
"Mami.." vano menghampiri Tasya yang sedang merapikan tempat tidur
"Ya?"
"Aku lapar" ucap Vano dengan wajah memelas
"Tadi kan sudah makan?" Tasya merasa heran
"Tapi aku lapar lagi. Disini gak ada makanan" ucapnya
"Hah? Gak ada makanan bagaimana Bang? Di dapur ada sereal, roti, biskuit, di kulkas juga ada buah. Kok abang bilang gak ada makanan?" tanya Tasya heran.
"Maksud Abang, gak ada makanan yang di televisi Mamiiii"
"Hhh..makanya jangan bilang gak ada makanan, Abang harus bersyukur, dilu.."
"Stop Mami. Abang sudah tahu, Mami mau bicara apa" ucapnya
"Terus Abang mau apa?"
"Abang lapar Mamii, mau Pizza."
"Oh ya aampun.. Ingin pizza aja, ngomongnya pake thowaf dulu" ucap Tasya
"Thowaf apa Mami?" tanya Vano
"Udah gak usah dilanjut. Mau pizza apa? Telepon Papi saja biar nanti Papi yang beli sekalian pulang" ucap Tasya
Tasya mengambil ponselnya, dia kemudian duduk di sofa diikuti oleh Vano.
"Assalamu'alaikum sayang" sapa Reza
"Ini Abang, Pi. Bukan sayang"
"haha.. Kenapa Bang?"
"Abang mau pizza Pi. Dirumah kita gak ada pizza yang kayak di televisi" ucapnya memelas.
"Pizza?"
"Iya, Abang belum makan Papi" adunya
"Enak aja! Tadi Abang sudah makan ya bareng Daffa sampe nambah juga makannya."
"Itu kan tadi, Mami. Sekarang Abang belum makan lagi" ucapnya
"Haha.. Oke mau pizza apa? Biar cepet. Papi mau pulang ini" ucap Reza
"Yang ada mushroom sama cheese-nya Pap" pinta Vano
"Terus?"
"Aku juga mau minumannya ya?"
"No. Air putih saja" tegas Reza
"Ya udah deh iya. Aku mau pizza aja. Papi pelit" gerutunya
"Haha.. Ya sudah. Adek mana?" tanya Reza
"Adek lagi sama Mbak Uji nonton televisi" ucapnya
"Mami mau pesan sesuatu juga?" tanya Reza
"No, Mami diet Papi" ucap Vano
"Mami gak diet ya, Van"
"Terus Mami mau apa? Cepetan gak pake lama. Nanti Papi keburu pulang loh" ujar Vano pada Tasya
"Iya, Papi keburu pulang karena kamu bicara terus" ucap Tasya yang membuat Reza terbahak.
"Sudah itu saja pesannya?" Reza memastikan
"iya. Terima kasih Papi. Hati-hati dijalan ya. I love you Pi" ucap Vano
"Mami mana?" tanya Reza
"Sayang, ini Papi ingin bicara" ucap Vano yang membuat Reza terbahak lagi. Vano segera keluar dari kamar Tasya
"anak kamu ih, masa minta pizza bilangnya dirumah gak ada makanan. Tahunya bilang lagi, gak ada makanan yang kaya di televisi" Reza langsung terbahak mendengar curhatan istrinya.
"Dia makin hari omongannya makin gak bisa kita tebak" ucap Reza
"Mami mau pesan apa?" tanya Reza
"Gak Pap. Cepat pulang saja. Anak-anaknya keburu tidur nanti." ucap Tasya
"Ya sudah, Papi pulangnya. Love you Mami" balasnya
"Love you too, Papi. Hati-hati dijalan" balasnya
Vano dan Daffa masih asik bermain diruang televisi. Dia menunggu Reza yang masih belum datang juga.
"Mami, apa Papi ketiduran pas beli pizza?" tanya Vano
Tasya dan kedua pengasuhnya tertawa
"Enggak lah Bang. Mungkin Papi nunggu dibuat pizzanya lama" ucap Tasya
"Lama banget. Aku jadi kelaparan banget Mam" ucapnya
"Kasihan yang kelaparan" ucap Tasya
"Eh, itu suara mobil Papi, Dek. Ayo kedepan" ajak Vano
"Suara dari mana Bang? Orang gak ada suara juga" jawab Tasya
"Ayo Dek kita lihat dulu" ajaknya seraya berjalan ke ruang tamu. Dia mengintip dari balik tirai
"Papiii.. Miii cepat buka Miii.. Papi datang kan" ucapnya
Tasya bergegas menghampiri mereka, dia membuka pintu rumahnya.
"Yee.. Papi pulang" Vano mwlonjak kegirangan.
"Pizza aku mana Papi" ucapnya tak sabar.
"Belum juga turun Papinya, sabar dong" balas Tasya
Reza keluar dengan membawa dua box besar pizza pesanan anaknya.
"Abang bawa pizzanya Pi" ucapnya hendak merebut box pizza.
"Berat Bang. Panas juga" ucap Reza
"Daffa mau apa?" tanya Reza
"pita Pi" ucapnya
"haha.. Kamu laki-laki jangan minta pita"
Reza mendekatkan diri pada istrinya. Mereka saling mengecup singkat.
"Abang, Papinya bawain minum dulu dong" pinta Tasya
Vano dan Daffa berlomba mengambil minum untuk Reza. Keduanya tak ada yang mau mengalah hingga Daffa jatuh dan menangis. Botol minum miliknya terpental.
"Abang!" teriak Tasya
"Bukan salah aku Mi! Dedeknya yang dorong aku" ucap Vano
"Udah jelas Abang tadi yang dorong Dedek." ucapnya seraya mengangkat tubuh Daffa dalam gendongannya.
__ADS_1
"Mami marahin Abang terus! Abang sebel sama Mami" ucapnya yang membuat hati Tasya sedikit sakit saat mendengarnya.
"Sudah-sudah, ayo masuk" ajak Reza
Mereka masuk ke ruang televisi. Reza menaruh box pizza diatas meja. Dia berjalan menuju kamar.
Vano segera membuka pizza yang dibawa Reza.
"Mbak Diah sama Mbak Uji kalau mau ambil saja ya" ucap Vano
"Aw.. Masih panas Mbak" ucapnya
"Mbak Uji bawa piring kecil dulu ya? Nanti Abang makannya di piring saja" ucap Mbak Uji
"Oke Mbak. Tolong sama sendok garpunya juga ya" ucap Vano yang membuat Mbak Uji tesenyum.
Tasya menyusul Reza ke kamar. Disana Reza sedang membuka pakaiannya.
"Papi mau makan?' tanya Tasya
"Enggak. Nanti makan pizza saja sama anak-anak" ucapnya
"Mami sudah makan?"
"Belum. Gak tahu maunya apa ya. Perutku kembung. Gak enak begini" ucap Tasya
"Mau apa dong?" tanya Reza
"Gak mau apa-apa"
"Apa? Mau hamil lagi?" canda Reza
"Papi ih bicaranya" gerutu Tasya yang membuat Reza tersenyum senang. Tasya keluar kembali, bergabung dengan kedua anaknya.
"Mami, aku sudah makan dua" ucap Vano
"Bagus."
"Mbak Uji ama Mbak Diah ayo makan pizza. Enak nih masih hangat" ucap Tasya seraya membuka box pizza yang masih utuh.
Reza ikut bergabung bersama mereka. Dia milirik Daffa yang tak bersuara. Tak ada yang sadar, Daffa tertidur sambil memegang pizza ditangannya dengan posisi duduk.
"Daffa tidur" ucap Reza. Semua mata tertuju pada Daffa.
"Ahaha.. Lucu sekali" ucap Vano
Reza mengambil ponsel miliknya, dia mengambil foto dan video anaknya yang sedang tertidur sebelum Tasya membersihkan dan mengangkatnya ke kamar.
***
"Papi" Tasya memanggil Reza yang sedang duduk memangku laptop miliknya
"Hmm.. " masih fokus tanpa menoleh pada istrinya
"Kapan kita nyari sekolah Vano, Pap?" tanya Tasya sambil memiringkan tubuhnya menghadap sang suami.
Reza memutar bola matanya, dia sejenak berpikir.
"Mami dulu yang nyari gimana? Papi kayaknya sekarang-sekarang sibuk Mam" ucapnya
"Papi gimana sih buat anak sendiri juga" ketus Tasya. Dia mengubah posisinya, merasa jengkel dengan jawaban suaminya. Sementara Reza meneruskan pekerjaannya kembali.
Keesokan Paginya, Daffa menghampiri Tasya dikamarnya.
"Mam.. Tutu" pintanya
"Susu?"
"U'um" Daffa mengangguk cepat
"Sun dulu nanti Mami buatkan" ucapnya seraya berjongkok.
"Uh?" Daffa segera mengecup pipi Maminya.
Tak berapa lama, Vano menghampiri Tasya.
"Mami, aku sekolahnya kapan?" tanya Vano
"Nanti kita cari sekolah sama-sama ya." ucap Tasya
"Abang mau yang banyak mainanya Mami, biar seru" ucapnya
"Iya."
"Tapi nanti Ibu guru Abang cantik-cantikan Mam?" tanay Vano
"Kenapa memangnya?"
"Kata Papa, kalau gurunya cantik nanti semangat belajarnya" ucap Vano.
"Abang, jangan dengar Papa Rasya. Papa bohong sama Abang. Semangat itu dari Abang sendiri. Mengerti?"
"Iya Mami"
"Sekarang, Abang sarapan dulu sama sereal ya? Mami gak buat nasi goreng. Gak apa-apa kan?"
"Iya Mami. Abang anak baik kan? Gak minta apa-apa sama Mami" ucap Vano memuji dirinya sendiri
"Iya. Abang anak yang baik banget. Terima kasih sudah mau nurut ya" ucap Tasya
Vano segera mengambil sereal dan menuangkannya pada mangkuk miliknya. Daffa yang melihat Abangnya segera menghampiri.
"Adek, kamu gak bisa. Sama Abang aja" ucap Vano saat Daffa hendak merebutnya
"bita"
"Enggak Dek. Nanti tumpah semua" Vano berteriak
"Bitaa" Daffa merebutnya kembali
Hingga akhirnya sereal tersebut jatuh berserakan dilantai.
"Tuh kan! Gara-gara Daffa!" bentak Vano yang membuat Daffa menangis.
Mbak Diah menghampiri mereka. Keduanya dituntun menuju ruang televisi.
"Aku lapar Mbak" ucap Vano
"Iya. Nanti Mbak ambilkan, kalian tunggu saja disini ya" pinta Mbak Diah.
"Daffa jangan nangis lagi. Baikan sama Abang" ucap Mbak Diah
"Gak mau!" Vano menjauh
"Mbak bilang Mami saja ya"
"Mbak Diah jangan bilang Mami!"
"Mau baikan gak?" tanya Mbak Diah seraya membuat mereka berhadapan
"Saling minta maaf" ucap Mbak Diah
"Dek, Abang minta maaf ya." ucap Vano
Sementara Daffa memeluk Vano.
"Iya sudah Abang maafkan. Jangan nakal lagi ya Dek"
"u'um"
"Mbak ambilkan dulu serealnya ya. Jangan ada yang berantem lagi. Mengerti?"
"mengerti"
__ADS_1
"u'um" jawab keduanya kompak.
***
"Mam, mana kaos kakinya?" tanya Reza pada Tasya yang sedang merapikan tempat tidur mereka.
Tasya tak banyak bicara, dia segera mmemberikan kaos kaki pada suaminya.
"Mami" Tasya tak menoleh.
"Mami marah kenapa sih? Bilang dong" ucapnya seraya mendekat
"Mam" Reza mencoba memeluknya tapi Tasya melepaskan dirinya.
"Gara-gara sekolah Vano?" tanyanya
"Masih nanya!"
"Ya gimana, Papi sibuk Mam. Nanti kalau gak sibuk, Papi anterin." ucapnya
"Anterin? Vano anak Papi juga ya. Tanggung jawab Papi gak cuma nyari uang saja!" ketus Tasya yang membuat Reza terdiam.
Tasya yang kesal segera meninggalkan Reza.
***
"Dit, ada jadwalku yang kosong minggu-minggu ini?" tanya Reza yang sedang merebahkan dirinya di sofa.
"Gak ada Za. Paling yang kosong setelah jam tiga sore." ucap Adit
"Gak bisa di rubah sehari Dit?" tanyanya
"Gak bisa. Semuanya penting soalnya Za. Kenapa?"
"Istriku marah gara-gara sekolah anak" ucapnya
"Vano sudah mulai sekolah Za?"
"Iya, baru mau masuk. Anaknya sudah minta. Paling aku masukan playgroup saja." ucap Reza sedikit frustasi
"Terus masalahnya apa?" tanya Adit heran
"Tasya minta aku menemaninya mencari sekolah yang cocok sama karakternya dia." ucap Reza
"Sorry Bro, kali ini kamu harus bisa kasih pengertian sama Istrimu" ucap Adit
"Duh, gimana ya?" gumamnya
"Haha.. Kamu selalu frustasi kalau istrimu marah Za" Adit meledeknya
"Aku suka gak tenang kalau dia marah." ucap Reza
"Gini deh Za. Kamu coba cari online saja dulu. Kan sekolah suka punya website sama kontaknya. Kamu telepon dulu sekolahnya. Nanti yang datang biar anak istrimu. Bagaimana?" tanya Adit
"Oke. Thanks Dit, idenya." ucap Reza bersemangat.
Reza segera membuka website sekolah satu persatu. Dia juga mencatat informasi sekolah-sekolah tersebut. Setelah mendapatkan semua informasi, Reza segera menghubungi istrinya.
"Assalamu'alaikum Mami"
"Waalaikumsalam"
"Lagi apa sih sayang?"
"Diem"
"Kok? Anak-anak kemana?"
"Tidur"
"Mam, Papi sudah cari sekolah Vano via website. Tadi juga Papi telepon. Ada yang cocok sama Vano sih. Mami buka deh web-nya dulu."
"Apa nama sekolahnya? Jauh gak dari rumah"
"Enggak sayang. Lumayanlah gak terlalu jauh. Tapi nanti, Mami ya yang kesana? Maaf Mam. Papi benar-benar gak bisa. Bukan gak mau. Ada jadwal kosongnya sore. Papi harap Mami mengerti" ucapnya
"Hhh... Ya sudah."
"Jangan marah dong sayang, nanti kalau Papi sudah gak sibuk juga pasti Papi ikut anter Vano. Siapa sih yang gak senang anaknya sekolah" ucap Reza
"Iya."
"Yasudah, Papi lanjut kerja ya. Mami kalau mau cek sekolahnya hati-hati. Love you" Reza memutuskan sambungan teleponnya.
Tasya menghela nafasnya panjang, dia sedikit kecewa tapi harus mengerti keadaan suaminya. Tasya membuka website yang diberikan oleh Reza. Dia berencana datang ke sekolahnya tersebut besok pagi.
***
Keesokan harinya, Tasya bersama kedua pengasuhnya berangkat ke sekolah diantar oleh Pak Budi. Vano nampak bersemangat saat diberitahu hendak mencari sekolah untuknya.
Hingga tiba di sekolah yang cukup luas dengan berbagai permainan. Hal yang dicari oleh Vano dan Daffa adalah mainan yang ada disana. Sementara Tasya berbincang dengan sekretariat sekolah tersebut sambil berjalan mengitari sekolah.
Setelah selesai, mereka pergi ke sekolah lainnya. Dan melakukan hal yang sama.
"Baru cari playgroup saja sudah pusing begini" ucap Tasya saat mereka diperjalanan hendak pulang.
"Mahal-mahal ya bu sekolahnya" ucap Mbak Diah
"Iya Mbak. Mahal banget. Ini baru sekelas playgroup. Apalagi sekolah dasar" ucapnya
"Di kampung gak seperti ini Bu."
"Iya Mbak. Dulu jaman saya sekolah juga gak ada sekolah yang seperti ini. Ini sekarang saja. Sekolah pun pakai metode yang berbeda-beda." keluh Tasya
"Vano kalau sekolah disana menggunakan Bahasa Inggris bu bicaranya?" tanya Mbak Uji
"Iya. Kata Papinya biar terbiasa."
"Nanti kita yang gak ngerti dong Bu" celetuknya lagi
"Haha.. Tenang Mbak, aku juga gak mahir. Aku juga harus belajar lagi. Lagipula kita di Indonesia Mbak, anaknya pasti pakai bahasa Ibu semua" ucap Tasya
"Bahasa Ibu?" tanyanya heran
"Bahasa Indonesia Mbak."
"Enak dikampunglah Mbak. Aku juga gak tahu bisa atau enggak nantinya. Sekolah sekarang kan kebanyakan orangtuanya yang gaul. Sementara aku Mbak? Sehari-hari saja dirumah. Gak pernah bergaul" keluh Tasya
"Ibu tenang saja, Pak Reza kan Direktur, Bu" ucap Mbak Diah
"Memang kenapa kalau dia Direktur, Mbak?" Taysa tersenyum
"Buatku biasa saja Mbak. Gak ada yang istimewa. Toh dirumah, dia tetep saja A Reza" ucapnya
"Di rumah juga Direktur Bu. Direktur rumah tangga" ucapnya yang membuat mereka tertawa.
"Mami bau sampah" ucap Vano
"Enggak Van"
"Iya Mi."
Mereka mengendus.
"Daffa pup?" tanya Tasya
"U'um" jawabnya polos.
.
.
.
__ADS_1
Temaans, jangan lupa dukung terus BUKAN SITI NURBAYA yaaa.. Ditunggu dukungan dengan like, komentar dan vote yang buanyak. Yang mau kasih tip juga aku terima. Hehe.. Terima kasih^^