BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Ujian Rumah Tangga (Part 2)


__ADS_3

Mereka melepaskan pagutannya dengan gelagapan. Reza berjongkok menyeimbangkan tubuhnya dengan Vano.


"Dari mana sih Bang?" tanya Reza


"Dali tadi Papii" jawabnya


"Ih, ajaran Rasya sampai nempel begini sama ini anak" ucap Reza seraya menggendongnya.


"Papi tayang Mami?" tanya Vano


"Kenapa memangnya?"


"Papi tium-tium" ucap Vano


"Iyalah Papi tayang Mami, tayang Abang, tayang Dedek Apa" ucap Reza seraya merangkul istrinya dan mencihm pipi mereka bergantian.


"tieeehh.. " ucap bibir mungil Vano


" haha.. Kamu tuh tua banget sih, ajaran Rasya gak ada yang bener." gerutu Reza


"Tau ih kamu, kenapa mau saja disuruh-suruh Papa" ucap Tasya


"Papa tayang Bang, Mami.. "


" Iya, tapi kamu jangan nurut kalau disuruh bicara yang aneh-aneh sama Papa Rasya" ucap Tasya


"Abang minta lego ya sama Papa Rasya" titah Reza


"Papi!"


"Biarin sih Mam, Papanya dia banyak duit ini" Reza menyeringai.


"Cepat sarapan dulu Pap" ucap Tasya


"Abang mau sushi gak?" tanya Tasya


"No."


"yang kemarin Abang makan itu" ucap Tasya kemudian, tapi Vano tak menyahutinya.


"Abang temani Papi sarapan ya" ajak Reza seraya menggendong Vano keluar.


Kini Reza menggendong Daffa membawanya masuk ke dalam kamar setelah sarapan. Dia seolah mengulur waktunya. Membiarkan dirinya berlama-lama dirumah bersama anak dan istrinya.


"Papi, kok gak berangkat sih?" tanya Tasya


"Ini mau." ucapnya masih menciumi anak bungsunya


"Papi gak siap ke kantor sekarang?" tanya Tasya.


"Bukan. Papi hanya males saja Mam."


"Papi harus cari penyebar foto itu. Papi mau tuntut sekalian biar dia jera." ucapnya


"Kalau dia ngaku terus minta maaf gimana?" tanya Reza


"Ya pokoknya dia harus tangung jawab juga. Gila saja dia sudah rusak reputasi Papi yang sudah Papi jaga" Reza mengeratkan rahangnya. Gurat amarah tersirat disana.


Tok.. Tok.. Tok..


Suara ketukan pintu kamar mengalihkan Reza dan Tasya yang sedang berbincang. Tasya segera membuka pintunya.


"Reza!" suara tajam Pak Danu membuat Tasya sedikit takut


"Iya ada Pa"


"Papa tunggu di kamar!" ucapnya tanpa basa basi kemudian pergi ke kamarnya.


Tak banyak bicara, Reza segera keluar kamar dan masuk ke dalam kamar Pak Danu.


"Jelaskan!" Pak Danu melempar ponselnya diatas kasur kepada Reza seraya berkacak pinggang.


Reza mengambil ponsel tersebut dan melihat foto dirinya mebggendong seorang wanita.


"Reza cuma tolong dia Pa. Kemarin dia sakit perut gak bisa jalan. Akhirnya Reza bawa ke klinik" ucapnya


"Papa kalau gak percaya, tanya saja sama dokter klinik" tambahnya


"Lantas siapa yang menyebarkan ini?" tanya Pak Danu


"Reza baru mau bergerak Pa. Aku gak tahu siapa"


"Yakin kamu gak ada main dengan wanita itu?" tanya Pak Danu


"Papa meragukanku?" Reza tersulut


"Papa bosan mendengar perselisihan antara kamu dan istrimu, dan kamu yang selalu menjadi penyebabnya!" ucap Pak Danu


"Senakal-nakalnya aku, aku gak pernah sekalipun bermain wanita" ucapnya


"Oke. Papa percaya. Besok, Papa gak mau dengar berita ini lagi" ucap Pak Danu


"Reza berangkat ke kantor kalau begitu" pamitnya.


Dia berjalan kembali masuk ke dalam kamarnya. Disana Tasya menunggunya dengan cemas.


"Papa sudah tahu beritanya" ucap Reza


"cepat sekali menyebarnya" ucap Tasya


"Mami percaya sama Papi kan?" tanyanya


Tasya memeluk Reza dengan erat. Begitupun dengan Reza, tak kalah erat memeluk istrinya.


"Apa Mami harus ikut Papi ke kantor?" tanya Tasya


"No Mami. Disini saja. Biar Papi yang bereskan semuanya" ucapnya.


"Cukup Mami percaya sama Papi, itu sudah jadi kekuatan buat Papi." ucapnya


"Mami sangat percaya sayang. Ya sudah sana bereskan dulu masalahnya. Tapi Mami minta Papi jangan bertindak gegabah." pinta Tasya


Reza memakai blazernya, dia segera berangkat ke kantor.


Setibanya di kantor, disana sudah ada beberapa wartawan yang menunggunya. Reza turun dari mobilnya diikuti oleh mereka.


Adit segera menghampiri mereka, menemani Reza yang hendak di wawancara. Beberapa pertanyaan terlontar dari mulut para wartawan sementara Reza menjawabnya tanpa rasa gugup.


Adit memperlihatkan rekaman saat Reza mulai menggendong wanita tersebut hingga membawanya ke klinik. Namun pertanyaan dari wartawan yang berputar-putar membuatnya sedikit kewalahan. Hingga akhirnya semua bisa teratasi dengan baik.


Reza berjalan masuk ke dalam ruangannya. Beberapa staffnya menatap Reza dengan sorot mata yang tak terbaca.


"Dit, jadi siapa yang menyebarkan rumor tersebut." ucap Reza


"Masih belum ketemu Za." ucap Adit.


"Cari sampai dapat" ucap Reza


"Anak itu masuk gak?" tanya Reza kemudian


"Katanya masih sakit Pak" ucap Adit


"Oke, kalau masalah ini masih berlanjut, aku gak segan membawanya ke ranah hukum" ucap Reza tegas.


"Sudah gak ada ampun lagi. Dia mau menjatuhkan reputasiku" ucap Reza


"Siap Pak."


Reza segera meneguk air yang tersedia dimejanya.


Siang hari, Adit membawa seorang karyawati masuk ke dalam kantor Reza. Wanita dengan memakai kaos berwarna hijau khas PT Petani Maju tersebut menunduk saat menghampiri Reza.

__ADS_1


"Jelaskan!" titah Adit pada wanita tersebut


"Maaf Pak. Saya tidak tahu akan menjadi begini. Saya hanya mengagumi Bapak, seorang Direktur tak segan membantu bawahannya." ucapnya. Dia mulai menangis ketakutan.


Adit memberikan ponsel tersebut pada Reza, dan benar, wanita tersebut memberikan pujian pada foto Reza.


"Kamu punya teman wartawan?" tanya Reza


"Ada Pak, teman SMPku dulu. Tapi saya tidak tahu kalau dia yang mengambil foto yang saya tulis." ucapnya


"Kamu tahu aturan? Saat bekerja dilarang membawa ponsel?" tanya Reza


"Saya minta maaf, Pak" ucapnya masih terisak setaya menunduk.


Reza memberikan banyak pertanyaan pada karyawati tersebut sebelum meninggalkan ruangannya. Kepalanya seakan berdenyut menghadapi masalah yang bersangkutan dengan rumah tangganya.


"Aku gak mau tahu, sisanya kamu urus Dit. Terutama wartawan itu" ucap Reza


"Siap Bos."


"Terus yang barusan bagaimana Za?" tanya Adit


"Kasih surat peringatan saja. Aku jadi gak tega mau memecatnya" ucap Reza


"Lagipula dia sebenarnya memujiku, namun ada oknum yang menggiring opini lain" tambahnya.


"Huh! Karyawan makin banyak, aku jadi sedikit kewalahan." ucap Reza.


"Santai Bos" Adit menepuk lengan Reza


"Setidaknya aku tahu akar masalah kita. Aku tidak bertindak gegabah" ucap Reza.


"Oke deh, aku bereskan dulu semuanya Za. Kamu istirahat saja." ucap Adit


***


Tasya merasa sangat cemas memikirkan hal yang menimpa suaminya. Dia membuka tutup berita online, barangkali ada berita mengenai suaminya.


Tasya memutuskan untuk menelepon Reza, saat hendak menelepon, suaminya terlebih dahulu menghubungi. Tasya tersenyum sambil menggeser layar ponselnya.


"Assalamu'alaikum Papi, baru saja Mami mau menelepon" ucapnya siang


"Kita memang sehati sih sayang" balas Reza


"kok gak jawab salamnya?"


"Oh iya, wa'alaikumsalam Mamii" balasnya


"Gimana Pap? Aku cemas tahu" keluhnya


"Alhamdulillah ternyata salahpaham sih Mam" ucap Reza


"Maksudnya bagaimana?"


"Jadi, Karyawati ngambil foto Papi, nah terus dia kasih keterangan gitulah muji-muji Papi." ucap Reza dengan bangga


"Nah, dia punya teman yang berprofesi wartawan. Diambil lah foto itu tanpa izin dari dia. Dibuat asumsi sendiri sama wartawan itu" ucap Reza


"Ih jahatnya. Terus gimana wartawan itu?" tanya Tasya


"Adit yang ngurus sayang. Tadi Papi begitu datang sudah kaya aktor tahu Mam, ditungguin wartawan. Haha" ucapnya lebih bangga


"Ih si Papi mah menikmati sekali. Yang dirumah gak enak hati" ketus Tasya


"Sama kok sayang, ini Papi sakit kepala."


"Terus karyawatinya gimana? Gak di pecat kan?" selidik Tasya


"Sesuai perintah Ibu Direktur, jangan gegabah, akhirnya Papi kasih SP saja karena dia pakai ponsel saat bekerja" ucap Reza


"Eh ini Pak Direktur pakai ponsel" sindir Tasya


"Berlaku buat karyawan dong Mam"


"Kenapa coba bisa langsung ketemu?" tanya Reza


"Karena ya masih dalam wilayah kuasa Papi." jawab Tasya


"Ih kok istrinya Reza pinter sih" Reza tersenyum


"Makanya gampang ngatasinya. Kecuali Papi kena paparazi di luar kantor lagi menggandeng wanita lain. Itu beda ceritanya" ucap Tasya


"Yah, alhamdulillah. Orang Papinya gak macem-macem. Baru ada gosip saja Pak Danu sudah seperti tadi." ucap Reza


"Haha.. Bagus dong. Papa aku gitu loh" Tasya bangga


"Ya sudah, sana kerja lagi" ucap Tasya


"Papi lagi tiduran sayang, sakit nih kepala" ucap Reza


"Pulang dong kalau sakit"


"Tapi mau dimanjain Mami" pintanya


"Apa sih Papi"


"Papi pulang ya, tapi mau dimanjain. Masa waktu buat Papi gak ada sih Mam." ucap Reza


"Yakin mau pulang?" tanya Tasya


"Hmm tergantung Mami. Mami mau manjain gak?" tanya Reza


"Terserah Papi saja."


'Moga saja pulang. Kan pasti seneng banget' batin Tasya


"Lihat nanti sayang, kerjaannya masih banyak apa enggak." ucap Reza


"Ya sudah, aku tutup ya. Assalamu'alaikum" ucap Tasya.


***


Reza segera bangkit dari sofanya, dia memijit sambungan telepon yang langsung diangkat oleh orang yang Reza panggil.


"Kesini cepet" ucap Reza


Tak berapa lama, keyukan pintu terdengar. Reza mempersilahkan masuk.


"Kenapa Za?" tanya Adit


"Aku ada jadwal lain?" tanya Reza


"Enggak sih"


"Ya sudah, aku pulang ya. Kepala sakit banget nih" ucap Reza


"Gak minum obat dulu?" tanya Adit


"Obatku dirumah" Reza tersenyum tipis


"Hahaha.. Takut ya kamu. Takut istrimu marah" ledek Adit


"Enggaklah. Dia tuh percaya seratus persen sama aku." ucapnya


"Iya deh Bos" balasnya


"Ya sudah, aku tunggu berita bagusnya Dit"


Reza meninggalkan kantornya.


***

__ADS_1


Reza masuk ke dalam rumah dengan mengendap-ngendap. Suasana siang itu sangat sepi.


"kayaknya lagi pada tidur" gumam Reza.


Dia membuka pintu kamar dengan hati-hati.


"Papi ngapain?" suara Tasya dari belakangnya membuatnya terlonjak, spontan Tasya dibuat ngakak olehnya.


"Mami! Jantung Papi mau copot tahu!" ketusnya. Reza membuka pintu dengan kesal.


"Salah sendiri, aku tahu Papi mau jahil kan?" tanya Tasya


"Mami menyebalkan tahu!" ketusnya


"Haha.. Tadinya mau ngerjain, eh balik dikerjain. Emang enak?" tanya Tasya


Reza tak membalasnya, dia membuka blazer miliknya.


"Sepi banget Mam" ucap Reza


"Semua tidur. Alhamdulillah. Tumben banget tidur mereka barengan gini." ucap Tasya


"Tahu kali Papinya mau minta jatah" Reza berbisik


"Yuk kita juga tidur sayang" ajak Reza.


"Sana ke kamar mandi dulu" titah Tasya


Reza patuh, dia segera masuk ke kamar mandi. Reza mengunci pintu kamar yang menghubungkan kamarnya dengan kamar anak-anak setelah keluar dari kamar mandi.


Tasya menatap kelakuan suaminya. Dia tahu, suaminya sedang menginginkannya.


Reza tersenyum ke arahnya.


"Tahu gak Mam, selama gosip itu terjadi yang terbayang cuma wajah Mami" ucap Reza mendekat.


"Jangan gombal deh"


"Serius sayang. Papi tuh kalau ada masalah begini, Mami yang suka ngasih solusi terbaik" ucap Reza merangkak naik ke atas kasur diikuti oleh Tasya.


"Ah yang bener?" goda Tasya seraya menumpu kepalanya dengan sebelah tangannya menghadap Reza.


Tasya mengecup lembut suaminya. Hingga permainan yang menguras keringat itu pun terjadi.


Ditengah permainan panas mereka, tiba-tiba suara tangisan Vano terdengar mendekati ke arah pintu. Reza dan Tasya saling tatap. Hasrat mereka buyar seketika.


"Tanggung Mam." ucap Reza saat memberikan kode untuk berhenti


"Gak mau, malu sama Mbak."


"Dikit lagi"


"Papi!" bentak Tasya. Dia melepaskan diri dari suaminya dan merapikan daster miliknya tanpa memakai penyangga dada. Reza menutupi dirinya dengan selimut.


"Iya Bang." Tasya dengan malu membuka kunci dan segera menggendong Vano.


"Mami ketiduran Bang. Maaf ya" dalih Tasya seraya membawa Vano ke kamarnya.


Reza kini memakai bajunya.


"Tuh sama Papi" ucap Tasya


Reza tak menyahutinya, dia segera berbalik memunggungi mereka.


"Papi, ini anaknya" ucap Tasya


Reza tak meliriknya sama sekali.


"Maaf Papi" ucap Tasya


"Sayang.. "


Reza masih tak bergeming.


"Yuk Van, kita keluar saja." ajak Tasya pada Vano. Dia keluar kamar meninggalkan Reza yang marah padanya.


Tasya mengajak Vano bermain di ruang televisi.


"Mbak, titip ya. Aku ke kamar dulu" ucap Taysa pada Mbak Diah


Tasya melangkah ke kamarnya. Dia melihat Reza yang kini tertidur pulas.


"Maaf sayang." gumam Tasya seraya mengecup suaminya.


Tasya segera keluar kembali.


***


Reza keluar dari kamarnya menuju dapur. Dia membuka kulkas mencari cemilan yang bisa dia makan.


"Aku buatkan jus semangka Pap" Tasya memberikan pada Reza. Reza menerimanya tak banyak bicara.


"Ya ampun, sudah tua juga ngambekan" gumam Tasya


"Ini kuenya" Tasya memberikan pie susu buatannya pada Reza yang kini duduk di kursi makan.


Lelah karena diacuhkan, Tasya melingkarkan tangannya di leher Reza.


"maaf sayang, nanti malam dilanjut ya" bujuk Tasya


Reza melepaskan pelukan Tasya.


"Papi kok kayak anak kecil sih" ucap Tasya


"Papi!"


Kesal tak kunjung jua bicara, Tasya meninggalkan Reza sendirian.


'Harusnya sadar dong, punya dua batita. Ini sikapnya malah kayak anak kecil' batin Tasya


'Siapa coba yang mau lanjut kalau ditangisi anak. Dari ingin juga oasti jadi buyar semuanya'


'Dia gak bisa ngerti banget. Toh yang nangis juga anaknya sendiri! Yang ganggu juga anaknya sendiri!'


'Memang dia saja yang bisa marah, aku juga bisa!' batinnya tak henti bicara.


Hingga malam tiba, Tasya mengajak dua pengasuhnya makan bersama.


"Bapak gak makan bu?" tanya mba Uji


"Kalau lapar nanti dia juga makan sendiri" ucap Tasya kesal


Kedua pembantunya saling pandang seolah mengerti.


"Mbak Diah duluan saja, aku jaga mereka" ucap Mbak Uji


Tasya menuju ruang makan dan disana sudah ada Reza yang hendak makan. Tasya mengambil makanannya diikuti oleh Mbak Diah. Tak ada percakapan diantara mereka membuat Mbak Diah sedikit menciut.


"Mbak, aku mau sambil nonton makannya" ajak Tasya pada Mbak Diah


"Iya bu" Mbak Diah mengikutinya.


Reza masih asyik sendiri hingga keduanya menghilang dari pandangannya.


'Kenapa dia jadi marah juga?' batin Reza.


.


.


.

__ADS_1


Siapa nih yang kayak Tasya kalau suaminya marah ikutan marah?? Hahaaaa.. Yuk jangan lupa like dan komentarnya. Daaann vote yang buanyak yaa. Terima kasih^^


__ADS_2