BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Keputusan Sepihak


__ADS_3

"Kau disini Dam" sapa Reza


'Adam? Oh jadi dia Adam?' batin Tasya saat melihat jelas wajah Adam


"Ini istrimu Za?" tanya Adam tersenyum


"Hah kau ini. Iya dia istriku." ucap Reza


"Hallo Mbak, aku Adam. Teman Reza. Kita pernah ketemu ya di rumah" ucap Adam mengulurkan tangan


'Pantas saja auranya kuat sekali. Luar biasa istri Reza.'batin Adam


"Oh hallo, Tasya" Tasya menerima jabatan tangan Adam.


"Oh mbak Tasya. Tahu gitu tadi kita makan bakso bareng mbak" celetuk Adam


"Kalian?" Reza melemparkan pandangannya bergantian pada istrinya dan Adam


"Santai Bung. Tadi aku cuma lihat dia sedang makan bakso sama kawannya" ucap Adam


"Kemana anak istrinya Mas Adam?" ucap Tasya dengan sengaja


"Haha.. Aku masih.. "


" Ibu.. Aku cari-cari.. " Lala menghampiri. Dia melihat Adam


" Ibu.. " Lala memegang tangan Tasya


"Saya teman Reza, mbak" ucap Adam seolah tahu isi pikiran Lala


"Oh.. " Lala mengangguk sambil tersenyum.


'Buseett gantengnya luar biasa dari dekat sini. Sebelas dua belas sama Pak Reza.' batin Lala


Reza mengajak ngobrol Adam berbasa-basi. Sementara mereka mengobrol, Adam mencuri-curi pandang pada Tasya yang tengah ngobrol dengan Lala sedikit menjauh dari mereka.


'Si*lan si Adam lihat Tasya begitu banget' batin Reza


Reza mengakhiri obrolannya dengan Adam. Dia pamit pulang lebih dulu. Reza menghampiri Tasya kemudian menggenggam tangannya pergi menjauh dari Adam.


'Luar biasa gadis lugu. Menang banyak si Reza' batin Adam.


Reza merasa gerah saat mengingat Adam tertarik pada istrinya. Reza melirik Tasya yang tertidur


"La.. " panggil Reza


"Iya Pak.." Lala tersentak dari lamunannya


"Tadi si Adam ganggu kalian gak?" tanya Reza


'Jangan bilang La.. Please.. ' Tasya yang hanya memejamkan mata mendengar semua percakapan mereka.


"Tidak sih Pak, cuma tadi di tempat bakso dia melihat terus ke arah kita" ucap Lala


' Laa.. Ingin rasanya mengikat mulutmu pakai karet' batin Tasya. Dia masih pura-pura tidur.


"Pasti dia melihat Tasya, gak mungkin kan dia lihat kamu" ujar Reza


"Astagaaaa.. Bapak kalau bicara jujur sekali" Lala menggerutu


"Haha.. Maaf.. Becanda." ucap Reza tulus.


Setelah sampai kantor, Lala turun terlebih dahulu. Tasya masih pura-pura tidur.


"Sya.. " Reza memanggilnya


'Panggilannya sudah beda.. Hiikkss..Biasanya Mami atau sayang' batin Tasya


" Tasya.. " ucapnya kemudian.


Tasya membuka matanya perlahan. Dia pura-pura mengucek matanya.


" Sudah sampai?" tanya Tasya

__ADS_1


Reza memandangnya


"Kenapa?" Tasya pura-pura bertanya. Dia melihat raut wajah suaminya datar


"Besok-besok gak boleh lagi keluar sendirian" ucap Reza penuh penekanan


"Kan sama Lala gak sendirian" ucap Tasya


"Tanpa Aa gak boleh" ucap Reza


"Iya.. "


"Tumben langsung nurut gak banyak tanya" ucap Reza


"Iya, aku pusing. Malas debat sama Aa" ucapnya


"Gini nih Aa malasnya lepas kamu sendirian." Reza kesal


"Aku gak mau dengar marah Aa. Kepalaku sakit" ucap Tasya jujur


Tasya keluar dari mobil. Reza ikut keluar sontak menarik lengan sang istri.


"Tidur di kantor Aa" ucapnya seraya menggenggam tangan Tasya.


Tasya tak banyak bicara, dia mengekor Reza masuk ke dalam kantornya.


Tasya merebahkan tubuhnya di sofa dalam pangkuan sang suami. Reza memijat kening Tasya.


"Sayang, Papi gak rela kayaknya kamu di lihat mata lelaki lain" ucap Reza setelah beberapa lama mereka terdiam.


"Kenapa?" tanya Tasya sedikit mendongakkan wajahnya untuk melihat Reza


"Gak tahu. Kamu hamil makin seksi sih" ucap Reza


Tasya tertawa kecil.


"Papi bisa saja gombalnya" ucap Tasya


"Tadi si Adam lirik kamu terus Mam. Papi gak ikhlas rasanya" ucap Reza jujur


"Iyalah, kamu ngobrol sama si Lala"


"Eh, tapi tadi Adam sama perempuan dan anak laki-laki juga Pap. Dia sudah nikah?" tanya Tasya


"Perempuan? Anak laki-laki? Hmm.. Itu pasti Kakaknya yang janda sayang" ucap Reza


"Hah? Janda?"


"Iya. Suaminya meninggal. Sampai sekarang kakaknya belum nikah lagi katanya" ucap Reza


"Sudah sih, malah bahas keluarga Adam. Mana dia suka lagi sama kamu!" Reza kesal


"Kalau orang lain yang begitu, Papi harusnya makin baik sama aku. Makin memanjakan aku. Bukan marah atau ketus ke aku" pinta Tasya


"Kan Papi cemburu Mam"


"Kenapa sih Papi akhir-akhir ini cemburuan? Cemburunya itu loh kayaknya gak bisa di redam." ucap Tasya


"Kamu sih hamil malah makin seksi. Hamil saja masih ada yang suka. Heran Papi" ucapnya


"Sadar istrinya cantik?" Tasya menggoda


"Kalau gak cantik, Papi gak bakal nikahin" ucap Reza


"Hei, kita nikah dijodohkan" Tasya ketus


"Oh iya lupa" Reza tertawa


"Pap"


"Hmm.. "


"Aku ngantuk"

__ADS_1


"Mandi sayang"


"Kok mandi?"


"ya tidur kenapa bilang-bilang"


Hening. Tak lama Tasya tertidur pulas. Begitupun Reza tidur bersandar di sofa dengan pahanya sebagai bantalan sang istri.


***


"Mam, kemasi baju-baju kita pindah sementara" ucap Reza saat mereka tiba dirumah.


"Kemana? Kok pindah? " tanya Tasya heran


"Disini debu. Gak baik untuk kamu sama Dedek. Papi sudah sewa apartemen buat sebulan" ucapnya


"Papi.. " Tasya memicingkan matanya


" Apa?"


"Gak suka deh Papi selalu begitu. Kenapa sih? " Tasya mulai kesal


" Apa sih Mam? Gak jelas!" Reza kebingungan


"Lupa? Lupa? Sudah janji kalau apapun kasih tahu aku dulu? Iya. Aku mah gak penting!" ketus Tasya


Reza tersentak. Dia lupa akan janjinya.


"Emm..Mam.."


"Sudahlah"


Tasya menyeret kopernya. Dia memasukan baju-bajunya ke dalam koper. Reza mendekat ke arahnya.


'Iya istri mah cuma bisa nurut. Gak boleh nuntut.' batin Tasya


"Mam. Maaf.. " ucap Reza


Tasya tak bersuara.


"Papi lupa, tadi begitu dapat tagihan Papi langsung cek lokasi, sudah cocok Papi langsung bayar. Papi cuma gak tega sama Mami dan Dedek yang harus kena debu dari bangunan saat dirumah." ucapnya dengan penyesalan


Tasya tak menyahutnya. Dia masih sibuk memasukan barangnya ke dalam koper.


"Mami, Papi minta maaf" ucapnya tulus.


"Hhh..ya sudahlah" Tasya akhirnya bicara. Dia malas berdebat.


Reza mengambil kopernya, dia memasukan baju miliknya ke dalam koper. Setelah dirasa selesai, Reza mengajak Tasya berangkat.


"Pamit Papa" ucap Tasya singkat dan ketus


"Papi sudah bilang sama Papa, sayang."


Tasya tetap mencari Pak Danu, tapi dia tak melihatnya. Begitu diluar, mobil Pak Danu masuk. Mereka berpamitan.


Reza melajukan kendaraannya dengan rasa bersalah. Dia tahu, Tasya masih kesal kepadanya.


"Mam.. Mau makan apa?" tanya Reza memberanikan diri


"Apa saja" sahutnya pendek


"Ke cafe mau?" tanyanya


"Terserah" ucap Tasya


Tanpa pikir panjang, Reza segera memarkirkan mobilnya disebuah cafe ternama. Tak lama duduk, seorang pelayan memberikan daftar menu kepada mereka.


'Cafe Kenangan?' batinnya merasa tak asing. Dia segera memilih menu makanan bersama dengan sang istri.


"Mam, capek?" Reza mencari topik pembicaraan


"Sedikit" ucapnya. Masih tak banyak bicara

__ADS_1


Reza melihat ke samping ruangan. Disana dia melihat seorang wanita berbaju seksi sedang berbincang dengan pelayan seperti memberikan instruksi. Reza melihat kembali nama cafe tersebut. Kemudian dia tersadar.


'Bodoh!' batin Reza merutuki dirinya sendiri


__ADS_2