BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Persalinan Tasya


__ADS_3

Lusa adalah hari yang dinanti keluarga kecil Reza. Mereka sudah menjadwalkan Tasya melakukan persalinan. Reza sendiri telah membooking kelas VVIP untuk menyambut kelahiran anaknya. Semua persiapan telah beres. Tinggal satu hal yang harus di urus. Mental Tasya!


Beberapa kali Tasya mengecek perlengkapan yang dibutuhkannya nanti. Semakin hari, Tasya semakin gelisah. Dia takut menjalankan operasi. Walaupun semua orang menyemangatinya, namun hati kecilnya tetap merasa takut.


Ibu dan Rasya telah tiba pagi tadi. Sementara Ayah, akan menyusulnya hari- H karena pekerjaannya yang banyak.


Kerjasama Reza dengan perusahaan asing, tak hanya menguntungkan perusahaannya semata. Tapi juga menguntungkan perkebunan milik keluarga mertuanya. Kini semua terstruktur dengan menggunakan metode yang tepat dalam melakukan perawatan sayuran. Hal itu, membuat Ayah mertua dan kakak iparnya bekerja lebih ekstra dengan sistem yang lebih baru.


"Kalau lahiran, Vano boleh nunggu kan Pap di ruangan?" tanya Tasya pada Reza


"Iya boleh sayang. Nanti nunggu disana." ucap Reza


"Papi ikut ke ruang operasi gak?" tanya Tasya lagi


"Iya. Nanti kan Mami di anastesi spinal. Jadi Papi masih bisa semangati Mami. Jangan khawatir ya, kan Papi nemenin" ucap Reza


"Janji kan Pap" ucapnya


"Iya sayang. Apa mau di potret momen lahirannya?" tanya Reza


"Enggak sayang. Jangan macem-macem" ancam Tasya


"Iya. Iya."


Tasya keluar kamarnya, dia mencari Vano. Vano tengah asyik bermain bersama Rasya dan juga Ibu di dalam kamarnya.


"Aku cari Ibu sama Vano ternayata disini" ucap Tasya


"Vano kangen kali sama Papanya. Makanya tuh nempel terus" ucap Ibu


"Iya. Sudah lama sih gak kesini" ucap Tasya


"Gimana mau kesini? Disana keteteran terus" gerutu Rasya


"Untung ayah ngizinin kesini" ucap Tasya


"Iya ngizinin karena Ibu terus-terusan mendesak ayah" ucap Rasya yang membuat ibu tersenyum.


"Ya Ibu harus nyambut kelahiran cucu Ibu dong. Ibu kan penasaran. Kalau harus nurut sama kerjaan mah gak ada beresnya" ucap Ibu


"Nah itu Bu, aku juga bilang begitu sama A Reza. Pokoknya weekend jatahnya bareng keluarga. Apalagi mereka lagi masa-masa emas." ucap Tasya


"Iya, jangan sampai nanti anak sudah gede baru nyesel" ucap Ibu


"Makanya Bu, kalau A Reza kayak kemarin lagi, aku gak segan-segan lagi. Eh Alhamdulillah sekarang insyaf dijalan yang lurus" Tasya dan Ibu tertawa.


"Kamu ini pakai bilang dijalan yang lurus" ucap Ibu


"Ya habisnya banyak beloknya A Reza mah. Kemarin-kemarin lagi gila mainan. Mending kalau harganya puluhan sampai ratusan ribu, ini jutaan Bu. Siapa yang gak kaget coba" ucap Taysa


"Dia bingung kali, mau ngapain lagi." ucap Ibu


"Ngasuh Vano kek. Ini kan baru gendong bentar saja sudah dikasihin lagi ke Mbak Diah" ucap Tasya


"Mungkin Reza juga butuh hiburan Sya. Kayak Ayah sukanya kan mancing. Menghabiskan waktu dengan pancingan, mandangin kolam keruh. Gak ada seru-serunya." gerutu Ibu


"Sya, Ibu lagi curhat" sindir Rasya yang membuat Tasya tertawa.


"Tapi kan Bu, Ayah mah mancing paling gak seberapa sih keluar uangnya? Lah A Reza? Belum lagi A Reza orangnya tuh suka ikut-ikutan. Ikut golf tahunya sakit pinggang. Kemarin ikut futsal, pulang-pulang cedera. Ya ampun gimana gak emosi coba Bu" ucapnya


"Van, yuk kita main diluar. Pusing dengerin para wanita curhat" ucap Rasya pada Vano.


***


Tasya dan rombongannya masuk kedalam gedung rumah sakit. Ruangan VVIP tersebut tengah ramai oleh keluarga mereka yang sengaja mengantar Tasya untuk memberikan semangat dan dukungannya.


Tasya kini tengah menjalankan Cardiotocography atau CTG untuk memantau aktifitas dan denyut jantung janin serta kontraksi rahim saat bayi berada di dalam kandungan. Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat mengevaluasi apakah kondisi janin sehat sebelum dan selama persalinan.


Sementara itu, Reza dengan setia mendampingi istrinya. Dia terus berada disamping istrinya walau sesekali dia bermain bersama Vano.


"Ibu mau pulang sekarang Bu?" tanya Tasya


"Iya Sya, kasihan Vano. Besok Ibu kesini lagi pagi-pagi. Kamu jadwalnya jam delapan pagi kan?" tanya Ibu

__ADS_1


"Iya Bu. Nanti hati-hati ya Bu dijalan. Titip Vano" ucapnya


"Iya. Kamu juga istirahat. Makan yang banyak kan harus puasa" ucap Ibu.


Tasya dan Reza menciumi putranya yang sebentar lagi akan menjadi Abang itu. Tasya nampak bersedih mengingat sang anak yang masih sangat kecil harus menjadi kakak dari adiknya kelak.


Tasya menitikan air mata saat Vano sudah keluar dari kamar mereka


"Sudah jangan nangis lagi Mam." ucap Reza


"Kasihan sama Vano, Papi" lirihnya


"Gak apa-apa sayang. Nanti mereka pasti lucu Mam kalau sudah besar. Pasti kayak anak kembar" ucap Reza


"Papi, aku mau ke kamar mandi." pinta Tasya. Dengan sigap, Reza membantu Tasya turun dari ranjangnya.


"Duh, besok sudah gak ada nih perut buncit ini" ucap Reza


"Kayak Vano gak ya wajahnya Pap?" tanya Tasya


"Pasti. Grade A." ucapnya.


Lelah bercengkrama, kini mereka terlelap.


Pagi-pagi sekali, Tasya sudah bangun. Dia sudah memakai baju operasi sementara Reza sedang sarapan disana.


"Lapeer, Pap" Tasya melihat Reza yang sedang makan


"Puasa sayang. Sabar ya"


Reza membereskan makannya. Tak begitu lama, perawat datang menghampirinya.


"Bu, pasang dulu kateternya ya" ucap Perawat tersebut.


Tasya patuh. Dia hanya berbaring menyaksikan perawatan yang sibik dengan pipa panjant tersebut.


"Tarik nafas ya Bu" Tasya menarik nafas panjangnya.


Reza hanya membelainya.


"Sabar ya sayang" ucap Reza


"Pap sini" Reza mendekatkan telinganya.


"Mengganjal ini Pap" seketika Reza tertawa.


"Ini mah gada apa-apanya Mam. Gak bisa gerak-gerak" ucap Reza seraya tertawa


"Papi ih" Tasya mencubit geli suaminya.


Perawat dan satpam rumah sakit mendorong brangkar menuju ke ruang operasi dengan diikuti oleh Reza. Reza segera memakai baju khusus dan masker karena akan mendampingi Tasya saat dilakukan operasi.


Sebelum operasi dimulai, dokter melakukan pembiusan epidural sehingga area perut ke bawah akan mati rasa. Selama proses operasi caesar, Tasya berada dalam keadaan sadar.


Dokter memasang tirai pembatas sehingga Tasya tidak bisa melihat bagaimana perutnya disayat. Agar Tasya merasa santai dan nyaman, dokter juga memberikan obat penenang.


Reza memegang tangan Tasya. Mereka saling menatap. Sesekali Reza melihat ke arah dokter, hingga dokter tersebut mengangkat bayi mungil yang kemudian menangis dipangkuannya. Seorang perawat dengan sigap membawa bayi mungil tersebut.


Pandangan Reza tak lepas melihat ke arah bayinya hingga tak nampak lagi. Reza berkaca-kaca. Beberapa kali dia mengecup kening istrinya seraya berterima kasih pada sang istri.


Bayi mungil dibawa oleh perawat dan ditaruh di dada Tasya. Bayi tersebut menggerakan jemarinya membuat Reza dan Taysa takjub melihatnya. Lama kelamaan dia bergeser hingga tiba di papilla Tasya. Seorang perawat membantu bayi tersebut agar bisa menghisap kolostrum.


Reza sendiri mendekatkan tubuhnya ke telinga sang bayi, dia melantunkan adzan dengan suara yang sedikit parau. Rasa haru menyelimuti dirinya.


Terlintas bayangan saat Vano dilahirkan dulu. Dia hanya bisa memandang daei balik kaca inkubator. Reza teringat anak pertamanya. Betapa dia merindukan Vano saat ini karena rasa bersalahnya.


***


Tasya masuk ke dalam ruanganya. Ruangan tersebur sudah di dekorasi dengan sangat cantik membuat Tasya takjub.


"Selamat Syaa" ibu menghampiri Tasya dan mengecup keningnya.


"Siapa yang mendekor ini Bu?" tanya Taysa

__ADS_1


"Siapa lagi kalau bukan suamimu" ucap Ibu yang membuat Taysa haru.


Reza datang menggendong Vano sambil membawa sebucket bunga mawar segar.


"Vano.." lirih Tasya, dia melirik Reza yang menatapnya sambil melangkah mendekatinya.


"Papi, terima kasih" Tasya tak kuasa meneteskan air matanya. Dia sangat bahagia. Dia sabgat bahagia oleh perlakuan romantis Reza.


"Papi yang berterima kasih. Terima kasih sudah menjadi istri dan ibu yang baik buat keluarga kita" ucap Reza seraya mengecup kening istrinya.


Vano duduk di bibir ranjang. Dia mengecup Taysa.


"Vano gak mau makan tuh Sya" ucap Ibu


"Abang kok gak mau makan sih?" tanya Reza


"Bawa makanannya gak Mbak?" tanya Reza


"Bawa Pak."


"Sini Mami saja yang suapin" pinta Taysa


"Susah kali Sya. Kamu saja masih dilayani" ucap Ibu


"Sini sama Papa saja Van" ucap Rasya


"Tuh, mau sama Papa kamu?" tanya Reza pada Vano, namun Vano menolaknya.


"Sudah gak apa-apa, jangan dipaksa. Asal dia mau makan yang lain saja" ucap Ibu


"Masa tadi mintanya kentang goreng itu anak" ucap Rasya


"Maminya banget itu mah" ucap Reza


"Ngidamnya tengah malem minta kentang goreng, dicolek pakai es krim. Aneh dasar ini anak" ucap Reza yang membuat suasana menjadi hangat.


"Jangan ngelawak Pap. Sakit ini" ucap Taysa sedikit meringis.


"assalamu'alaikum" Pak Danu dan Pak Taufik masuk ke dalam kamar bersamaan. Vano segera menghampiri Pak Danu.


"Mana adik kamu, Van?" tanya Pak Danu


"Eh Abang nih sekarang." ucapnya lagi.


"Iya, jadi Abang korban Papinya yang doyan" ucap Rasya yang kemudian mendapat pukulan dari Ibu.


Suara dorongan kereta bayi membuat mereka menatap ke arah pintu. Bayi mungil tersebut tiba diruangan, disambut oleh seluruh keluarga.


"Yah, ini mah kembaran kamu, Van." ucap Rasya


"Siapa namanya Sya? Sudah ada belum?" tanya Pak Taufik


"Sudah Pap?" tanya Tasya pada Reza


"Namanya, Daffa Narendra Martadinata" semua nampak melongo mendengarnya.


"Martadinata?" tanya Rasya heran. Kali ini dia merasa tidak meminta namanya.


"Iya. Kasihan kalau gak sama nanti takutnya cemburu sama si Abang." ucap Reza


"Iya kan nanti jadi ahli warisnya Ayah. Bukan Rasya kan yah? Coret saja nama Rasya dari daftar waris Yah" celetuk Tasya yang membuat Rasya bersungut.


Suasana terasa sangat hangat dan harmonis saat dua keluarga tersebut berkumpul.


.


.


.


Selamat Hari Raya Idul Adha untuk semuaaa..


Jangan lupa dukung terus BSN dengan LIKE dan KOMENTARNYA. Jangan lupa VOTE yang banyaaakkk. Terima kasih^^

__ADS_1


__ADS_2