
Cckiiiiiiiiitttttttt..
Reza mengerem kencang, tubuh mereka sedikit terpental ke depan tertahan oleh sabuk pengaman yang mereka pakai.
Reza mengklakson lama membuat pengendara motor tersebut menoleh sebentar ke arahnya kemudian melaju kencang.
"Si*lan lo bang***!" teriak Reza.
Beruntung daerah sana memang tergolong tak banyak kendaran yang lalu lalang. Sehingga hanya kendaraan mereka yang melintas.
"Mami gak apa-apa?" tanya Reza merubah mimik wajahnya menjadi khawatir
Tasya nampak gemetar dengan wajah memucat.
Reza menepikan mobilnya.
"Mami.. Mam.. " Reza memegang jemari istrinya yang terasa dingin.
"A.. Aku takut.." ucapnya terbata
Reza melepas sabuk pengamannya. Mendekatkan diri pada sang istri. Dia memeluk istrinya memberi kenyamanan disana.
"Ada Papi sayang. Jangan takut." ucapnya menenangkan.
Reza mendongakan kepala Tasya hingga wajah mereka berhadapan.
"Jangan takut, ada Papi." Reza menyatukan kening mereka dan mengecupnya perlahan.
"Kita cari minum sayang." ajaknya.
Reza melajukan kembali mobilnya dengan perlahan hingga dia melihat warung kecil yang terbuat dari bambu. Reza menepikan mobilnya kemudian turun disana. Dia membuka pintu mobil istrinya, kemudian menggenggam tangan dingin Tasya.
Mereka duduk di sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu.
"Teh manis hangatnya dua, Bu." ucap Reza
Tasya masih terdiam. Kepalanya terasa sakit saat sedikit bayangan kecelakaan melintas dalam pikirannya.
"Mami, maafkan Papi." ucapnya
Ibu pemilik warung menghampiri mereka dengan memberikan teh manis hangat dengan kantung teh menggantung di dalam air.
"Terima kasih, Bu" ucap Reza
"Minum sayang." Reza memberikan gelas tersebut pada Tasya. Tasya menyeruputnya perlahan.
"Aku mau pulang." ucap Tasya
"Iya setelah ini kita pulang sayang." Reza mengusap lembut punggung istrinya. Kini dia menggenggam tangan sang istri.
Setelah Tasya tenang, Reza kembali melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.
***
"Tasya kenapa Za?" tanya Ibu saat mereka masuk ke dalam rumah.
"Tadi kira hampir kecelakaan Bu, Tasya syok sepertinya." ucap Reza
Ibu segera menghampiri Tasya ke dalam kamar.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Ibu
"Enggak Bu."
"Kandunganmu?"
"Gak apa-apa Bu, hanya kaget saja." ucapnya
"Istirahat saja ya."
"Vano mana Bu?"
"Lagi sama Aa, sama Ayah juga. Kamu istirahat saja jangan mikirin Vano." ucapnya
"Terima kasih Bu."
Reza segera masuk ke dalam kamar.
"Sayang, sakit perutnya?" tanya Reza mengelus lembut perut sang istri.
Tasya memalingkan mukanya. Tak menjawab pertanyaan suaminya.
"Maaf Mam, tadi Papi kepedesan banget. Papi gak dengerin apa kata Mami" ucapnya
Tasya masih tak menggubrisnya.
"Mami istirahat ya sayang. Kalau dirasa sakit, bilang ya. Papi gak mau Mami sama anak kita kenapa-napa." ucapnya
"Bukannya kamu ingin kita mati?" jawab Tasya ketus
"Astaghfirullah.. Sayang.. Kenapa bilang begitu? Naudzubillahi mindzalik Papi gak bisa ngebayanginnya. Kamu jangan mikir yang macem-macem" ucap Reza
Tasya terdiam.
"Papi keluar ya, Mami istirahat." Reza membungkuk hendak mengecup kening Tasya tapi segera ditahannya.
"Sana." titah Tasya ketus
Reza menurut. Dia segera keluar kamar tanpa bicara.
"Makan dulu Za" ucap Ibu mendekatinya yang sedang duduk sambil. Memainkan ponselnya.
"Iya Bu nanti."
Ibu duduk disampingnya.
"Maafkan aku Bu." ucap Reza tiba-tiba
"Minta maaf buat apa?"
"Aku kemarin terlalu sibuk sampai lupa ada Tasya dan Vano yang harus aku perhatikan." jujurnya
"Aku.. Belum bisa bagi waktu Bu." ucapnya kemudian
"Ibu gak mau ikut campur urusan kalian. Hanya kalian yang mengerti dan kalian juga yang harus menyelesaikannya."
"Iya Bu. Secepatnya aku akan urus semuanya."
"Nikah itu ibadah terpanjang. Cobaannya pun gak sedikit. Kalau gak dari kamu, dari Tasya, dari Vano, atau bahkan dari luar." ibu menghela nafasnya.
"Ibu cuma berdoa kalian bisa melewati ujiannya." ucap Ibu
"Iya Bu."
Mereka terdiam lama. Ibu awalnya ikut kesal dengan sikap Reza, tapi mendengar kejujurannya, ibu menjadi iba.
__ADS_1
"Bu..kalau misalkan aku titip Tasya sama Vano disini dulu boleh?" Reza gak mau perjanjian dengan sang istri diketahui Ibu.
Ibu menatapnya.
"Aku mau mengatur semuanya dulu Bu. Aku juga mau Tasya rileks disini. Setidaknya disini banyak teman." ucap Reza kemudian
"Ibu gak apa-apa Za. Ya Ibu mah seneng banget kalau mereka mau disini." ucap Ibu tak mau membahasnya, toh dia sudah tahu akar permasalahan mereka
"Iya Bu, nanti aku jemput Tasya lagi." ucapnya
"Ya sudah, kamu makan dulu."
"Nanti saja sama Tasya, Bu. Dia juga belum makan." ucapnya
***
Reza memghabiskna waktunya dengan mengasuh Vano. Hal yang sangat jarang sekali dia lakukan akhir-akhir ini.
Mereka nampak kompak bermain diluar dengan bebas. Vano berjalan kesana kemari dengan riangnya.
Sesekali Vano nampak menangis saat Reza melarangnya memungut sesuatu dari tanah. Namun Reza dengan segera mengalihkan perhatian Vano agar tangisnya terhenti.
Tasya keluar kamar menghampiri Ibu yang sedang membuat sesuatu di dapur.
"Sudah baikan Sya?" tanya Ibu
"Iya sudah bu."
"Vano mana?" Dia merasa kangen pada Vano karena seharian tidak bermain dengannya.
"Lagi main sama Papinya." ucap ibu
"Tumben ada waktu buat anaknya."
"Jangan gitu Sya."
"Masa aku harus berontak dulu Bu, baru A Reza ngerti."
"Jangankan kamu, ayah juga sama. Kalau ibu sudah marah, baru dia paham" ucap Ibu
"Kamu gak minta cerai kan sama Reza?" selidik Ibu penasaran
Tasya terdiam.
"Yakin kamu mau cerai dengan Reza?" tanya Ibu kemudian
Tasya masih diam. Dia gak enak kalau harus jujur pada Ibu.
"Tadi dia minta maaf sama Ibu." ucap Ibu yang membuat Tasya kini menatap Ibu.
"Dia minta maaf karena kemarin-kemarin dia gak bisa atur waktu."
"Baguslah kalau sadar." ucap tasya
"Kamu masih mau cerai sama dia?" goda Ibu.
"Entahlah Bu. Aku rasanya sudah muak sama A Reza." ucapnya
"Bisa jadi karena kehamilanmu, Sya."
"Karena sikapnya Bu yang jelas. Aku melihat wajahnya rasanya kesel terus sekarang." ucapnya kemudian
Tak lama, Reza dan Vano datang.
Tatapan mereka beradu namun Tasya segera membuang muka.
"Main tanah Nin."
"Vano sini mandi sama Mami" ucap Tasya
"Sama Papi saja ya Van. Biar Mami istirahat." ucapnya.
"Yuk kita mandi." ajaknya
"Ibu masak air dulu buat mandinya, kasihan nanti kedinginan dia." ucap Ibu
"Gak usah Bu, biar dia mandi air dingin saja. Siang ini" tolak Reza
Reza membawa Vano masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Tasya masuk ke dalam kamarnya untuk menyiapkan baju Vano.
Reza membawa Vano ke kamar mereka setelah memandikan Vano. Disana Tasya tengah menunggunya sambil memainkan ponsel.
"Sini sama Mami." ajak Tasya
"Maunya sama Papi ya, Bang." ucap Reza.
Tasya segara keluar kamar saat mendengarnya. Dia enggan berdua dengan Reza.
***
Reza masuk ke dalam kamar setelah pulang dari mushola bersama Pak Taufik. Dia masih memakai sarung yang dia pinjam dari Pak Taufik.
"Sayang, sakit perutnya?" tanya Reza sambil melipat sarung yang dia kenakan.
Tasya hanya diam.
"Hmm?" Reza mengelus perut istrinya.
Tasya tak mau menjawabnya. Dia berbalik memunggi Reza. Dengan jahilnya, Reza mengelus pant*t sang istri dengan maksud membuatnya tertawa.
"Eh, kok ada dua begini" ucapnya saat mengelus pant*t Tasya
"Apa sih! Gak sopan." ucap Tasya ketus menepis tangan Reza.
'Lumayan, ada suaranya daripada dikacangin.' batin Reza
Reza ikut berbaring disamping sang istri.
"Love you Mami. Papi gak tahan, Mami beginiin." ucapnya lembut ditelinga sang istri. Dia terus merayunya walau Tasya terus-terusan menghindar darinya.
'Baru segini kamu sudah kaya cacing kepanasan!' batin Tasya
"Mam, inget gak awal-awal kita nikah. Mami takut seranjang sama Papi" ucapnya seraya tersenyum.
"Mami minta kita gak sekamar dulu waktu itu. Dih jahatnya Mami."
"Tapi Papi suka sih, baru dipegang saja Mami sudah gemeteran. Haha."
Tasya yang mendengarnya sedikit malu. Dia juga merasa geli teringat hal itu.
Reza meneruskan monolognya, dia yakin istrinya mendengarkannya.
"Dulu tuh, Papi rasanya sudah gak sabar ingin nyentuh Mami. Tapi Papi takut Mami malah kabur. Untung Papi sabar Mam." ucapnya
"Tahu gak, dulu kenapa Papi tiba-tiba saja menyetujui rencana mereka? Dulu Papi sudah merasa gemas sama Mami. Karena Mami polos banget."
__ADS_1
"Terus, Papi gak sengaja denger obrolan Papa sama Ayah. Kata Papa, kalau Papa gak ada seenggaknya ada kehangatan dari keluarga kamu."
"Coba Mami bayangkan, kalau Papa gak ada. Papi gak punya siapa-siapa lagi Mam selain Mami sama Vano." ucapnya. Dia sengaja agar Tasya berbelas kasihan kepadanya.
Dan benar saja, hanya mengenang ucapan Reza, membuat Tasya sedikit lebih luluh. Tapi dia masih bertahan di posisinya.
"Mam, jangan bilang cerai lagi ya. Papi takut. Papi bunuh diri kayaknya kalau Mami minta cerai." ucap Reza
"Papi kaget waktu Mami bilang ingin cerai. Sedih banget tahu. Sakit aja dengernya." jujur Reza
Reza memberanikan diri menyelipkan tangannya dibawah lengan Tasya. Tak ada penolakan dari Tasya
"Sampai kapanpun jangan pernah tinggalkan Papi ya." ucapnya
Lama bermonolog, membuat Reza merasa ngantuk. Suasana menjadi hening. Nafasnya kini teratur. Reza terlelap.
Tasya membalikan tubuhnya setelah dia memastikan suaminya tertidur pulas. Tasya menatap suaminya lekat-lekat. Tasya ingin sekali menyentuh wajah suaminya itu, namun dia urungkan.
Tak terasa, air matanya mengalir begitu saja. Dia masih mencintai lelakinya. Dia merindukan suaminya yang hangat seperti dulu.
Tasya merasa menyesal telah melontarkan kata cerai pada Reza saat dia emosi tadi. Tapi dia sudah meneguhkan hatinya untuk memberikan Reza pelajaran dengan memberi jarak diantara mereka. Dia ingin tahu, sejauh mana cinta dan rindunya Reza kepadanya.
***
"Mam, cari sarapan yuk?" ajak Reza saat mereka bangun
"Atau.. Cari cuanki. Papi kangen juga sama cuanki." bohong Reza.
Tasya masih tak menjawabnya.
Dia hendak keluar kamar tapi Reza menahannya.
"Beri Papi kesempatan Sayang, jangan membuat jarak diantara kita semakin lebar." ucapnya kemudian
"Aku gak tahu harus bersikap bagaimana sama kamu." ucap Tasya
"Kayaknya hati aku rasanya hambar." ucap Tasya.
Tak dipungkiri, Taysa ingin melihat usaha Reza untuk membujuknya. Agar memantapkan hatinya melalui usaha Reza.
"Iya, Papi bakalan kasih bumbu biar hati Mami berasa lagi saat melihat Papi." ucapnya mantap.
"Yuk jalan dulu sebelum Papi pulang. Besok Papi harus kerja. Jumat sore Papi kesini lagi ngapelin anak sama istri yang lagi bunting." ucapnya seraya tersenyum membuat Tasya mendelik sebal kemudian meninggalkannya.
Reza mengambil topi dan kunci mobil miliknya. Dia hendak mengajak istrinya jalan berdua.
"Yuk Mam." ajak Reza seraya memberikan kerudung Tasya.
"Ada pasar mingguan Sya di lapangan pusdik sana. Rame sekali biasanya. Banyak jajanan juga." ucap Ibu
"Yuk kesana."
"Vano mana bu?" tanya Tasya
"Sudah biarkan. Dia lagi main sama Mbak Diah ke rumah teteh." ucap Ibu
"Ih masih pagi itu anak sudah jalan-jalan saja."
"Di rumah Teteh ada kelinci, jadi dia suka pas kemarin di ajak kesana. Tadi ketemu teteh lagi, di ajak lagi ke rumahnya."
"Sudah sana pergi. Vano anteng gitu. Gak nanyain kamu." ucap Ibu
"Aku jalan ya Bu." pamit Reza
***
Tasya sangat antusias saat berada di pasar Mingguan. Disana terdapat banyak jajanan kesukannya dulu waktu masih sekolah.
"Mami mau apa Mam?" tanya Reza
"Itu mau? Cimol?" tanya Reza saat melihat tulisan yang tertera di gerobak.
Tasya hanya mengangguk. Reza kemudian memesannya.
Mereka berjalan kembali menyusuri satu persatu pedagang disana. Tak terasa, kini tangan Reza penuh dengan plastik jajanan yang dipilih Tasya.
"Yuk udah, jangan capek-capek." ajak Reza
Tasya patuh, dia juga sudah merasa lelah. Mereka segera masuk ke dalam mobil.
Reza menatap jajanan Tasya satu persatu yang dia tidak tahu sama sekali nama-namanya.
"Sehat ya Nak. Mami lagi jajan sembarangan nih" ucap Reza mengulurkan tangannya untuk mengelus perut Tasya.
"Awas saja kalau minta." ucap Tasya seraya membuka takoyaki yang dibelinya.
Reza memperhatikan Tasya yang sibuk mengunyah takoyaki. Dia menelan salivanya berharap Tasya akan menawarkan makanan tersebut kepadanya. Tapi sampai suapan terakhir, Tasya tak juga memberinya. Reza sedikit kecewa.
'Rasain. Emang enak!' batin Tasya senang melihat suaminya.
Tasya membuka makanan lain yang membuat Reza lagi-lagi menelan salivanya. Tasya sengaja menggoda Reza dengan makanan miliknya tapi dia enggan berbagi dengannya.
"Mami gak mau nawarin Papi, Mam?"
"Kata kamu kan jajan sembarangan. Kamu kan Direktur, jangan jajan yang beginian. Nanti sakit perut. Perusahaan kamu siapa yang handle kalau kamu sakit." sindir Tasya
Reza hanya terdiam tak menyahutinya karena dia berada di posisi yang salah sehingga dengan mudahnya Tasya memojokannya.
'Baru hal kecil okeee. Aku masih belum puas menyiksamu!' batin Tasya
"Yuk pulang, nanti aku makan dirumah saja sisanya. Mau berbagi dengan A Rasya, dia pasti suka." sindir Tasya
'Sabaarrr Zaa.. Sabaaar' batin Reza menenangkannya.
***
"Papi pamit ya sayang. Jaga diri baik-baik. Jumat sore Papi kesini lagi. Jangan tolak Papi kalau Papi telepon atau video call. Tolong balas pesan Papi juga nanti ya. Tolong buka hati Mami lagi untuk Papi, dan lihat kesungguhan Papi untuk keutuhan keluarga kita" ucapnya panjang lebar
"Love you Mami. Cintanya Papi. Papi pasti kangen banget sama Mami." Reza memeluk tubuh Tasya erat kemudian mengecup kening istrinya. Reza hendak mengecup bibir Tasya tapi ditolaknya.
Reza yang mengerti tak memaksanya. Dia kemudian keluar kamar untuk pamit dengan yang lainnya.
Tasya dan Vano mengantar kepergiannya. Sementara Reza melambaikan tangannya saat mobilnya melaju.
'Tunggu Papi bakal jemput kalian lagi' batinnya.
.
.
.
Bagaimana ibu-ibu? Mereka bakal meeenggang lagi atau kembali bersama?
Bantu vote yang banyak doong. Jangan lupa like dan komentarnya. Terima kasih ^^
__ADS_1