
Reza tersenyum manis melihat istrinya yang kaget.
"Kok sudah datang?" tanya Tasya heran
"Seneng gak?"
"Enggak."
"Mami jahat. Capek tahu Mam. Pegal juga." ucap Reza masuk ke dalam kamar.
"Macet gak Pap?"
"Alhamdulillah lancar. Macet dikit pas bubaran yang kerja gitu."
Tasya keluar kamar hendak membuat cokelat panas kesukaan suaminya. Dia tak marah pada Reza dengan foto yang dikirimkan kepadanya karena dia faham betul suaminya seperti apa. Tasya lebih cemburu dengan Reza yang lebih gila kerja ketimbang dengan wanita lain.
"Abang mana Mam?"
"Di kamar A Rasya."
Reza mengambil cokelat hangat dan menyeruputnya begitu masuk ke dalam kamar setelah dari kamar mandi.
"Enak banget Mam."
"Mau makan gak?"
"Enggak. Tadi di rest area Papi beli roti. Sekarang masih kenyang."
Reza mendekati istrinya dan tersenyum. Dia mengecup bibir Tasya berkali-kali. Kemudian tengkurap disamping Tasya.
"Pegel Mam"
"Sini duduk. Mami pijitin" ucap Tasya.
Reza segera duduk membelakangi Tasya. Sementara Tasya menyubit pinggang suaminya.
"Aw... Sakit Mam!"
"Suruh Siapa menyebalkan! Kesel tahu gak! Udah bikin ulah gak ada kabar pula." gerutu Tasya
"Ya maaf. Kan surprise sayang"
"Bukannya asyik sama cewek cantik itu?"
"Tuh kan. Berapa lama kita nikah sih? Mami masa gak percaya Papi."
"Iya percaya, tapi sebel aja Papi duduknya deketan gitu. Sengaja banget" ucap Tasya
"Ya ampun Mam. Serius Papi tuh gak sadar juga."
"Curi-curi kesempatan deh bukan gak sadar." ucap Tasya
"Enggak sayang."
Tasya mulai memijitnya.
"Mana sini nomor temannya Vano? Biar Papi urus"
"Urus anak Papi, buat apa urus orang lain" ketus Tasya
"Habis, dia dari awal memang harus di kasih pelajaran. Ibu sama anak sama-sama bikin onar."
"Papi tuh Mam, Vano dibilang miskin saja sampai sekarang kepikiran Mam. Ingin ngebales omongan bocah gak tahu diri itu" kesal Reza.
"Ya sudah sih, berdoa saja rezeki kita lancar. Lebih dari mereka." ucap Tasya
"Mami juga, nanti ke sekolah jangan asal-asalan"
"Terus harus gimana? Pakai kebaya?"
"Ya bukan gitu. Pakai kek perhiasan. Pakai baju yang lebih bagus. Tunjukan ke mereka, jangan cuma pakai ini saja!" Reza menarik lengan Tasya dan melihat satu buah cincin di jari manisnya.
"Ya buat apa sih Pap? Biasa saja. Papi mah, harusnya Mami tahu yang kesel sama Papi. Malah Papi yang ikutan marah"
"Haha.. Papi tuh kesel gitu sama orang itu. Apa sih maunya mengusik hidup kita. Kita saja gak pernah ngusik sama hidup orang."
"Mau di pijit gak?" tanya Tasya mengalihkan pembicaraan mereka.
"Iya Mau sayang" pintanya
Selesai di pijit, Reza keluar kamar dan masuk ke dalam kamar Rasya. Dia mengelus putra pertamanya kemudian mengecup gemas pipinya.
Dia kemudian mengobrol dengan Rasya diruang tengah sebelum. Akhirnya masuk kamar kembali.
***
"Papiiiii yeee Papi jemput" Vano mengguncang tubuh Reza.
"Bang, Papi masih ngantuk Bang"
"Papi ih, udah siang. Cepetan bangun." Vano naik ke tubuh Reza.
"Turun Bang." Reza mengerjapkan matanya seraya menguap.
"Ayo pulang Pi" ajak Vano
"Kenapa ingin pulang?"
"Aku mau kerumah kita. Gak mau disini Papi" ucapnya
"Kenapa? Bukannya kalau lagi dirumah suka ingin kesini"
"Gak mau. Gak seru. Aku ingin pulang Papi!" Vano merengek.
Tasya masuk ke dalam kamar memangku Daffa
"Tuh Papi sama Abang. Yuk Daffa juga naik sini" ucap Tasya seraya mendudukan Daffa diatas kasur.
"Dek kita pulang yuk?" ajak Vano pada Daffa
"Yuk" Daffa menganggukan kepalanya
"Abang kenapa ingin pulang sih?"
"Aku gak mau lagi disini Mami. Gak seru. Aku mau pulang ke rumah kita." rengek Vano
"Iya nanti setelah Papa nikah ya?" bujuk Tasya
"Aku gak mau lihat Papa nikah. Aku sebel sama Papa. Kemarin marahi aku. Pi ayo pulang Pi" ajak Vano
"Papi cuci muka dulu" Reza beranjak dari kasurnya
"Habis cuci muka pulang ya Pi" ajak Vano mengikuti Reza
"Abang kok mau pulang sih?" tanya Rasya
"Abang gak suka lagi sama Papa. Papa nakal sama Abang."
"Siapa yang nakal?" tanya Ibu
"Semua yang disini"
"Nin nakal?"
"Iya. Aku gak boleh bantu Nin kemarin." ucap Vano. Dia berhenti di depan kamar mandi menunggu Reza
Reza duduk di meja makan masih diikuti Vano.
"Papiiii pulang. Aku gak mau lagi tinggal disini. Aku gak suka" Vano merengek tak henti
"Abang! Pagi-pagi sudah rewel." Tasya memperingatinya
__ADS_1
Reza memangku Vano. Dia mengusap lembut anaknya tersebut.
"Nanti ya pulangnya. Mau jalan-jalan gak?" ajak Reza
"Aku mau pulang"
"Abang, mau beli ini gak?" Rasya memperlihatkan gambar mainan pada Vano
"Ini bagus loh Bang. Bisa nyala" ucap Rasya
"Ini bersuara juga?" tanya Vano mulai teralihkan perhatiannya
"Iya. Baguskan?"
"Aku mau Pa" Vano turun dari gendongan Reza
"Dasar matre" ucap Rasya
"Papa kenapa gak ikut Za?"
"Papa masih ada kerjaan Bu, aku juga alhamdulillah ada yang di cancel kerjaan, jadi bisa kesini lebih cepat" ucap Reza
"Iya alhamdulillah. Semua kumpul disini"
"Pap mau teh atau cokelat?"
"Teh saja Mam." Reza mengambil pisang goreng dan memasukan ke mulutnya.
"Jadi saudara belum ada yang datang Bu?"
"Besok katanya. Kan sebagian ada yang kerja."
"Papi sakit kepala Mam" Reza berbisik pada Tasya
"Istirahat saja. Nanti Mami ambil obat." ucapnya
"Ya udah. Papi ke kamar ya Mam"
***
Tasya berkumpul bersama tetangga sambil membuat makanan khas daerahnya. Mereka berbincang hangat disana sambil sesekali saling melempar canda.
"Mamiii, Papi mana?" Vano mendekat seraya membawa mainan
"Papi sakit kepala, jangan diganggu dulu Bang."
"Sini Bang, ganggu Bibi saja" ucap salah satu tetangga Tasya
"Aku gak mau sama bibi-bibi" ucap Vano membuat semua tertawa
"Abang.. " Tasya menatap Vano
" Iya maaf. Habis aku gak mau sama Bibi-bibi, Mami. Gak bisa di ajak main ini" Vano menunjukan mainan yang baru dibelinya bersama Rasya.
"Abang sudah sekolah?" tanya Tetangga Ibu
"Iya, tapi sekarang lagi gak sekolah karena kan Abang mudik kesini. Iya kan Mi?"
"Iya"
"Abang pindah kesini saja sekolahnya?" tanyanya lagi
"Gak mau ah. Disini banyak yang colek-colek Abang" ucap Vano
"Kenapa sih gak mau d colek?"
"Aku kan bukan cokelat. Masa di colek-colek terus." protesnya membuat semua tertawa.
Vano meninggalkan mereka setelah Rasya memanggilnya.
"Sudah mendingan sayang?" tanya Tasya pada Reza.
"Lumayan Mam. Tadi berat banget." ucapnya.
"Mau makan gak?"
"Tumben Papi ngajak makan cuanki. Jangan-jangan Papi ngidam?"
Reza tertawa. "Gak mungkin lah."
"Anak-anak mana?" Tanyanya lagi.
"Tidur dua-duanya."
"Yuk ah jalan sekarang, mumpung mereka tidur" ucapnya.
"Ya udah ayo."
Keduanya masuk ke dalam mobil.
"Mumpung disini kan, kapan lagi kita jalan berdua." ucap Reza seraya melajukan mobilnya.
Reza memakai kacamata hitam miliknya kemudian mengaitkan jemarinya dengan jemari Tasya. Dia mengecup lembut punggung tangan istrinya tersebut.
"Mam"
"Mampir yuk?"
"Kemana?"
"Tuh" Reza menunjuk sebuah hotel.
"Cuma numpang enak sebentar mah tanggung Pap. Di mobil saja" ucap Tasya seraya tertawa.
"Sempit gak bebas Mami"
"Emang mau apa? Salto?"
"haha.. Enggak juga. Cuma ya ga enak lah."
"Papi mah pikirannya tuh kesana terus."
"Kan Papi ingin punya Princess. Ayolah, sebelum keduluan Rasya" ucapnya
"Dasar."
Keduanya tiba di kedai cuanki langganan mereka.
"Sayang, jangan terlalu pedas, gak ingat apa kemarin sakit perut sampai begitu" ucap Reza
"Enak sih Pap. Seger banget" ucap Tasya
"Awas saja kalau nanti ngeluh sakit perutnya" Reza mengingatkannya.
Keduanya nampak menikmati makanan mereka.
***
"Mami Papi dari mana sih! Aku sama Daffa gak di ajak!" ketus Vano
"Maaf Bang, ini Mami belikan donat" ucap Tasya
"Serbu Deeekk.." ucapnya seraya mendekati box berisi donat berbagai toping. Dia lupa tengah marah oada orangtuanya.
"Dedek, stop. Abang dulu yang milih."
"Apa (Daffa)"
"Abang Dek, kan Abang sudah gede. Nih lebih tinggi dari Dedek."
"Nanti Abang gak mau main kalau Dedek gak nurut" ancam Vano
__ADS_1
Daffa cemberut, dia mengalah dari Vano. Sementara Vano memilih donat miliknya.
"Itu buat siapa Mi?" tanya Vano saat Tasya membawa tiga box donat.
"Buat yang lagi bantu-bantu dibelakang, Bang" ucap Tasya
"Oh." dia melanjutkan aktifitasnya.
***
Suasana rumah yang biasanya sepi, hari itu sangat ramai. Halaman dan rumah di dekorasi sedemikian rupa dengan berbagai bunga dan hiasan yang nampak lebih indah.
Anak-anak berlarian kesana kemari dengan riang gembira, diiringi oleh alunan musik islami yang memeriahkan pagi hari itu.
Rasya duduk dihadapan uwa Zahra bersama dengan Reza yang menjadi saksi pernikahan mereka.
Sesekali wajah cemas Rasya melirik sang adik kesayangannya sesaat sebelum melepas masa lajangnya. Hingga tiba saat yang dinanti, yang dapat mengubah statusnya menjadi seorang lelaki bertanggung jawab dunia akhirat untuk calon istri dan anak-anaknya kelak.
"Saya terima nikah dan kawinnya Zahra Khairunnisa dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" dalam satu tarikan nafas dan lantang, Rasya mengucapkan janjinya dihadapan para saksi yang menyaksikannya.
"Sah" ucap Reza dan salah satu saksi dari pihak Zahra.
Mereka serentak mengucap Alhamdulillah. Sinar bahagia terpancar dari wajah mereka.
Zahra menghampiri Rasya dan duduk bersanding dengan rasa gugup dihatinya. Dia menyambut tangan lelaki yang kini menjadi imam hidupnya dengan gemetar saat penghulu meminta keduanya saling berhadapan.
"Mami kenapa menangis?" tanya Vano saat melihat Tasya mengusap air matanya dengan tisu.
"Mami bahagia, sayang" ucap Tasya
"Kenapa? Karena aku punya Mama baru?"
"Iya. Karena Papa sudah ada Mama yang mengurusnya."
"Papa kayak anak kecil Mi. Masa harus di urus. Kayak aku diurus Mami dong Mi?" ucap Vano
"Iya Bang."
"Ih, masa Papi sudah gede masih di ceb*kin Mi?"
Tasya yang sedih seketika terhibur dengan ucapan anaknya. Sementara Reza menatap mereka dengan intens.
Tasya melirik Reza yang masih menatapnya. Dia tersenyum lembut pada lelakinya yang telah menjadi separuh jiwanya itu.
"Love you Mami" ucap Reza tiba-tiba saat mendekati istrinya.
"Tumben"
"Hehe.. Papi bersyukur Mami setia mendampingi Papi sampai saat ini walaupun dulu kita nikah dengan terpaksa." ucap Reza
"Kenapa? Terbawa perasaan ya tadi saat jadi saksi?" goda Tasya. Reza tersenyum seraya menganggukan kepalanya.
"Habis ini kita honeymoon lagi" ucapnya
"Papi ih"
"Papi serius Mami" ucapnya
"Iya" Tasya menanggapinya dengan asal. Dia lebih fokus menatap kedua insan yang kini berjalan menuju pelaminan.
"Ya Allah, A Rasya ganteng banget" ucap Tasya
"Pap, yuk kita kasih selamat dulu" ajak Tasya.
Reza memangku Daffa sementara Tasya menggenggam tangan Vano naik ke pelaminan. Mereka menyalami orangtuanya seperti tamu undangan seraya becanda.
Tasya memeluk erat Rasya dan menangis didalam pelukannya. Kakak yang biasa melindunginya, kini dia mempunyai tanggung jawabnya sendiri yang harus dia prioritaskan.
Rasya mengecup lembut kening sang adik seraya mengucapkan kalimat-kalimat yang membuat Tasya semakin terisak.
"Udah Neng, luntur make up-nya" Ucap Rasya seraya menghapus jejak-jejak air mata Tasya
"Kamu nikah gak kayak gini nangisnya. Giliran Aa nikah kamu malah kayak gini"
"Aa bisa gak sih gak bawel" ucap Tasya yang sedikit malu.
Kini Tasya berhadapan dengan Zahra.
"Maaf ya Za. Aku dekat banget sama Aa jadinya begini."
"Gak apa-apa Sya. Aku senang melihat kalian seperti ini. Jarang sekali adik kakak punya ikatan kuat kayak kalian" ucap Zahra
"Hehe.. Titip Aa ya Ra, maaf kalau A Rasya suka jahil. Semoga sabar sama Aa" ucap Tasya
"Iya Sya, aku sama A Rasya pasti sama-sama belajar" ucapnya.
***
"Ciee pengantin baru keluar kamar" ledek Tasya saat melhat Rasya dan Zahra kini tengah berganti pakaian mereka.
"Halah sekarang cie cie tadi mah nangis bombay" Rasya balas meledeknya.
"Biarin."
"Bulan madu kemana A?" tanya Uwa
"Mau di ajak ke kebon brokoli aja Wa" ucap Rasya membuat mereka tertawa.
"Gak apa-apa Ra, nanti hasilnya jual sendiri saja" balas Tasya
"Aku ikut Pa" pinta Vano
"Haha.. Iya Van, ikut saja sama Papa ya" Reza nampak senang
"Jangan Bang, nanti ada ular. Takut" cegah Rasya
"Iya jangan ikut Bang, nanti ularnya mau masuk sarang" ceplos Reza kemudian membuat semua terbahak sementara Tasya dan Zahra merasa malu mendengarnya.
"Papi. Gak tahu malu" Tasya menyubit pinggang suaminya
"Sebelum masuk sarang, jangan lupa ngucap salam" tambah Uwa. Suasana semakin ramai oleh olok-olokan mereka. Sementara kedua pengantin nampak malu-malu.
"Memang kalau masuk sarang kenapa Papi?" tanya Vano
"Nanti ularnya muntah Bang" Lutfi, sepupu Tasya menanggapinya. Mereka tertawa kembali.
"Kalau muntah bawa ke rumah sakit saja biar diperiksa dokter" Vano lagi-lagi ikut menyahuti mereka
"Gak usah Bang, habis muntah jadi lega nanti" Reza kini menanggapinya.
"Papi. Anaknya di ajarkan m*sum!" ketus Tasya pada Reza
"Haha gak ngerti Mam anaknya juga."
"Sudah yuk Abang kita bobo." ajak Tasya
"Gak mau, Abang mau bobo sama Papa" Vano berlari ke dalam pelukan Rasya.
"Jangan sekarang ya, kan di kamar Papa ada Mama sekarang" bujuk Tasya
"aku juga mau bobo sama Mama" rengeknya
"Iya, biarkan sama kita dulu Sya" Zahra menaggapinya
"Tuh kan, kata Mama juga boleh" ucap Vano
"Sya, atulah kira-kira aja!" gerutu Rasya tak terima.
.
.
__ADS_1
.
Readeerrss, sepeti biasa like dan komentarnya yaaa.. Jangan lupa vote juga. Terima kasih ^^