BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Perubahan Mami


__ADS_3

Tasya masih merasa risih saat melihat Reza mandi di kamar mereka. Pemandangan yang menurutnya aneh tersebut membuatnya selalu protes saat Reza mandi atau buang air kecil disana. Namun lagi-lagi Reza dengan sengaja melakukannya untuk memancing hasrat Tasya. Bagaimana tidak? Seminggu sudah Tasya menolak secara halus untuk menyatu bersama dirinya. Hal itu membuatnya sedikit frustasi.


"Coba baca sama Papi, rata-rata ibu hamil begitu bukan?" ucap Tasya saat mereka membahas masalah penyatuan mereka.


"Iya sayang. Papi mengerti" ucapnya pasrah


"Maaf kalau aku lancang. Aku tahu, itu dosa. Tapi aku benar-benar tidak berga*rah Pap." ucap Tasya jujur. Dia membetulkan posisi duduknya. Mau bagaimanapun semuanya harus terbuka. Begitu pikirnya.


"Iya, Papi tak masalah. Asalkan Mami sama Dedek nyaman. Gak akan dosa sayang, Papi gak apa-apa karena Papi mengerti." ucap Reza


Kehamilan yang menginjak usia 8 bulan membuatnya sangat tidak nyaman. Akhir-akhir ini dia merasa punggungnya terasa panas dan sakit. Serta rasa gerah yang selalu menimpanya dan insomnia membuatnya selalu sukses terjaga semalaman.


Akibat dari insomnia yang dia derita, Tasya baru bisa tidur di atas jam enam pagi. Jangankan untuk pergi ke kantor, melihat suaminya berangkat kerjapun kini tak pernah. Dia hanya menerima laporan pekerjaannya dari Lala.


Setiap bangun tidur, ada rasa bersalah terselip dalam diri Tasya. Dia menjadi sedikit stres untuk menghadapi persalinan. Ditambah dia takut Reza berbuat macam-macam dengan Rosa. Tapi dia merasa tak berdaya. Dia hanya bisa menunggu Reza pulang dari kantor karena Reza selalu melarang jika dia menyusulnya ke kantor seorang diri.


"Mami kenapa jadi begini sih Mam?" gumam Reza yang tak tega melihat Tasya yang sedang terlelap. Dia segera berpakaian dan berangkat ke kantor setelah sarapan.


***


"Kesiangan lagi" gumam Tasya saat melihat jam menunjukan pukul sepuluh pagi.


"Kapan sih bisa tidur normal lagi?" batinnya stres sendiri


Dia merasa kasihan pada Reza karena akhir-akhir ini tidak melayani Reza seperti biasanya. Rasa bersalah selalu menyelimuti dirinya. Namun Reza menjadi suami yang sangat pengertian.


"Kamu kangen Papi sayang? Kita telepon Papi ya. Mami juga rasanya kangen sekali sama Papi" gumam Tasya disela-sela mengunyah sarapannya. Bayi dalam perutnya bergerak semakin aktif.


Tasya menekan tombol telepon pada nama 'Papi Sayang', tak lama Reza mengangkatnya.


"Assalamualaikum. Sudah bangun?" sapa Reza


"Waalaikumsalam. Sudah. Maaf.. "


"Kok tiap telepon maaf terus? Gak apa-apa. Bukan salah Mami. Dokter juga kan sudah bilang memang hal wajar" ucap Reza


"Papi bakalan sabar Mam. Tunggu saja pembalasan Papi nanti" ucap Reza


"Hmm... "


"Apa? Dedek rewel?" tanya Reza


"Aktif banget"


"Jangan rewel ya Dek. Kasihan Mami. Lihat tuh, Mami sudah kayak panda begitu matanya" ucap Reza


"Apa sih A!"


"Hehe. Canda sayang. Sudah sarapan?" tanya Reza


"Lagi sarapan. Dedek kangen Papi. Aku kesana ya sayang?" rengek Tasya


"Enggak. Papi gak mau Mami sendirian kesini. Papi khawatir Mam" ucap Reza


"Papi takut diganggu berduaan sama Rosa?" ucap Tasya kesal


"Kok begitu?"


"Papi selalu larang aku ke kantor. Kenapa sih?" Tasya heran


"Ya Papi takut saja Mami sendirian kesini. Perut Mami sudah besar begitu. Papi takut Mami kenapa-napa di jalan sayang" Reza memberi alasan


"Bilang saja Papi takut diganggu!" Tasya menutup teleponnya.

__ADS_1


Tasya menjadi cemas sendiri saat mengingat Rosa yang selalu terang-terangan mendekati Reza.


***


"Pak Reza, ini laporan yang Bapak minta" ucap Rosa begitu Reza mempersilahkan dia masuk ke ruangannya.


"Ya. Taruh disitu terima kasih" ucap Reza fokus ke depan layar monitor.


"Pak.. Apa tidak sebaiknya Bapak cek terlebih dahulu? Biar saya jelaskan apa yang Bapak tidak mengerti" Rosa masih berusaha


"Nanti saja ya. Aku banyak kerjaan. Silahkan tinggalkan ruangan" tolak Reza


"Baik Pak. Saya permisi" ucapnya


Tak lama, dering ponsel Reza berbunyi. Dia menerima panggilan dari Adit. Mereka berbincang cukup lama disana.


"Ya sudah. Nanti aku bawa proposalnya. Kita ketemu dimana?" tanya Reza disela-sela percakapannya


"Di cafe biasa saja lah. Jangan lupa samplenya dibawa" ucap Adit


"Oke. Pulang kantor aku kesana" ucap Reza seraya menutup sambungan teleponnya.


Reza tertegun sejenak. Dia bingung bagaimana memberitahu Tasya kalau hari ini dia akan pulang telat. Apalagi barusan Tasya marah padanya. Reza ingin sekali pulang untuk menjelaskan langsung kepada Tasya, tapi dia melihat kerjaannya hari ini banyak.


Reza mencoba menelepon istrinya. Tapi berkali-kali Tasya tak mau mengangkatnya.


'Sayang, kok gak di angkat teleponnya?' Reza mencoba mengirimkan pesan pada Tasya


Dia kembali fokus pada pekerjaannya. Tak berapa lama, dilirik ponselnya, masih belum ada jawaban dari sanh istri.


'Sayang? Kok gak balas?' tanyanya Kemudian


'Sedang apa sih dia?' Reza menjadi cemas


"Saya keluar sebentar, nanti setelah makan siang saya kembali lagi. Kalau ada yang mencari saya, bilang saja saya ada perlu, ok?" ucap Reza pada Izam dan Rosa.


Reza melajukan mobilnya ke arah apartemen. Setibanya disana, dia berjalan dengan tergesa.


"Mam.."


"Oh ya ampuun.." ucapnya saat melihat Tasya tertidur dengan tv menyala.


"Sayang.. " Reza membangunkannya


"Mami.."


Tasya terbangun, dia melihat Reza dengan samar


"Papi, sudah pulang?" tanya Tasya yang masih mengumpulkan nyawanya


"Papi pulang dulu, Mami gak angkat telepon, gak balas pesan. Papi khawatir" ucapnya


"Jam berapa ini?" tanya Tasya


"Hampir setengah dua belas sayang."


Tasya berjalan ke wastafel. Dia mencuci mukanya.


"Aku masak dulu ya buat makan siang" pinta Tasya


"Pesan online saja sayang. Biar gak lama" ucapnya


Tasya mendekat ke arah suaminya. Dia duduk dipangkuannya.

__ADS_1


"Kangen.. " ucapnya seraya melingkarkan tangannya ke leher Reza


"Aduh berat.." goda Reza


Tasya hendak turun dari pangkuannya. Tapi Reza menahannya.


"Canda sayang" Reza mengecup lembut bibir Tasya. Sesapan kecil yang mereka lakukan mengundang gairah Reza yang memang haus akan kenikmatan.


"Mam.. "


Tasya mengangguk. Reza tak menyiakan waktu, fantasi liar Reza menuntunnya masuk ke dalam kamar mandi kaca yang membuat Tasya sedikit heran.


"Biar langsung mandi" Alasannya saat melihat tatapan Tasya seolah bertanya.


Mereka menghabiskan waktu makan siangnya disana.


Tasya segera mengambil handuk kimono miliknya. Kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kakinya terasa lemas setelah Reza memberikan kenikmatan yang tiada henti.


Reza keluar kamar mandi dengan wajah sumringah. Dia mendekati sang istri kemudian mengecupnya.


"Nanti lagi jangan disana." Tasya protes


"Iya sayang, Papi hanya penasaran" ucapnya tanpa merasa bersalah. Dia duduk di tepi kasur samping sang istri masih bertelanjang dada.


"Mau makan apa?" tanya Reza


"Soto" ucapnya singkat sambil membelai perutnya.


"Sakit sayang?" tanya Reza


"Mual tahu"


"Tapi enak kan?" dengan senyum menggoda


"Pegal. Sudah pesan makan dulu. Anakmu kelaparan" protes Tasya


"Pakai nasi gak?" tanya Reza


"Tadi aku masak nasi" ucap Tasya


Mereka telah berpakaian kembali. Mereka berbincang sambil merebahkan tubuhnya.


"Papi ngantuk" ucapnya


"Gak usah ke kantor lagi ya?" pinta Tasya


"Kerjaan banyak sayang. Nanti malam Papi meeting sama Adit. Maaf ya kalau pulang larut. Gak apa-apa kan?" pinta Reza


"Aku sendirian dong?" Tasya sedikit keberatan


"Kalau ini goal, kita bisa cepat beli apartemen" ucapnya menyeringai


"Aamiin. Nabung makanya jangan boros terus" ucap Tasya


Tak lama, suara ketukan ke kamar mereka. Reza membawa plastik sotonya ke dapur. Kemudian memindahkan sotonya ke dalam mangkok, dan membawa piring hendak mengambil nasi dari rice cooker.


"Maam, nasinya masih beraas" teriak Reza saat membuka rice cooker.


*** Temans, bantu VOTE, LIKE dan KOMENTARNYA yaa..


Oya, follow juga instagramku @only.ambu yaa


Terima kasih ^^ ***

__ADS_1


__ADS_2