
"Bro" ucap Reza saat orang tersebut mendekat. Mereka beradu bahu seraya mengaitkan tangannya.
"Kenapa? Kangen si brave?" goda orang tersebut.
"Ayolah Dam. Lepas kembali si brave. Aku kesusahan tanpa dia" bujuk Reza pada temannya yang bernama Adam
"Kau tinggal carilah kawan baru" ucap Adam seraya menjatuhkan tubuhnya di sofa
"Tidak semudah itu kawan. Si brave cinta pertamaku. Kau tahu betul" Reza mendengus
"Haha.. Kau ini." Adam mempermainkannya
"Tega kau padaku Dam. Disini pun dia hanya sebagai penghuni asing" ucap Reza yang melihat rumah Adam lebih luas dari pada rumahnya.
"Hmm.. Kenapa sih kau tak rela dia bersamaku?" tanya Adam dengan santai
"Istriku sedang hamil, masa aku beli kelapa ijo saja mesti bawa mobil" dia enggan menyebut nama mobil kesayangannya.
"Ayolah Dam" bujuk Reza
"Sesuai penawaran kemarin bagaimana?" Adam menantangnya
"Ah!" Reza berdecak.
"Melebihi rentenir kau" ucap Reza
Seketika Adam tertawa keras.
"Sesuai ucapanku kemarin lah Dam. Temanmu sedang menjerit, kau membuatku berteriak" sindir Reza yang mengutarakan keadaanya
"Haha. Oke. Oke. Karena aku baik hati ambilah. Tapi kau bayar sekarang juga" Adam memberikan syaratnya
"Oke" wajah Reza berbinar seketika.
"Aku ke bank dulu kalau begitu" ucap Reza seraya melihat jam ditangannya.
Reza segera pamit. Dia pergi ke bank dengan tergesa karena melihat jam sudah siang. Reza melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Tak berapa lama dia sampai di bank yang dia tuju.
"Tutup?" gumam Reza kesal
Dia menyandarkan kepalanya di setir mobil
"Ya Tuhaan.. Ini kan hari Minggu" Reza memukul setir mobilnya.
Dia segera mencari nama Adam dalam ponselnya kemudian memijit tanda telepon di layar ponselnya.
"Haha.. " Adam tek hentinya tertawa saat teleponnya terhubung.
" Breng*ek Kau!" Reza berteriak kesal
"Bodohnya dirimu Za!" Adam tertawa puas telah mengerjai temannya
"Kau membuang waktuku Dam! Istriku sedang sakit, ku paksakan ke rumahmu! Tapi Kau!" Reza mematikan ponselnya kesal.
Reza melajukan mobilnya, dia menyusuri jalanan mencari penjual kelapa. Tak butuh waktu lama, dia sampai di penjual kelapa muda. Reza memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Dia segera menghampiri penjual kelapa muda.
"Kelapa ijo ada Pak?" tanya Reza
"Ada" ucap penjual tersebut
"Tiga ya Pak. Jangan dikupas" pinta Reza.
Penjual tersebut memberikan tiga butir kelapa utuh pada Reza. Reza segera membayarnya. Setelah selesai, dia segera masuk ke dalam mobilnya. Dia melajukan mobilnya untuk segera pulang.
***
"Dari mana A?" Tasya curiga
"Minum dulu sayang" Reza memberikan kelapa yang telah dia buka.
Tasya menunggu penjelasan sang suami.
__ADS_1
"Aa ke rumah teman ingin mengambil si brave lagi sayang" ucap Reza
'Istri sedang sakit dan kau malah mencari motormu!' batin Tasya kesal
"Maaf, Aa tadi buru-buru ke rumah teman. Aa kesusahan tanpa brave Mam. Mau beli kelapa ijo saja, Aa harus pakai mobil" ucap Reza jujur
Tasya terdiam. Dia malas berdebat dengan suaminya. Tapi hatinya sangat kesal.
"Maaf Mam" sesal Reza
Tok.. Tok.. Tok..
Reza dan Tasya melihat ke arah pintu. Reza segera membuka pintunya.
"Ada yang nyari" ucap Bi Tinah
"Siapa Bi" tanya Reza
"Berep, baret eh siapa ya namanya susah" ucap Bi Tinah sambil tersenyum
Reza segera keluar kamar mengikuti Bi Tinah.
"Breng*ek!" Reza mendengus sebal saat melihat seseorang mengembangkan senyumnya ketika melihat Reza.
"Haha.. Sorry. Sumpah, bodoh sekali kau" ucap Adam
"Nih" Adam melemparkan kunci pada Reza. Dengan sigap, Reza menangkapnya.
"Besok bayar tunai" ucap Adam.
"Siap Bos" Reza melupakan kekesalannya.
Bi Tinah menghampiri mereka membawa minum untuk mereka.
"Bi masih ingat saya?" tanya Adam
"Mas Berep? Mas Baret? Tadi siapa namanya Mas? Saya ingat wajahnya tapi saya lupa namanya" ucap Bi Tinah polos
"Adam Bi. Dulu sering sekali Adam kesini" ucap Adam
"Oh iyaa.. Dulu suka tidur disini kan?" ucap Bi Tinah
Adam mengangguk.
"Sudah nikah?" tanya Bi Tinah
"Bibi mau menikah dengan saya?" canda Adam
"Gak bakal Bibi menolak kalau diajak nikah sama Mas Adam" ucapnya
Ketiganya tertawa.
"Di tinggal ya Mas, Bibi belum beres" pamit Bi Tinah seraya berlalu meninggalkan Reza dan Adam.
"Bokap mana?" tanya Adam
"Anak perawan gak pernah ada di rumah" jawab Reza
"Haha.. Durhaka Kau! Bos dipanggil anak perawan" ujar Adam seraya memukul bahu sahabatnya.
"Terus istrimu? Jangan bilang kau pura-pura Za!" Adam mengancam
"Dia sedang sakit. Sudah ku bilang" ucap Reza.
"Lama juga aku tak main kerumahmu Za!" ucap Adam
"Kau selalu saja sibuk" Reza menyudutkannya
"Kau tahu sendirilah orangtuaku macam mana. Tak bisa aku nolak seenaknya" ucap Adam
"Ya ya, Kau takut dikutuk jadi batu rupanya" sindir Reza
__ADS_1
Mereka tertawa keras
***
Tasya merasa kesal pada Reza. Dia merasa Reza sangat tak peduli padanya. Tasya yang bosan segera duduk di tepi kasur. Kemudian mengambil ponselnya di atas meja kemudian memainkannya.
Tasya merasa tenggorokannya sangat kering, dia enggan untuk minum air putih karena mulutnya terasa pahit. Dia segera keluar kamar, hendak membuat teh manis hangat.
Begitu keluar kamar, Tasya mendengar suara tertawa Reza dan seorang lelaki yang tidak dia kenali suaranya. Tasya tak peduli, dia terus berjalan ke arah dapur.
***
"Za, aku ikut buang air kecil." pinta Adam
"Sana. Kau kayak pertama kali saja" ucap Reza
"Haha. Aku kebelakang nih" ucap Adam
Adam melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dia melihat Tasya yang sedang sibuk sendiri dengan rambut yang diikat asal memperlihatkan leher jenjang serta perut yang sedikit membuncit.
Tak dipungkiri Adam terpesona dengan Tasya yang terlihat begitu cantik dengan wajah sedikit memucat.
"Mau apa Mas? Biar bibi ambilkan" ucap Bi Tinah mengagetkannya
"Mau ke kamar mandi Bi" ucap Adam sedikit gugup
Tasya melihat ke sumber suara, pandangan mereka beradu hanya sepintas. Adam segera berlalu masuk ke dalam kamar mandi yang letaknya tak jauh dari dapur.
Begitu keluar dari kamar mandi, Adam mengedarkan pandangannya. Dia tak melihat Tasya di dapur.
'Kamarnya masih itu bukan ya?' batin Adam penasaran. Dia meyakini bahwa yang dia lihat adalah istri Reza.
Adam segera pergi ke ruang tamu. Disana Reza sedang memainkan ponselnya.
"Rumahmu nampak tak berubah banyak Za" ucap Adam
"Untuk apalagi di rubah, kita cuma bertiga" balas Reza
"Kau yakin tak akan mengenalkan Istrimu padaku?" tanya Adam yang penasaran
"Untuk apa ku kenalkan? Bahaya dia bertemu dengan buaya sepertimu" Reza tertawa puas.
"Dia sedang sakit, aku tak bohong. Tadi pagi kita habis berobat ke dokter kandungan" ucap Reza jujur
"Sakit ke dokter kandungan? Yang benar saja kau!" Ledek Adam
"Istriku hamil, mana mungkin dia minum sembarang obat" ucap Reza
Adam nampak mengangguk-ngangguk mengerti.
"Aku balik ya" ucap Adam
"Oke. Thanks Bos." ucap Reza
"Jangan lupa besok" ucap Adam.
"Siap bos." Reza mengangkat tanganjya seraya hormat
"Terus, sekarang aku pulang pakai apa?" Adam nampak kebingungan
Reza tertawa keras.
"Ojek online sajalah. Aku tak bisa mengantarmu. Kasihan istriku di tinggal lagi." ucap Reza
"Aku mana punya aplikasinya" jujur Adam
"Haha.. Sebentar. Istriku nampaknya punya"
Reza segera berjalan menuju kamarnya, Adam mengikutinya pelan.
'Siapa tahu dia keluar lagi' batin Adam berharap.
__ADS_1