BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Secercah Harapan


__ADS_3

Sebulan berlalu, Reza sudah mulai putus asa. Semua usaha yang dia lakukan belum ada satupun yang membuahkan hasil.


Setiap hari dia sampai rela begadang, hanya memikirkan cara agar terlepas dari krisis yang mereka hadapi.


Semua tabungannya sudah terkuras habis, bahkan dia harus merelakan motor kesayangannya sejak dia remaja itu berpindah tangan kepada temannya.


Pak Danu nampak cuci tangan. Dia membiarkan Reza menghadapi semuanya sendirian. Dia sengaja melakukan hal itu, agar sang anak terbiasa dengan kenyataan yang lebih pahit dikemudian hari.


Begitupun dengan sang mertua, mereka dengan kompak mengamati sang menantu agar lebih terasah.


***


"Terima saja kalau dia membayar hutang San" ucap Pak Danu kala itu pada sambungan telepon


"Haha..Pak Dan tega melihat mereka begitu?" ucal Pak Taufik


"Biarkan saja, sekarang tanggung jawab dia lebih besar. Ada istri dan calon anak yang mesti dia tanggung. Dia harus terbiasa dengan masalah." ucap Pak Danu yang merasa selama ini hidup Reza terlalu mulus


"Wah, banyak kejutan di hidup Reza. Setelah di jodohkan dia harus menelan pahitnya mencari uang. Haha" Pak Taufik setuju dengan besannya tersebut karena dia terlebih dahulu mengasah Rasya dalam kesulitan.


"Saya takut Tasya kenapa-napa Pak Dan, dia kan sedang hamil" Ibu merebut ponsel dari tangan suaminya


"Tenang saja Bu, saya melihat kandungannya yang sekarang lebih kuat. Malah saya senang, tanpa sadar Tasya mengembangkan usaha mereka." ucap Pak Danu


"Kita amati saja dulu, rasanya saya punya hiburan yang menyenangkan kali ini" ucap Pak Danu seraya tertawa senang.


"Saya optimis, mantu saya bisa keluar dari krisis ini dengan usahanya sendiri" ucap Pak Taufik.


"Pokoknya, ibu minta aset mereka di kembalikan saja sama mereka kalau mereka membayarnya. Ibu gak tega sama Reza. Kasihan dia Yah" ucap Ibu menimpali


"Jangan Bu. Itu kan memang hak Pak Taufik. Mereka bekerja bu, jangan campur adukan pekerjaan dengan keluarga." Pak Danu sedikit lebih keras


"Tapi ibu kasihan sama mereka" Ucapnya berkaca-kaca


"Sudah, ibu tidak usah ikut campur" Pak Taufik melakukan hal yang sama


"Oke kalau begitu, nanti saya kabari hal terbaru dari mereka. Assalamualaikum." Pak Danu menutup teleponnya


***


"Pak Bambang, ini kalau terus-terusan begini, karyawan kita harus dikurangi" ucapnya lemah


"Iya Pak, saya juga berpikir kesana" ucap Pak Bambang


"Sebenarnya saya gak tega Pak. Tapi mau bagaimana lagi" Ucapnnya menggantung


"Tolong bantu, daftar nama mereka yang kinerjanya kurang menurut Bapak. Saya minta setengah dari mereka" ucap Reza kemudian


"Baik Pak"


Reza memasuki ruangannya. Dia duduk terdiam, sesekali dia mengusap kasar wajahnya.


"A Reza, A Reza.." Tasya membuka pintu ruangan dan menghampirinya dengan semangat


"Setelah di rekap, permintaan dari online ternyata lumayan juga A" ucap Tasya


"Berapa banyak memangnya Sya?" tanya Reza yang sebenarnya tidak antusias

__ADS_1


"Nih Ya, Kentang tiga kwintal, tomat satu kwintal, brokoli lima puluh kilogram, masih banyak yang lainnya" ucap Tasya


Reza membuang nafasnya sambil menyunggingkan senyuman meledek.


"Tidak ada separuhnya dalam sehari kita masukkan barang ke supermarket Sya" kenangnya


"Sabar A. Ini kan kita pecah-pecah. Wajarlah kalau supermarket dia kan banyak cabangnya" ucap Tasya


"Iya" Reza mengawang.


Tiba-tiba suara ketukan pintu dari luar, dia segera membukanya


"Pak, ada yang mencari bapak" ucap salah satu karyawan gudang


"Siapa?" tanya Reza


"Saya tidak tahu Pak" jawabnya singkat


"Oke nanti saya kesana. Terima kasih" jawab Reza. Karyawan tersebut kemudian berlalu meninggalkan mereka


"Tunggu sebentar ya sayang. Doakan semoga bukan rentenir" ucap Reza asal


"Hus.. Amit-amit. Hutang kita sama ayah bukan rentenir. Memangnya ayah rentenir apa a!" Tasya kesal


"Maaf.. Aa hanya becanda. Bukan bermaksud pada ayah." Reza meralat omongannya


Tasya kesal. Merasa tak terima ayahnya disamakan dengan rentenir


"Maaf. Jangan marah ya, Aa hanya asal bicara. Gak ada maksud sama ayah. Sumpah" ucal Reza sungguh


"Sudah sana! Kasihan tamunya nunggu!" Tasya ketus


"Pak Reza" ucap seseorang menyambutnya dengan senyuman


Reza mengernyitkan dahinya, dia berpikir keras siapa yang dia temui


"Pak.. "


"Saya Ridwan Pak dari hypermarket ternama di wilayah ini" ucapnya seraya menyalami Reza


"Oh, silahkan duduk Pak" pinta Reza yang masih kebingungan


"Maaf saya lancang datang kesini Pak. Kebetulan saya melintas kesini, dan saya teringat kabar yang sedang ramai diluaran sana" ucap Pak Ridwan


"Kabar apa kalau boleh tahu Pak?" Ucap Reza yang masih sama sekali tak mengerti


"Wah, masa bapak tidak dengar. Petani Maju sekarang banyak diperbincangkan orang loh Pak. Katanya kualitas sayurannya bagus sekali harganya murah" puji Pak Ridwan


'Itu karena kita jual modal Pak. Bukan sengaja' batin Reza


"Makanya saya penasaran, saya datang saja kesini langsung" ucapnya


"Hehe.. Maaf Pak, gudang kami segini adanya." ucap Reza tak yakin


"Iya, saya hanya melihat-lihat saja. Kebetulan saya sedang mencari pemasok sayuran yang pas untuk hypermarket kami." ucapnya


Pak Ridwan menjelaskan panjang lebar alasan dia mencari pemasok baru untuk hypermarket tersebut.

__ADS_1


Wajah Reza yang tadinya nampak lesu, kini sedikit berbinar. Reza segera mengambil proposal dari ruangannya dengan tergesa. Kemudian kembali lagi dan menjelaskan pada lawan bicaranya. Pak Ridwan nampak tertarik dari penjelasan Reza.


"Kalau bapak tidak percaya, mari kita langsung ke perkebunannya saja. Agar bapak percaya, bahwa sayuran yang kita miliki memang kualitas tinggi." ucapnya semangat


'Iyalah. Mertuaku yang punya itu Pak' Batin Reza


"Tidak perlu Pak, saya dari sini pun bisa melihat" ucapnya seraya tertawa


Mereka berbincang dengan asyiknya, sesekali Pak Ridwan tertawa mendengar ucapan Reza. Keahlian Reza dalam bernegosiasi dia kerahkan seluruhnya untuk menarik hati Pak Ridwan.


"Deal Pak" ucap Pak Ridwan menyalami Reza


Reza nampak gemetar. Ada beban yang terangkat dari hatinya. Dia merasa sedikit lemas.


"Mohon kerjasamanya Pak" ucap Reza yang disambut dengan tepukan dibahunya.


Tak lama, Pak Ridwan pamit diikuti oleh ajudannya.


Reza terkulai lemas.


"Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. " ucapnya


Dia segera meneguk air di depannya. Pak Bambang menghampiri Reza, setelah dia mengamati Reza dari kejauhan.


"Pak Bambang" Reza memeluknya erat


"Krisis kita berlalu Pak. Besok subuh kita harus segera mengirimkan barang ke hypermarket dalam jumlah yang lebih besar dari supermarket." ucapnya


"Benarkah Pak?" kini Pak Bambang memeluknya erat seraya menepuk punggung Reza


"Pak, jangan ada kekerasan dalam pekerjaan Pak" canda Reza yang ditepuk Pak Bambang lebih keras


"Maaf.. Maaf.. Saya senang sekali Pak" ucap Pak Bambang.


Mereka berbincang hangat. Kini Reza menampakkan senyum indahnya kembali.


Dengan kaki gemetar, dia segera masuk ke dalam kantor. Tak peduli ada Lala disana. Reza segera berhambur memeluk Tasya yang sedang berdiri di depan mejanya.


Tasya yang kaget meronta untuk melepaskan dirinya.


"Anakku, sayangku, doa kita terkabul sayang." ucapnya berkali-kali mencium perut Tasya.


Tasya dan Lala mematung menyaksikan kehebohan Reza.


"A Reza, sehat?" tanyanya aneh


"Istriku sayang, terima kasih" dikecupnya Tasya berkali-kali


"A Reza. Kenapa sih? Lihat Lala sepertinya syok melihat Aa begitu" ucap Tasya heran


"Sini La, mau kupeluk juga?" Reza mengulurkan tangannya


"Eh!" Tasya menarik kemeja Reza


"Maaf La, gak jadi. Ibu negara cemburu" candanya


"A Reza, kenapa sih?" Tasya penasaran

__ADS_1


*** Hallo Teman Readers, tolong bantu VOTEnya yang banyak sekali yaa.. Rangkingku naik turun terus. Ayo dibantu temans, agar bisa naik rangkingnya.hehe


Tolong VOTE, LIKE dan KOMENTARNYA yaa.. Terima kasih^^ ***


__ADS_2