
"Mam.. Kok gak bilang sih sayang?" Reza menghampiri Taysa dengan gemetar.
"Wah, Vano, lihat Papi lagi main apa itu?" Tasya tersenyum cerah.
'Sumpah, ini lebih menakutkan daripada omelannya.' batin Reza
"Papi jadi juga beli lego Pap?" Tasya masih tersenyum.
"Mm.. Ini.. Ini punya Adit sayang. Papi bantuin saja." Reza tersenyum kikuk
"Bener kok Mam gak bohong." ucap Reza kemudian
"Wah, Pak Adit istrinya gak marah ya, ini kan lumayan harganya. Kemarin yang Papi inginkan harganya berapa juta sih Pap?" sindir Tasya
"Papi kan gak jadi beli sayang." ucap Reza dengan jantung berdebar.
"Bu, saya ajak Vano lihat ikan dulu ya Bu" ucap Mbak Diah. Dia mengerti majikannya sedang kesal.
"Iya Mbak. Titip Vano ya Mbak" ucap Reza
Setelah pintu di tutup, Reza memeluk istrinya dari belakang.
"Mam.. "
" Eh, ada lemari baru." Tasya melepaskan pelukan Reza, dia mendekat kearah lemari.
"Loh, ini ada lego yang kemarin Papi minta." ucap Tasya seolah kaget.
"Ini lemari baru sama lego punya Adit juga kan sayang?" tanya Tasya melirik Reza.
Seketika jantung Reza berdesir.
'Bilang sayangnya kayak mau ngeb*nuh ini mah' batin Reza
"Mmm..Mam. Maaf.. " Reza menangkup kedua tangannya didepan dadanya.
"Loh, kok minta maaf sih sayang? Kan punya Adit." Tasya masih tersenyum
"Iya punya Papi, Mam. Maaf ya Mam, habisnya sampai kebawa mimpi tahu Mam buat nyusun lego ini" ucapnya
"Oh mimpi main lego? Harusnya sudah puas dong kalau sudah mimpi main lego."
"Justru makin penasaran sayang. " Reza mendekati Tasya.
"Oh gitu.." Tasya tersenyum kembali
"Mam, jangan gitu dong Mam. Papi malah takut kalau Mami kayak begitu."
Tasya tertawa tak ingin.
"Loh kenapa?"
"Mending Mami marah deh daripada kayak begini." ucap Reza.
"Loh, dibaikin kok gak mau sih?" tanya Tasya
"Mami pasti mau rencanain sesuatu kan?" tanya Reza
"Ih kok tahu sih Papi" Tasya mencolek lengan suaminya.
"Mam.." Reza memelas
"hmm"
"Maaf.. "
"Gak apa-apa, kan uang Papi. Papi yang kerja, masa Papi gak nikmatin hasil jerih payahnya" Tasya tersenyum.
"Enggak gitu, Mam. Uang Papi, uang Mami juga."
"Terus?"
"Ya maaf, Papi gak tahan ingin beli ini" ucapnya
"Memang sejak kapan Papi bisa tahan?" sindir Tasya
"Dulu juga sama kan, ingin motornya balik lagi, Mami larang tapi Papi tetep beli. Terus ingin mobil, Mami larang juga tapi tetep beli. Sekarang ingin lego? Percuma kan Mami larang-larang juga" ucap Tasya tersenyum.
"Ya enggak gitu juga Mam." ucap Reza
"Terus gimana?" tanya Tasya
"Hh.. Maaf Mam. Papi jan.. "
"Gak usah janji. Capek sendiri nanti" sangkal Tasya.
"Terus Papi harus gimana Mam?"
"Gak gimana-gimana. Terima kasih loh, sudah jujur itu punya Papi, bukan punya Adit" ucap Tasya seraya tersenyum
"Mami beneran gak marah?" Reza kini ikut tersenyum.
"Iya."
"Makasih Mam" Reza berhambur memeluk Tasya.
"Tapi.."
Reza melepas pelukannya, dia mundur menatap Tasya
"Tapi apa?" Reza sudah ketakutan
"Gak usah tidur dikamar!" ketus Tasya.
"Mam kok gitu sih Mam. Maaf dong Mam."
"Mau tidur dikamar?" tanya Tasya
Reza hanya mengangguk. Dia gak berani macam-macam.
Tasya menuju meja kerja Reza. Dia mencari sesuatu. Saat Tasya sedang menggeladah, suara ketukan pintu dari luar. Seketika Tasya mematung.
"Za.. "
" Eh, Ibu.." Adit terkejut, seketika dia gugup
"Hai Pak Adit." Tasya tersenyum.
Adit menatap Reza. Keduanya saling tatap entah memberikan kode apa.
"Saya kira gak ada Ibu. Maaf ya Bu."
"Gak apa-apa. Lanjutkan Pak Adit" ucap Tasya
"Pak, ini materi untuk kuliah umum besok" ucap Adit.
"Oh." Reza mengambilnya dari Adit.
"Terima kasih" ucap Reza seraya menatap Adit
Sementara Adit menyunggingkan senyumnya seolah meledek, Reza melotot ke arahnya.
"Ibu, saya pamit ya Bu. Masih ada kerjaan" ucap Adit
"Eh Pak Adit"
"Iya Bu?"
"Gak main lego?" sindir Tasya
Adit menatap Reza dan Tasya bergantian. Dia menelan salivanya berat
"Mm.. Saya.. Saya kurang bisa bu"
"Oh, aku pikir ini punya Pak Adit" Tasya tersenyum
"Mam.." Reza mendekat.
"Saya permisi ya Bu" Adit menutup pintunya buru-buru
"Maaf Mam." ucap Reza. Dia mulai frustasi dengan sikap istrinya.
Tasya yang pegal kini duduk di sofa. Reza ketakutan legonya akan di hamburkan Tasya, dia segera duduk disampingnya.
Tasya mengambil satu dus lego yang masih tersegel.
"Beli dua?" tanya Tasya
__ADS_1
Reza menunduk
"Berapa totalnya tiga barang itu?" tanya Tasya kemudian. Tasya kini mengambil kepingan lego tersebut
"mm.. Mam, jangan dibuang ya." Reza ketakutan
"Gak lah, barang mahal gini tuh harusnya di elus-elus. Iya kan?" Tasya tersenyum
Reza makin berdebar.
'Ya Tuhaan, apa yang akan dia lakukan.' batin Reza
"Jadi berapa semuanya?" tanya Tasya lagi.
"Ini murah kok Mam. Diskonan semua" ucap Reza
Tasya beranjak dari tempat duduknya, Reza seketika ikut berdiri. Tasya meneguk air minum Reza. Terlihat dia menahan amarah disana.
"Maaf.."
"Ih Papi, bilang maaf saja diobral" Tasya tersenyum. Dia meletakan gelas Reza.
"Siap menjalani hukuman?" Tasya masih memamerkan senyumannya.
"Mam.. "
"Satu, Papi tidur di sofa selama satu bulan"
"Sayang.. "
"Dua, bangun tidur sendiri dan siapkan semua perlengkapan kerja sendiri kayak waktu ditinggal pulang."
Reza terdiam
"Tiga, tulis di buku tulis sebanyak sepuluh lembar dengan tulisan "Papi menyesal sudah beli mainan mahal." ingat. Sepuluh lembar." Ucap Tasya.
"Empat.."
"Mam.. Papi nyesel. Sudah dong jangan banyak-banyak."
"Pilih, mau aku pulang atau jalankan hukuman?"
"Jalankan hukuman." ucap Reza cepat.
"Empat, dilarang menyentuh aku secara tiba-tiba"
'Dia kan pinter bikin luluh' batin Tasya
"Mam, dosa tahu."
"Bohong sama istri juga dosa tahu"
Reza diam kembali.
"Lima, semua kartu Papi. Mami sita"
"Sayang.."
"Sayang, nanti gimana kalau tiba-tiba ada perlu terus nan.."
"Mau ditambah hukumannya?" pungkas Tasya cepat
"Enggak sayang. Enggak." ucapnya.
"Oya, tulis penyesalan dirumah sepulang kerja." ucap Tasya
"Aku pulang dulu ya" ucap Tasya
"Sayang.. Maaf.. Maafin Papi" Reza memeluk Tasya dari belakang
"Peraturan nomor 4 atau aku pulang ke rumah Ibu" Reza segera melepaskan pelukannya. Tasya mengulas senyumnya.
"Aku pulang ya.. Maaf ganggu waktu bermainnya." ucap Tasya melenggang keluar kantor.
Reza segera mengikutinya.
"Mam.." ucap Reza. Beberapa pasang mata melihat ke arahnya.
Tasya menghampiri Vano.
"Kok ke Mall Mam?" tanya Reza
"Iya. Aku mau ngadem dulu nih. Panas tahu Pap disini tuh" sindir Tasya sambil mengibaskan-ngibaskan tangannya ke wajahnya.
"Vano, sini sama Papi" Reza segera memangku Vano.
"Yuk ah keburu sore nanti" ajak Tasya. Dia melenggang lebih dulu. Sementara Reza mengikutinya dari belakang.
Tasya duduk dikursi mobil, Vano dan Mbak Diah duduk dideret yang sama dengannya.
"Ingat ya peraturannya." ancam Tasya sementara Reza memperlihatkan wajah memelas.
"Hati-hati ya Pak" ucap Reza
Mereka meninggalkan Reza yang masih mematung diparkiran.
Reza berjalan gontai menuju ruangannya. Tiba-tiba Adit merangkulnya seraya tertawa.
"Sidak dadakan. Hahaha"
"Berisik" ucap Reza. Mereka masuk ke dalam ruangan Reza.
"Gilaaa aura Ibu Direktur, sumpah senyumnya nyeremin tahu gak sih" ucap Adit.
"Wah, aku gak kebayang jadi kamu Za. Berani main-main sama Ibu Direktur" Adit masih heboh sementara Reza mengambil legonya kembali.
"Aku pikir ini tuh bakal dibuang tahu Za" ucap Adit
"Dia tahu harganya, gak mungkin dia berani buang"
'Padahal tadi juga aku takutnya begitu.' batin Reza
"Gila, ini gak disentuh sama sekali?" ucap Adit.
"Dia nahan amarah pastinya tuh. Awas Za, istrimu lagi hamil. Kasihan juga dia" ucap Adit
Reza sesaat terdiam. Dia selalu lupa kalau istrinya sedang hamil.
"Aku gak ada lagi kerjaan kan Dit?" tanya Reza
"Tadi materi itu pelajari saja." ucap Adit
"Nanti lah dirumah, aku nyusul istriku kalau begitu. Dia ke Mall takutnya kenapa-napa lagi" ucap Reza meninggalkan mainannya.
"Beresin" Titah Reza pada Adit. Dia segera pergi menyusul istrinya.
"Dasar, punya Bos gila kayak dia" Adit tersenyum.
Reza melajukan mobilnya menuju Mall. Dia melakukan panggilan pada Tasya, tapi tak diangkatnya. Semakin lama, Reza semakin panik dengan pikirannya sendiri.
"Duh, berapa ya nomor si Mbak Diah" gumamnya seraya mengedarkan pandangannya berharap menemukan sosok istrinya.
Reza terus mencari istrinya, hingga dia melihat Vano sedang naik kereta yang mengitari Mall.
"Vanoo" teriak Reza.
"Eh, itu Papi Van." ucap Mbak Diah.
"Mami mana Mbak?" Reza berjalan cepat mengikuti kereta Vano
"Disana" tunjuk Mbak Diah
Reza melihat ke arah yang ditunjuk Reza. Reza segera berjalan menuju tempat yang ditunjuk Mbak Diah.
Tasya menunggu Vano di depan loket kereta sambil memakan es krim cokelat.
"Papi?" ucap Tasya kaget saat melihat Reza berjalan ke arahnya.
Reza tersenyum melihat istrinya tersebut.
"Kepanasan sayang?" tanya Reza
"Ngapain kesini? Sayang tuh lego mahal dianggurin." sindir Tasya
"Maaf Mam, Papi salah" ucapnya
"Dimaafkan, tapi hukuman tetap berjalan" ucap Tasya sambil menyendokan es krim ke mulutnya.
__ADS_1
"Bagi dong Mam. Haus." ucap Reza. Tasya memberikan es krimnya pada Reza
"Mami mau ngapain kesini?" tanya Reza
"Katanya mau bikin baju?" Tasya bertanya balik
"Oh."
"Sekalian beli kemeja Papi ya sayang, Papi besok jadi pembicara di Universitas" ucapnya.
"Bicara apa? Gimana caranya bohongin istri?" sindir Tasya
"Mamii.. Katanya maafin. Jangan dibahas dong sayang" ucap Reza
Reza segera menghampiri Vano yang telah tiba. Vano merengek enggan turun dari kereta.
Reza segera membeli tiket untuk Vano berkeliling kembali.
"Mana dompet?" pinta Tasya
"Mam" Reza berat memberikan dompet pada Tasya.
Tasya mengambil beberapa kartu dari Reza dan hanya menyisakan satu kartu miliknya.
"Mam, masa yang ini?" Reza protes.
"Silahkan pilih mau yang mana?" ucap Tasya mengingatkan tentang ancamannya.
"Iya yang ini sayang" Reza pasrah.
Tasya tersenyum puas dalam hati. Dia hanya ingin memberi pelajaran pada Reza yang tak bersikap jujur padanya.
Tasya kini menyusuri Mall mencari toko kain bersama keluarganya. Setelah tiba di toko, dia segera memilih kain yang menurutnya pantas untuk mereka.
"Ini mau gak?" tanya Tasya
"Bagus yang ini juga Mam." ucap Reza seraya memegang kain tersebut.
Puas di toko kain, kini Tasya dan Reza ke lantai atas untuk membeli kemeja. Reza membeli beberapa potong kemeja dan blazer.
Setelah selesai, mereka melanjutkan ke tempat permainan. Mereka memanjakan Vano disana hingga Vano tertidur karena kelelahan.
"Vano pulang sama Mbak Diah ya, Papi mau ngajak Mami dinner" ucap Reza
"Gak usah nyogok gitu." ucap Tasya
"Enggak sayang. Papi gak nyogok, Papi mau minta maaf karena Papi bikin Mami marah." ucapnya
"Aku gak marah, aku hanya kecewa." ucap Tasya
"Iya maksudnya begitu."
"Mbak, gak apa-apa ya, ajak Vano pulang duluan. Aku mau ngajak Ibu keluar sebentar." ucap Reza
"Ini juga lagi diluar, Papi"
"Maksudnya, mau kencan dulu Mbak" ucap Reza blak-blakan. Tasya mencubit lengan suaminya.
"Iya gak apa-apa Pak."
"Yuk Mam, anter Vano dulu" ucap Reza
"Kita juga sekalian saja" ucapnya kemudian
"Memang kita mau kemana?" tanya Tasya
"Ada deh"
***
Reza melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia memutar lagu please forgive me dari Bryan Adams dan menyanyikannya membuat Tasya sedikit terenyuh saat mendengarkannya.
Reza menggenggam tangan Tasya. Tasya hanya menerima genggaman tangan Reza hingga tak terasa mereka tiba disebuah gedung pencakar langit. Reza menggandeng Tasya naik ke dalam lift sampai tiba dilantai paling atas gedung tersebut.
Tasya tak banyak bicara, dia hanya mengikuti Reza yang menggenggam tangannya. Hingga pintu lift terbuka.
Tasya nampak takjub dengan pemandangan dihadapannya. Sebuah caffe roftoop dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit disekitarnya. Hiasan lampu gantung dan tanaman hijau disekitarnya membuat suasana semakin nyaman.
Reza tersenyum saat melihat ekspresi takjub dari Tasya.
"Sayang, suka?" tanya Reza
Tasya mengangguk sambil mengembangkan senyumnya.
"Terima kasih Papi."
"Sama-sama sayang."
"Tapi maaf, hukuman tetap berlanjut" tegas Tasya
"Mam, masa tega" ucap Reza
"Ya sudah pulang saja" ancam Tasya
"Iya.. Iya.. Sayang."
Reza memesan makanan mereka saat pelayan datang menghampiri mereka.
Mereka berbincang seolah tak ada masalah diantara mereka. Tasya sangat menikmati suasana disana walau sesekali dia mengusap lengannya karena kedinginan.
Reza membuka blazer miliknya dan memakaikan pada Tasya.
"Nanti Papi masuk angin" ucap Tasya
"Enggak sayang. Papi gak kedinginan kok" ucapnya
"Mam.. Papi minta maaf ya, selalu bikin Mami kesal" ucap Reza
"Sudah sadar tuh berhenti bikin kesal bukan minta maaf terus" ucap Tasya
"Iya Papi berusaha gak bikin Mami marah lagi" ucapnya
"Kerjakan dulu hukumannya."
"Iya Mami. Tapi nanti dapat remisi kan?" tanya Reza
"Belum juga dikerjakan sudah minta remisi" ucap Tasya
Reza tertawa.
***
"Kasihan anak Mami, ditinggal pergi" ucap Tasya begitu tiba dirumah.
"Gak apa-apa sayang, cuma beberapa jam. Kita juga butuh waktu buat pacaran" tambahnya kemudian.
Tasya segera membersihkan dirinya ke kamar mandi, Reza mengikutinya segera.
"Awas kalau macam-macam" ancam Tasya
"Enggak sayang, biar cepat saja" ucapnya.
Reza membuktikan perkataannya. Dia mengambil bajunya sendiri.
Tasya merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"Mam, kesini yuk?" ajak Reza. Dia membaringkan tubuhnya disamping Tasya
"Dimana itu?" tanya Tasya
"Yang waktu kita kesana saat bikin Vano" ucapnya
"Kapan mau kesana?" tanya Tasya
"Terserah Mami saja. Kapan maunya" ucap Reza
"Segera." ucap Tasya
"Segera turun dari kasur dan pindah ke sofa maksudnya" ucap Tasya tajam.
.
.
.
Hayolooo Papiii.. Siapa yang dukung Mamiii? Yuk vote mereka. Jangan lupa like dan komentarnya. Terima kasih ^^
__ADS_1