BUKAN SITI NURBAYA

BUKAN SITI NURBAYA
Makan Berdua


__ADS_3

Setelah membeli perhiasan mereka pun naik ke lantai dua.


"Apa yang belum dibeli Sya buat seserahan?" tanya Reza


Sebelum pulang selepas tunangan, Reza memberikan salah satu kartu debitnya kepada Tasya untuk membeli perlengkapan seserahan. Karena waktu yang tidak memungkinkan untuk Reza mengantar Tasya membeli perlengkapan. Dengan enggan Tasya menerimanya. Dan dia berbelanja di temani ibu.


"Apa ya A? Mukena, tas, baju, kebaya, sepatu. Kayaknya sudah semua sih A" ucap Tasya sambil mengingat-ngingat.


"Peralatan make up memang sudah?" tanya Reza


"Harus ya A?" tanyanya balik


"Beli saja buat formalitas. Barang kali nanti kamu pakai juga kan?" ujar Reza


"Aku sih jarang pake make up A. Begini juga sudah cantik kan?" Tasya membanggakan dirinya sendiri


"Iya. Tapi sekali-kali nanti kan harus pakai make up Sya depan suamimu" Pinta Reza


Tasya masih selalu salah tingkah kalau Reza mengucap kata "suami".


Akhirnya mereka berjalan ke lantai tiga untuk membeli peralatan make up. Reza pun meminta Tasya untuk membeli perawatan tubuh lainnya.


"Kamu lapar Sya? Makan yuk. Aa dari tadi belum makan" ucapnya

__ADS_1


'Aa? Gak salah dengar aku' batin Tasya


"Kenapa tadi gak bilang? Tahu gitu sebelum beredar makan dulu!" tanpa sadar Tasya memberi perhatian


"Habis terlalu antusias sih buat beli mas kawin. Hehe.. Tenang saja Sya, sakitnya sudah di borong kemarin" ucapnya mengingatkan


"Iya, itu mah sakit patah hati" cibir Tasya


***


Reza memperhatikan Tasya yang sedang makan. Dilihatnya gadis itu.


'Sabar Za, bentar lagi jadi milikmu' batinnya


"Geer ya kamu" goda Reza tersenyum jahil


"Apaan sih A Reza" Tasya menahan malu


"Sya, nanti setelah menikah kamu mau tinggal dimana?" tanya Reza serius


"A Reza, aku boleh minta satu permintaan gak?" tanya Tasya


"Gak boleh" iseng Reza

__ADS_1


"Jahat banget A Reza!" Tasya cemberut kemudian dia berdiri dan pergi ke wastafel di pojokan untuk mencuci tangannya.


"Memang kamu minta apa? Uang aku nanti kamu yang pegang. Kalau ada apa-apa kamu gak usah minta aku. Biar aku gak diributin untuk hal-hal sepele" ucap Reza panjang lebar


"Apaan sih A Reza. Siapa juga yang mau minta uang a Reza. Aku bisa minta uang ke Ayah!" ucap Tasya


"Sudah nikah minta ke ayah?" Reza memberi penekanan.


Tasya lupa kalau nanti setelah menikah segala sesuatunya adalah tanggung jawab Reza.


"Hehe nggak sih. Ya intinya aku bukan minta uang A" ucap Tasya


"Iya percaya. Kamu bukan cewek yang suka menghamburkan uang. Terus minta apa sayang?" goda Reza lagi


"Ih A Reza jangan manggil sayang-sayang dong. Risih tahu!" Tasya memang tak menyukainya sedari awal.


"Iya sekarang nggak. Nanti setelah halal ya.. Kamu harus patuh sama suamimu. Kalau tidak? DUR HA KA!" ucapnya menakut-nakuti Tasya


Bak tersambar petir mendengarnya Tasya langsung terdiam. Memang betul segala tindak tanduknya sekecil apapun nanti menjadi tanggung jawab suaminya. Dia hanya harus patuh dengan suaminya. Lantas bagaimana Tasya meminta tidak sekamar nanti? Tasya memutar otak untuk membicarakannya


"A, serius ya. Nanti setelah nikah kita tinggal di rumah ayah ibu saja dulu ya. Kan aku masih kuliah. Nanggung a, sebentar lagi lulus. Terus kalau bisa kita tidak sekamar. Ya pedekate saja dulu seperti orang pacaran. Bagaimana?" usul Tasya


'Nikah macam apa itu? Enak saja! 32 tahun membujang. Nikahpun harus ikuti aturan dia?' batin Reza

__ADS_1


__ADS_2