
Hampir sepekan Reza dan Tasya menjalani kesibukannya masing-masing. Keduanya dibelenggu oleh rasa rindu yang semakin memuncak. Hanya saja, Tasya masih malu untuk mengakuinya.
'Aku gak fokus begini. Fokus Sya fokus. Besok kamu sidang' Tasya menenangkan dirinya.
'Kok A Reza gak ada kabar sih dari semalam? Apa dia sibuk sekali sampai lupa sama aku?' Tasya masih tak bisa fokus.
'A Reza kemana sih?' gumam Tasya
Tasya keluar kamarnya. Dia menghampiri ibunya di dapur.
"Kenapa kamu Sya? Tidak bersemangat begitu?" tanya ibu
"Tidak apa-apa bu" jawabnya singkat setelah meneguk air putih.
"Mudah-mudah besok lancar ya Sya. Ibu kok ikut deg-degan begini" ucap ibu
"Aamiin. Doakan ya bu. Apalagi Tasya bu. Takut gak bisa jawab" keluhnya
"Pasti bisa Neng. Ya sudah kamu istirahat saja dulu. Refreshing sana, biar pikiranmu segar" perintah ibu
Tasya meninggalkan ibunya dan masuk kembali ke dalam kamar. Dia membuka kembali ponselnya.
'A Reza kemana sih? Bikin khawatir saja' ucapnya lagi.
Rasa penasaran mengalahkan egonya. Dia menekan simbol telepon pada nama Reza. Lama sekali dia menunggu dering telepon tersebut berbunyi namun tak juga diangkat oleh Reza. Sekali lagi dia menekan simbol tersebut, tetap tetap tak ada jawaban.
'A Reza sudah lupa sama aku? Atau kamu asyik dengan wanita lain?' pikiran buruk pun menghantuinya.
***
Reza memarkirkan mobilnya pada sebuah toko kue. Dia membeli sekotak brownies panggang, macarons, dan cheesecake.
'Pasti dia suka' gumam Reza seraya tersenyum manis.
Sang pelayan toko ikut tersenyum melihat Reza tersenyum.
'Ganteng banget' pikir pelayan tersebut
Reza yang menyadari sedang di lihat oleh pelayan toko menjadi salah tingkah.
"Mbak, bisa pakai kartu ucapan?" tanya Reza
"Bisa Kak. Mau pakai cokelat atau kertas Kak?" tanya pelayan itu
"Kertas saja mbak" ucapnya
Kemudian pelayan tersebut memberikan tumpukan kertas ucapan yang di lipat. Reza memilih kertas tersebut yang menurutnya cocok. Dia memilih lipatan kertas berbentuk hati berwarna merah. Kemudian dia menulis di kertas tersebut.
Setelah selesai, dia kemudian keluar dari toko kue itu dengan semangat. Dia mengendarai sedan putihnya kembai dengan menggunakan kacamata hitamnya.
***
__ADS_1
Tasya tertidur sambil memegang ponselnya. Ibu mengetuk pintu kamarnya.
"Neng.." panggil ibu dari luar kamar.
Tasya terbangun setelah mendengar suara ibu. Dia membuka pintunya.
"Neng kamu tidur?" tanya ibu sambil berdiri di ambang pintu
"Iya bu. Aku ketiduran. Kenapa bu?" tanya Tasya
"Album foto pernikahanmu sudah jadi. Tadi teteh yang antar kesini" ucap ibu
"Mana bu? Aku mau lihat" dia bersemangat.
Ibu menunjukan sebuah koper. Tasya kemudian membukanya.
"Jaman sekarang album foto saja ribet begini Sya. Pakai koper segala" ucap ibu heran
"Unik kan bu. Lebih modern" ucap Tasya bangga.
Dia membuka koper tersebut. Kemudian menarik bagian depan koper sehingga berbentuk laci tiga susun. Dua bagian atas terdapat album foto, sedangkan bagian bawahnya tersekat menjadi dua bagian. Satu bagian berisi sebuah foto berbingkai. Sedangkan bagian lainnya berupa CD berisi video pernikahan mereka.
Tasya mengambil album foto paling atas. Dipandangnya satu persatu foto tersebut.
"Kamu serasi sekali Nak. Reza terlihat lebih muda dari umurnya" Ucap ibu yang sejak tadi di sampingnya.
"Terus aku terlihat tua maksud ibu?" Tasya tak terima
Semakin memandang foto Tasya, rindunya semakin terasa. Setelah membuka semua album fotonya dia membereskan dan membawa kopernya tersebut ke kamarnya.
Dia menyalakan laptop miliknya kemudian mengambil CD dari koper tersebut dan memasukkannya ke bagian samping laptop.
'A Reza ganteng banget' ucapnya saat melihat Reza baru keluar dari mobil putihnya dalam video tersebut.
Dia menyaksikan dengan antusias dan tersenyum sendirian.
'Terlihat canggung sekali' gumamnya lagi. Sambil tersenyum saat menyaksikan dirinya pada layar laptop.
Memorinya memutar kembali semua kejadian yang dia alami dengan Reza setelah dia menyaksikan tayangan pernikahannya tersebut.
Dia merebahkan dirinya, semua memori tentang Reza berputar satu persatu. Mulai dari kejadian dia menabrak mobil Reza sampai terakhir mata mereka beradu saat perpisahan kemarin.
Di raih ponsel yang ada di dekatnya. Kemudian dia membuka kunci layar ponselnya, tak ada satupun pesan masuk atau telepon disana.
'A, kamu kemana sih? Sudah jam segini kamu masih belum ada kabar' Tasya putus asa.
Di lirik skripsi bercover tebal miliknya. Tapi tak ada minat untuk menghafal skripsi tersebut.
Sebuah pesan masuk di ponselnya. Dia segera membukanya dengan wajah berharap. Tapi raut kekecewaan terlihat jelas kembali.
"Aaa.. Bagaimanan ini. Makin kesini rasanya jantungku mau copot" pesan terkirim untuk grupnya dari Tari
__ADS_1
"Aku juga sama. Gak bisa fokus" balas Rina dibubuhi emotion menangis
"Aku juga" balas Tasya singkat
Tak ada semangat untuk melanjutkan ngobrol bersama temannya tersebut.
***
Sedan putih melaju mulai memasuki daerah yang sudah dia hafal. Dia melihat seseorang yang dia kenal memakai sepeda motor di depannya.
Dia membuka jendelanya kemudian memanggil orang tersebut. Orang yang dipanggilnya menoleh. Mereka berdua menghentikan kendaraannya. Kemudian berbincang sebentar.
Dia mengeluarkan sebuah plastik dari dalam mobilnya. Kemudian dia menyerahkannya kepada orang tersebut.
Orang tersebut mengambil plastik tersebut kemudian pamit dan melaju terlebih dahulu.
Dia masuk kembali ke dalam mobilnya. Kemudian menepikan mobilnya. Dia tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi.
***
Seorang lelaki memarkirkan sepeda motor di depan sebuah rumah yang luas. Kemudian dia mengetuk pintu rumah tersebut sambil membawa plastik.
Dari dalam terdengar seorang ibu menghampirinya.
"Bu, ini ada titipan" ucap lelaki tersebut.
"Dari siapa ini?" tanya ibu
"Waduh.. Saya kurang tahu bu. Tapi katanya untuk wanita yang masih kuliah di rumah ini" ucapnya.
Ibu menerima plastik tersebut. Kemudian mengetuk pintu kamar anaknya dan menunggu sang pemilik kamar tersebut membuka pintunya.
"Kenapa bu?" tanyanya setelah pintunya terbuka
"Ini ada titipan. Katanya dari seseorang. Kamu punya pacar Sya?" tuduh ibu
Tasya membuka plastik tersebut. Di dalamnya terdapat beberapa kue. Kemudian menutup kembali plastik tersebut.
"Sya? Ada yang suka sama kamu di kampus atau kamu dekat dengan orang lain? Kalau Reza tahu ibu mau bilang apa sama dia?" ibu panik
"Tidak bu. Tasya gak dekat dengan siapa pun di kampus." Tasya bicara serius
"Tasya juga tidak tahu ini dari siapa bu." ucap Tasya kebingungan.
"Coba tanya temanmu barangkali dia yang mengirimnya" pinta ibu sambil berlalu
Tasya kemudian menutup kembali kamarnya dengan membawa plastik tersebut.
'Dari siapa ini ya?' dia merasa heran.
Dia membuka satu persatu kue tersebut. Disana terselip sebuah kertas berbentuk hati berwarna merah.
__ADS_1