BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Ternyata Dia..


__ADS_3

"Hai Za sedang apa? Kamu kok gak pernah balas pesanku? Semakin kamu begitu, aku semakin penasaran sekali denganmu." isi dari pesan yang dikirim oleh nomor yang tidak tersimpan dalam ponsel Reza


Sudah hampir sebulan, Reza di teror oleh pesan dan telepon yang masuk ke ponselnya dengan nomor yang sama namun tak pernah sekalipun dia membalasnya.


"Lihat Sya" Reza menyodorkan ponselnya kepada Tasya


"Gigih sekali orang itu A. Aku malah jadi kasihan Aa cuekin begitu" jawab Tasya datar kemudian memberikan ponselnya kembali kepada Reza


"Aa gak mau ada orang ketiga. Baru juga Aa bisa taklukin hati kamu, masa harus ada masalah yang gak penting sih. Yang jelas Aa tidak akan pernah membalasnya atau pun menutupinya dari kamu kan sayang. Aa mau apapun terbuka. Biar kita langgeng. " Reza meyakinkannya


"Iya A." Tasya tersenyum ke arahnya. Kemudian membuka lemari pakaian


"Sayang, bawa bajunya gak perlu banyak kan ya? Kita hanya beberapa hari disana" ucap Tasya yang sekarang mulai berani memanggil Reza dengan panggilan sayang


"Iya. Aa terserah kamu saja" ucap Reza sambil merapihkan rambutnya


Reza mendekat ke arah lemari, disana Tasya sedang memilih baju suaminya. Reza memeluk Tasya dari belakang.


"A, aku lagi pilih baju. Diam dulu dong" pinta Tasya


"Aku kan cuma peluk doang. Gak ngapa-ngapain" ucap Reza masih memeluknya


"Sudah ah, kita kan di tunggu Papa a" ucapnya lagi


"Aku sudah mandi, sudah wangi, mana dong?" Reza menunjuk pipinya


Tasya mengecup kilat pipi Reza. Kebiasaan Reza sekarang meminta hadiah setelah dia mandi dan wangi. Kemudian Reza melepaskan pelukannya.


"Za kamu sudah siap?" teriak Papa dari luar kamar


Reza kemudian membuka pintu dan keluar dari kamar,berbicara dengan Papanya.


Tasya dan keluarga suaminya akan pulang ke kampung Tasya untuk menghadiri wisuda Tasya.


***


"Papa kalau bawa mobil sendiri kenapa tadi malah nunggu kita sayang?" tanya Tasya


"Entahlah sayang. Biarkan saja. Kalau di protes pasti ngomel-ngomel" ucap Reza tersenyum mengingat kekonyolan Papanya.


Mereka kemudian turun di sebuah toko kue untuk membeli oleh-oleh.


***


"Mbak, aku mau yang ini ya" ucap Tasya memilih sekotak kue buah mini isi kacang hijau kepada pelayan.


"Dua kotak saja mbak" susul Reza


"Buat siapa A?" tanya Tasya


"Kamu." jawabnya singkat


Tasya melihat kearahnya dengan heran


"Nanti kalau habis kamu kan suka bilang ingin lagi. Biar sekalian saja" jelas Reza. Dia sangat hafal makanan kesukaan istrinya tersebut.


Setelah semua selesai, mereka melanjutkan perjalanannya.

__ADS_1


***


Beberapa jam kemudian mereka tiba di rumah Pak Taufik. Pak Danu sudah berada disana dan bercengkrama dengan kedua orang tuanya.


"Dari mana saja kamu Za?" tanya Pak Danu


"Menikmati perjalanan lah Pa" jawabnya kemudian.


Mereka berbincang bersama. Siang itu penuh kehangatan di rumah Tasya.


***


Tasya membantu ibunya menyiapkan makanan untuk makan bersama.


"Sya, ibu rasa kamu sedikit berisi sekarang" ucap ibu ketika melihat badan Tasya


"Masa sih bu?" tanya Tasya


"A Reza sih, belikan aku jajanan terus bu" sambungnya


"Pantas kalau begitu. Tapi ibu senang melihat kalian akur" ibu tersenyum ke anaknya


"Sudah sana panggil mereka masuk, nanti keburu dingin makanannya" perintah ibu


Tasya kemudian ke depan, disusul oleh para lelaki di belakangnya.


"Wah, kesukaanku ini" mata Pak Danu berbinar melihat nasi liwet dan kawan-kawannya


"Harusnya kita makan di kebun nih besan" ucapnya lagi


Mereka makan dengan lahapnya.


"Sya.." Reza memberikan piring yang hampir kosong kepada Tasya


Dengan cekatan Tasya menambahkan nasi liwet di piring Reza. Ibu memperhatikan mereka dan tersenyum tipis di wajahnya.


"Seperti biasa. Juara sekali. Saya makan di sini remnya blong. Susah mau berhenti" ucap Pak Danu memuji.


"Pa, papa sih malu-maluin" Reza menyela. Mereka semua tertawa.


***


Kamar Tasya


"Habis lelah nyetir, perut kenyang, saatnya istirahat" ucap Reza sambil merebahkan badannya.


"Iya istirahat saja dulu A. Nanti antar aku cari kerudung ya A. Aku gak punya warna ini" ucap Tasya sambil memegang kebayanya.


"Punya Aa mana?" tanyanya


"Ini. Sama seperti rokku. Coba dulu. Pas tidak? Mumpung masih ada waktu kalau harus di betulkan" ucap Tasya menyodorkan batik hitam kepada Reza


Reza mencoba baju barunya.


"Pas sayang. Enak dipakainya" ucap Reza sambil melihat dirinya di cermin


"Pas kan? Kalau jahit di Mang Andi memang gak pernah gagal." Tasya memuji

__ADS_1


Kebaya dan batik mereka sekeluarga sengaja di jahitkan di penjahit langganan keluarga Tasya karena Tasya tidak tahu tempat jahit yang bagus di rumah mertuanya.


***


"Mau kemana kalian? Pacaran terus. Sudah mau malam juga" sapa ibu kepada Reza


"Tasya katanya mau cari kerudung bu. Ibu mau ikut?" ajaknya


"Ibu di rumah saja Nak. Kasihan nanti para bapak kalau butuh sesuatu" tolak ibu


"Ya sudah kita jalan ya bu. Gak lama kok" pamit Tasya


***


Reza dan Tasya tiba di parkiran Mall tempat mereka membeli mas kawin tempo lalu. Keduanya berjalan nampak serasi. Mereka menyusuri toko demi toko.


"Itu tuh Sya, banyak kerudung disana" tunjuk Reza pada sebuah toko kerudung.


Mereka menghampiri toko tersebut. Reza menemani Tasya dengan sabar.


"Bagus ini atau ini A?" tanya Tasya


"Keduanya bagus sayang. Beli saja dua-duanya" Reza tidak mau ambil pusing


"Butuhnya cuma satu kan A" tolak Tasya


"Ya sudah yang ini saja" pilih Reza.


Setelah selesai mereka keluar toko. Baru melangkahkan kakinya ke luar toko, pandangan Reza beradu dengan seseorang yang ia kenal.


"Reza?" sapa seorang lelaki


"Bro! Wah, kebetulan kita ketemu disini. Lagi apa disini Bro?" tanya Reza


"Biasa lah" Lelaki tersebut melirik ke arah wanita yang di sampingnya.


'Perasaan pernah ketemu wanita itu. Tapi dimana ya?' Batin Reza


"Eh istrimu Bro? Hallo, saya Reza sahabat Bro Raka. Tapi sayang sudah lama sekali kita tidak bertemu. Oh ya, ini istriku" Reza memperkenalkan diri hendak menyalami pasangan temannya tersebut


Yang disapa gelagapan. Dia nampak canggung dan ketakutan


"Hai, aku Syai..na" ucapnya pelan sambil menyalami Reza dan Tasya


"Belum nikah lah kita. Syaina tunanganku." ucap Raka kemudian


"Wah? Kau sudah nikah? Kapan? Aku gak di undang Za. Teganya" sambung Raka seraya becanda


Reza sedikit terkejut. Dia mengingat wanita tersebut sekarang. Tapi segera dia fokus terhadap lawan bicaranya.


"Iya nih, baru mau jalan tiga bulan kita. Iya kan sayang?" ucap Reza melirik Tasya


"Hai Tasya, aku Raka. Hebat ya bisa dapatkan lelaki handsome ini. Dia dulu ngetop loh di sekolah." Ucap Raka sambil tertawa


"Ah bisa saja" mereka tertawa


Syaina tidak menikmati pertemuan mereka. Dia tidak menyangka kalau Reza sahabat Raka. Dia takut Reza akan memgadukan kelakuannya kepada Raka.

__ADS_1


__ADS_2