kita makan diluar yuk?" ajak Tasya tiba-tiba
"Anggap saja salam perpisahan untuk Keenan" ucapnya kemudian
"Mami.. " Reza mengingatkan
"Pak Reza!" Tasya melotot dengan panggilan Reza kepadanya
"Besok saja makan-makannya. Kamu tadi kan pusing Sya" pinta Reza
"Iy Bu, tenang saja. Nanti juga saya masih bolak balik ke sini untuk meminta tanda tangan Pak Reza. Ibu istirahat saja" pinta Keenan
"Sebentar kok. Makan pizza saja. Aku ingin makan pizza" sambil mengelus perutnya mengeluarkan jurus andalan mengkambing hitamkan kehamilannya.
"Ya sudah, ayo jalan sekarang saja" ajak Reza pasrah melihat istrinya mengelus perut
Setelah merapihkan diri, mereka keluar kantor.
"Aku bawa motor saja bu biar tidak bolak balik. Ayo La, kamu mau ikut aku?" ajak Keenan
Lala dengan senang hati mengikuti Keenan.
Tasya dan Reza masuk ke dalam mobilnya.
"Tadi ngasih uang saku" ucapnya
"Oh" Tasya tak bertanya lagi sampai mobil mereka tiba di sebuah cafe bergaya Eropa.
Lala dan Keenan sudah sampai terlebih dahulu, mereka memilih duduk di pojokan. Reza dan Tasya menghampiri mereka sambil bergandengan tangan.
"Hmm.. Wangi ya La. Aku gak sabar ingin makan pizza" ucap Tasya riang
"Ibu ih norak" Lala tertawa melihatnya
Reza dan Keenan menahan senyumnya.
"Habis lulus kamu rencananya kerja dimana Keen?" Lala membuka percakapan
"Masih belum tahu La" ucapnya
"Kamu mau coba buka usaha?" tanya Reza
"Ingin saya begitu Pak. Merintis dari nol. Tapi saya masih bingung usaha dibidang apa" ucapnya jujur
"Hmm.. Coba saja tekuni apa yang kamu sukai" ucap Reza yang sekarang nampak lebih akur dengan Keenan
"Bapak juga begitu Pak?" tanya Lala
"Kamu tidak lihat Papa saya La. Saya hanya meneruskan perjuangan beliau. Anaknya cuma saya sih, jadi saya gak bisa nolak" keluhnya seraya tertawa
"Minimal ada yang di wariskan Pa" Lala tersenyum miris
__ADS_1
"Coba saja kamu merintis usaha dari nol juga La. Kecil-kecilan saja dulu" ucap Reza
"Saya mah ingin di halalin saja Pak, biar suami yang kerja" jujurnya
"Emang selama ini kamu gak halal La?" canda Reza disertai tawa mereka
"Iih bapak mah, bukan begitu Pak" Lala bersungut
Pesanan mereka tiba, Tasya sudah menelan salivanya dari tadi.
"Aku gak sabar" ucapnya seperti anak kecil
Reza yang melihat ekspresi sang istri menjadi senang. Mereka menikmati makanannya, tapi Reza hanya minum jus miliknya.
"A kok gak makan?" tanya Tasya
Reza tersenyum. Dia mengambil sepotong pizza dan menaruh di piring sang istri
"Buat dedek saja, Papi kenyang lihat mami makan juga" ucap Reza yang membuat Lala tersedak
"Kamu kayak baru pertama kali saja La melihat kita begini" ucap Reza
"Habis, Pak Reza so sweetnya kadang tak terduga" ucap Lala
"Makanya hal begini La yang bikin dia kelepek-kelepek sama saya" ucap Reza
"Dasar" ucap Tasya sambil mengunyah. Dia lebih sibuk dengan makanan di hadapannya.
"Yang saya lihat malah bapak yang kelepek-kelepek sama ibu." ledek Lala
"Nah, gak perlu saya jelaskan" Tasya tertawa kecil
"Habis yang seperti Bu Tasya ini cuma satu di dunia" gombalnya lagi.
"Makanya saya berusaha mengembangbiakannya. Haha" Reza tertawa puas
Keenan yang diam pun ikut tersenyum
"Memangnya aku hewan A" Tasya mendelik dengan mulut penuh makanan
"Becanda Sya" ucapnya sambil mengelap mulut sang istri
"Astaga Pak..Bapak mah gak kasihan apa sama kita Pak" ujar Lala yang melihat perhatian Reza pada Tasya.
"Kalian tinggal pacaran saja sih. Biar gak iri" usul Reza asal
"Runtuh dunia persilatan Pak" ucap Keenan santai
"Jangankan dunia persilatan, kuda saja bisa ngepang rambutnya sendiri kalau saya sama dia" Lala tak mau kalah
Reza yang memancing, cukup menikmati perdebatan mereka.
"Biasanya yang suka begitu jadi jodoh sungguhan loh" Tasya ikut menimpali
"Amit-amit" Seru keduanya kompak.
Reza dan Tasya tertawa senang mendengarnya.
*** Teman Readers, yuk bantu saya dengan cara vote koin dan Point. Tinggalkan jejak juga dengan cara like dan komentarnya ya.. Terima kasih ^^ ***
__ADS_1