
"Dokternya sedang visit Bu. Ada hal yang harus disampaikannya. Saya sambungkan langsung dengan dokternya ya Bu" ucap Perawat tanpa persetujuan Tasya
"Hallo dengan Ibu Tasya?" sapa dokter diseberang sana
"Iya saya Dok."
"Ibu Tasya, saya ingin menginformasikan untuk berat badan Vano, Bu. Ada kenaikan 100 gram. Bobotnya untuk saat ini 1.6 kilogram" ucap dokter
"Namun, untuk bayi Ibu sendiri, saya menyarankan segera di lakukan pemeriksaan mata karena hampir memasuki minggu ke empat setelah dilahirkan Bu" ucap Perawat tersebut
"Pemeriksaan mata Dok?" tanya Tasya
"Betul Bu, untuk mencegah terjadinya Retinopahty of prematurity (ROP) atau penyakit mata yang terjadi pada bayi prematur. Kondisi ini menyebabkan gangguan pada saraf mata atau retina."
Deg!
"Apa ada gangguan dengan mata Vano dok?" tanya Tasya cemas. Reza memperhatikan raut wajah sang istri kemudian mengambil ponsel dari tangan istrinya.
"Hallo dok, saya ayahnya Vano. Bagaimana kondisi anak saya dok?" tanya Reza penasaran. Tasya kini meremas tangan suaminya.
"Untuk saat ini, ada peningkatan berat badannya Pak. Hanya saja, saya sarankan untuk pemeriksaan mata karena dikhawatirkan terkena Retinopahty of prematurity (ROP), penyakit mata yang terjadi pada bayi prematur." ucap dokter
"Kapan Vano bisa menjalani pemeriksaan mata tersebut dok?" tanya Reza
"Secepat mungkin Pak. Itu kenapa saya informasikan dari sekarang." ucapnya
"Baik. Untuk besok dokter jam berapa prakteknya dok?"
"Besok saya di rumah sakit dari pukul 10 pagi Pak."
"Baik kalau begitu dok. Besok saya hubungi dokter kembali"
"Baik Pak. Maaf mengganggu waktunya, tadi katanya sudah datang ya?" ucap Dokter basa basi
"Iya Dok. Tadi Maminya juga kebetulan check up. Jadi sekalian. Saya tunggu dokter ternyata belum jadwalnya."
"Iya, saya baru datang Pak. Karena memang parktek jam segini."
"Iya dok. Maaf ya, tadi saya buru-buru pulang juga karena kasihan Maminya Vano"
"Tidak apa-apa Pak. Kalau begitu terima kasih atas waktunya Pak. Assalamualaikum" dokter segera menutup sambungan teleponnya.
"Pap, Vano kenapa?" air mata Tasya mulai mengalir
"Gak apa-apa Mam. Vano cuma harus periksa mata saja. Dokternya takut Vano kena penyakit apa gitu, Papi juga gak ngerti" ucap Reza jujur
"Apa Pap? Mami takut Vano kenapa-napa" Kini Tasya mulai terisak.
"Enggak sayang. Anak kita pasti sehat-sehat saja" ucap Reza meyakinkan. Walau sebenarnya ada rasa cemas dihatinya.
"Vanoo, sehat selalu ya" gumam Tasya seraya menangis
"Sudah sayang jangan cemas" Reza menenangkannya kembali
"Bagaimana gak cemas! Anak kita sedang berjuang sendirian disana!" Tasya terisak lagi
"Iya Papi tahu sayang. Kita berdoa yang kencang." ucap Reza
Tasya masih terisak. Dadanya masih terasa sesak.
"Sudah Mam. Anak kita kuat. Bukan berarti Vano ada masalah dimatanya. Cuma dokternya khawatir saja. Gak apa-apa sayang" Reza menenangkan.
__ADS_1
"Minum dulu biar tenang" Reza mengambil botol minum kemudian memberikannya pada Tasya
"Kalau Vano kenapa-napa bagaimana?" tanya mengulangnya kembali. Kecemasannya belum reda
"Enggak. Maminya doain Vano ya. Vano saya kuat. Masa Mami enggak?" Reza mengelus lengan istrinya
Mereka terdiam.
"Pulang ya?" ajak Reza. Tasya mengangguk perlahan
***
Sampai dirumah tak membuat Tasya menjadi ceria. Dia terus memikirkan Elvano sambil memandang box bayi yang belum pernah terisi.
Hatinya tak henti memanjatkan doa agar Vano selalu baik-baik saja.
Reza mendekat, duduk disamping sang istri yang gelisah.
"Jangan banyak pikiran sayang." ucap Reza merangkulnya.
Tasya menyandarkan kepala di dada sang suami. Dia mencari kenyamanan disana.
"Bagaimana kalau Vano.."
"Stt..Vano bisa pulang. Titik. Gak ada yang lain" Reza memotongnya
"Oya, Mami coba tonton video ini deh" Reza beranjak mengambil ponselnya kemudian dia memberikan video berisikan perjuangan bayi-bayi yang lahir prematur dengan berat badan lahir rendah.
Tasya menyaksikannya dengan seksama. Dia benar-benar merasa takjub. Ada rasa optimis terselip dihatinya.
"Vano juga bisa kayak mereka sayang" ucap Reza
Tasya mengangguk. Hatinya sedikit lebih lega. Rasa khawatir berkurang.
Tasya hanya mengangguk.
"Apa Papi panggil Lala biar dia ke rumah?" tanya Reza
"Gak usah. Dia kan kerja" tolak Tasya
"Ya sudah. Atau nanti Mami kenalan dengan pengasuh Vano?"
"Enggak Pap. Aku sendiri saja."
"Jangan dipikirkan sayang." Reza merebahkan tubuh istrinya. Mengecup bibir sang istri sebagai pengalihan. Lama mereka bergumul disana. Kemudian kecupannya turun ke leher. Tasya begidig, bulu romanya terasa berdiri, hasratnya merangkak naik. Begitupun dengan Reza, dia merasa terpancing.
"Vano gak apa-apa sayang, diamond sekarang yang apa-apa" suara Reza menahan gairah sementara Tasya terbahak mendengarnya. Dirasa istrinya telah mencair, dia segera bangkit.
"Lagipula mancing diri sendiri sih" ucap Tasya
"Habis gimana, daripada Mami murung terus." ucapnya
"Mau juga kan? Pasti kangen diamond" ucapnya
"Kalau diserang mana bisa nolak kali. Ujung-ujungnya diancam dosa sama Papi" ucap Tasya yang membuat Reza tertawa.
"Papi mau mandi ah" Reza segera berlalu meninggalkan Tasya yang puas menertawakannya.
'Begini amat menghibur istri. Sabar diamondku' batinnya.
***
__ADS_1
Keesokan harinya, Tasya bangun lebih pagi dari biasanya. Hatinya masih cemas memikirkan Vano.
"Papi, bangun Pap" Tasya mengguncang tubuhnya
"Hmm.."
"Papi temui Vano cepat" ucap Tasya
Reza memicingkan matanya melihat jam yang menggantung di dindingnya.
"Masih pagi juga Mam" Reza mengubah posisinya menjadi tengkurap.
"Aku gak bisa tidur" keluhnya
"Ya sudah tidur sekarang" ajak Reza kembali mengubah posisinya. Kini dia memeluk Tasya
"Papi bau naga" Tasya menghindar
Reza tertawa sambil menutup matanya.
Tasya beranjak keluar kamar.
"Masak apa hari ini Bi?" tanya Tasya pada Bi Tinah.
"Masak ayam kecap" ucap bi Tinah
Tasya mengeluarkan lasagna dari lemari es kemudian menghangatkannya sambil. Membuat cokelat panas untuk suaminya. Dia membawanya masuk ke dalam kamar.
"Papi, sarapan yuk?" ajak Tasya
Reza meliriknya.
"Wangi Mam"
"Makanya ayo bangun"
Reza beranjak dari tempat tidur hendak mencuci mukanya.
"Sayangku so sweet pagi ini." Reza melempar senyumnya
"Iya, biar Papi semangat ketemu Vano" ucap Tasya
Tasya menyendokan lasagna kemudian menyuapi suaminya, sementara Reza mengambil ponsel dan memainkannya.
"Sayang..Mami ikut ya?" pinta Tasya
"Mam.. " Reza menghela nafasnya berat
"Ingat apa kata dokter?"
"Aku gak tenang Pap"
"Disana kita video call ya, biar Mami tenang" Reza memberikan usulnya
Tasya mengangguk senang.
***
Reza tiba di Rumah Sakit, dengan tergesa dia segera berkonsultasi dengan Dokter Vano. Dia mengikuti seluruh arahan yang diberikan kepadanya. Hingga pada tahap Vano menjalani skrining mata.
Reza menenangkan sang istri dengan melakukan video call, bahkan bersama dengan dokter spesialis mata yang menangani Vano.
__ADS_1
"Bagaimana hasilnya Pap?" tanya Tasya setelah Reza pulang ke rumah.