
Tasya merebahkan tubuhnya yang lelah sesaat setelah berhasil menidurkan Vano ke dalam box bayi. Dia melihat jam sudah menunjukan pukul sembilan malam. Dia masih menunggu suaminya pulang ke rumah.
Tak berselang lama, Tasya kembali bangun dan mengambil paper bag berisi dua buah batik yang tadi dia beli. Dia menimang, mana yang cocok untuk dipakai suaminya pada peresmian nanti. Tasya menaruhnya kembali ke dalam paper bag.
Entah kenapa, dia merasa sedikit gelisah. Reza tak menghubunginya saat tadi dia mematikan sambungan telepon mereka. Tasya tahu, suaminya saat ini sangat sibuk. Rasa kesalnya kini berubah menjadi rasa khawatir. Namun rasa gengsi mengurungkan niatnya untuk menghubungi suaminya terlebih dahulu.
Tasya merebahkan tubuhnya kembali. Menunggu suaminya sambil memainkan ponselnya. Dia membuka galeri foto dalam ponselnya. Disana terdapat banyak foto sang anak serta foto dia dan suaminya. Bahkan beberapa foto Reza yang dia ambil secara diam-diam untuk menjahilinya. Dia menatap foto suaminya lekat-lekat. Rasa kangen kini menyeruak dalam hatinya. Sesekali dia mengusap perutnya saat menatap foto suaminya, tak berapa lama dia tertidur dengan ponsel masih ditangannya.
Jam sebelas malam, Reza baru tiba dirumah. Rasa lelah dan kantuk membuatnya beberapa kali menguap. Reza memasuki kamarnya, dia melihat sang istri yang tengah terlelap.
"Gak jadi tidur di luar sepertinya." gumamnya seraya tersenyum.
Dia menanggalkan seluruh pakaiannya kemudian mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, dia menghampiri box bayi. Menatap bocah kecil yang sedang tertidur pulas dengan terlentang. Dia mengelusnya pelan sambil tersenyum.
Setelah puas memandang buah hatinya, kini dia beranjak naik ke atas kasur. Dia meletakan ponsel sang istri diatas nakas. Kemudian menyelimuti istrinya.
"Papi.." ucap Tasya terbangun saat tangan dingin Reza menyentuh tangannya.
"Iya sayang."
"Sudah pulang?" tanya Tasya masih mengumpulkan nyawanya.
"Iya Mam. Tidur lagi, masih malam." ajak Reza
"Sudah makan?" tanyanya lagi.
"Tadi sudah dikantor sayang." Reza kini memeluk istrinya.
Tasya balas memeluknya.
'Tumben dia gak marah.' batin Reza.
Reza mengecup puncak kepala istrinya, tak berapa lama dia tertidur.
***
Jam satu malam, Tasya mendengar suara tangisan Vano. Dengan terkantuk dia mendekat ke box bayi hendak menggendong anaknya.
"Demam?" Tasya segera melebarkan matanya. Dia melihat sang anak menangis dengan telinga memerah karena suhu tubuhnya meningkat.
"Ya Allah naak, kok demam? Padahal tadi gak apa-apa" gumamnya.
"Sini sayang. Vano sakit ya. Sabar ya Nak.." ucapnya seraya menggendong sang buah hati dengan gendongan.
"Minum ya, minum gantengnya Mami." Tasya memberikan Vano minum dengan menggunakan sendok. Setelah minum beberapa sendok, Vano menangis kembali. Tasya mengayunnya pelan hingga tangisnya kini terhenti.
Tasya mengukur suhu tubuh anaknya dengan termometer.
"Tinggi banget." gumamnya saat melihat angka 39 derajat pada termometer tersebut.
"Makan biskuit terus kita minum obat ya sayang?" ucapnya pada Vano.
Tasya mengambil biskuit milik anaknya yang selalu dia sediakan di kamarnya. Dia menyuapi sang anak tapi Vano menolaknya.
Tasya menuangkan obat demam ke dalam pipet dan memberikannya kepada Vano. Kemudian menidurkan Vano dengan mengayun-ngayunkannya.
Tasya hendak membaringkan Vano di atas kasur miliknya setelah Vano kembali terlelap, tapi begitu hendak diturunkan dari gendongan, Vano kecil merengek kembali. Seketika Tasya mengurungkna niatnya. Dia duduk dibibir kasur sambil mengelus-ngelus punggung sang anak.
Tasya mencoba menidurkan kembali Vano, tapi Vano selalu menolaknya. Seakan tak mau lepas dari pelukan Maminya. Hampir dua jam Vano tidur di gendongan Tasya, membuat perut Tasya sedikit sakit karena tertekan oleh Vano. Dia mengkhawatirkan janin yang ada diperutnya.
Tasya tak tega untuk membangunkan tidur suaminya. Dia segera keluar kamar mengetuk pintu kamar Mbak Diah. Setelah beberapa kali mengetuk, akhirnya pintu kamar Mbak Diah terbuka.
"Mbak, Vano demam. Perutku terasa kencang sekarang. Bisa gantian dulu Mbak gendong Vano?" tanya Tasya.
"Kenapa bisa demam? Tadi gak apa-apa ya Bu?" tanya Mbak Diah sambil mengambil Vano dari Tasya.
"Ibu gak apa-apa?" tanya Mbak Diah yang khawatir.
"Enggak Mbak, cuma ngerasa kencang saja. Ada dua jam kali, Vano gak mau lepas dari gendongan."
"Aku tunggu Vano disini boleh?" tanya Tasya
"Saya bereskan dulu Bu." ucapnya
"Enggak usah Mbak. Gak apa-apa." Tasya merebahkan tubuhnya.
Setelah beberapa lama menunggu. Tasya merasa tak enak hati pada Mbak Diah.
"Coba saja Vano mau turun nggak Mbak?" tanya Tasya.
Mbak Diah mencoba menurunkan Vano dengan sangat hati-hati. Vano hendak menangis tapi Tasya segera menepuk pelan pahanya. Dia kembali terlelap.
"Alhamdulillah. Aku ke kamar saja kalau begitu ya Mbak. Mbak juga tidur lagi saja." ucap Tasya.
Tasya keluar kamar Mbak Diah sangat hati-hati karena takut sang anak akan menangis kembali.
Dia mengusap-ngusap perutnya seraya masuk ke dalam kamar. Tasya mencoba merebahkan badannya.
Lama Tasya gelisah karena perutnya masih terasa kencang. Kini dia merasa sangat mual. Dengan tergesa, Tasya berlari ke kamar mandi dan muntah disana.
Tasya kini merasa sangat lemas. Setelah lelah menggendong anaknya yang kian berat, kini perutnya membuatnya sangat tak nyaman. Dengan terpaksa dia membangunkan Reza.
"Papi.. "
"Papi bangun.." Tasya mengguncang tubuh Reza keras
"Hmm.."
"Aku gak kuat ini kencang terus. Papi bangun dulu." pinta Tasya
"Mami kenapa?" Reza segera terbangun dengan panik.
"Perutku kencang terus. Mual juga." ucapnya merasa gak nyaman.
"Kita ke dokter ya?" ajaknya
"Enggak."
"Ya terus gimana?"
"Aku mau minum air anget saja. Tapi mau jalan rasanya lemas." ucap Tasya seraya merintis
"Papi buatkan teh manis hangat ya?"
Tasya mengangguk. Reza segera keluar kamar. Tak berapa lama Reza masuk membawa teh manis hangat.
"Pelan-pelan sayang." ucap Reza sambil memberikannya kepada Tasya
Tasya minum sedikit demi sedikit. Kemudian memberikannya kembali kepada Reza. Dengan sigap Reza segera menaruhnya diatas nakas.
"Masih sakit?" tanya Reza
Tasya mengangguk.
__ADS_1
"Vano demam"
Reza segera melirik ke tempat tidur Vano.
"Aku titip Mbak Diah. Dia gak mau lepas gendongan tadi. Aku udah gak kuat gendongnya."
"Papi bilang jangan gendong Vano. Begini kan!" Reza membentaknya.
Tasya seketika tertunduk kesal.
"Maaf. Papi cuma khawatir sama Mami. Papi gak mau Mami kelelahan. Sekarang Vano beratnya bertambah Mam." ucapnya seraya memegang tangan sang istri.
Tasya membaringkan tubuhnya, dia meringkuk membelakangi Reza.
"Mam, Papi minta maaf. Bukan maksud membentak Mami."
"Tidur lagi saja." ucap Tasya
Reza merapatkan tubuhnya pada sang istri. Dia memeluk Tasya dari belakang. Deru nafasnya membuat nyaman Tasya, hingga mereka terlelap bersama.
***
"Bu.. Bu.." Mbak Diah mengetuk pintu kamar berulang kali. Tasya terperanjat, dia segera membuka pintu untuk Mbak Diah.
"Vano ingin ke Mami." ucap Mbak Diah bersamaan dengan tangisan Vano
"Rewel gak Mbak?" tanya Tasya
"Sedikit Bu."
"Naik lagi panasnya Bu." ucap Mbak Diah
"Duh ya Allah." ucap Tasya seraya mengambil Vano
Tasya membaringkan Vano disamping suaminya tapi Vano menangis minta di gendong.
"Papi.." Tasya mengguncang tubuh suaminya
"Papi.. Panggil Papinya Bang." perhatian Vano sedikit teralihkan
"Papi..bangun Pap." ucap Tasya seraya membangunkan Reza.
"Sebentar lagi Mam. Hari ini Papi ke kantornya siangan." ucapnya.
"Vano masih demam. Ini aku gendongnya masih takut."
Reza segera mengambil Vano dan menggendongnya masih mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Panas banget ini" ucap Reza dengan suara parau.
"Kita ke dokter saja." ajak Reza
"Mami masih sakit perutnya?" tanya Reza
"Sudah enggak, tapi ini mual banget." ucap Tasya menahan sesuatu agar dia tak muntah.
"Muntahin saja Mam. Biar enakan." ucap Reza
"Iya belum ingin banget. Masih gak enak disini." ujarnya seraya menujuk lehernya.
***
Reza mengecek jadwal dokter anak dan kandungan. Kemudian melakukan pendaftaran secara online.
"Kok Mami juga? Belum jadwalnya sayang" tolak Tasya
"Mami mau nanti kenapa-napa? Semalam sudah meringis begitu. Periksa saja dulu." ucap Reza sedikit ketus
"Kenapa sih dari semalam Papi marah-marah terus? Biasa saja kali nada bicaranya! Yang harus marah itu aku bukan kamu!" Tasya terpancing kesal
"Maaf. Papi hanya khawatir. Maunya Mami nurut saja sama Papi, gak banyak protes." ucap Reza
"Gak usah marah-marah juga" ketus Tasya tak terima.
"Kenapa? Mantan menghubungimu? Sana nostalgia saja!"
"Kok Mami jadi bahas mantan Papi?"
"Ya kali kalian memulai lagi, kamu jadi begitu sama aku."
"Enggak Mam. Sumpah. Papi cuma gak suka saja Mami ngebantah."
"Bisa kan bicara baik-baik?" ucapnya masih kesal.
"Kalau kamu merasa aku dan Vano jadi beban. Gak usah urus kita. Sana urus perusahaanmu saja! Aku juga bisa besarin anak sendiran!"
"Kok Mami malah bicara begitu?"
"Aku gak suka saja sikap kamu begitu." ketus Tasya
"Iya maaf Mam."
Keduanya terdiam lama.
Tasya masuk ke dalam kamar mandi dan muntah disana.
Setelah selesai, dia segera mencari minyak angin.
"Sini Papi bantu."
"Gak perlu!" Tasya menepis tangan Reza.
"Papi minta maaf Mam." sesalnya.
Tasya hanya diam. Reza memeluknya dari belakang.
"Sana!"
"Papi minta maaf Mam sudah marah-marah." ucapnya, masih mengunci tubuh Tasya
"Yang harusnya marah aku bukan kamu."
"Aku tahan-tahan ya biar gak kesal sama kamu gara-gara mantanmu itu. Tapi perlakuanmu?" Tasya mendengus kesal.
"Iya maaf."
"Mami gak di apa-apin kan sama dia?" tanya Reza
"Enggak. Cuma titip salam sama mantan."
"Jangan dipikirin ya Mam. Papi gak mungkin sama dia. Dia kan punya suami."
"Sekalipun punya suami kalau cintanya sama kamu, gak bakalan lupa." ucap Tasya
__ADS_1
"Papi gak gitu Mam. Papi sudah tutup buku sama masa lalu. Sekarang hanya ada masa depan kita. Mami dan anak-anak."
Tasya sedikit terhibur mendengarnya.
"Mami percaya kan sama Papi?" tanya Reza
"Dari awal aku percaya. Makanya aku gak bahas dia. Gak jadi marah juga"
Reza tersenyum.
"Tapi sikap kamu begitu sama aku dari semalam? Aku jadi kesel!"
"Iya, Papi minta maaf. Papi cuma capek saja Mam."
"Terus kalau capek, anak istri sakit harus marah-marah gitu?"
"Ya enggak. Papi minta maaf ya sayang." Reza mengecup pipi istrinya dari belakang kemudian membalikan tubuhnya dan memeluknya erat.
"Nanti setelah ke dokter kita ke kantor sebentar ya. Papi mau cek persiapan buat besok." pinta Reza
Tasya hanya diam.
"Yuk siap-siap. Mami mandi dulu. Setelah itu baru Papi."
"Mbak Diah kasih tahu dulu, aku tunggu Vano." ucap Tasya kini dia bersikap seperti biasa.
"Iya." Reza hendak membuka pintu kamar.
"Eh Papi, coba dulu batik kemarin. Sekalian nanti minta cuci Bi Tinah."
Reza memutar badannya kembali. Dia memperhatikan Tasya yang mengeluarkan dua buah batik.
"Kok dua Mam?"
"Aku bingung. Dua-duanya bagus. Ya sudah aku beli dua saja sekalian." ucap Tasya seraya membuka plastik yang membungkus batiknya
"Pelan-pelas sayang." bisik Reza saat melihat anaknya menggeliat
Reza segera memakai batiknya. Dia berdiri di depan cermin.
"Ini bagus. Pas banget." ucap Reza seraya memutar tubuhnya melihat pantulan dirinya dengan berbagai gaya.
"Nih yang satu lagi." ucap Tasya.
Reza pun memakainya.
"Bagus juga yang ini. Kata Mami besok pakai yang mana?" tanya Reza
"Aku bingung. Dua-duanya bagus."
"Kalau Papi yang pakai mah pasti bagus. Kecuali Pak Budi yang pakai." Reza tertawa
"Papi." Tasya melotot. Mereka melirik sang anak karena suara tawa Reza
"Untung gak bangun kan." ketus Tasya
"Maaf."
"Jadi yang mana?" tanya Reza
"Itu saja lah." ucap Tasya pada batik yang dikenakan Reza
"Bawa ke Bi Tinah, Pap. Biar di cuci dulu." pinta Tasya.
Reza segera keluar kamar membawa kemeja batiknya.
***
"Pak Budi antar kita ke dokter ya" pinta Reza saat mereka masuk ke dalam mobil.
"Wah, Papi baru nih Vano naik mobil ini. Keduluan Opa kemarin." ucap Reza saat naik ke dalam mobil.
"Vano mau sama Papi?" tanya Reza saat mobil mulai melaju.
"Biar sama saya saja Pak." ucap Mbak Diah dari belakang.
"Nyaman ini ya Pak Bud. Kalau jadi penumpang" Reza tertawa.
"Gimana kalau nyupir? Enak mana Pak?" tanya Reza mengajak ngobrol Pak Budi
"Enakan sedan Za."
"Iya iya.. Kalau sudah biasa sedan memang enak itu." ucapnya seraya menumpangkan sebelah kaki kanan ke kaki kirinya.
"Gayanya bos." gumam Tasya menyindir suaminya namun terdengar oleh Reza.
Reza tertawa mendengarnya.
"Nikmati jerih payah dong Mam" ucapnya masih tersenyum.
"Berapa tahun kerja coba bisa kebeli dua mobil begini." ucap Reza
"Iya deh Pak Direktur." sindir Tasya
"Haha.. Belum resmi ibu." Reza nampak senang ledekan dari sang istri
Mereka tiba di Rumah Sakit.
"Aku tiap kesini rasanya gimana ya, campur aduk." gumam Tasya
"All is well Mami." Reza menggenggam tangan istrinya.
Mereka langsung menuju ke ruang praktek dokter anak meninggalkan Reza yang tengah berada di loket pembayaran.
Disana nampak penuh.
"Duduk dimana kita Mbak?" gumamnya seraya mencari tempat duduk
"Yuk disana kosong." ajaknya kemudian.
Hanya satu tempat duduk yang tersisa, kursi sebelahnya diisi oleh barang milik orang lain.
"Mbak duduk saja. Pegal gendong Vano. Biar aku berdiri saja." ucap Tasya
Tak berapa lama, Reza melangkahkan kakinya mencari sang istri. Beberapa pasang mata menatap langkah hot daddy tersebut karena kegantengannya yang diatas rata-rata.
"Kok gak duduk?" Reza melihat bangku berisi tas tersebut dengan jengah.
"Ibu, permisi. Bisa pinjam kursinya? Istri saya sedang hamil." ucap Reza tegas pada seorang wanita yang terlihat acuh dengan memakai maskernya.
Wanita tersebut melihat ke arahnya.
"Reza?"
__ADS_1
Si Papi ketemu siapa lagi siiiihhh?? Bikin penasaran saja. Yuk di like dan komentarnya untuk jejak. Bantu vote juga. Terima kasih ^^